Al-Ghazali dalam Pandangan Jackson

Konteks

Abad 8-14 dikenal sebagai era emas dalam sejarah Islam (the Islamic Golden Age). Era emas tidak berarti ada stabilitas politik. Di era Imam Ghazali (1058-1111), misalnya, dunia Islam tidak menikmati kesatuan politik: di Spanyol ada Dinasti Umayyah, di Afrika Utara dan sekitar ada Dinasti Fatimiyah (Syiah), dan di Baghdad ada Dinasti Abbasiyah (Suni). Yang terakhir semakin menua di dalam penjara istananya sendiri tanpa kekuatan politik riil dan berperan sekadar simbol kesatuan dunia Islam. Kekuatan politik riil dalam genggaman dinasti Buyids (Syiah) dan itu sudah berlangsung seabad: abad ke-10 dikenal sebagai dekade Syiah. Tiga tahun sebelum Sang Imam dilahirkan Baghdad ditaklukkan oleh suku Saljuk (Turki)[1].

Tulisan mengenai Imam Ghazali (selanjutnya Sang Imam) melimpah. Dalam konteks ini layak disimak pandangan seorang ahli dalam bidang pemikiran filsafat dan keagamaan dari Universitas Gloucestershire (Inggris). Beliau adalah reader dan pengajar di universitas itu untuk kajian Islam, Nietzsche, filsafat Yunani, dan filsafat agama. Karya-karya akademiknya memperoleh reputasi internasional termasuk Muslim and Supermuslim: The Quest for the Perfect Being and Beyond (2020), Hayy ibn Yaqzan: A Philosophical Novel by Ibn Tufayl. Alfinge (2018), Al-Ghazali’s Deliverance From Error (2014), dan What is Islamic Philosophy? (2014). Yang menjadi rujukan tulisan ini selanjutnya adalah karya Jackson yang lain, Fifty Key Figures in Islam (2006).

Tokoh Kunci Kedua

Nama Sang Imam termasuk dalam daftar 50 tokoh kunci ini. Bagi Jackson Sang Imam adalah tokoh kunci Islam terpenting kedua (setelah Nabi SAW) dan bukan hanya sufi tetapi juga teolog dan filsuf: “The theologian, jurist, philosopher, and mystic al-Ghazali is universally known as the ‘proof of Islam’ (hujja al-islam) and the great ‘renewer’ (mujtahid) of the faith[2]. Kedua gelar ini, bagi Jakson, terkait dengan kemampuan Sang Imam dalam mensintesakan berbagai disiplin ilmu:

Much of this is due to his attempt to synthesise the three main strands of Islamic rationality: theoretical and philosophical enquiry, juridical legislation and mystical practice. His importance to Islamic thought lies in his skills in redirecting and reinvigorating Sunni religious thought in the aftermath of the Shi’a intellectual dominance of the previous century. His life and writings have been subject to more study in the Western world than probably any other Muslim, with the exception, of course, of the Prophet Muhammad.

Muhasabah Radikal

Di usia 30-an Sang Imam sudah mencapai kehidupan yang sangat cemerlang: menguasai hampir semua cabang ilmu yang dikenal di zamannya (termasuk ilmu musik), menempati posisi akademis puncak di perguruan yang paling bergengsi saat itu, memperoleh penghargaan Umat karena luas-mendalam ilmunya, kepiawaiannya dalam berdebat (ketika itu metode lazim untuk menguji keahlian), dan karena kejernihan berpikir dan menyampaikan gagasan. Di atas semua itu, keistimewaan Sang Imam adalah keberaniannya melakukan muhasabah atau menilai diri-sendiri secara jujur dan radikal. Dalam hal ini Jackson mencatat pengakuan Sang Imam ketika meragukan motivasi kehidupannya: 

I considered the circumstances of my life, and realised that I was caught in a veritable thicket of attachments. I also considered my activities, of which the best was my teaching and lecturing, and realised that in them I was dealing in sciences that were unimportant and contributed nothing to the attainment of eternal life. After that I examined my motive in my work of teaching, and realised that it was not a pure desire for the things of God, but that the impulse moving me … was the desire for an influential position and public recognition.

Keraguan itu serius sehingga Sang Imam mengalami semacam krisis mental-emosional yang juga serius. Pada gilirannya, krisis itu menyebabkan Sang Imam tidak mampu berbicara:    

For nearly six months beginning with Rajab 488 [July, 1095], I was continuously tossed about between the attractions of worldly desires and the impulses towards eternal life. In that month the matter ceased to be one of choice and became one of compulsion. God caused my tongue to dry up so that I was prevented from lecturing.

Buah Uzlah

Muhasabah jujur dan radikal mendorong Sang Imam untuk beruzlah atau mengundurkan diri dunia ramai dan mulai menempuh perjalanan batin yang semakin intensif. Buah uzlah luar biasa: Sang Imam menghasilkan lebih dari 70 karya besar yang sampai sekarang masih diapresiasi di kalangan internal Umat maupun di Dunia Barat, termasuk Ihya (mengenai agama Islam) dan tahafutul falasifah (mengenai filsafat). Yang terakhir ini sering dijadikan argumen untuk ‘menuduh’ sang Imam anti-filsafat. Faktanya karyanya ini  diakui luas sebagai tonggak penting dalam sejarah filsafat karena memajukan kritik ilmu pengetahuan Aristoteles, kritik yang selanjutnya dikembangkan di Eropa abad ke-14.

Ihya memperoleh apresiasi luar biasa dari kalangan internal Umat maupun dunia Barat. Dari kalangan internal, pandangan Imam Nawawi[3], misanya, mungkin cukup untuk mewakili ketika mengatakan bahwa Ihya cukup untuk mewakili semua kitab keagamaan (Islam) lainnya. Apresiasi Dunia Barat terlihat dari muatan www.algzali.com yang mendokumentasikan karya akademik mengenai Sang Imam yang pada umumnya fokus pada satu dari 40 buku ihya, termasuk 85 tesis PhD dan 20 tesis MA mengenai karya Sang Imam. Dalam salah satu page-nya, website ini menyatakan Ihya “… is widely regarded as the greatest work of Muslim spirituality, and is perhaps the most read work in the Muslim world, after the Qurān“.

Berpikir Radikal

Karya-karya besar Sang Imam agaknya terkait dengan obsesinya terhadap kebenaran serta bakat alami berpikir radikal (pola pikir yang dibutuhkan oleh seorang filsuf) sebagaimana terlihat kutipan ini:

From my childhood until the present, while I am fifty years of age, I have always looked into the viewpoints of other sects and nations. I have reviewed religious ideologies, philosophies, mystic patterns, theology, etc. The great thirst that I had for discovering the truth has been inside of me since childhood. This caused me to break the chain of imitation and doubt about inherited beliefs because I saw that Christian children only look at Christianity; Jewish children only look at Judaism; and Muslim children only look at Islam. The Prophet (s) has stated: ‘Every child is born with a pure divine disposition.’ Therefore, I was instigated to find the truth; to find the roots of my beliefs.”

Kutipan ini berasal dari karya Syahid Muthahhari, salah seorang cendekiawan Iran modern terkemuka yang juga seorang arsitek revolusi Iran (seperti halnya Ali Syariati) dan shahid pasca keberhasilan revolusi itu. Fakta ini menunjukkan Sang Imam dan karya-karyanya diapresiasi di kalangan Syiah.

*****

Demikianlah gambar besar mengenai Sang Imam khususnya dalam perspektif Jackson, pakar yang hemat penulis memiliki kejujuran intelektual yang dapat diandalkan. Tulisan ini diharapkan bermanfaat untuk melihat secara objektif sosok Sang Imam sehingga tidak tergesa-gesa mengamini narasi para orientalis abad 19-20 yang cenderung mendiskreditkan Sang Imam sebagai anti-filsafat bahkan bertanggung jawab terhadap kemunduran peradaban Umat.

Semoga… @


[1]  Untuk menambah komplikasi, di era itu ada kelompok sempalan Ismailiyyah (Syiah) yang menempuh cara kekerasan bahkan pembunuhan untuk kepentingan politik. Kata assassination (Inggris) berasal dari nama kelompok sempalan itu. Kritik Al-Ghazali terhadap dasar pemikiran kelompok ini jauh lebih tajam dari pada kritiknya terhadap filsafat.  

[2] Roy Jackson (2006:86), FIFTY KEY FIGURES IN ISLAM, Routledge.

[3] Imam Nawawi adalah seorang ulama besar. Nama lengkapnya Abū Zakariyyā Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī (12343-1277). Selama hidupnya (45 tahun) beliau memproduksi karya tulis paling tidak 45 kitab besar termasuk Riyadh as-Saaliheen, Minhaj al-Talibin, dan Sharh Sahih Muslim yang sangat terkenal di Indonesia.

 

 

Hagia Sophia yang Rupawan

Konteks

Hagia Sophia adalah suatu bangunan fisik yang megah dan rupawan di Kota Istanbul (Turki). Dengan kubah biru setinggi 182 kaki, berdiameter sekitar 131 kaki, diapit oleh 4 menara, dan dengan arsitektur bercita-rasa tinggi, kemegahan dan keindahan Hagia tak-terbantahkan. Seni arsitekturnya mewakil secara sempurna (epitome) arsitektur Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium. Ia dibangun atas perintah oleh Kaisar Constantine dalam periode 532-537, suatu periode singkat dilihat dari besarnya bangunan.

Selain megah-rupawan, Hagia juga kaya nama. Sebutannya dalam Yunani Kuno: Ἁγία Σοφία, Latin: Sancta Sophia atau Sancta Sapientia (Inggris: Holy Wisdom), Romawi: Naós tis Hagías tou Theou Sophías, dan Turki (bahasa resmi): Ayasofya-i Kebir Camii Şerifi (Inggris: the Great Mosque of Ayasofya) [1]. Selain kaya-nama, Hagia juga kaya simbolisme interaksi budaya yang dinamis antara Timur dan Barat. Simbolisme ini rumit sehingga tulisan ini hanya bermaksud memotret gambar besarnya. Yang jelas, isunya kini tengah menghangat karena ‘kejutan” Endrogan.

Sumber Gambar: INI

Alih Fungsi

Presiden Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan suka membuat kejutan berani. Sebagai ilustrasi, pada 24/11/2015, atas perintahnya, Turki menembak jatuh Jet Tempur Su-24 di perbatasan Turki-Suriah. Akibat ‘keberanian” ini ekonomi Turki kehilangan sekitar 138 triliun rupiah. Juga atas perintahnya, sebagai ilustrasi lain, setelah dicapai konsensus dewan negara (19/7/2020), pada 14/7/2020 Hagia Sophia dialih-fungsikan dari museum menjadi Masjid. Pengalih-fungsian bangunan ini sebenarnya bukan hal bari bagi Hagia:

  • 1204: Hagia difungsikan sebagai Katedral Roman Katolik oleh pasukan Perang Salib ke-4;
  • 1453: Hagia difungsikan sebagai Masjid oleh Mehmed Sang Penakluk, Mehmed the Conquer; dan
  • 1935: Menjadi museum oleh penguasa Turki yang sekuler.

Reaksi Dunia

Keberanian Sang Presiden mengalih-fungsikan Hagia menjadi masjid tak-pelak mengundang reaksi tokoh dunia; juga UNESCO. UNSECO dalam hal ini berkepentingan karena sebagai warisan dunia Hagia membutuhkan persetujuan dari pihaknya untuk dapat beralih fungsi. Dalam salah satu siarannya UNESCO menyatakan:

UNESCO calls on the Turkish authorities to open a dialog without delay in order to avoid a step back from the universal value of this exceptional heritage whose preservation will be reviewed by the World Heritage Committee in its next session.

Itulah sebabnya Yunani mencela keputusan Sang Presiden dan menganggapnya sebagai suatu pelanggaran aturan UNECO World Heritage. Reaksi lebih keras datang dari pemimpin Kristen Ortodoks Rusia, Patriarch Kirill Moscow, yang  menyebut pengalihfungsian itu sebagai  ‘a threat of the whole of Christian civilization’.

Dalam konteks ini komentar bicara Kementerian Luar Ngeri AS relatif lunak, hanya disappointed: “We are disappointed by the decision by the government of Turkey to change the status of the Hagia Sophia”. Reaksi Uni Eropa juga relatif lunak, hanya regrettable:

The ruling by the Turkish Council of State to overturn one of modern Turkey’s landmark decisions and President Erdogan’s decision to place the monument under the management of the Religious Affairs Presidency is regrettable,”

Reaksi Hamas mudah ditebak. Juru bicara siaran internasional Hamas, Rafat Murra, mengungkapkan ‘”Opening of Hagia Sophia to prayer is a proud moment for all Muslims”. Yang menarik reaksi Republik Cyprus Utara yang tersirat dalam ungkapan PM Ersin Tatar:

Hagia Sophia has been Turkish, a mosque and a world heritage since 1453. The decision to use it as a mosque, at the same time to be visited as a museum, is sound and it is pleasing.

Kekhawatiran Berlebihan

Kekhawatiran pihak gereja terhadap isu pengalih-fungsian Hagi dapat dimaklumi karena alasan sejarah. Tetapi seperti dikemukakan orang bijak, sejarah seyogianya dijadikan bahan pelajaran berharga untuk menatap masa depan, bukan beban yang mendikte dan membelenggu akal sehat. Kekhawatiran tidak perlu berlebihan karena seperti ditegaskan juru bicara kepresidenan, Hagia akan menjadi masjid  terbuka (working mosque), terbuka bagi siapa saja seperti halnya gereja-gereja Parisian Sacré-Cœur dan Notre-Dame, tidak mengubah statusnya sebagai warisan dunia UNESCO, dan ikon-ikon kristiani akan tetap dipertahankan.

Yang terakhir ini penting karena dapat menguak harapan dapat memfungsikan Hagia sebagai pusat dialog Timur-Barat yang produktif demi kepentingan kemanusiaan par excellence. Dalam konteks ini posisi geografis Istanbul sebagai jalur persimpangan Timur-Barat mungkin membantu menciptakan situasi yang kondusif. Yang juga mungkin membantu, latar belakang sejarah Turki dan karakter masyarakatnya yang dikenal progresif-berakar-tradisi. Mungkin; wallahualam. Yang jelas, dari pada Yerusalem dengan “Satu-Tuhan-Tiga-Agama”[2] yang terlanjur menjadi sumber konflik, lebih baik Istanbul dengan “Banyak-Budaya-Satu-Komitmen-Kemanusiaan” dengan semangat saling-memahami dan kerjasama global.

Semoga…. @

[1] Pertama dikenal sebagai Gereja Agung (Inggris: Great Church, Yunani: Megale Ekklesia, Latin: Magna Ecclesia) karena besarnya banggunan fisik gereja.

[2] Istilah Karen Amstrong.

Potret Umat: Refleksi Sejarah

Seabad yang lalu[1] Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire) mendeklarasikan berakhirnya sistem kekhalifahan. Bagi Umat Islam (selanjutnya Umat) peristiwa ini bersifat historis karena mengakhiri tradisi panjang sistem kekhalifahan sejak abad ke-6. Walaupun demikian, peristiwa ini agaknya di luar kesadaran kolektif Umat atau terlupakan. Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya “melawan lupa” kolektif itu dengan cara memotret gambar besar sejarah peradaban Umat dalam kepemimpinan berbagai kekhalifahan atau kesultanan dan merefleksikan beberapa isu yang relevan.

Peradaban Unik

Peradaban Umat yang dapat dikatakan unik: sumber spiritualnya bukan produk budaya “bumi” layaknya peradaban lain, melainkan ajaran “langit” atau wahyu. Wahyu mengawal perkembangan peradaban Umat sejak awal mulai dari peristiwa turunnya wahyu pertama sekitar 14 abad lalu. Peristiwa ini bersifat Adi Manusiawi dalam arti mustahil dapat dinarasikan secara memadai dalam bahasa manusia. Mengenai peristiwa ini pendapat Hazleton[2], seorang penulis sejarah berkebangsaan Yahudi-AS yang mengakui ateis, layak dicatat. Dalam ceramahnya di forum TED ia mengemukakan reaksi Nabi SAW terhadap peristiwa Adi manusiawi itu sangat masuk akal dan sepenuhnya manusiawi. Baginya, aspek keraguan penting untuk memperoleh keyakinan seperti terungkap dalam judul ceramahnya, “The doubt is essential for faith“.

Pengawalan wahyu terhadap perkembangan kebudayaan Umat berlangsung selama 23 tahun: 13 tahun di Kota Mekah dan 10 tahun di Madinah[3]. Melalui Nabi SAW, Wahyu “berinteraksi” dengan Umat. Sebagai ilustrasi, dalam suatu kesempatan Wahyu “menegur” Nabi SAW karena beliau yang bermuka masam kepada salah seorang sahabatnya yang buta (QS 80:1-2). Dalam kesempatan lain Wahyu berbicara mengenai salah satu perang besar yang menentukan kelangsungan hidup Umat yang dialami Umat yaitu Perang Badar (QS 3:123)[4].

Fase Perkembangan

Segera setelah Nabi SAW (632) Umat memasuki era kekhalifahan; artinya era kepemimpinan “wakil” Nabi SAW dalam urusan keumatan. Era ini dimulai oleh kekhalifahan Abu Bakar RA, dilanjutkan berturut-turut oleh Umar RA, Utsman RA dan Ali RA. Keempat khalifah ini dikenal sebagai khulafaur rasyidin atau rasyidun, para khalifah yang tercerahkan. Era Rasyidun selanjutnya diganti oleh era lain; tiga di antaranya yang utama adalah Dinasti Umayyah (Umayyad Caliphate) Dinasti Abbasiyah (Abbasid Caliphate) dan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire). Sistem kekhalifahan berlangsung sekitar 13 abad mulai abad ke-6 sampai ini awal 1920-an, dengan lebih dari 100 khalifah atau Sultan. Grafik 1 menyajikan periode era kekhalifahan serta wilayah yang menjadi kekuasaannya.

Garfik1: Wilayah dan Periode Kekhalifahan

Sumber: Wikipedia

Era Rasyidun

Seperti ditunjukkan oleh Grafik 1, Era Rasyidun berlangsung kurang dari 30 tahun (632-661) dan berhasil menguasai seluruh jazirah Arab (pertama dalam sejarah), Mesopotamia (Irak), Peria (Iran), Levant (Suriah, Lebanon, Yordania, Israel, dan Palestina) dan Mesir. Ini perluasan wilayah yang luar biasa cepat. Catatannya adalah bahwa cepatnya ekspansi wilayah tidak berarti jalan sejarah Rasyidun itu lapang dan mudah dilalui; kenyataannya, jauh dari itu. Abu Bakar RA (khalifah pertama), misalnya, harus berjuang keras menghadapi pembangkangan sebagian suku yang kembali kafir serta menolak berafiliasi dengan Madinah (pusat kekhalifahan). Utsman RA (khalifah ke-3) dan Ali RA (khalifah ke-4), sebagai misal lain, harus menghadapi isu serius perang saudara (internal Umat) yang berakhir dengan terbunuhnya dua khalifah ini. Hanya Umar RA (khalifah ke-2) yang relatif lapang jalan sejarahnya sekalipun harus berakhir dengan pembunuhan atas dirinya. Hanya dialah satu-satunya yang bergelar “Pemimpin Orang-orang Beriman” (Amirul Mukminin).

… cepatnya ekspansi wilayah Era Rasyidun tidak berarti jalan sejarah para khalifah di era itu lapang dan mudah dilalui; kenyataannya, jauh dari itu.

Era Umayyah

Kecepatan perluasan wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah (berwarna kuning dalam Grafik 1) juga luar biasa. Prestasinya menambah wilayah kekhalifahan dengan mencakup Maghreb (kawasan Barat Afrika), al Andalusia (Spanyol), Transoxania, Hindustan dan Anatolia. Dinasti ini memerintah hanya sekitar 90 tahun (661-750) di Baghdad tetapi cabangnya di Spanyol berlangsung hingga tahun 1200. Terkait luasnya wilayah dinasti ini kutipan ini informatif:

At its largest extent, the Umayyad dynasty covered more than 5,000,000 square miles (13,000,000 km2) making it one of the largest empires the world had yet seen, and the fifth largest contiguous empire ever.

Dinasti ini dimulai dengan Khalifah Muawiyah yang dilantik di Palestina karena alasan keamanan akibat berkecamuknya perang internal Umat. Banyak ulama yang mempertanyakan kesalehan tokoh ini tetapi hampir semuanya mengakui kejeniusan kepemimpinannya: sekalipun menghadapi gelombang pemberontakan internal, Muawiyah mampu mempersatukan Umat dan mulai meletakan dasar kekhalifahan Dinasti Umayah berdasarkan garis keturunan (hal yang sama sekali baru dalam tradisi Arab).

Era Abbasiyah

Era Dinasti Umayah berakhir antara lain karena isu rasialisme: dalam dinastinya, yang bukan keturunan-murni Arab kurang memperoleh penghargaan secara layak. Praktik ini tentu tidak sejalan dengan sifat universalisme Wahyu. Akibatnya, ketidakpuasan Umat terhadap dinasti ini terus meluas dan hal ini mendorong lahirnya Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini (berwarna hitam dalam Grafik 1) lebih fokus pada perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari pada perluasan wilayah. Puncak peradaban Umat (Islamic Golden Age) dicapai dalam era Dinasti Abbasiyah ini.

Islamic Golden Age dicapai dalam era Dinasti Abbasiyah

Di era dinasti ini dibangun apa yang dikenal sebagai Rumah Hikmah (House of Wisdom) yang merupakan pusat perkembangan berbagai cabang sains dan budaya termasuk bidang kedokteran[7], pertanian, penataan kota, astronomi, ilmu optik, iptek, sastra, arsitektur, dan matematik. Mengenai yang terakhir kutipan berikut layak-simak:

Mathematics during the Golden Age of Islam, especially during the 9th and 10th centuries, was built on Greek mathematics (Euclid, Archimedes, Apollonius) and Indian mathematics (Aryabhata, Brahmagupta)…. Important progress was made, such as the full development of the decimal place-value system to include decimal fractions, the first systematized study of algebra (named for The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing by scholar Al-Khwarizmi), and advances in geometry and trigonometry.

Prestasi ini memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan pesat peradaban Barat walaupun seringkali tidak diapresiasi secara proporsional:

… Arabic works also played an important role in the transmission of mathematics to Europe during the 10th to 12th centuries…. Dr. Sally P. Ragep, an historian of science in Islam, estimates that “tens of thousands” of Arabic manuscripts in mathematical sciences and philosophy remain unread, which give studies which “reflect individual biases and a limited focus on a relatively few texts and scholars”

Era Utsmaniyah

Kesultanan Utsmaniyah mengambil alih kedudukan Dinasti Abbasiyah sebagai pengendali kekhalifahan. Era dinasti ini berakhir antara lain karena persoalan internal Umat dan tata-kelola administrasi kekhalifahan. Banyak yang menilai, misalnya, model administrasi dan gaya kepemimpinan kekhalifahannya terlalu egalitarian dalam ukuran zamannya dan memberi kekuasaan kepada pihak tentara profesional (non-Arab).

Pasca Dinasti Abbasiyah, Kesultanan Utsmaniyah[8] mengambil alih fungsi kekhalifahan Umat. Ada dua prestasi kesultanan ini, yang dapat dikatakan unik. Pertama ekspansi ke daratan Eropa melalui kawasan Balkan. Kedua keberhasilan menaklukkan Imperium Romawi Timur (Bizantium) yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada 29 May 1453. Kejatuhan ini berarti kejatuhan sempurna Imperium Romawi: Imperium Romawi Barat (dengan Roma sebagai ibukota) telah lama jatuh jauh  sebelumnya.

Bagi pihak Barat yang telah menginisiasi Perang Salib yang panjang (dari awal abad ke-11 sampai abad ke-15) peristiwa kejatuhan Konstantinopel patut diduga memberikan dampak psikologis yang mendalam. Bagi Umat peristiwa ini juga memberikan dampak serupa: peristiwa ini sudah diramal Al-Quran satu milenium sebelumnya dan telah diupayakan dua dinasti sebelumnya: Umayah (717) dan Abbasiyah (830s).

Fase Kemunduran

Pasca penaklukkan Konstantiopel, sistem kekhalifahan mulai memasuki era kemunduran. Kemunduran ini sebagian terkait dengan faktor internal (buruknya kepemimpinan Kesultanan) dan eksternal yang saling mempengaruhi. Faktor eksternal yang dimaksud ditengarai oleh oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena,
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Hilangnya kekuasaan Kesultanan hampir di seluruh daratan Eropa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat. Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Usmani dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

******

Pertengahan Abad 20, negara-negara di mana Umat merupakan mayoritas memerdekakan diri dari penjajahan Barat. Walaupun demikian Umat masih memiliki daftar pertanyaan retoris:

Apakah Umat secara riil sudah merdeka secara ekonomi dan budaya? Apakah Umat sudah mampu menetralkan pengaruh pembaratan (westernisasi) yang menggerogoti sistem Kesultanan Usmani? Apakah Umat secara kolektif tengah mengarah pada posisi aktif sebagai wasit dan  bagi umat lain sebagaimana diamanatkan oleh kitab suci mereka (QS 2:193)? Atau sebaliknya mengarah ke posisi yang semakin pasif sebagai pihak yang “disaksikan” dan “diwasiti”? Apakah kontribusi Umat terhadap upaya penyelesaian isu global seperti perubahan iklim dan ketimpangan sosial?

Daftar pertanyaan dapat diperpanjang. Wahyu yang merupakan sumber spiritual peradaban Umat seyogianya dapat memandu menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tanpa harus kembali ke sistem kekhalifahan yang berfungsi sekadar instrumental.

Wallahualam.… @

[1] Dalam sejarah keumatan, durasi waktu satu abad tanpa kekhalifahan (sejak 1920) sangat pendek dibandingkan dengan durasi dengan kekhalifahan (sejak abad ke-6); rasionya lebih kecil dari 1:13.

[2] Reaksi ini didokumentasikan oleh banyak Hadits dan bahkan diabadikan dalam awal ayat dua Surat Al-Quran (ke-73 dan ke-74).

[3] Ini berbeda dengan, misalnya, kasus Taurat.

[4] Dalam sejarah Umat awal ada tiga perang yang menentukan kelangsungan hidup Umat adalah Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Ahzab. Kata Badar dan Ahzab disebutkan dalam Al-Quran.

[5] Di antara era Abasiah dan era Kesultanan Usmaniah sebenarnya terdapat beberapa kekhalifahan tetapi sifatnya regional.

[6] Terhitung dari peristiwa Hijrah (622) sampai Nabi SAW wafat (632).

[7] Dua orang genius kedokteran Ar-Razi (854-925) dan Al-Kindi (801-873) lahir di era ini. Karya keduanya dalam bidang ini diakui secara luas sehingga menjadi rujukan ilmu kedokteran di Eropa selama beberapa abad.

[8] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/07/21/kesultanan-utsmaniyah/