Al-Ghazali dalam Pandangan Jackson

Konteks

Abad 8-14 dikenal sebagai era emas dalam sejarah Islam (the Islamic Golden Age). Era emas tidak berarti ada stabilitas politik. Di era Imam Ghazali (1058-1111), misalnya, dunia Islam tidak menikmati kesatuan politik: di Spanyol ada Dinasti Umayyah, di Afrika Utara dan sekitar ada Dinasti Fatimiyah (Syiah), dan di Baghdad ada Dinasti Abbasiyah (Suni). Yang terakhir semakin menua di dalam penjara istananya sendiri tanpa kekuatan politik riil dan berperan sekadar simbol kesatuan dunia Islam. Kekuatan politik riil dalam genggaman dinasti Buyids (Syiah) dan itu sudah berlangsung seabad: abad ke-10 dikenal sebagai dekade Syiah. Tiga tahun sebelum Sang Imam dilahirkan Baghdad ditaklukkan oleh suku Saljuk (Turki)[1].

Tulisan mengenai Imam Ghazali (selanjutnya Sang Imam) melimpah. Dalam konteks ini layak disimak pandangan seorang ahli dalam bidang pemikiran filsafat dan keagamaan dari Universitas Gloucestershire (Inggris). Beliau adalah reader dan pengajar di universitas itu untuk kajian Islam, Nietzsche, filsafat Yunani, dan filsafat agama. Karya-karya akademiknya memperoleh reputasi internasional termasuk Muslim and Supermuslim: The Quest for the Perfect Being and Beyond (2020), Hayy ibn Yaqzan: A Philosophical Novel by Ibn Tufayl. Alfinge (2018), Al-Ghazali’s Deliverance From Error (2014), dan What is Islamic Philosophy? (2014). Yang menjadi rujukan tulisan ini selanjutnya adalah karya Jackson yang lain, Fifty Key Figures in Islam (2006).

Tokoh Kunci Kedua

Nama Sang Imam termasuk dalam daftar 50 tokoh kunci ini. Bagi Jackson Sang Imam adalah tokoh kunci Islam terpenting kedua (setelah Nabi SAW) dan bukan hanya sufi tetapi juga teolog dan filsuf: “The theologian, jurist, philosopher, and mystic al-Ghazali is universally known as the ‘proof of Islam’ (hujja al-islam) and the great ‘renewer’ (mujtahid) of the faith[2]. Kedua gelar ini, bagi Jakson, terkait dengan kemampuan Sang Imam dalam mensintesakan berbagai disiplin ilmu:

Much of this is due to his attempt to synthesise the three main strands of Islamic rationality: theoretical and philosophical enquiry, juridical legislation and mystical practice. His importance to Islamic thought lies in his skills in redirecting and reinvigorating Sunni religious thought in the aftermath of the Shi’a intellectual dominance of the previous century. His life and writings have been subject to more study in the Western world than probably any other Muslim, with the exception, of course, of the Prophet Muhammad.

Muhasabah Radikal

Di usia 30-an Sang Imam sudah mencapai kehidupan yang sangat cemerlang: menguasai hampir semua cabang ilmu yang dikenal di zamannya (termasuk ilmu musik), menempati posisi akademis puncak di perguruan yang paling bergengsi saat itu, memperoleh penghargaan Umat karena luas-mendalam ilmunya, kepiawaiannya dalam berdebat (ketika itu metode lazim untuk menguji keahlian), dan karena kejernihan berpikir dan menyampaikan gagasan. Di atas semua itu, keistimewaan Sang Imam adalah keberaniannya melakukan muhasabah atau menilai diri-sendiri secara jujur dan radikal. Dalam hal ini Jackson mencatat pengakuan Sang Imam ketika meragukan motivasi kehidupannya: 

I considered the circumstances of my life, and realised that I was caught in a veritable thicket of attachments. I also considered my activities, of which the best was my teaching and lecturing, and realised that in them I was dealing in sciences that were unimportant and contributed nothing to the attainment of eternal life. After that I examined my motive in my work of teaching, and realised that it was not a pure desire for the things of God, but that the impulse moving me … was the desire for an influential position and public recognition.

Keraguan itu serius sehingga Sang Imam mengalami semacam krisis mental-emosional yang juga serius. Pada gilirannya, krisis itu menyebabkan Sang Imam tidak mampu berbicara:    

For nearly six months beginning with Rajab 488 [July, 1095], I was continuously tossed about between the attractions of worldly desires and the impulses towards eternal life. In that month the matter ceased to be one of choice and became one of compulsion. God caused my tongue to dry up so that I was prevented from lecturing.

Buah Uzlah

Muhasabah jujur dan radikal mendorong Sang Imam untuk beruzlah atau mengundurkan diri dunia ramai dan mulai menempuh perjalanan batin yang semakin intensif. Buah uzlah luar biasa: Sang Imam menghasilkan lebih dari 70 karya besar yang sampai sekarang masih diapresiasi di kalangan internal Umat maupun di Dunia Barat, termasuk Ihya (mengenai agama Islam) dan tahafutul falasifah (mengenai filsafat). Yang terakhir ini sering dijadikan argumen untuk ‘menuduh’ sang Imam anti-filsafat. Faktanya karyanya ini  diakui luas sebagai tonggak penting dalam sejarah filsafat karena memajukan kritik ilmu pengetahuan Aristoteles, kritik yang selanjutnya dikembangkan di Eropa abad ke-14.

Ihya memperoleh apresiasi luar biasa dari kalangan internal Umat maupun dunia Barat. Dari kalangan internal, pandangan Imam Nawawi[3], misanya, mungkin cukup untuk mewakili ketika mengatakan bahwa Ihya cukup untuk mewakili semua kitab keagamaan (Islam) lainnya. Apresiasi Dunia Barat terlihat dari muatan www.algzali.com yang mendokumentasikan karya akademik mengenai Sang Imam yang pada umumnya fokus pada satu dari 40 buku ihya, termasuk 85 tesis PhD dan 20 tesis MA mengenai karya Sang Imam. Dalam salah satu page-nya, website ini menyatakan Ihya “… is widely regarded as the greatest work of Muslim spirituality, and is perhaps the most read work in the Muslim world, after the Qurān“.

Berpikir Radikal

Karya-karya besar Sang Imam agaknya terkait dengan obsesinya terhadap kebenaran serta bakat alami berpikir radikal (pola pikir yang dibutuhkan oleh seorang filsuf) sebagaimana terlihat kutipan ini:

From my childhood until the present, while I am fifty years of age, I have always looked into the viewpoints of other sects and nations. I have reviewed religious ideologies, philosophies, mystic patterns, theology, etc. The great thirst that I had for discovering the truth has been inside of me since childhood. This caused me to break the chain of imitation and doubt about inherited beliefs because I saw that Christian children only look at Christianity; Jewish children only look at Judaism; and Muslim children only look at Islam. The Prophet (s) has stated: ‘Every child is born with a pure divine disposition.’ Therefore, I was instigated to find the truth; to find the roots of my beliefs.”

Kutipan ini berasal dari karya Syahid Muthahhari, salah seorang cendekiawan Iran modern terkemuka yang juga seorang arsitek revolusi Iran (seperti halnya Ali Syariati) dan shahid pasca keberhasilan revolusi itu. Fakta ini menunjukkan Sang Imam dan karya-karyanya diapresiasi di kalangan Syiah.

*****

Demikianlah gambar besar mengenai Sang Imam khususnya dalam perspektif Jackson, pakar yang hemat penulis memiliki kejujuran intelektual yang dapat diandalkan. Tulisan ini diharapkan bermanfaat untuk melihat secara objektif sosok Sang Imam sehingga tidak tergesa-gesa mengamini narasi para orientalis abad 19-20 yang cenderung mendiskreditkan Sang Imam sebagai anti-filsafat bahkan bertanggung jawab terhadap kemunduran peradaban Umat.

Semoga… @


[1]  Untuk menambah komplikasi, di era itu ada kelompok sempalan Ismailiyyah (Syiah) yang menempuh cara kekerasan bahkan pembunuhan untuk kepentingan politik. Kata assassination (Inggris) berasal dari nama kelompok sempalan itu. Kritik Al-Ghazali terhadap dasar pemikiran kelompok ini jauh lebih tajam dari pada kritiknya terhadap filsafat.  

[2] Roy Jackson (2006:86), FIFTY KEY FIGURES IN ISLAM, Routledge.

[3] Imam Nawawi adalah seorang ulama besar. Nama lengkapnya Abū Zakariyyā Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī (12343-1277). Selama hidupnya (45 tahun) beliau memproduksi karya tulis paling tidak 45 kitab besar termasuk Riyadh as-Saaliheen, Minhaj al-Talibin, dan Sharh Sahih Muslim yang sangat terkenal di Indonesia.