Populasi Muslim: Estimasi 2017

Tulisan ini disiapkan ketika Umat Islam atau muslim baru saja merayakan iedul fitri 2017. Perayaan ini menandai berakhirnya bulan puasa yang prosesinya menurut ajaran otentik sangat sederhana: salat dua rakaat (tanpa adzan) dan melantuntkan takbir, allahu’akbar, Allah Maha Besar. Takbir ini[1] mengaskan kesadaran individu umat mengenai kebesaran Rabb SWT, sekaligus kekerdilan dirinya di hadapan-Nya.

Kesederhanaan ajaran ini tidak membelenggu umat untuk mengekspresikan kegembiraan mereka secara kreatif sehigga tumbuh beragam tradisi ied antar kelompok umat. Di Indonesia, misalnya, ada tradisi halal-bi-halal dan “pulang kampung” yang menghebohkan itu semata-mata untuk memeriahkan hari raya itu.

Dalam ied semua diharapkan mampu berpartisipasi, semua, tanpa kecuali, termasuk kelompok mustadh’afin: kaum papa yang serba tidak berkecukupan, anak-anak yatim tidak punya pelindung, dan kaum “terpinggirkan” lain. Ini adalah sebagian hikmah dari kewajiban zakat fitrah yang relatif sangat ringan yaitu setara 2.7 kilogram makanan pokok atau sekitar Rp 40,000.

Dengan kewajiban minimalis ini hampir setiap keluarga mampu memenuhi; disisi lain, karena kewajiban ini berlaku bagi hampir setiap jiwa, maka akan segera terkumpul dana komunitas umat dalam jumlah yang cukup untuk memastikan setiap orang, tanpa kecuali, paling tidak memperoleh makanan layak pada hari raya. Ini adalah dimensi sosial dari ibadah puasa, dimensi yang juga melekat pada semua ibadah-ibadah lain dalam Islam.

Mengisi kekosongan

Pertanyaan yang layak diajukan adalah kira-kira berapa banyak orang yang merayakan ied tahun 2007 ini. Ini jelas bukan pertanyaan yang workable karena kita harus mendefinisikan “merayakan” dalam kasus ini dan tidak ada survei mengenai ini. Oleh karena itu, tulisan ini mengasumsikan semua umat muslim merayakannya.

Asumsi ini sepintas lalu tampak overestimate karena kita mungkin perlu mengeluarkan sebagian kelompok umat dalam perhitungan: bayi yang belum tahu apa-apa, mereka yang sudah udzur karena usia, sakit parah, yang berada dalam situasi yang sangat rawan dari sisi keamanan, kaum papa yang tidak berdaya secara ekonomi dan terlupakan, yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kehidupan dasar termasuk mereka kesulitan bahkan untuk mengakses bersih seperti yang banyak ditemukan di kawasan gurun Afrika. Walaupun demikian, overestimasi ini dikompensasikan oleh kelompok non-muslim yang turut merayakan ied yang jumlahnya sulit didefinisikan dan ditebak.

Singkatnya, menggunakan estimasi populasi muslim sebagai proksi untuk mengestimasi orang yang ikut merayakan ied tampaknya lumayan realistis. Tetapi ini bukan tanpa tantangan karena data otentik mengenai populasi muslim tidak tersedia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan ini.

Estimasi Populasi Global

Sebagai titik tolak kita dapat mulai menganalisis dengan mencermati estimasi populasi manusia secara keseluruhan. Untuk keperluan ini banyak sumber data yang dapat diakses secara relatif mudah. Tulisan ini mengandalkan  salah satu sumber yang dapat diakses:  http://www.worldometers.info/world-population/.

Menurut sumber ini estimasi populasi manusia global pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 5.3 milyar jiwa. Angka ini sudah memperhitungkan angka kelahiran (komponen pertambahan jumlah penduduk), angka kematian (komponen pengurangan jumlah penduduk), tetapi mengabaikan unsur migrasi (komponen pertambahan atau pengurangan jumlah penduduk). Kenapa komponen terakhir diabaikan? Karena sejauh ini tidak ada laporan mengenai migrasi antar-planet.

Jumlah penduduk bervariasi antar negara tetapi menonjol di 20 negara sebagaimana disajikan dalam Grafik 1. Dua negara terbesar yaitu China dan India sudah mencakup sekitar 2.7 milyar atau lebih dari sepertiga penduduk global.

Dibandingkan dengan angka tahun 1998[2], total penduduk global bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milyar. Dinyatakan secara berbeda, rata-rata angka pertumbuhan populasi global per tahun sekitar 1.8 persen. Angka terakhir ini diperoleh dari perhitungan menggunakan rumus standar dalam demografi yaitu

r = (1/t) ln (Pt/P0) ……… (1)

dimana

Pt : Populasi tahun 2017

P0: Populasi tahun 1998

r: rata-rata pertumbuhan populasi

t: jarak tahun antara 1998 dan 2017

Persamaan ini diturunkan dari persamaan yang lebih umum:

Pt = P0ert ……… (2)

muslim_gr1

Tidak ada sumber data otentik mengenai populasi muslim secara global pada tahun 2017. Oleh karena itu tulisan ini mengandalkan sumber yang tersedia mengenai populasi muslim global dan itu pun merujuk pada angka tahun 1998[3]. Data ini dilaporkan memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia yang sebagai besar adalah CIA[4].

Sumber ini hanya  dapat memanfaatkan sumber data yang “seharusnya” untuk keperluan semacam ini– sensus penduduk atau sumber kredibel lain dari kantor statistik suatu negara– untuk 11 negara: Singapore, Canada, Australia, Hongkong, Hungary, Austria, Macau, Fidlandia dan Barbados. Indonesia tidak termasuk dalam daftar pendek ini padahal dalam kuesioner Sensus Penduduk Indonesia 1990 dan 2000 ada pertanyaan mengenai agama. Ini tampaknya perlu dicatat oleh otoritas statistik yang sebagian besar akan  menyelenggarakan sensus penduduk pada atau sekitar tahun 2020. 

Estimasi Populasi Muslim

Berdasarkan sumber data ini dapat diketahui bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 1998 berjumlah sekitar 1.3 milyar juta jiwa. Mereka tersebar di lima benua sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 2. Pada grafik itu tampak tingginya konsentrasi populasi muslim di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah dan Indonesia. Di kawasan-kawasan ini proporsi muslim mencapai 75%-100% dari total penduduk.

Grafik 2: Persebaran Geografis Populasi Muslim

muslim_gr2

Sumber: http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

Menurut sumber yang sama, persebaran geografis populasi muslim sangat tidak merata. Sekitar dua-pertiga populasi Muslim tinggal hanya di 21 negara “besar”, besar dalam arti berpenduduk muslim di atas 10 juta jiwa. Grafik 3 memperlihatkan hal itu.

Konsentrasi populasi Muslim, diukur dari proporsi terhadap populasi secara keseluruhan di negara yang bersangkutan, juga tidak merata.

  • Proporsi muslim mecapai 100% di enam negara: Arab Saudi, Somalia, Mauitia, Bahrain, Maldives dan Western Sahara.
  • Proporsi di India hanya 14% tetapi totalnya mencapai angka 137,7juta jiwa, lebih besar dari populasi Pakistan secara keseluruhan yaitu 135,1 juta jiwa.
  • Total populasi Muslim di Amerika Serikat (1998) diperkirakan sekitar 5.7 juta jiwa atau hanya 2.1% dari total populasi. Angka proporsi ini lebih kecil dari angka persentase untuk, misalnya, China (3.0%) apalagi Federasi Rusia (4.7%).

Estimasi 2017

Estimasi populasi global dalam 29 terakhir bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milar pada tahun 1998 menjadi 7.5 milyar pada tahun 2017. Dinyatakan secara berbeda, populasi global meningkat sekitar 1.81% per tahun daalm kurun waktu itu. Dalam kurun waktu yang sama populasi di 21 negara “muslim” –disini didefinsikan sebagai negara dengan populasi muslim di atas 10 juta jiwa- meningkat jauh lebih lambat yaitu 1.34% per tahun (lihat Tabel 1). Ini tampaknya tidak mendukung convetional wisdom yang mengkhawatirkan populasi muslim akan segera mendominasi populasi dunia.

Bagi 21 negara muslim (dengan definisi di atas), rata-rata pertumbuhan per tahun populasi secara keseluruhan (bukan hanya muslim) 1.34%, dengan rentang antara  0.61% untuk China dan sampai 3.26% untuk Tanzania (lihat kolom 3 Table 1).

Kita dapat mengestimasi populasi muslim tahun 2017 berdasarkan angka-angka itu. Hasilnya adalah daftar estimasi populasi muslim di negara-negara muslim tadi sebagaimana ditunjukkan oleh kolom 5 Tabel 1. Secara keseluruhan total populasi di negara-negara itu mencapai 1.3 milyar. Dalam hal ini Indonesia “paling unggul” dengan mencakup 15.7% dari total, diikuti India (12.5%) dan Pakistan (12.4%). Di sini kita mengasumsikan pertumbuhan penduduk populasi muslim dan non-muslim di negara yang bersangkutan sama.

Proporsi populasi 21 “negara muslim” –negara dengan populasi di atas 10 juta jiwa– terhadap total populasi global adalah sekitar 4.3 berbanding 7.5 atau 57.2% (lihat angka pada dua baris terakhir kolom 2. Jika kita menggunakan proporsi ini untuk menghitung populasi muslim global maka kita akan memperoleh angka sekitar 2.4 milyar [=(7.5151/4.2984)*1.35545] atau 31.5% dari total populasi global secara keseluruhan. Inilah estimasi populasi muslim global pada tahun 2017. Di sini kita mengasumsikan angka rata-rata pertumbuhan di ke-21 negara itu sama dengan angka untuk negara-negara lainnya.

Kesimpulan dan Catatan Internal

Sebagai kesimpulan ringkas dapat dikemukakan bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 2017 sekitar 2.4 milyar atau 31.5% dari populasi global secara keseluruhan. Ini merupakan angka yang besar. Tetapi ada catatan penting bagi internal Umay atau komunitas Muslim.

“Bola” berada di tangan Umat untuk mempersepsikan diri apakah angka ini perlu dilihat sebagai beban atau modal. Selain itu, umat memiliki pilihan untuk menentukan pilihan alternatif ini: apakah berkomitmen untuk menjadi “umat terbaik” (al-Baqarah: al-‘Imran:110) dan menjadi “wasit” (QS 2:143) yang berkemapuan mewasiti pertandingan “permainan global”, atau, menjadi pihak yang diwasiti karena pertentangan internal umat yang timbul dari permasalahan trivial, dengan mempertahankan tradisi kesukuan (sy’ubiah) dan buta terhadap ajaran universal agamanya yang by design diturunkan sebagai rahmat bagi alam (al-Anbiya:107). Terserah!

Sangat tidak realistis berharap mampu berperan sebagai wasit jika kualitas umat seperti “buih” yang tidak punya kendali, atau, berkulitas sebagai “makanan-siap-santap” bagi umat lain.  Ini bukan mengada-ngada tetapi telah diramalkan oleh Rasul saw akan dialami umat melalui salah satu haditsnya, hadits yang agaknya kurang diminati oleh para muballig untuk mempopulerkannya kepada umat.

Wallahualam….@

[1] Menurut catatan sejarah, lafal takbir (di-senafas-kan dengan lafal tahlil dan tahmid), bergema ketika peristiwa penaklukan Kota Mekah dari kekuasaan kafir quraisy yang berlangsung secara damai tanpa pertumpahan darah. Ini miracle mengingat tradisi berperang bagi suku-suku Arab saat itu dan mengingat kelompok “penakluk” sebelumya telah diperlakukan secara sangat brutal bahkan dalam standar budaya saat itu. Kekuatan “magis” takbir, selain kehadiran wajah-damai Rasul saw, tampaknya turut membantu mengendalikan efora kemenangan ke arah yang sangat positif, penuh dignity, dan religious.

[2] Tahun 1998 memperoleh perhatian khusus karena akan digunakan dalam analisis selanjutnya seperti yang akan jelas nanti.

[3] http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

[4] CIA World Factbook Website http://www.odci.gov/cia/publications/factbook/

 

[Daftar posting bertemakan kependudukan dapat diakses di SINI]

 

 

 

 

Legowo: Pendalaman Makna

Kata legowo (istilah halus: legawa) berasal dari bahasa Jawa yang berarti sikap batin tertentu untuk menerima satu keadaan dengan lapang dada. Apa yang perlu segera dicatat adalah bahwa legowo adalah suatu pilihan: menerima atau menolak, menerima dalam satu cara, atau dengan cara lain yang bertentangan. Mengenai definisi legowo, pernyataan Ade Ilyasi berikut dapat dirujuk[1]:

Legowo. Bisa menerima apa yang berlaku pada dirinya dengan sabar, ikhlas dan pasrah. Sabar, tidak mengeluh atas cobaan yang ada. Ikhlas, lapang dada menerima cobaan tanpa rasa emosi atau dendam. Pasrah, semua akan di serahkan kepada sang pencipta karena semua ada hikmahnya.

Paling tidak ada dua catatan mengenai definisi di atas. Pertama, kata legowo mengandung tiga unsur yang masing-masing mencerminkan suatu kebajikan spiritual tertentu: kesabaran, ketulusan dan pasrah. Ini jelas menyiratkan makna mendalam dari kata legowo dan pada saat yang sama menunjukkan sifat ekspresif bahasa Jawa. Kedua, dalam “definisi” di atas kata legowo lebih mengarah pada sifat pasif dan hanya terkait dengan cobaan.

Pertanyaannya adalah apakah kata itu dapat juga digunakan untuk mengekspresikan suatu sikap yang lebih aktif; misalnya, sebagai kesiapan-diri untuk mengambil risiko dari tindakan atau keputusan yang diambil sadar dan intensional. Jika jawabannya “ya” maka kata legowo dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas; termasuk misalnya, dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, frasa “kehidupan beragama dengan legowo”, misalnya, dapat diartikan sebagai sikap, perilaku atau praktik agama yang disertai unsur kesabaran, ketulusan atau keikhlasan dan tawakal atau berserah-diri:

  • sabar dalam menjalankan perintah agama dan meninggalkan larangannya,
  • tulus dalam memasang niat beragama, dan
  • tawakal dalam menerima takdir Tuhan.

Beragama secara legowo dalam pengertian ini sejalan dengan ajaran qurani, ajaran berbasis otoritas tertinggi dalam Islam, Al-Quran:

(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya (Quran 19: 65).

Padahal mereka (ahli Kitab: Umat Yahudi dan Umat Nasrani) hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Quran 98:5).

dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (Quran 5:11).

Untuk mengeksplorasi makna Legowo lebih lanjut  kita dapat mengambil kasus menarik terkait dengan pemilihan Gubernur Jakarta yang lalu. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan penilaian atas kasus tersebut; sebaliknya, tulisan ini hanya tertarik pada pemberitaan mengeai reaksi salah satu kandidat dalam menanggapi hasil pemilihan. Liputan media dalam kasus ini beragam tetapi berita utamanya dapat dirumuskan dalam kalimat singkat: “Ahok menerima kekalahannya dengan legowo, mengucapkan selamat kepada pemenang, dan menyebutkan kekalahannya sebagai kehendak Tuhan”.

Dalam kalimat itu dapat “dirasakan” hubungan-senafas antara legowo, pengakuan akan kelebihan pihak lain, dan ketetapan takdir. Dalam kalimat itu juga dapat “dirasakan” adanya unsur rendah hati (Inggris: humble, humility) dalam kata legowo. Sukar membayangkan sikap legowo dari orang yang tidak memiliki sikap rendah hati.

Rendah hati adalah salah satu matra kebajikan (Inggris: virtue, Arab: birr)[2] yang lebih mudah dipahami dari lawan katanya yaitu tinggi hati (Arab: takkbur, Inggris: pride). Istilah terakhir ini dikenal luas oleh umat beragama sebagai suatu sikap batin yang dianggap sebagai sumber, akar atau induk semua keburukan.

Sebagai kesimpulan, empat pernyataan berikut patut ditegaskan kembali:

  • Legowo adalah sikap batin untuk menerima situasi- betapa pun menyakitkan– dengan sabar, tulus dan pasrah;
  • Legowo mencerminkan kesiapan diri dalam menerima risiko dari tindakan yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab;
  • Legowo adalah sikap batin yang sulit dibayangkan datang dari mereka yang kurang memiliki sikap rendah hati; dan
  • Legowo adalah suatu pilihan.

Pernyataan terakhir mengandung arti bahwa kita dapat menerima suatu peristiwa i yang telah terjadi atau menolaknya (dan ini mustahil), menerimanya dengan sabar atau tulus, atau dengan cara lain. Yang pasti, ada ketentuan takdir sebagaimana diungkapkan dengan padat dan indah dalam aforisme ketiga dari Al-Hikam:

Sensasi semangat tidak akan mampu menembus benteng takdir.

Mengenai aforisme ini, komentar Syekh Fadhallah berikut layak disisipkan di sini [3] untuk mengakhiri artikel ini:

Tak berguna! Bagaimanapun banyak energi yang Anda curahkan untuk maksud atau tujuan, itu tetap tidak akan tercapai jika tidak sesuai dengan keputusan Tuhan. Anda tidak akan memenangkan kehendak Anda di atas kehendak-Nya, yang telah menetapkan sifat yang terlihat dan tidak terlihat, dan menentukan nasib kita semua.

Demikianlah kedalaman makana spiritual kata legowo dalam konteksnya yang luas  …. @

[1] https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120707193759AA3FrcK

[2] Lihat: https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/22/dimensi-kebajikan/ dan https://uzairsuhaimi.blog/2016/01/01/rendah-hati/.

[3] Ibn Atthaillah, Al-Hikam, yang disertai ulasan Sech Fadhalla, Jakarta: Mandiri Abadi (2003).

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=1FkcK9G-tDzXadsZxqpBc9p3qaIqaMuVG

 

 

 

Basmalah: Suatu Analisis Kuantitatif

Istilah basmalah merupakan kependekan dari ‘bismillah al-rahman al-rahiem’, ayat pertama dari surat pertama al-Qur’an (al-Fatihah). Basmalah terdiri dari huruf-huruf hijaiyah (huruf dalam Bahasa Arab) yang masing-masing memiliki nilai. Lafadz bismi, misalnya, terdiri dari tiga huruf: b (ba), s (sin) dan m (mim), yang masing-masing memiliki nilai 2, 60 dan 40. Total huruf dari lafadz ini, dengan demikian, adalah 2+60+40=102. Tabel 1 mendaftar nilai dari masing-masing huruf hijaiyyah yang akan kita gunakan dalam analisis. Daftar itu konon sama dengan sistem nilai abjad Rumawi.

Karena memiliki nilai inilah maka analisis kuantitatif ayat a-Qur’an (tidak hanya basmalah) dimungkinkan dan nyatanya telah banyak yang melakukan[1]. Tulisan ini merupakan hasil kajian beberapa literatur yang relevan dan diharapkan dapat membantu mengapresiasi basmalah –seperti halnya ayat-ayat suatu kitab suci (termasuk al-Qur’an)– sebagai wahyu dalam arti berbasis inspirasi langsug[2] dari Yang_Maha_Tinggi, serta memiliki karakter sakral (sacred). Istilah sakral di sini mengacu pada apa yang diungkapkan Schuon (1998:45)[3]: sesuatu yang tersambung dengan tatanan transenden, memiliki karakteristik kepastian yang absolut, dan di luar nalar dan kendali pikiran manusia biasa.

… sacred which in the first place is attached to the trancendent order, secondly possesses the character of absolute certainty, and, thirdly, eludes the comprehension and control the ordinary human beeing.

tab1_basmalah

Secara sederhana komposisi basmalah dapat dilihat sebagai gabungan dari empat lafadz: bismi (b/s/m), allah (a/l/l/h), al-rahman (a/l/r/h/m/n), dan al-rahim (a/l/r/h/i/m). Kita memahami makna masing-masing komposisi basmalah itu tetapi apa yang dikemukakn Schuon[5] tampak sangat kuat-padat dan inspirasional sehingga layak kutip:

Allah: Prinsip Tertinggi sejauh ia memuat segala sesuatu. Misteri mengenai ketuhanan.

Al-Rahman: Prinsip Tertinggi dalam sifat-sifatnya yang ingin menampakkan Ketuhanannya, keindahannya, kasih sayangnya, sejauh itu adalah kekuasaan Tuhan “sebelum” penciptaan dunia. Misteri mengenai Ketuhanan intrinsik.

Al-Rahim: Prinsip Tertinggi sejauh ia memanifestasikan Ketuhanannya “setelah” penciptaan Dunia dan segala sesuatu di dalamnya. Misteri mengenai Ketuhanan ekstrinsik.

Misteri Angka 19

Berdasarkan Tabel 1 kita bisa melihat bahwa huruf yang menyusun lafadz basmalah berjumlah 19 dan ini merupakan penjumlahan dari 3+4+6+6. Seperti yang akan kita lihat nanti, angka 19 ini terkesan “misterius”[4] dan tampak sebagai faktor kunci dalam analisis kuantitatif sistem basmalah (bahkan dalam sistem al-Qur’an secara keseluruhan). Berikut ini disajikan lima fakta relevan terkait dengan angka misterius itu:

Fakta-1: Jumlah surat dalam al-Qur’an, mulai dari al-Fatihan dampai al-Naas, berjumlah 114. Angka ini merupakan kelipatan angka 19: 114=19×6;

Fakta-2: Basmalah tercantum dalam setiap surat, muncul dua kali dalam Surat al-Naml (ayat awal dan ayat ke-30), tetapi tidak muncul sama-sekali dalam Surat al-Baraah. Basmalah sebagai awal dari Surat tak_bernomor kecuali Surat ke-1 (al-Fatihah). Dengan demikian, jika mengabaikan yang tak_bernomor dan mengingat fakta-1, maka total kemunculan basmalah adalah 114 kali: 114=19×6;

Fakta-3: Lafadz Allah, tanpa memperhitungkan basmalah dalam setiap awal surat, tercantum dalam al-Qur’an sebanyak 2,698 kali: 2,2698=19×142;

Fakta-4: Lafadz al-Rahman yang dinisbahkan langsung kepada Allah swt tercantum sebanyak 57 kali: 57=19×3; dan

Fakta-5: Lafadz al-Rahiman yang dinisbahkan langsung kepada Allah swt (sehingga tidak termasuk ayat ke-128 Surat ke-9) tercantum sebanyak 114 kali: 114=19×6.

Peratanyaan retrospektif: Apakah relasi angka-angka atau persamaan dalam fakta 1-5 di atas kebetulan atau random? Seperti yang akan kita lihat nanti, kemungkinan kebetulan dalam persamaan semacam itu mendekati nol.

Misteri Angka 19 Berlanjut

Untuk mendalami misteri angka 19 lebih lanjut kita perlu tabel pembantu yang menyajikan proses dan hasil aritmatika sederhana terhadap komposisi huruf yang menyusun basmalah. Tabel 2 dimaksudkan untuk tujuan itu dan akan segera kita analisis[6]. Tetapi sebelumnya kita perlu menyisipkan catatan singkat mengenai tabel itu.

Tiga kolom pertama dalam tabel itu tampak jelas dengan sendirinya. Proses perhitungan angka-angka dalam Kolom (5)-(7)tampaknya juga jelas. Yang mungkin perlu penjelasan tambahan adalah Kolom ke-4 dan ke-8:

Kolom ke-4 diperoleh dari akumulasi kolom ke-3: 3 (baris ke-1= 3+0), 7 (baris ke-2= 3+7), 13 (baris ke-3=7+6), dan 19 (baris ke-4=13+6).

Prosedur yang sama berlaku untuk Kolom ke-8 tetapi menggunakan kolom yang berbeda sebagai basis perhitungan yaitu Kolom ke-6.

tab2_basmalah

Sekarang kita siap untuk menganalisis Tabel 2.

Dalam tabel itu kita dapat melakukan berbagai permainan perhitungan dan bisa mengamati paling tidak empat relasi angka angka berikut ini:

  1. Jika kita mengurutkan kolom kolom (1) dan kolom (3) maka kita sampai kepada angka 1324364 Angka ini terkesan acak (random) tetapi ternyata tidak; ia merupakan kelipatan dari angka 19: 13,243,646 = 19 x 697,034.
  2. Jika prosedur yang sama kita lakukan tetapi kali ini mulai dari bawah niscaya kita akan sampai pada angka 46,362,413: 46,362,413 = 19 x 2,440,127.
  3. Jika prosedur 1) kita ulangi tetapi menggunakan kolom (1) dan kolom (7) niscaya kita angka akan memperoleh angka 110,527,033,354,295: 110,527,033,354,295 = 19 x 5,817,212,281,805.
  4. Jika prosedur 1) kita replikasi menggunakan kolom (1) dan kolom (4) niscaya akan menghasilkan angka 1,327,313,419: 1,327,313,419 = 19 x 69,858,601.

Probabilita relasi angka-angka itu bersifat kebetulan atau random hampir nol. Penjelasan singkatnya kira-kira begini:

Secara statistik kita bisa rumuskan semua relasi angka-angka di atas (kecuali yang ke-3) sebagai:

1k2l3m4n = 19 X a

dimana, k, l, m, n dan a angka bulat (tanpa pecahan atau desimal) yang terdiri dari sejumlah digit.

Rumusan itu berarti, di tempat nilai-nilai k, l, m dan n mesti ada suatu nilai yang berkorespondensi dengannya. Menurut simulasi komputer[7], random odds[8] dari persamaan 1 adalah 1 berbanding 189,753; untuk persamaan 1 dan 3 adalah 1:36 milyar; dan untuk tahap 1, 3, dan 4 dikombinasikan, adalah kurang dari 1:6.8 quadrillion (=10 pangkat 15), suatu perbandingan yang sulit dibayangkan kecilnya.

angka2

Sumber: Youtube

Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan dapat dikemukakan bahwa relasi angka-angka dalam dalam persamaan 1-4, seperti halnya dalam fakta 1-4 sebagaimana dibahas sebelumnya, hampir nol. Dengan perkataan lain, relasi itu hampir pasti ada yang secara intensional bermaksud menciptakannya. Dalam perspektif iman kesimpulan ini mungkin tidak memadai karena masih menyisakan keraguan.

Agar yakin, kita perlu menghapus kata “hampir” dalam kesimpulan itu. Ini sama saja dengan menyatakan bahwa basmalah adalah wahyu dalam pengertian sebagaimana diungapkan oleh Schuon (dikutip sebelumnya dan kita narasikan-ulang): (1) transenden, misteri yang selamanya tidak akan pernah terungkap secara tuntas, (2) kepastiannya bersifat mutlak, dan (2) tidak akan terjangkau sepenuhnya oleh nalar kita.

Sebagai penutup kita berharap kesimpulan di atas dapat membantu kita memahamai dua ayat berikut:

Al-Isra (17:88):

Katakanlah. “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) AlQur’an ini, merek tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”.

Al-Kahfi (18:109):

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalmat-kalimatTuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Wallahu’alam bimuraadih ….@

[1] Untuk rujukan dapat diakses, misalnya, http://www.masjidtucson.org/quran/miracle /simplefacts.html, juga http: //eholyquran.com/Quran/LinksPrime/Mathematical Miracles OfQuran.htm

[2] Mengenai inspirasi langsung dapat dirujuk https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/10/seri-uzair_on_puasa-al-quran-dan-ahli-kitab/

[3] Schuon, F. (1998), Understanding Islam, World Wisdom.

[4] 19 adalah angka prima (tidak memiliki pembagi) dan unik karena terdiri dari angka terkecil (=1) dan terbesar (=9), semacam alpha (=a) dan omega (=w) dari suatu abjad.

[5] Schuon, F. (2002), Transfigurasi Manusia: Refleksi Antrosophia Perennialis, Penerbit Qalam.

[6] Tabel ini dikembangkan dari artikel yang berjudul “Mathematical Miracles of Quran” dalam http://eholyquran.com/ Quran/ LinksPrime /MathematicalMiraclesOfQuran.htm

[7] Lihat http://eholyquran.com/Quran/LinksPrime/MathematicalMiraclesOfQuran.htm

[8] Istilah odds sangat teknis sehingga sulit dijelaskan secara singkat. Walaupun demikian, ia secara sederhana dapat diartikan sebagai perbadingan antara jumlah kasus random (=a) dengan jumlah kasus tidak random (=b). Ini berbeda dengan probabilita yang diperoleh dari a/(a+b).

Puasa (5): Al-Qur’an dan Ahli Kitab

Bulan Ramadhan dikatakan suci mungkin karena Al-Qur’an diturunkan (unzila) pada bulan ini seperti termaktub dalam al-Baqarah (2:184). Kata unzila mengindikasikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu yang bersumber dari “atas”, dari al-Rahiem, Yang_Maha_Penyayang, All-Merciful. Al-Qur’an menggunakan simbolisme wahyu dan air (hujan) untuk merujuk pada rahmat (mercy) sekaligus “pemberi-hidup” (life-giving) (*). 

Seluruh ayat al-Qur’an adalah wahyu langsung dari yang_Maha_Tinggi[1]. Penerima wahyu (Sang Rasul saw) tidak melakukan intervensi sama-sekali dalam arti tidak mengubah isi maupun redaksinya: tugasnya hanya menyampaikan (balaga) semua apa yang diwahyukan secara persis, tidak lebih, tidak kurang. Selain itu, mustahil bagi Rasul saw yang bergelar al-amien itu berani melakukannya karena Rabb-nya telah memberikan peringatan yang sangat serius bahkan mengerikan jika berani mengada-ngada (lihat Al-Haqqah (44-48):

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kananya (tindakan sekeras-kerasnya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungya. Maka tidak seorang pun dari kamu dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya). Dan sungguh, Al-Qur’an itu pelajaran bagi orang-orang yang betakwa.

Sekalipun secara kebahasaan Al-Qur’an berarti bacaan, ia bukan bacaan biasa. Kenapa? Karena pengaruhnya sangat mendalam terhadap jiwa seorang Muslim seperti diungkapan secara indah oleh Schuon  pada halaman 60 (dalam bukunya seperti tertera dalam Catatan kaki ke-1):

… the verses of the Quran; they are not merely sentences which transmit thoughts, but are in a way beings, powers or talismans; the soul of the Moslem is, as it were, woven of sacred formulae; in these he works, in these he rests, in these he lives and in these he dies.

“Ayat-ayat Alquran bukan hanya kalimat yang mentransmisikan pemikiran; dalam arti tertentu mereka adalah wujud, kekuatan atau jimat; jiwa umat Islam adalah layaknya anyaman dari formula suci yang di dalamnya dia bekerja, istirahat,  menjalani kehidupan dan meninggal dunia. “

Al-Qur’an bacaan siapa? Bacaan siapa saja karena Yang_Maha_Tinggi adalah rabb bagi siapa saja, diakui atau tidak, suka atau terpaksa. Kitab Suci itu berbicara bukan hanya kepada orang beriman, tetapi juga kepada kelompok Ahli Kitab (ahlul Kitab), orang-orang kafir (kafaru, lihat, misalnya, ayat ke-7 Surat at-Tahrim), kelompok yang terdiri dari sebagian (Arab: min) musyrikin Quraisy dan Ahli Kitab (lihat al-Bayyinah:6), bahkan kepada manusia secara keseluruhan (al-Baqarah:21).

Kepada semua kelompok ini Yang_Maha_Tinggi menggunakan kata panggilan (Arab: nida) yang “mesra” wahai.. (Arab: ya[2]). Singkatnya, Al-Qur’an milik semua, terlepas dari pada identitas kelompok atau agamanya; masing-masing berhak dan seyogyanya secara voluntir membaca, mempelajari, serta mengambil manfaat darinya. Walaupun demikian kita tidak boleh kehilangan wawasan bahwa, seperti ditegaskan oleh ayat ke-48 (dikutip sebelumnya) atau al-Baqarah (2), hanya orang bertakwa yang dapat mengambil pelajaran positif dari Al-Qur’an.

quran

Sumber: Youtube

Walaupun berbicara kepada semua kelompok, Ahli Kitab tampaknya memperoleh perhatian khusus dari al-Qur’an yang fungsinya antara lain membenarkan (tashdiq) kitab-kitab sebelumnya sekaligus meluruskan penyimpangan dalam memahami dan mengaplikasika ajaran-ajaran Kitab Suci mereka. Al-Qur’an sangat sering membicarakan Ahli Kitab  seperti yang tercantum khsusunya dalam Surat ke-2 (al-Baqarah), Surat ke-4 (al-Imran), Surat ke-19 (Maryam) dan Surat ke-20 (Thaha). Jika Surat ke-2 dan ke-20 al-Qur’an banyak berbicara mengenai Umat Yahudi (Bani Israil) maka Surat ke-4 dan ke-19 mengenai Umat Nasrani[3]. Istilah Ahli Kitab, suatu gelar terhormat, mengacu kepada dua umat ini. Agama bagi Ahli Kitab, dan bagi Umat Muhammad saw (al-Qur’an menggunakan istilah amanu, orang-orang beriman), dikenal sebagai agama samawi yang memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahiem as[4].

Ibrahimem as dikenal sebagai nabi yang mengenalkan ajaran mengenai keesaan Tuhan tauhid secara lugas serta mengamalkannya secara luar biasa disiplin. Ajaran tauhid ini lah yang merupakan kesamaan visi keagamaan semua agama samawi yang seringkali diingatkan al-Qur’an secara persuasif tetapi tegas, sebagaimana tercemin dari kutipan Surat al-Imran berikut:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling muka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim. (Ayat 64)

Wahai Ahli Kitab! mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil dia (Ibrahim)? Apakah kamu mengerti? (Ayat 65).

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia seorang yang lurus, muslim dan tidak termasuk orang-orang musyrik. (Ayat 67).

Paling ada dua catatan yang menarik untuk diberikan di sini: (1) Pembicaraan terkait dengan Ahli Kitab dalam surat itu berlanjut dalam ayat-ayat berikutnya sampai ayat ke-115. Banyaknya ayat yang digunakan tidak pelak mengidikasikan pentingnya isu yang dibicarakan, dan (2) Strategi qur’ani untuk berkomuikasi dengan Ahli Kitab adalah dengan megedepankan “keasamaan” atau kalimatun sawa (common denominator) dalam inti ajaran agama samawi yaitu ajaran tauhid.

Catatan terakhir kita mengenai Ahli Kitab versi qur’ani, ini mungkin di luar pemahaman mayoritas Umat Islam, adalah bawa perilaku keagamaan Ahli Kitab sama-sekali tidak sama sebagaimana secara tegas dikemukakan al-Imran (113-115):

Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat).

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegara (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh.

Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.

Kutipan ayat terakhir tampaknya menantang kita untuk meredefinsi cakupan makna taqwa. Wallahu’alamu bimuraadih….@

(*) Lihat http://www.studiesincomparativereligion.com/public/articles/The_Qoranic_ Symbolism of  Water-by_Martin_Lings.aspx.  

[1] Pernyataan ini perlu untuk membedakan al-Qur’an dengan Perjanjian Baru (New Testament), misalnya, yang mencakup tidak hanya sabda Nabi Isa as (saying of Christ) dan Kitab Wahyu (the Apocalypse), keduanya dianggap sebagai mode atau level inspirasi langsung, tetapi juga cerita dalam Injil (Gospel) dan Surat Rasul (the Epistles) yang dianggap memiliki level isnspirasi tidak langsung. Pernyataan ini juga perlu untuk membedakan Al-Qur’an dengan Kitab Suci Yahudi yang tidak hanya mencakup Taurat (Torah) yang dianggap kumpulan inspirasi langsung tetapi juga Mishna (the Mishna) yang merupakan komentar ortodoks dari para ahli Taurat awal: Taurat dianggap “tertutup” yang hanya dapat dibuka oleh para orang suci (sages) (lihat Schuon, Undertanding Islam, 1997:40 dan 44)

[2] Sejauh ini penulis belum menemukan ayat dimana Yang_Maha_Tinggi berbicara kepada kelompok munafik sebagai pihak ke-dua atau lawan bicara (Arab: mukhatabah).

[3] Menurut al-Qur’an, Nabi Isa as diutus bagi Bani Israil (Yahudi), bukan bagi manusia secara keseluruhan (lihat, misalnya, al-Shaaf:6)

[4] Posting mengenai leluhur agama samawi dapat  diakses   antara lain dalam https://uzairsuhaimi.blog/2010/11/20/silsilah-agama-samawi/  https://uzairsuhaimi.blog/2012/08/26/esensi-iman-perlambang-wujud-mutlak-dan-segitiga-sama-sisi/

 

Berpuasa dengan Ihsan

Signifikansi Puasa

Saat ini hampir dua milyar kaum muslimin secara serentak berpuasa. Ini tak pelak merupakan suatu event tahunan unik dan salah satu pengalaman spiritual tingkat global terdahsyat di dunia ini[1]. Kenapa kaum muslimin bersusah payah berpantang makan, minum, berhubungan seksual dan kegiatan lain yang diketahui atau patut diduga dapat membatalkan puasa, sepanjang hari selama sebulan penuh? Jawabannya singkatnya, mereka menyadari puasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu kewajiban agama, sesuai al-Baqarah ayat 183. Mereka, berdasar ayat yang sama, mengetahui bahwa kewajiban serupa juga berlaku bagi umat-umat sebelumnya, termasuk penganut Agama Nasrani. Walaupun demikian, main stream kelompok umat ini tampaknya tidak menganggap puasa sebagai suatu kewajiban agama[2]:

Scripture does not command Christians to fast. God does not require or demand it of Christians. At the same time, the Bible presents fasting as something that is good, profitable, and beneficial. The book of Acts records believers fasting before they made important decisions (Acts 13:2; 14:23).

Kenapa seperti itu, tentu ada hikmah ilahiah yang berada di luar jangkauan nalar kita untuk memahami sepenuhnya. Mungkin kita hanya dapat berandai-andai: seandainya puasa dipraktekkan oleh Umat Nasrani sebagaimana Umat Islam melakukanya, dunia mungkin akan menyaksikan kehidupan global yang lebih indah dari yang kita alami sekarang. Kenapa lebih indah? Paling tidak karena dua alasan. Pertama, secara statistik, populasi Umat Nasrani pada tingkat global lebih besar dari pada populasi Umat Islam. Kedua, praktek puasa dapat mengundang turunnya rahmat dan berkah “langit” berupa kesempatan untuk mengembangkan spiritualitas pelakunya.

Fasting in Ramadan is a unique opportunity to develop spiritually and gain strength and control over our selves, our egos, the nafs, the unconscious automatic primitive nature that tends to dominate our lives when unchecked. … By observing fasting in Ramadan, a Muslim has a profound and unique opportunity to become more peaceful, present and spiritual — the very goal of Islam.

Puasa sebagi Rukun Islam

Bagi muslim, puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Dalam konteks ini Islam dimaknai dalam arti sempit sebagai amalan lahiriah. Mengacu kepada hadits Jibril, Islam sebagai amalan lahiriah dapat dibedakan dari Iman yang menekankan amalan intelektual dan Ihsan yang menekankan amalan hati. Aspek amalan lahiriah merupakan bidang keahlian para ahli fiqh, sementara amalan intelektual dan amalan hati masing-masing merupakan keahlian ahli kalam dan ahli tasauf. Islam dalam arti sempit ini diilustrasikan oleh ayat ini:

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka) “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam)”, karena iman belum masuk dalam hatimu…. “ (49:14).

Yang perlu dicermati adalah bahwa Al-Qur’an menggunakan kata Islam (atau kata turunanya) dalam berbagai konteks dan mengandung makna yang lebih luas dari yang terungkap dalam kutipan di atas. Makna Islam yang lebih luas dapat dilihat dalam kutipan ayat-ayat berikut:

  1. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikma-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu (5:3)
  2. Apakah kamu menjadi saksi saat maut menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya (Arab: muslimun) (2:133)
  3. Maka mengapa mereka mencari agama lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri (Arab: aslama) kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya semua dikembalikan (3: 83).

Kata Islam dalam kutipan pertama mengacu kepada keseluruhan ajaran Muhammad saw dan inilah yang tampaknya menjadi definisi Islam yang paling populer. Walaupun demikian, kita tidak boleh kehilangan wawasan bahwa al-Qur’an sebenarnya menggunakan istilah Islam dalam konteks yang lebih luas dari definisi populer itu karena menyangkut keseluruhan ajaran Ibrahiem AS dan ajaran anak-cucunya (2:133), dan bahkan mengacu pada keber-serahan-diri seluruh alam (3:83).

Bagi non-manusia, Islam atau sikap berserah-diri bersifat otomastis, tetapi bagi manusia sikap itu bersifat voluntir dalam arti harus didasari oleh kehendak sendiri. Kenapa? Karena manusia diciptakan sesuai “gambar”-Nya sehingga memiliki kebebasan penuh bahkan untuk membangkang-Nya.

Islam dalam pengertian paling sempit (49:14), seperti disinggung sebelumnya, dapat dibedakan dari Iman atau Ihsan. Tripatriat Islam-Iman-Ihsan membangun keseluruhan al-Dien atau Islam dalam arti luas. Pada umumnya para ulama sepakat bahwa ber-Islam (dalam artian sempit) belum tentu ber-Iman, tetapi ber-Iman mustahil tanpa ber-Islam. Mereka pada umumnya juga sepakat bahwa ber-Iman belum tentu ber-Ihsan, tetapi ber-Ihsan mustahil tanpa ber-Iman. Dalam bahasa matematis: Islam merupakan subset dari Iman yang merupakan subset dari Ihsan.

Pada hakikatnya, tripatriat Islam-Iman-Ihsan melingkupi semua tindakan utama khas manusia yang perlu diintegrasikan agar suatu tindakan positif mendatangkan hasil yang optimal sesuai yang dikehendaki. Tripatriat ini setara dengan tripatriat actingknowing-willing; atau activity-intellectuality-spirituality; atau work- faith-perfection.

ihsan

Sumber: Youtube

Dalam kaitannya dengan puasa, uraian di atas menyimpulkan bahwa untuk mencapai sasaran yaitu taqwa, puasa perlu dilakukan secara Ihsan. Kalimat pendek ini berarti bahwa untuk mencapai puncak kualitas mausia (taqwa), puasa perlu dilakukan bukan hanya sebagai tindakan lahiriah, tetapi sekaligus juga harus didasari oleh Iman, dan disempurnakan dengan Ihsan[*]. Ini berarti berarti pula bahwa puasa seyogyanya  dilakukan secara sempurna sesuai kaifiat (tatacara) yang ditetapkan syariat, dimotivasi keinginan untuk memperoleh ridha-Nya dan bukan karena motif lain, memperhatikan adab puasa, serta menyibukkan diri dengan amalan-amalan unggulan baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Inilah agaknya makna hadits: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR. Bukhari). Wallahu’alam ……@

[*] Posting mengenai Ihsan ini dapat diakses dalam blog ini, antara lain yang bertajuk Ihsan: Pilar Agama yang Terabaikan.

[1] http://www.islamicrenaissance.com/blog/10-reasons-for-fasting-in-ramadan/

[2] http://www.christianbiblereference.org/faq_fasting.htm