Potret Umat: Refleksi Sejarah

Seabad yang lalu[1] Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire) mendeklarasikan berakhirnya sistem kekhalifahan. Bagi Umat Islam (selanjutnya Umat) peristiwa ini bersifat historis karena mengakhiri tradisi panjang sistem kekhalifahan sejak abad ke-6. Walaupun demikian, peristiwa ini agaknya di luar kesadaran kolektif Umat atau terlupakan. Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya “melawan lupa” kolektif itu dengan cara memotret gambar besar sejarah peradaban Umat dalam kepemimpinan berbagai kekhalifahan atau kesultanan dan merefleksikan beberapa isu yang relevan.

Peradaban Unik

Peradaban Umat yang dapat dikatakan unik: sumber spiritualnya bukan produk budaya “bumi” layaknya peradaban lain, melainkan ajaran “langit” atau wahyu. Wahyu mengawal perkembangan peradaban Umat sejak awal mulai dari peristiwa turunnya wahyu pertama sekitar 14 abad lalu. Peristiwa ini bersifat Adi Manusiawi dalam arti mustahil dapat dinarasikan secara memadai dalam bahasa manusia. Mengenai peristiwa ini pendapat Hazleton[2], seorang penulis sejarah berkebangsaan Yahudi-AS yang mengakui ateis, layak dicatat. Dalam ceramahnya di forum TED ia mengemukakan reaksi Nabi SAW terhadap peristiwa Adi manusiawi itu sangat masuk akal dan sepenuhnya manusiawi. Baginya, aspek keraguan penting untuk memperoleh keyakinan seperti terungkap dalam judul ceramahnya, “The doubt is essential for faith“.

Pengawalan wahyu terhadap perkembangan kebudayaan Umat berlangsung selama 23 tahun: 13 tahun di Kota Mekah dan 10 tahun di Madinah[3]. Melalui Nabi SAW, Wahyu “berinteraksi” dengan Umat. Sebagai ilustrasi, dalam suatu kesempatan Wahyu “menegur” Nabi SAW karena beliau yang bermuka masam kepada salah seorang sahabatnya yang buta (QS 80:1-2). Dalam kesempatan lain Wahyu berbicara mengenai salah satu perang besar yang menentukan kelangsungan hidup Umat yang dialami Umat yaitu Perang Badar (QS 3:123)[4].

Fase Perkembangan

Segera setelah Nabi SAW (632) Umat memasuki era kekhalifahan; artinya era kepemimpinan “wakil” Nabi SAW dalam urusan keumatan. Era ini dimulai oleh kekhalifahan Abu Bakar RA, dilanjutkan berturut-turut oleh Umar RA, Utsman RA dan Ali RA. Keempat khalifah ini dikenal sebagai khulafaur rasyidin atau rasyidun, para khalifah yang tercerahkan. Era Rasyidun selanjutnya diganti oleh era lain; tiga di antaranya yang utama adalah Dinasti Umayyah (Umayyad Caliphate) Dinasti Abbasiyah (Abbasid Caliphate) dan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire). Sistem kekhalifahan berlangsung sekitar 13 abad mulai abad ke-6 sampai ini awal 1920-an, dengan lebih dari 100 khalifah atau Sultan. Grafik 1 menyajikan periode era kekhalifahan serta wilayah yang menjadi kekuasaannya.

Garfik1: Wilayah dan Periode Kekhalifahan

Sumber: Wikipedia

Era Rasyidun

Seperti ditunjukkan oleh Grafik 1, Era Rasyidun berlangsung kurang dari 30 tahun (632-661) dan berhasil menguasai seluruh jazirah Arab (pertama dalam sejarah), Mesopotamia (Irak), Peria (Iran), Levant (Suriah, Lebanon, Yordania, Israel, dan Palestina) dan Mesir. Ini perluasan wilayah yang luar biasa cepat. Catatannya adalah bahwa cepatnya ekspansi wilayah tidak berarti jalan sejarah Rasyidun itu lapang dan mudah dilalui; kenyataannya, jauh dari itu. Abu Bakar RA (khalifah pertama), misalnya, harus berjuang keras menghadapi pembangkangan sebagian suku yang kembali kafir serta menolak berafiliasi dengan Madinah (pusat kekhalifahan). Utsman RA (khalifah ke-3) dan Ali RA (khalifah ke-4), sebagai misal lain, harus menghadapi isu serius perang saudara (internal Umat) yang berakhir dengan terbunuhnya dua khalifah ini. Hanya Umar RA (khalifah ke-2) yang relatif lapang jalan sejarahnya sekalipun harus berakhir dengan pembunuhan atas dirinya. Hanya dialah satu-satunya yang bergelar “Pemimpin Orang-orang Beriman” (Amirul Mukminin).

… cepatnya ekspansi wilayah Era Rasyidun tidak berarti jalan sejarah para khalifah di era itu lapang dan mudah dilalui; kenyataannya, jauh dari itu.

Era Umayyah

Kecepatan perluasan wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah (berwarna kuning dalam Grafik 1) juga luar biasa. Prestasinya menambah wilayah kekhalifahan dengan mencakup Maghreb (kawasan Barat Afrika), al Andalusia (Spanyol), Transoxania, Hindustan dan Anatolia. Dinasti ini memerintah hanya sekitar 90 tahun (661-750) di Baghdad tetapi cabangnya di Spanyol berlangsung hingga tahun 1200. Terkait luasnya wilayah dinasti ini kutipan ini informatif:

At its largest extent, the Umayyad dynasty covered more than 5,000,000 square miles (13,000,000 km2) making it one of the largest empires the world had yet seen, and the fifth largest contiguous empire ever.

Dinasti ini dimulai dengan Khalifah Muawiyah yang dilantik di Palestina karena alasan keamanan akibat berkecamuknya perang internal Umat. Banyak ulama yang mempertanyakan kesalehan tokoh ini tetapi hampir semuanya mengakui kejeniusan kepemimpinannya: sekalipun menghadapi gelombang pemberontakan internal, Muawiyah mampu mempersatukan Umat dan mulai meletakan dasar kekhalifahan Dinasti Umayah berdasarkan garis keturunan (hal yang sama sekali baru dalam tradisi Arab).

Era Abbasiyah

Era Dinasti Umayah berakhir antara lain karena isu rasialisme: dalam dinastinya, yang bukan keturunan-murni Arab kurang memperoleh penghargaan secara layak. Praktik ini tentu tidak sejalan dengan sifat universalisme Wahyu. Akibatnya, ketidakpuasan Umat terhadap dinasti ini terus meluas dan hal ini mendorong lahirnya Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini (berwarna hitam dalam Grafik 1) lebih fokus pada perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari pada perluasan wilayah. Puncak peradaban Umat (Islamic Golden Age) dicapai dalam era Dinasti Abbasiyah ini.

Islamic Golden Age dicapai dalam era Dinasti Abbasiyah

Di era dinasti ini dibangun apa yang dikenal sebagai Rumah Hikmah (House of Wisdom) yang merupakan pusat perkembangan berbagai cabang sains dan budaya termasuk bidang kedokteran[7], pertanian, penataan kota, astronomi, ilmu optik, iptek, sastra, arsitektur, dan matematik. Mengenai yang terakhir kutipan berikut layak-simak:

Mathematics during the Golden Age of Islam, especially during the 9th and 10th centuries, was built on Greek mathematics (Euclid, Archimedes, Apollonius) and Indian mathematics (Aryabhata, Brahmagupta)…. Important progress was made, such as the full development of the decimal place-value system to include decimal fractions, the first systematized study of algebra (named for The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing by scholar Al-Khwarizmi), and advances in geometry and trigonometry.

Prestasi ini memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan pesat peradaban Barat walaupun seringkali tidak diapresiasi secara proporsional:

… Arabic works also played an important role in the transmission of mathematics to Europe during the 10th to 12th centuries…. Dr. Sally P. Ragep, an historian of science in Islam, estimates that “tens of thousands” of Arabic manuscripts in mathematical sciences and philosophy remain unread, which give studies which “reflect individual biases and a limited focus on a relatively few texts and scholars”

Era Utsmaniyah

Kesultanan Utsmaniyah mengambil alih kedudukan Dinasti Abbasiyah sebagai pengendali kekhalifahan. Era dinasti ini berakhir antara lain karena persoalan internal Umat dan tata-kelola administrasi kekhalifahan. Banyak yang menilai, misalnya, model administrasi dan gaya kepemimpinan kekhalifahannya terlalu egalitarian dalam ukuran zamannya dan memberi kekuasaan kepada pihak tentara profesional (non-Arab).

Pasca Dinasti Abbasiyah, Kesultanan Utsmaniyah[8] mengambil alih fungsi kekhalifahan Umat. Ada dua prestasi kesultanan ini, yang dapat dikatakan unik. Pertama ekspansi ke daratan Eropa melalui kawasan Balkan. Kedua keberhasilan menaklukkan Imperium Romawi Timur (Bizantium) yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada 29 May 1453. Kejatuhan ini berarti kejatuhan sempurna Imperium Romawi: Imperium Romawi Barat (dengan Roma sebagai ibukota) telah lama jatuh jauh  sebelumnya.

Bagi pihak Barat yang telah menginisiasi Perang Salib yang panjang (dari awal abad ke-11 sampai abad ke-15) peristiwa kejatuhan Konstantinopel patut diduga memberikan dampak psikologis yang mendalam. Bagi Umat peristiwa ini juga memberikan dampak serupa: peristiwa ini sudah diramal Al-Quran satu milenium sebelumnya dan telah diupayakan dua dinasti sebelumnya: Umayah (717) dan Abbasiyah (830s).

Fase Kemunduran

Pasca penaklukkan Konstantiopel, sistem kekhalifahan mulai memasuki era kemunduran. Kemunduran ini sebagian terkait dengan faktor internal (buruknya kepemimpinan Kesultanan) dan eksternal yang saling mempengaruhi. Faktor eksternal yang dimaksud ditengarai oleh oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena,
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Hilangnya kekuasaan Kesultanan hampir di seluruh daratan Eropa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat. Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Usmani dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

******

Pertengahan Abad 20, negara-negara di mana Umat merupakan mayoritas memerdekakan diri dari penjajahan Barat. Walaupun demikian Umat masih memiliki daftar pertanyaan retoris:

Apakah Umat secara riil sudah merdeka secara ekonomi dan budaya? Apakah Umat sudah mampu menetralkan pengaruh pembaratan (westernisasi) yang menggerogoti sistem Kesultanan Usmani? Apakah Umat secara kolektif tengah mengarah pada posisi aktif sebagai wasit dan  bagi umat lain sebagaimana diamanatkan oleh kitab suci mereka (QS 2:193)? Atau sebaliknya mengarah ke posisi yang semakin pasif sebagai pihak yang “disaksikan” dan “diwasiti”? Apakah kontribusi Umat terhadap upaya penyelesaian isu global seperti perubahan iklim dan ketimpangan sosial?

Daftar pertanyaan dapat diperpanjang. Wahyu yang merupakan sumber spiritual peradaban Umat seyogianya dapat memandu menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tanpa harus kembali ke sistem kekhalifahan yang berfungsi sekadar instrumental.

Wallahualam.… @

[1] Dalam sejarah keumatan, durasi waktu satu abad tanpa kekhalifahan (sejak 1920) sangat pendek dibandingkan dengan durasi dengan kekhalifahan (sejak abad ke-6); rasionya lebih kecil dari 1:13.

[2] Reaksi ini didokumentasikan oleh banyak Hadits dan bahkan diabadikan dalam awal ayat dua Surat Al-Quran (ke-73 dan ke-74).

[3] Ini berbeda dengan, misalnya, kasus Taurat.

[4] Dalam sejarah Umat awal ada tiga perang yang menentukan kelangsungan hidup Umat adalah Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Ahzab. Kata Badar dan Ahzab disebutkan dalam Al-Quran.

[5] Di antara era Abasiah dan era Kesultanan Usmaniah sebenarnya terdapat beberapa kekhalifahan tetapi sifatnya regional.

[6] Terhitung dari peristiwa Hijrah (622) sampai Nabi SAW wafat (632).

[7] Dua orang genius kedokteran Ar-Razi (854-925) dan Al-Kindi (801-873) lahir di era ini. Karya keduanya dalam bidang ini diakui secara luas sehingga menjadi rujukan ilmu kedokteran di Eropa selama beberapa abad.

[8] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/07/21/kesultanan-utsmaniyah/