Climgeddon

Akhir dunia. Semua agama dan tradisi besar mengenai istilah ini. Dalam Hinduisme, misalnya, ada istilah Pralaya[1] yang merujuk pada periode kehancuran alam semesta atau akhir dunia. Kata Mahapralaya merujuk pada situasi ketika kehancuran itu bersifat menyeluruh atau total. Tulisan ini terkait dengan skenario akhir dunia dalam skala Pralaya, akhir kehidupan di planet bumi ini. Skenario ini dikenal dengan kata majemuk Climgeddon, kombinasi kata Armageddon (skenario akhir dunia) dan climate (iklim) atau mudahnya pemanasan global. Singkatnya, Climgeddon adalah skenario berakhirnya kehidupan di bumi karena pemanasan global. Asumsi skenario: kita secara kolektif melakukan kegiatan normal seperti biasa tanpa aksi nyata untuk mengatasinya.

Masuk Akal

Skenario Climgeddon masuk akal karena tren pemanasan global adalah haq (Arab); artinya, benar dan nyata (riil). Ini angkanya: rata-rata suhu global naik lebih 1℃ dibandingkan dengan suhu sebelum industri (1950-an); angkanya, meningkat (Grafik 1).

Grafik 1: Rata-rata anomali Suhu Global

Sepintas kenaikan ini suhu global kecil tapi dampaknya luar biasa dan dapat dirasakan secara global. Kenaikan ini terjadi karena atmosfer bumi dipenuhi CO2 dan gas rumah kaca lainnya. Sekarang ini konsentrasi CO2 di atmosfer bumi sekitar 400 ppm, tertinggi selama 800,000 tahun. Yang bertanggung jawab kita yang secara global memancarkan CO2 ke atmosfer sekitar 36 miliar ton per tahun; angkanya, meningkat (Grafik 2).

Grafik 2 Total Emisi CO2 menurut Kawasan

Daftar Pendek

Kini kita berada pada Fase-1 Climgeddon dengan suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri. Dalam fase ini kita sudah menyaksikan berbagai bencana yang semakin sering dan parah. Ini daftar pendeknya (Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario):

  • menyusutnya laut es dan rak es, gletser dan salju di belahan Utara Bumi,
  • kegagalan panen serta meningkatkan kelaparan massal (juga, melonjaknya harga pangan),
  • meningkatnya frekuensi dan intensitas semua jenis badai ekstrem, (angin topan, tornado, bom hujan, topan bom, dll.),
  • meluasnya kekeringan, semakin langkanya ketersediaan air minum bersih,
  • meluasnya penggurunan,
  • semakin seringnya kebakaran dan kebakaran hutan dan banjir, semakin beracunnya polusi udara, pengasaman laut semakin meningkat[2],
  • keanekaragaman hayati terus berkurang,
  • migrasi hewan dan serangga,
  • semakin berkurangnya fungsinya hutan dalam mengambil karbon dari atmosfer[3], dan
  • semakin besarnya kerugian ekonomi karena dampak pemanasan global[4].

Daftar dapat ditambah dengan, misalnya, semakin banyaknya pulau yang ‘hilang’ tenggelam[5].

Sukar Dibayangkan

Dengan mengaji daftar pendek di atas, ketika suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri, mudah bagi kita membayangkan skenario ketika suhu global menjadi 2.5º-3.2º Celsius. Angka ini adalah Fase-2 Climgeddon; jadwalnya, 2027. Suhu global terus meningkat sehingga pada tahun 2071 mencapai 5º-6º Celsius.

Perancang Climgeddon membuat gambaran situasi sampai tahun 2070 tetapi tidak berani membayangkan situasinya tahun berikutnya dan hanya menuliskan ‘unknown‘. Silahkan simak Grafik 3 untuk melihat jadwal lengkap Climgeddon.

Grafik 3: Jadwal Climgeddon

Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario

******

Bagi Muslim, dalam konteks tulisan ini, terjemahan dua ayat ini layak direnungkan:

  • Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS 2;11).
  • Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia… (QS 30:41).

Wallahualam….. @

[1] Kamus Meriam-Webser mendefinisikannya sebagai “a period of dissolution or destruction of the manifested universe at the end of a kalpa according to Hindu philosophy: the end of the world“.

[2] Ini menyebabkan kehidupan laut kritis dan kematian terumbu karang. Pemanasan laut dan pengasaman laut dari karbon dari pemanasan global pada akhirnya akan membunuh banyak plankton penghasil oksigen lautan. Plankton ini bertanggung jawab atas sebanyak 50% dari semua oksigen diproduksi di planet ini.

[3] Hutan yang merupakan kekuatan penstabil utama yang menyerap karbon menjadi netral dalam penyerapan karbonnya dan berhenti mengambil karbon dari atmosfer. Segera dalam fase selanjutnya, hutan akan mulai melepaskan simpanan karbon mereka yang besar yang mendorong suhu lebih tinggi bahkan lebih cepat.

[4] Dalam fase ini, sebagian besar negara akan menghabiskan 1-3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) secara langsung atau tidak langsung untuk membayar konsekuensi dari darurat pemanasan global.

[5] Menurut suatu laporan Pulau Seribu sudah kehilangan beberapa pulau kecial dan Indonesia dalam waktu dekat akan kehilangan sekitar 2,000 pulau.

Bangunlah Hatinya!

Pagi ini (hari tasyrik ke-3) penulis sempat mendengarkan lantunan lagu Indonesia Raya dari suatu siaran TV nasional. Sempat ‘tergetar’: terbayang peran besar lagu ini dalam proses pembangunan kesadaran berbangsa bagi warga kawasan nusantara ini (termasuk Malaysia dan Brunei?) Lagu ini ‘mengedepankan’ jiwa ketimbang badan: ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya!”. Tiba-tiba terbetik, bagaimana dengan Hati?

Kambing Berbulu Serigala

Istilah Hati dalam tulisan adalah terjemahan dari Ruh atau ‘Aql (Arab) atau Spirit atau Intellect (Inggris). Hati dalam arti salah satu unsur pembentuk manusia diakui keberadaannya oleh semua peradaban, sebelum era modern. Sejak era Jung, makna Hati diredusir menjadi identik dengan Jiwa dalam berbagai manifestasinya: pikiran (mind, reason), imajinasi, sentimen, ingatan, kehendak. Semua ini berbeda secara kategoris dengan Hati.

Reduksi makna Hati ini oleh Jung, bagi William Stoddarrt dalam bukunya Remembering in a World of Forgetting[1] (2008:46), merupakan kesalahan mendasar para ahli psikologi dengan dampak yang luar biasa, tak terkirakan:

Kesalahan fundamental dari para ahli psikologi adalah kegagalan mereka untuk membedakan antara jiwa dan Roh, dan menghilangkan sepenuhnya keberadaan Roh mereka. Dalam stu jurus langkah ini menghilangkan kapasitas untuk objektivitas dan, dengan cara yang sama, untuk spiritualitas. Kekacauan dan kerusakan yang diakibatkan oleh kebutaan yang fatal dan anti-Platonis ini tidak dapat dihitung.

The fundamental error of psychologist is their failure to distinguish between soul and Spirit, and completely their “abolition” of Spirit. At one stroke this abolishes the capacity for objectivity and, by the same token, for spirituality. This chaos and damage resulting from this fatal and anti-Platonic blindness are incalculable.

Mengenai pernyataan ini Stoddarrt menambahkan catatan kaki yang layak direnungkan:

“Jung tidak seperti Freud sering bersikap ramah pada agama. Ini adalah contoh klasik dari ‘serigala berbulu domba”

“Jung unlike Freud is often to be friendly to religion. This is a classic example of ‘a wolf in sheep’s clothing”.)

Struktur Lahir-Batin Manusia

Tetapi apa itu Hati? Yang agaknya pasti kita ‘merasakan” perbedaan antara tiga istilah ini: Badan (tubuh), Jiwa dan Hati (Ruh). Ketiganya membentuk struktur lahir-batin manusia secara vertikal. Ketiga istilah ini diakrabi oleh para cendekiawan dalam peradaban Latin maupun Yunani: ‘

  • Hati (Ruh): Spirit-Intellect (Inggris), Spiritus-Intellectus (Latin), Pnema-Nous (Yunani) dan Ruh (Arab).
  • Jiwa: soul (Inggris), anima (Latin), psyche (Yunani), nafs (Arab).
  • Badan (tubuh): body (Inggris), corpus (Latin), soma (Yunani), jism (Arab).

Istilah-istilah di atas dikutip dari Stoddardt (ibid: 46). “Celakanya’, dua istilah terakhir rancu dalam kesadaran kolektif manusia modern. Kerancuan itu terlihat, misalnya, dalam Kamus Macmillan yang mendefinisikan intelek (intellect) sebagai “kemampuan untuk berpikir dengan cara yang cerdas dan untuk memahami ide dan subyek yang sulit atau rumit” (“the ability to think in an intelligent way and to understand difficult or complicated ideas and subjects“).  Definisi ini melihat intelek sebagai salah fungsi jiwa yaitu pikiran (mind). Ini berbeda dengan cara pandang filsuf perennial seperti Schuon, misalnya, yang melihat intelek sebagai “cermin supra-masuk akal sekaligus dalam dirinya sendiri cahaya supranatural” (“at once mirror of supra-sensible and in itself supernatural ray of light“).

Membangun Hati Bangsa?

Pertanyaannya, apakah Hati Bangsa Indonesia perlu dibangun? Ini pertanyaan berat yang di luar kapasitas penulis untuk menjawabnya. Penulis hanya ‘merasakan” relevansi pertanyaan ini untuk negara-bangsa yang akan segera merayakan Ultahnya yang ke-75 ini. Dirgahayu RI! Dasar pikiran, dua sila pertama Pancasila dan masih maraknya dekadensi moral dalam berbagai manifestasinya termasuk (terutama?) korupsi oleh para pejabat publik.

Wallahualam.… @

[1] Editan Mateus Soares de Azevedo dan Alberto Vasconcellos Queiroz, terbitan World Wisdom.