Tablig, Haji Wada dan Hak Azasi Manusia


Secara etimologis kata tablig berasal dari kata dalam bahasa Arab balaga- kata kerja masa lalu (fi’il madhi) yang secara harfiah berarti ‘telah menyampikan’. Mengenai cara, metode atau media, para ahli sepakat tidak harus dalam bentuk verbal tetapi dapat dalam bentuk lainnya termasuk tulisan, perbuatan, sikap, serta contoh prilaku sehari-hari orang yang menyampaikan (mubalig). Yang diperdebatkan para ahli adalah cakupan materi tablig. Tulisan pendek INI membahas topik ini berdasarkan pembelajaran dari khutbah historis haji wada’.

Published by

Uzair Suhaimi

Statistics and religion. This is perhaps an unusual combination for many. The first is dealing with the empirical world, the second with that beyond that world. However, that is my reflection regarding myself. As a statistician, I spent 30 years (1981-2011) serving BPS-Statistics Indonesia. After that my professional services were dedicated to TNP2K office (an office under the vice president office) for a few months and to ILO-ROAP as a senior statistician for half a year. Since 2012 most of my time is dedicated as an independent consultant on statistics-related work, mostly for ILO and on some occasions for some government offices Indonesia. My recent work (2019) was on estimating child labour in Indonesia for ILO Country Office Jakarta. As for personal interest, since young, I've been fascinated with the basic principles of religious thought, especially on its esoteric dimensions, essentiality, and universality. Sufism and perennial philosophy are of my special interest. On this subject, I have posted a number of short articles in my personal blog: https://uzairsuhaimi.blog.

3 thoughts on “Tablig, Haji Wada dan Hak Azasi Manusia”

  1. AWW,

    Bravo Kang Uzair atas tulisannya. Kadang istilah yang sudah sering terdengar tapi belum/tidak dipahami dengan tepat seperti halnya kata tablig. saya jadi penasaran, apa istilah tablig juga digunakan dengan pemahaman yang sama di negara lain, utamanya di Timur Tengah. Jangan-jangan istilah tablig hanya berkembang di Indonesia seperti halnya “Halal bi Halal”. Tentang Nabi yang meminta konfirmasi kepada pendengarnya bisa dimaklumi bahwa itu untuk memastikan bahwa pesan yang Beliau sampaikan diterima oleh umat/pendengarnya. Seperti pertanyaan ” Do I make my self clear?” yang dijawab prajurit dg “Sir, yes Sir”. Tapi apakah perlu meminta konfrmasi Allah dengan mengatakan “saksikanlah”?

    Wassalam,

    Hendra

    Like

  2. Dear Hendra,

    Thanks for the immediate comments. Maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan apakah istilah di TimTeng istilah populer atau diartikan sama. Jangan2 lebih populer dari da’wah misalnya. Saya tidak tahu. Itu lah sebabnya, untuk memperjelas maksud, saya mulai dengan analisis (singkat) semantik dan merujuk pada teks suci u/ mencari padanannya; juga pada teks khutbah haji’ wada.

    Maaf juga saya tidak dapat menjawab pertanyaan apakah perlu konfirmasi Allah? Yang jelas munajat Rasul saw itu meminta agar Allah menyaksikan bahwa dia telah menyampaikan pesan (tablig) dan itu telah di-iyakan oleh umat yang hadir.

    Saya yakin Pak Hendra menangkap pesan utama artikel itu yang ditujukan kepada para mubalig atau da’i kita yang kira-kira dapat dirumuskan: “Ini lho, kalau tablig harus juga menyampaikan isu HAM, sebagimana disampaikan dalam khutbah yang ‘dramatis’ (formatnya) dan monumental itu (momennya)”

    Anyway, thanks for the comments. I am looking forewrd your comments on other articles in this blog.

    Salam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.