Simbolisme Bendera dan Hewan Kurban

Teman kita yang satu ini kreatif. Meski sudah pensiun dan berusia-kepala-6, ia masih aktif berbisnis, “bisnis serabutan” katanya. Bulan ini bisnisnya agak aneh: jualan bendera dan hewan kurban, sebagai “pemodal” sekaligus “manajer”. Ketika ditanya kenapa tidak fokus pada salah satu, ia menjawab ada kesamaan di antara keduanya. Ini argumennya: “Kalau sampean memasang bendera di depan rumah, atau patungan membeli sapi korban, maka itu merupakan tindakan simbolis”.

Ungkapan itu memulai “ceramah” teman kita mengenai dua topik ini: bendera dan kurban. Sasaran ceramah hanya penulis. Tulisan ini meringkas isi ceramah yang dimaksud.

Rasa Kebangsaan

Mengenai bendera, yang penting bukan gambar atau warna-warninya, tetapi bagaimana warga negara itu memaknainya: “Bendera menyimbolkan entitas dan kehormatan suatu negara”, tegasnya. Nilai rupiah sehelai kain bendera bukan apa-apa dibandingkan dengan nilai simbolis yang diwakilinya:

“Bendera mewakili solidaritas dan kehormatan bangsa sedemikian rupa sehingga warga-bangsa yang bersangkutan dapat menjadi emosional mengenainya dan menumbuhkan rasa patriotisme. Bendera adalah instrumen untuk menumbuhkan rasa kebangsaan warga-bangsa”.

Demikianlah ceramahnya mengenai bendera. Ia siap pergi tetapi urung karena penulis bertanya mengenai simbolisme Kurban.

Analisis Bahasa

“Kalau sampaian serius mengenai sesuatu, maka langkah pertama adalah melakukan analisis bahasa mengenai sesuatu itu”.

Demikianlah kalimat pembuka ceramahinya mengenai kurban. Baginya kalimat ini wajar: ia jebolan Fakultas Adab (Bahasa) suatu IAIN sehingga memahami seluk-beluk nahwu-sharaf, tata Bahasa Arab). Lanjutnya:

“Kalau sampean berselawat dan bersalam kepada junjungan nabi kita maka itu bagus, tetapi tidak cukup bagus, sebelum sampean memahami arti selawat dan salam”.

“Tapi kita tidak sedang membicarakan selawat dan salam; topik kita kurban”, penulis menyela.

[Penulis menyela karena ia mulai terlihat tidak fokus, gejala kepala 60-an.] Dia kembali fokus dan melanjutkan ceramahnya:

“Kata kurban berasal dari qurb (Arab) yang artinya pendekatan atau suatu metode untuk mendekati seseorang. “Jadi, cara sampean mendekati janda itu namanya qurb“, selorohnya.

Untuk menghentikan seloroh penulis bertanya dengan nada dibuat serius:

“Dulu kaum musyrik Mekah menyembah berhala sebagai qurb kepada Allah. Apakah tindakan semacam ini dapat dibenarkan?” Teman kita merespons:

“Sama sekali tidak! Juga sangat berisiko karena praktik semacam itu dapat membuat kita berhenti pada simbol dan bahkan meng-ilah-kannya, memberi status keilahian pada simbol”.

Gemuk dan Sehat

Terkait dengan hukum berkurban, teman kita ini menjelaskan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Walaupun demikian, ia memberi nasihat serius: “Kalau sampean mampu lakukan saja. Pasalnya, ragam pendapat mengenai masalah ini false positive“. [Penulis tertawa mendengar dua-kata terakhir ini tapi teman kita melanjutkan ceramahnya dengan datar sebelum penulis bertanya.]

Dia menjelaskan ada tiga pendapat ulama mengenai hukum kurban: menganjurkan (sunnah, jumhur ulama), sangat dianjurkan (sunnah muakkadah, mazhab Syafii), wajib (mazhab Hanafi). Atas dasar ini dia sangat menganjurkan berkurban.

“Kalau ternyata wajib, dengan melakukannya sampean terbebas dari kewajiban; kalau ternyata sunnah, semoga saja sampean memperoleh pahala sunnah moyang purba kita yaitu Ibrahim AS”.

Mengenai hewan kurban ia menasehati untuk memilih yang gemuk dan sehat “agar banyak dagingnya dan aman dikonsumsi oleh orang lain” katanya. “Ingat, yang mengonsumsi hewan kurban sampean bukan hanya sampean dan keluarga”, lanjutnya. Dia juga meyakinkan penulis, sekalipun hewan kurban yang gemuk dan sehat relatif mahal, memilihnya pasti tidak merugikan karena pahalanya sebanyak bulu hewan yang dikorbankan.

Sumber Foto: Google

Bukan dagingnya, bukan darahnya

Teman kita ini sebenarnya cenderung pada pendapat yang mewajibkan berkurban atas dasar QS (108): “Coba sampean rasakan kesungguhan perintah berkurban dalam Surat terpendek itu”, sarannya.  Mengenai latar belakang perintah berkurban ia merujuk tulisan Shehzad Saleem yang bertajuk “Philosophy of Animal Sacrifice on Eid”. Bagi penulis ia mengutip sebagian isinya tanpa terjemahan:

The reason for animal sacrifice on eid is to commemorate a great event which depicts an extraordinary expression of submission to the command of Allah – the essence of Islam. The Prophet Abraham (sws) while obeying the Almighty set a platinum example of this submission.

Sebelum mengakhiri ceramah, teman kita ini menegaskan yang esensial dalam berkurban adalah takwa yang seharusnya melatarbelakangi tindakan berkurban. Setelah direnungkan, penegasan ini ternyata sejalan dengan kutipan di atas, juga dengan kandungan QS (22:37):

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.

Demikianlah ceramah teman kita ini. Ringkasannya dalam dua kalimat yang mudah diingat kira-kira begini:

Menghormati bendera dan berkurban adalah tindakan simbolik. Yang pertama menyimbolkan rasa kebangsaan, yang kedua nilai takwa.

Wallahualam…@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Ibrahim AS: Sejarah dan Doa

Musim haji ini adalah waktu yang tepat untuk menengok sosok Nabi Ibrahim AS paling tidak karena ada dua alasan. Pertama, Nabi AS inilah yang menyerukan manusia untuk berhaji. Seruannya sangat efektif dilihat dari banyaknya jamaah merespons dan beragamnya status sosial ekonomi[1] mereka. Kedua, beberapa ritual haji melestarikan nilai-nilai yang merupakan warisan Nabi AS atau keluarganya[2]. Pertanyaannya, siapakah tokoh luar biasa ini? Tulisan ini[3] bermaksud menjawab pertanyaan ini dengan menyajikan secara singkat sejarah Nabi AS ini dan mengilustrasikan– berdasarkan sejumlah ayat Al-Quran– bagaimana semua doa Nabi AS ini dikabulkan.

Sumber gambar: Google

Sejarah Ibrahim AS

Salah satu sumber bacaan sejarah Nabi AS ini yang kredibel, mudah diakses dan dibaca adalah Karya Dirk (2002)[4] dalam bukunya Abraham, the Friend of God[5]. Menurut Dirk, Ibrahim AS lahir di UR (Irak) pada tahun 2166 SM atau sekitar empat milenium yang lalu.

Ibrahim AS sangat berani dalam mengusung ajaran tauhid yang murni. Ketika masih berusia 16 tahun beliau sudah berdakwah secara terbuka bahkan di hadapan Kaisar Naram, kaisar Irak Kuno, yang musyrik. Akibatnya, beliau diadili oleh kaisar itu dan dihukum dengan cara diceburkan ke dalam api yang menyala. Gambaran selanjutnya mengenai sejarah Nabi AS ini diringkas pada Tabel 1.

Tabel 1: Garis Waktu Sejarah Ibrahim AS

Tahun (Sebelum Masehi)Umur Ibrahim AS (tahun)

Peristiwa

21660Lahirnya Ibrahim AS ibn Aazar di UR (Irak).
215016

Ibrahim AS menghancurkan berhala, diadili Kaisar Naram dan dimasukkan ke dalam api.

Luth AS mengakui Keesaan Tuhan.

211749Ibrahim AS menikah dengan Sarah RA.
210660Ibrahim AS membakar Kuil di UR.
209175Ibrahim AS tiba di Palestina bersama Sarah RA dan Luth AS.
208977Ibrahim AS, Sarah RA dan Luth AS tiba di Mesir.
208482Ibrahim AS, Sarah RA dan Siti Hajar pindah ke Hebron.

Sarah RA memberikan Siti Hajar kepada Ibrahim AS sebagai istri kedua.

208185Siti Hajar RA mengandung.
208086Ismail AS lahir (dari Siti Hajar RA).
206799Ibrahim AS mengurbankan Ismail AS.

Ibrahim AS dan Ismail AS dikhitan.

2064-2029108-137Ibrahim AS dan Ismail AS Membangun Kabah.
1991175Wafatnya Ibrahim AS.

Sumber: Lihat Catatan 5.

Doa yang Terkabul

Sebagian doa Nabi AS ini didokumentasikan dalam Al-Quran. Tiga doa di antaranya yang terkait dengan haji adalah sebagai berikut (QS 2: 126-8):

  1. Doa agar Kota Mekah dikaruniai keamanan dan penduduknya dianugerahi kelimpahan buah-buahan (ayat 126);
  2. Doa yang doanya dikabulkan (ayat 127); dan
  3. Doa agar diri dan keturunan-keturunannya menjadi muslim dan diajari tata cara haji (ayat 128).

Semua doa ini terkabul. Ada doa lainnya yang diabadikan dalam ayat lanjutan:

Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha bijaksana (QS 2:129).

Ayat ini menarik jika disandingkan dengan ayat ke-151 (Surat yang sama):

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

“Seorang rasul” yang dimaksud dalam ayat ke-129 adalah Nabi Muhammad SAW. Jadi, doanya terkabul. Bagian selanjutnya ayat ini menggambarkan karakteristik misi rasul yang didoakan. Apakah ini juga terkabul? Jawabannya terungkap dalam ayat ke-151.

Agar jelas, kita dapat mencermati dua ayat ini dan membandingkannya. Sebagaimana terlihat, ayat ke-129 menggambarkan tiga misi rasul yang didoakan: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (3) menyucikan. Ayat ke-151– dapat dikatakan sebagai “realisasi” dari doa itu– menggambarkan empat misi rasul: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) menyucikan, (3) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (4) mengajarkan yang belum diketahui. Dari perbandingan dua ayat ini kita dapat menyimpulkan:

  1. Semua doa Ibrahim AS dikabulkan;
  2. Fungsi rasul yang ke-4, “mengajarkan yang belum diketahui”, adalah bonus dalam arti tidak termasuk dalam doa Ibrahim AS; dan
  3. Berbeda dengan ayat ke-129, urutan “menyucikan” disebutkan terlebih dahulu sebelum “mengajarkan Kitab Suci dan Hikmah” dan “mengajarkan yang belum diketahui”.

Kesimpulan ke-2 mengesankan misi khas Nabi Muhammad SAW adalah “mengajarkan apa yang belum diketahui”. Kesan ini paralel dengan ayat ke-5 Surat Al-Alaq (ke-96), Surat yang lima ayat pertamanya [6] mengabadikan wahyu pertama kepada Nabi SAW.  Kesimpulan ke-3 agaknya mengisyaratkan kepada kita bahwa “kesucian” merupakan prasyarat untuk memperoleh “pengajaran Kitab dan Hikmah” dan untuk “memperoleh pelajaran baru“, tapi …

Wallahualam….@

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/21/haji-ibrahim-seruan-efektif/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/24/haji-warisan-ibrahim/.

[3] Tulisan lain terkait dengan Nabi AS ini yang berjudul “Mengenal Pemimpin Besar Ibrahim” dapat diakses di sini.

[4] Dirk adalah mantan pendeta yang nama lengkapnya Haji Abu Yahya Jerald F. Donald, PsyD Abu ‘Alenda. Ini sebagian pengakuannya: “… saya lahir dan dibesarkan di lingkungan Kristen; saya punya izin berkhotbah dari Gereja Metodis Bersatu, 1969; saya adalah pendeta resmi dari Gereja Metodis Bersatu, 1972, dan memeluk Islam pada 1993 (halaman 10).

[5] Buku ini terbitan Amana Publications (2002) dan sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Ibrahim Sang Sahabat Tuhan oleh Serambi (2004).

[6]  Inilah terjemahan lima ayat yang dimaksud: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya“. 

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Haji dan Warisan Ibrahim AS

Ibadah Haji terkait dengan warisan Nabi Ibrahim AS di Arab[1]. Warisan yang dimaksud utamanya adalah ajaran untuk mengesakan Tuhan YME, monoteisme atau tauhid. Nabi AS ini masyhur karena kegigihan dan keberaniannya mengusung prinsip tauhid ini secara murni. Prinsip tauhid inilah yang terungkap dalam talbiyah, bacaan yang dikumandangkan oleh jamaah haji ketika mengenakan pakaian ihram. Dengan mengumandangkan ini jamaah berikrar siap berhaji hanya untuk-Nya dan pengakuan tidak ada sekutu bagi-Nya. Singkatnya, ibadah haji menekankan pemurnian prinsip tauhid.

Sumber Gambar: Google

Bukan Ziarah Biasa

Haji biasa diterjemahkan dengan ziarah (Indonesia) atau pilgrimage (Inggris). Penulis meragukan ketepatan terjemahan ini:

  • Istilah ziarah (pilgrmage) umumnya terkait dengan niatan mengunjungi makam (kuburan), situs atau peninggalan orang yang dianggap suci. Dalam berhaji tidak ada makam yang dikunjungi! Makam Rasul SAW? Tidak juga. Kunjungan ke sana bukan bagian dari ibadah haji.
  • Sebagian jamaah mungkin mengunjungi hudaibiyah, situs di mana Rasul SAW menyelenggarakan perjanjian historis dengan pihak Quraisy Mekkah. Tetapi itu bukan untuk berziarah, melainkan untuk miqat atau mengambil titik mulai haji dan mulai mengenakan pakaian ihram.
  • Masjid Haram dan Kabah jelas situs sejarah tetapi kehadiran jamaah di sana tidak diniatkan untuk ziarah dalam pengertian umum kata itu, melainkan untuk salat, sa’i dan tawaf. Mencium Kabah juga bukan bagian dari ibadah haji. Terkait dengan ini ada ucapan Umar RA otoritatif: “Kalau Rasul SAW tidak melakukan aku pasti tidak melakukannya”.

Singkatnya, haji bukanlah ziarah dalam pengertian umum. Oleh karena itu, memadankan kata haji dengan kata ziarah dalam pengertian umum berisiko mengaburkan makna substantif ibadah haji.

Warisan Ibrahim AS

Seperti ditegaskan sebelumnya, warisan utama Ibrahim AS adalah ajaran tauhid. Di luar ini paling tidak ada enam alasan untuk mengaitkan ibadah haji dengan warisan Nabi AS itu. Hampir semua alasan itu bersifat qurani dalam arti berbasis ayat Al-Quran sebagaimana terlihat pada daftar berikut:

  1. Yang menyerukan ibadah haji adalah Ibrahim AS (QS: 22:27) kira-kira empat milenium yang lalu[2];
  2. Yang membangun (ulang) Kabah adalah Ibrahim AS dan anaknya Ismail (QS 2:125);
  3. Yang memohon petunjuk mengenai tata-cara atau Manasik Haji adalah Ibrahim AS bersama anaknya Ismail AS (QS 2:128);
  4. Ritual Sa’i –lari-lari kecil antara Bukit Marwah dan Bukit Shafa tujuh balik– melestarikan nilai kegigihan seorang ibu (Sarah AS) ketika berjuang mencari air dan meminta pertolongan (di tempat yang tak berpenghuni) bagi bayinya (Ismail AS) yang tengah sekarat karena kepalaparan dan dehidrasi;
  5. Ritual Jumrah melestarikan nilai ketegasan Ibrahim AS menentang desakan Setan untuk melawan perintah-Nya  kembali ke istri pertamanya (Sarah AS) di Palestina dan meninggalkan Hajr AS yang tengah mengandung; dan
  6. Tradisi korban hewan pada Bulan Haji melestarikan nilai kepatuhan-mutlak Ibrahim AS terhadap peritah-Nya untuk mengorbankan satu-satunya anak (ketika itu) yang sudah puluhan tahun di dambakannya yaitu Ismail AS ketika beranjak dewasa (QS 37:102).

QS (37:102) tidak menyebutkan secara eksplisit anak yang dikorbankan Ibrahim AS: Ismail AS sebagaimana diyakini Muslim atau Ishak AS sebagaimana diyakini Yahudi dan Kristen. Dalam konteks ini layak dicatat kesimpulan Dirk (lihat catatan ke-2), berdasarkan kajian cermat terhadap teks biblikal yang relevan, yang lebih mengarah kepada keyakinan Muslim. Selain itu, fakta sosiologis historis bahwa tradisi korban (hewan) dalam Bulan Haji yang mentradisi di wilayah Arab dan lingkungan komunitas Muslim, sejalan dengan kesimpulan Dirk: anak yang dikorbankan oleh Ibrahim AS adalah Ismail AS, leluhur Nabi Muhammad SAW.

Allahumma shalli wa barik ‘alaa Muahmmad waalihi/kama shallaita wa barakta ‘alaa Ibrahim waalilihi/fil’alamin innaka hamidun majid/

[1] Rujukan geografis perlu disebutkan karena wilayah dakwah beliau sangat luas: Irak, Palestina, Mesir dan Arab. Itulah sebabnya beliau diakui sebagai pemimpin besar, imam atau patriarch oleh penganut ketiga agama samawi: Yahudi, Kristen dan Islam.

[2] Dr. Jerald F. Dirk (2002, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan (Tabel 9, 286-290), Serambi.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Haji: Seruan Ibrahim AS yang Efektif

Dalam hitungan minggu, jutaan orang Muslim akan menyelenggarakan haji, ibadah yang merupakan Prinsip atau Rukun Islam yang kelima atau terakhir. Jika Rukun Islam ke-1 terkait dengan kesaksian Keesaan Tuhan atau prinsip tauhid, maka Rukun Islam ke-5 dengan afirmasi atau peneguhan prinsip tauhid ini yang dilakukan secara kolosal.

Sumber Gambar: English-arabiya.net

Haji dapat dikatakan sebagai upacara keagamaan terbesar kedua setelah Kumbha Mela bagi Umat Hindu yang dapat dihadiri sampai 60 juta orang. Tetapi keduanya sangat berbeda dalam hal semangat, latar belakang teologis dan acara utamanya[1].

Prinsip tauhid dalam haji tercermin dari bacaan talbiyah. Bacaan ini dilantunkan sebagai bentuk ikrar keikhlasan melakukan haji hanya untuk-Nya. Jamaah melakukan ini berulang kali begitu mereka mengenakan pakaian ihram[1], pakaian yang menyimbolkan upaya menyucikan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Berikut ini adalah teks talbiyah yang dimaksud berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari-Muslim:

labbaika/allhumma/labbaika/

labbaika/Lasyarika laka/labbaika/

innal hamda/ wanni’mata/walmulk/ 

la syarika laka/

Dari teks itu paling tidak ada tiga catatan yang layak digarisbawahi.:

  1. Allah SWT diposisikan sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah) yang mengesankan kedekatan-Nya dengan pembicara. Posisi ini ditunjukkan oleh kata ka atau laka.
  2. Prinsip tauhid terungkap dalam kata La Sharika Laka (artinya: “tidak ada sekutu bagi-Mu) yang diulang sampai dua kali.
  3. Teks itu dilafalkan  sepanjang rute dan waktu yang relatif sama, secara kolosal oleh jutaan orang.

Tetapi berapa juta?

Total jamaah haji tahun ini secara global diperkirakan berjumlah sekitar 2.3 juta orang. Jumlah itu kira-kira setara dengan total penduduk Kabupaten Karawang, atau Kabupaten Cirebon, atau Qatar, atau dua kali Bahrain.

Mengurus orang sebanyak itu jelas memerlukan operasi logistik yang luar biasa, unparalled logistical operation, menurut istilah Arab News (http://www.arabnoews.com). Menurut sumber ini, dalam haji tahun lalu (2018) Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah mengerahkan sekitar 30,000 tenaga medis. Pada saat yang sama Palang Merah kerajaan ini telah mengoperasikan 127 pusat gawat darurat, dan hampir 2,000 staf.

Jamaah haji datang dari berbagai penjuru dunia. Yang terbanyak adalah jamaah tuan rumah yang totalnya diperkirakan mencapai 600,000 orang. Di luar jamaah tuan rumah, jamaah Indonesia paling banyak, sekitar 10% dari angka total. Totalnya setara dengan 2.0 kali total jamah Mesir, 2.6  kali total jamaah Iran, dan 2.8 kali total jamaah Turki (lihat Grafik 1).

Grafik 1: Jumlah Jamaah Haji 2017 dari 10 Negara Terpilih

Sumber: Ini

Sekalipun penyuplai jamaah haji terbesar (setelah tuan rumah) Indonesia secara proporsional bukanlah “negara haji”. Menurut PEW Research Center, proporsi penduduk Indonesia yang mengaku pernah haji hanya 3%. Angka ini relatif kecil, lebih kecil dari rata-rata proporsi Asia Tenggara (lihat Grafik 2).

Grafik 2: Proporsi Penduduk yang mengaku Pernah Haji

Sumber: Ini 

Kedatangan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia merupakan tanggapan terhadap seruan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim AS sekitar empat milenium lalu[2]. Secara misterius pengumuman itu sampai ke “hati” Umat Islam sampai sekarang dengan kecepatan penerimaan yang semakin meningkat: jumlah jamaah haji cenderung meningkat dan mungkin sudah maksimal dari sisi implikasi logistiknya. Seruan itu diabadikan dalam Al-Quran:

dan serulah manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh (QS 22:27).

Seruan ini sangat efektif. Buktinya, tahun ini saja lebih 2 juta Umat Islam menanggapinya. Dari berbagai penjuru. Dari semua lapisan sosek masyarakat. Tidak semua jamaah mampu menanggapi undangan ini secara mudah. Sebut saja kasus seorang jamaah Indonesia tahun ini dilaporkan seorang nenek yang berprofesi sebagai penjual kayu bakar dan menabung selama 20 tahun. Kasus ini juga menyajikan kasus betapa efektifnya sruan Nabi Ibrahim SAW itu.

Wallahualam….@

[1] Kumbha Mela adalah suatu upacara ritual ziarah Umat Hidu di India setiap 12 tahun di empat lokasi di India: Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain dam Nashik. Upacara ini didasarkan pada teologi Hindu– tepatnya mitologi Hindu– dan acara utamanya adalah mandi di tepi sungai (lihat ini).

[2] Angka ini mengasumsikan bahwa pengumuman itu disampaikan ketika Ibrahim AS dan Ismail AS memugar bangunan Kabah dan itu terjadi antara 2069 dan 2024 Sebelum Masehi (Lihat Dr. Jerald F. Dirk (2002), Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, Serambi, Tabel 1).

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Visi Indonesia Jokowi: Beberapa Catatan

Beberapa hari yang lalu (14/7/19 malam) Presiden Jokowi menyampaikan pidato pertamanya sebagai presiden terpilih Pilpres 2019 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor. Tulisan ini menyajikan beberapa catatan singkat mengenai pidatonya yang padat dan terfokus itu.

Dari “Kerja!” menjadi “Cepat!”

Durasi pidato itu sangat singkat, sekitar 25 menit. Isinya padat dan terfokus. Fokusnya, bukan pada apa yang menjadi visi beliau, melainkan pada misi bagaimana pembangunan pembangunan Jilid II akan dieksekusi. [Visinya agaknya dianggap sudah jelas dengan sendirinya.]

Berbeda dengan pidatonya lima tahun sebelumnya (Jilid I) yang banyak mengetengahkan aspek-aspek normatif (misalnya, revolusi mental), pidato kali ini (Jilid II) lebih bersifat pragmatis. Pengalaman Jilid I agaknya menguatkan kepercayaan diri dan determinasi beliau untuk membuka Jilid II. Lebih dari itu, jalau moto Jilid I “Kerja, Kerja, Kerja!”, maka moto Jilid II kira-kira “Cepat, Cepat, Cepat!”. Jadi, ada perbedaan aksentuasi.

Isi Pidato

Ada lima butir pokok pikiran yang disampaikan dalam pidato itu: (1) melanjutkan infrastruktur, (2) menekankan pembangunan SDM, (3) meningkatkan investasi, (4) melanjutkan reformasi birokrasi, dan (5) Memastikan penggunaan APBN yang tepat sasaran. [Penggunaan awalan me dalam rumusan di atas menegaskan bahwa isi pidato terkait dengan misi atau objectives, bukan visi atau goals.] Di luar lima butir ini,  pidato juga menyinggung pentingnya stabilitas politik sebagai prasyarat tercapainya sasaran pembangunan, dengan menekankan arti sentral Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa.

Pembaca yang sudah “sepuh” dapat melihat keterfokusan pidato itu kira-kira setara dengan keterfokusan rumusan Pelita I (1969-1973/4) yang hanya mencakup tiga isu:

  1. Memberikan bibit unggul kepada petani dan melakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan bibit unggul yang tahan hama tersebut.
  2. Memperbaiki infrastruktur yang digunakan oleh sektor pertanian seperti jalan raya, sarana irigasi sawah dan pasar yang menjadi tempat dijualnya hasil pertanian.
  3. Melakukan transmigrasi agar lahan yang berada di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua dapat diolah agar menjadi lahan yang menghasilkan bagi perekonomian.

Kembali kepada Pidato Presiden.

Karena padat dan terfokus maka isi pidato mudah dicerna oleh kalangan luas, mulai dari emak-emak hingga kalangan peneliti dan akademisi. Walaupun padat dan terfokus, isi pidato secara keseluruhan sudah memadai sebagai policy direction bagi para calon pembantu Presiden, paling tidak untuk beberapa kementrian atau lembaga. Itulah kekuatan dari pidato itu: “Arahnya harus ke sana, fokusnya harus ke sana”, kata Presiden. Tapi kita punya tiga catatan lainnya, catatan kritis.

Isu Pemerataan

Isi pidato dapat diringkas ke tiga kata: pertumbuhan (1 dan 3), SDM (2) dan efisiensi (4 dan 5). Catatan yang layak dikemukakan adalah bahwa isi pidato tidak menyebutkan isu HAM. Kita berprasangka baik saja: hal ini bukan berarti beliau mengabaikan isu HAM, tetapi karena keterbatasan waktu dan ketepatan forum yang menghadiri pidato itu.

Isu pidato juga tidak menyebutkan secara eksplisit isu ketimpangan sosial-ekonomi atau isu pemerataan. Dalam hal ini kita juga berprasangka baik saja: ini karena keterbatasan waktu dan ketepatan forum semata.

Yang pasti ini: isu pemerataan sangat rumit dan kompleks. Demikian rumit dan kompleksnya sehingga dulu, di era Repelita III (1977-1984), isu ini menjadi isu utama kebijakan pembangunan yang dirumuskan secara eksplisit dalam dokumen perencanaan. Ketika itulah dikenal istilah delapan jalur pemerataan yang mencakup:

  1. Pemerataan kebutuhan pokok rakyat, terutama pangan, sandang, dan perumahan.
  2. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan.
  3. Pemerataan pembagian pendapatan.
  4. Pemerataan perluasan kesempatan kerja.
  5. Pemerataan usaha, khususnya bagi golongan ekonomi lemah.
  6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi, khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.
  7. Pemerataan pembangunan antar daerah.
  8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Bahwa isu pemerataan ini rumit dan kompleks dapat dilihat dari dua reasoning berikut: (1) secara teoretis dan empiris terbukti bahwa antara pertumbuhan (ekonomi) dan pemerataan tidak ada hubungan otomatis, dan (2) keberhasilan pembangunan global melalui MDG (2000-15) dalam menekan angka kemiskinan terpaksa harus disertai catatan serius mengenai kegagalan global dalam menangani isu ketimpangan.

Komponen Manusia

Seperti disinggung sebelumnya, pidato memberikan fokus pada isu SDM. Ini tentu perlu disambut baik. Catatannya di sini adalah “jebakan halus” yang perlu diwaspadai. Ini soalnya. By definition, konsep SDM menempatkan manusia sebagai “komponen” pembangunan yang merupakan bagian dari strategi pertumbuhan. Ini bagus tetapi tidak cukup bagus dilihat dalam perspektif model pembangunan manusia (human development).

Seperti ditegaskan UNDP hampir dua dekade yang lalu, model pembangunan ini menempatkan manusia sebagai sasaran akhir (ultimate ends) pembangunan, bukan sekadar komponennya. Model ini juga menekankan manusia sebagai subyek atau pelaku (aktor) pembangunan, bukan hanya obyek atau sasaran. Model ini juga mengingatkan kita mengenai pentingnya pembangunan watak (character building) manusia dalam kedudukannya sebagai subyek pembangunan.

Pentingnya aspek watak ini dapat diilustrasikan dalam kasus smart city yang by concept jelas sangat cemerlang karena dapat mempermudah akses bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik. Pertanyaannya adalah bagaimana konsep ini dapat direalisasikan jika, misalnya, watak para pejabat publik pelaksana konsep in dikendalikan oleh syahwat kekuasaan dan kekayaan.

Belenggu Short-termism

Seperti disinggung sebelumnya, isi pidato memberikan aksentuasi yang kuat pada isu pertumbuhan. Agaknya tidak ada yang meragukan pentingnya isu ini bagi kesejahteraan rakyat. Dalam bahasa UNDP, pertumbuhan adalah sarana utama (principal means) bagi pembangunan manusia. Tapi di sini juga ada “jebakan halus”: semangat berlebihan pada aspek pertumbuhan dapat membuat kita terbelenggu dalam rencana jangka pendek, tanpa visi jauh ke depan. Inilah potensi penyakit sistem demokrasi yang menawarkan siklus kepemimpinan publik hanya 4-6 tahun.

…. semangat berlebihan pada aspek pertumbuhan dapat membuat kita terbelenggu dalam rencana jangka pendek, tanpa visi jauh ke depan.

Belenggu ini dikenal dengan istilah short-termism, suatu isme yang memberikan fokus berlebihan pada hasil jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang, isme yang cocok dengan mentalitas inversor sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut:

Short-termism refers to an excessive focus on short-term results at the expense of long-term interests. Short-term performance pressures on investors can result in an excessive focus on their parts on quarterly earnings, with less attention paid to strategy, fundamentals and long-term value creation.

Karena belenggu short-termism ini maka isu-isu jangka panjang (yang juga tidak disingung dalam pidato) seperti pemanasan global, perubahan iklim dan erosi garis pantai[1] tampak jauh, buram dan bahkan tidak relevan. Itulah sebabnya demokrasi dituduh merampas hak-hak konstitusional generasi mendatang.

Sumber Gambar: Google

Karena tuduhan ini negara bagian Wales menunjuk  Future Generations Commissioner (Komisioner Generasi Mendatang) (Sophie Howe) sebagai bagian dari Well-being for Future Generation Act (2005). Karena alasan yang sama di Jepang timbul gerakan Future Design (Racangan Mendatang) yang menargetkan terbentuknya Ministry of the Future [2].

*****

Sekalipun tidak disinggung dalam pidatonya, penulis berprasangka baik bahwa ketiga catatan terakhir ini– isu pemerataan, komponen manusia, dan bahaya short-termism— sudah menjadi bagian dari visi Presiden. Penulis juga berprasangka baik ketiganya dipahami oleh beliau, bukan sekadar suatu sektor pembangunan, melainkan sebagai mainstream yang menjiwai kebijakan beliau dalam menyopiri pembangunan Indonesia lima tahun mendatang. Penulis yakin Presiden tidak hanya concern mengenai kuantitas pertumbuhan, tetapi juga kualitasnya. Semoga saja demikian….@

[1] Mengenai perubahan iklim lihat ini; untuk erosi garis pantai lihat ini.

[2] Lihat ini