Hagia Sophia yang Rupawan


Konteks

Hagia Sophia adalah suatu bangunan fisik yang megah dan rupawan di Kota Istanbul (Turki). Dengan kubah biru setinggi 182 kaki, berdiameter sekitar 131 kaki, diapit oleh 4 menara, dan dengan arsitektur bercita-rasa tinggi, kemegahan dan keindahan Hagia tak-terbantahkan. Seni arsitekturnya mewakil secara sempurna (epitome) arsitektur Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium. Ia dibangun atas perintah oleh Kaisar Constantine dalam periode 532-537, suatu periode singkat dilihat dari besarnya bangunan.

Selain megah-rupawan, Hagia juga kaya nama. Sebutannya dalam Yunani Kuno: Ἁγία Σοφία, Latin: Sancta Sophia atau Sancta Sapientia (Inggris: Holy Wisdom), Romawi: Naós tis Hagías tou Theou Sophías, dan Turki (bahasa resmi): Ayasofya-i Kebir Camii Şerifi (Inggris: the Great Mosque of Ayasofya) [1]. Selain kaya-nama, Hagia juga kaya simbolisme interaksi budaya yang dinamis antara Timur dan Barat. Simbolisme ini rumit sehingga tulisan ini hanya bermaksud memotret gambar besarnya. Yang jelas, isunya kini tengah menghangat karena ‘kejutan” Endrogan.

Sumber Gambar: INI

Alih Fungsi

Presiden Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan suka membuat kejutan berani. Sebagai ilustrasi, pada 24/11/2015, atas perintahnya, Turki menembak jatuh Jet Tempur Su-24 di perbatasan Turki-Suriah. Akibat ‘keberanian” ini ekonomi Turki kehilangan sekitar 138 triliun rupiah. Juga atas perintahnya, sebagai ilustrasi lain, setelah dicapai konsensus dewan negara (19/7/2020), pada 14/7/2020 Hagia Sophia dialih-fungsikan dari museum menjadi Masjid. Pengalih-fungsian bangunan ini sebenarnya bukan hal bari bagi Hagia:

  • 1204: Hagia difungsikan sebagai Katedral Roman Katolik oleh pasukan Perang Salib ke-4;
  • 1453: Hagia difungsikan sebagai Masjid oleh Mehmed Sang Penakluk, Mehmed the Conquer; dan
  • 1935: Menjadi museum oleh penguasa Turki yang sekuler.

Reaksi Dunia

Keberanian Sang Presiden mengalih-fungsikan Hagia menjadi masjid tak-pelak mengundang reaksi tokoh dunia; juga UNESCO. UNSECO dalam hal ini berkepentingan karena sebagai warisan dunia Hagia membutuhkan persetujuan dari pihaknya untuk dapat beralih fungsi. Dalam salah satu siarannya UNESCO menyatakan:

UNESCO calls on the Turkish authorities to open a dialog without delay in order to avoid a step back from the universal value of this exceptional heritage whose preservation will be reviewed by the World Heritage Committee in its next session.

Itulah sebabnya Yunani mencela keputusan Sang Presiden dan menganggapnya sebagai suatu pelanggaran aturan UNECO World Heritage. Reaksi lebih keras datang dari pemimpin Kristen Ortodoks Rusia, Patriarch Kirill Moscow, yang  menyebut pengalihfungsian itu sebagai  ‘a threat of the whole of Christian civilization’.

Dalam konteks ini komentar bicara Kementerian Luar Ngeri AS relatif lunak, hanya disappointed: “We are disappointed by the decision by the government of Turkey to change the status of the Hagia Sophia”. Reaksi Uni Eropa juga relatif lunak, hanya regrettable:

The ruling by the Turkish Council of State to overturn one of modern Turkey’s landmark decisions and President Erdogan’s decision to place the monument under the management of the Religious Affairs Presidency is regrettable,”

Reaksi Hamas mudah ditebak. Juru bicara siaran internasional Hamas, Rafat Murra, mengungkapkan ‘”Opening of Hagia Sophia to prayer is a proud moment for all Muslims”. Yang menarik reaksi Republik Cyprus Utara yang tersirat dalam ungkapan PM Ersin Tatar:

Hagia Sophia has been Turkish, a mosque and a world heritage since 1453. The decision to use it as a mosque, at the same time to be visited as a museum, is sound and it is pleasing.

Kekhawatiran Berlebihan

Kekhawatiran pihak gereja terhadap isu pengalih-fungsian Hagi dapat dimaklumi karena alasan sejarah. Tetapi seperti dikemukakan orang bijak, sejarah seyogianya dijadikan bahan pelajaran berharga untuk menatap masa depan, bukan beban yang mendikte dan membelenggu akal sehat. Kekhawatiran tidak perlu berlebihan karena seperti ditegaskan juru bicara kepresidenan, Hagia akan menjadi masjid  terbuka (working mosque), terbuka bagi siapa saja seperti halnya gereja-gereja Parisian Sacré-Cœur dan Notre-Dame, tidak mengubah statusnya sebagai warisan dunia UNESCO, dan ikon-ikon kristiani akan tetap dipertahankan.

Yang terakhir ini penting karena dapat menguak harapan dapat memfungsikan Hagia sebagai pusat dialog Timur-Barat yang produktif demi kepentingan kemanusiaan par excellence. Dalam konteks ini posisi geografis Istanbul sebagai jalur persimpangan Timur-Barat mungkin membantu menciptakan situasi yang kondusif. Yang juga mungkin membantu, latar belakang sejarah Turki dan karakter masyarakatnya yang dikenal progresif-berakar-tradisi. Mungkin; wallahualam. Yang jelas, dari pada Yerusalem dengan “Satu-Tuhan-Tiga-Agama”[2] yang terlanjur menjadi sumber konflik, lebih baik Istanbul dengan “Banyak-Budaya-Satu-Komitmen-Kemanusiaan” dengan semangat saling-memahami dan kerjasama global.

Semoga…. @

[1] Pertama dikenal sebagai Gereja Agung (Inggris: Great Church, Yunani: Megale Ekklesia, Latin: Magna Ecclesia) karena besarnya banggunan fisik gereja.

[2] Istilah Karen Amstrong.

2 thoughts on “Hagia Sophia yang Rupawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.