Data Covid-19: Perbandingan Indonesia dan Amerika


Konteks

Indonesia dan Amerika Serikat dapat dibandingkan. Dalilnya, besar populasi beda-tipis: Indonesia rangking ke-4, AS ke-3 (setelah Cina dan India). Ini dalil ke-1. Dalil ke-2, jika Indonesia punya Jakarta yang menjadi episentrum Covid-19, maka AS punya New York. Bagaimana dengan gubernurnya?

Mengenai gubernur penulis tidak berani menilai. Dalilnya, konteks dan tradisi governance kedua negara ini berbeda: dibandingkan gubernur di Indonesia, gubernur di AS terkesan memiliki ruang-gerak yang lebih leluasa, tidak terlalu terkekang aturan birokratis pemerintahan federal. Yang jelas, Cuomo, Gubernur New York, mengomandoi secara langsung upaya menghadapi ancaman Covid-19, lebih mengandalkan fakta dari pada opini (dia sering menegaskan perbedaan keduanya), menyajikan laporan perkembangan keadaan secara langsung setiap hari kepada publik (CNN selalu menayangkannya), dan, mungkin ini yang khas, tak henti-henti memuji warganya: kuat  cerdas, peduli pada orang lain, dan penuh kasih.

Mungkin dapat ditambahkan dalil ke-3: kedua negara dikritik telat merespons penyebaran Covid-19. Paling tidak demikianlah menurut para kritikus. Jika tuduhan ini benar maka pelajarannya bagi pejabat publik ini: ada momentous decision, istilah Lazzerini dan Putoto terkait dengan isu Covid-19 di Italia, yang dapat membuat perbedaan besar.

Tujuan dan Pendekatan

Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengembangan pemahaman mengenai besarnya potensi ancaman Covid-19 di Indonesia. Pendekatannya sederhana: membandingkan data Covid-19 di Indonesia dan AS. Penulis mendefinisikan data sebagai sesuatu mengenai sesuatu yang dapat diketahui, dapat diungkapkan, atau dapat diukur (measurable). Dengan definisi ini maka data perlu dibedakan dari fakta (sebenarnya): selalu ada peluang tidak semua fakta terungkap dalam data, selalu ada peluang kesenjangan antara keduanya. Dalam konteks ini maka analogi fenomena gunung es menjadi relevan untuk menggambarkan kemungkinan adanya kesenjangan itu. Implikasinya, ketika membaca data (apa pun) diperlukan semacam reservasi mengenai fenomena gunung es itu.

Tulisan ini sekadar mengikuti data. Sesederhana itu: tidak ada rumus, tidak model, tidak ada prediksi. Juga tidak ada asumsi mengenai tingkat keabsahan (validitas) atau kecermatan (reliabilitas) data. Alat analisis yang digunakan hanya grafik, alat “sejuta umat” karena kesederhanaannya. Harapannya, dengan alat sederhana ini pembaca pembaca tidak perlu mengerutkan kening untuk mencerna tulisan ini. Data yang digunakan adalah data harian, bukan data kumulatif[1]. Sumber data berasal dari Wroldmeter.

Kasus Harian

AS mulai melaporkan kasus Covid-19 pada 10/3/2020, 8 hari lebih lambat dibandingkan Indonesia (2/3/2020). Penulis tidak berani menilai apakah keduanya termasuk terlambat. Yang jelas, Trump konon telah diingatkan oleh sejumlah pembantunya mengenai ancaman Covid-19 yang serius bagi warga AS dan disarankan untuk segera mengambil kebijakan social distancing.

Grafik 1 dan 2 membandingkan hasil perbandingan data Covid-19 untuk Indonesia dan AS. Seperti terlihat dalam kedua grafik itu, Indonesia menggunakan skala 50-an sementara grafik AS 500-an. Ini adalah isyarat singkat mengenai besarnya kasus AS relatif terhadap kasus Indonesia; perbandingannya, 1:100.

Grafik 1: Tren Kasus Covid-19 Indonesia

Grafik 2: Tren Kasus Covid-19 Amerika Serikat

Paling tidak ada empat poin yang layak-catat pada kedua grafik di atas:

  • Secara kasat mata terlihat kasus di Indonesia masih berkecenderungan naik. Kenaikan dalam 4 hari terakhir mencolok. Penulis tidak berkompeten serta tidak memiliki data pendukung untuk menilai kenaikan mencolok ini: cerminan membaiknya cakupan pemeriksaan terinfeksi Covid-19[2], atau belum efektifnya kebijaksanaan PSBB[3].
  • Berbeda dengan kasus Indonesia, kasus di AS sudah kecenderungan turun sekalipun perlu waktu untuk memastikan keajegan penurunannya.
  • Perkembangan kasus Indonesia masih sulit diramal. Sukar untuk menduga, misalnya, apakah angka terakhir yang mencolok (374 kasus) sudah merupakan puncak tertinggi yang diikuti penurunan, atau masih akan adan angka yang lebih mencolok.
  • Berbeda dengan kasus Indonesia, kasus AS, jika polanya dianggap sudah ajeg, sudah mencapai puncak tertinggi pada 4/4/2020 dengan 34,196 kasus. Angka ini relatif sangat tinggi. Sebagai perbandingan, angka puncak tertinggi bagi Cina yang dicapai pada 12/2/2020 hanya 14,148 kasus atau sekitar 41% lebih angka puncak tertinggi AS.

Apakah mencoloknya perbedaan kasus AS dan kasus Indonesia terkait degan banyaknya pemeriksaan kasus? Yang jelas bagi Cuomo, angka kasus yang dilaporkan lebih mencerminkan banyaknya pemeriksaan kasus dari pada kasus sebenarnya di lapangan. Ini adalah pernyataan radikal, pertanyaan mengenai validitas angka, bukan sekadar reliabilitasnya. Yang juga jelas, angka pemeriksaan kasus per kapita di New York menurut Cuomo paling tinggi di dunia.

Kasus Kematian

Grafik 3 dan 4 menyajikan angka jumlah kematian harian. Kedua grafik ini menunjukkan angka kematian jauh lebih tinggi di AS dari pada di Indonesia. Indikatornya (tidak langsung terlihat pada grafik): angka rata-rata per hari AS adalah 789 kasus (Indonesia: 12 kasus) atau sekitar dua kali lipat angka kumulatif Indonesia (399 kasus).

Grafik 3: Kasus Kematian Covid-19 Indonesia

Grafik 4: Kasus Kematian Covid-19 Amerika Serikat

Yang juga layak-dicatat pada Grafik 4 adalah penurunan konsisten angka jumlah kematian di AS. Menanggapi hal Cuomo menilai keadaan telah melampaui situasi terburuk. Tetapi dia mengingatkan perlunya tetap waspada dan prihatin. Ini terungkap dalam suatu laporan:

“I believe the worst is over if we continue to be smart,” Mr. Cuomo said at his daily briefing. “I believe we can start on the path to normalcy.” … “The worst can be over, and it is over, unless we do something reckless,” he said. “And you can turn those numbers on two or three days of reckless behavior… “Even if the outbreak had reached its apex, the governor said, there would be weeks of suffering to come. He noted how many people were still dying of the virus.

Demikianlah gaya Sang Gubernur itu…..@

Catatan kaki

[1] Bagi penulis, angka harian jauh lebih mudah dibaca dari pada angka kumulatif walaupun yang terakhir ini lebih umum disajikan. Selain itu, bagi penulis, untuk memahami pola distribusi, jauh lebih sederhana menggunakan angka perbedaan data harian (perbedaan absolut maupun relatif) dari pada data kumulatif. Tulisan terakhir bertajuk “Kasus Covid-19 Indonesia…. ” mengilustrasikan hal ini.

[2] Yang mencakup pemeriksaan melalui pemeriksaan cepat berdasarkan sampel darah atau swab test berdasarkan sampel lendir

[3] PSBB singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar

One thought on “Data Covid-19: Perbandingan Indonesia dan Amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.