Hijrah: Suatu Refleksi

Sumber klasik menyebut Nabi SAW lahir pada Tahun Gajah. Penyebutan itu terkait dengan gajah yang ditumpangi oleh komandan bala tentara asing yang bermaksud menghancurkan Ka’bah tetapi gagal karena ‘pandemi’ wabah. Yang jelas, penyebutan itu menunjukkan masyarakat Arab ketika itu belum memiliki sistem kalender dan agaknya enggan menggunakan sistem Kalender Masehi yang sudah dikenal dan mapan ketika itu.

Menurut sistem Kalender Masehi, Nabi SAW lahir sekitar tahun 570. Peristiwa ini penting bahkan dapat dikatakan historis (historical) dalam arti menentukan perkembangan sejarah Islam. Yang layak catat, Kalender Islam tidak menggunakan peristiwa kelahiran Nabi SAW sebagai patokan. Dalam sejarah Islam awal banyak peristiwa historis lainnya yang layak-catat termasuk tiga di antaranya:

  • Turunnya wahyu pertama. Wahyu ini didokumentasikan dalam Q(96:1-5). Peristiwanya sekitar tahun 610 yang juga tidak digunakan sebagai patokan Kalender Islam.
  • Dakwah Islam pertama kepada publik. Isinya lengkap: ajaran keesaan-Nya (Iman), penyerahan total kepada-Nya (Islam), dan menjalani kehidupan secara benar (Dien). Peristiwa ini terjadi sekitar 613 yang juga tidak digunakan sebagai patokan Kalender Islam.
  • Pengiriman Duta Islam pertama. Duta yang dimaksud adalah Mus’ab Ibn ‘Umar yang diutus ke pada masyarakat Madinah untuk mengajarkan doktrin Islam dan pedoman dasar kehidupan sehari-hari. Peristiwanya terjadi 621 yang juga tidak digunakan patokan Kalender Islam.

Dalam rentang waktu antara peristiwa ke-1 dan ke-3, selama 11 tahun, berlangsung penurunan wahyu yang semuanya tercantum dalam surat-surat Makiyah Al-Quran. Jadi, wahyu Al-Quran diturunkan secara bertahap yang berbeda dengan proses penurunan wahyu kepada Nabi Musa AS, misalnya, yang berlangsung sekaligus.

Peristiwa ke-3 di atas mengesankan surat-surat Makkiyah sudah memadai sebagai pedoman hidup beragama sejauh terkait dengan kehidupan akhirat. Tapi Islam tidak hanya mencakup doktrin kehidupan akhirat: Islam bukan hanya agama dalam pengertian umum istilah ini tetapi juga Dien[1] dalam arti ajaran yang mengatur landasan moral-spiritual kehidupan nyata di dunia ini secara menyeluruh. Paling tidak demikianlah yang menjadi kepercayaan umum Umat Islam.

Untuk merealisasikan Dien pada tingkat masyarakat tentu diperlukan subjek pelaku: suatu Umat atau kesatuan kolektif manusia dengan pandang-dunia tertentu. Di era Mekah, Umat yang dimaksud belum terbentuk karena komunitas Muslim masih sangat lemah dari sisi ukuran populasi dan keamanan kelangsungan hidup kolektif. Mereka sering terpaksa beribadah secara diam-diam bahkan menyembunyikan keimanan karena alasan keamanan yang masih sangat rentan. Dinyatakan secara berbeda, di era Mekah Umat Islam belum terbentuk dalam pengertian memiliki kekuatan politik dan kemandirian untuk mengembangkan peradaban sendiri berdasarkan ajaran ‘langit’ untuk melakoni kehidupan di “dunia” yang kongkret secara sosial.

Dalam konteks ini, hijrah komunitas Muslim dari Mekah ke Madinah mengawali proses pembentukan Umat dalam pengertian yang dimaksud. Peristiwanya terjadi pada tahun 622. Di Madinah Umat memiliki landasan geografis untuk membangun peradaban. Lebih dari itu, Umat ini dapat dikatakan unik karena satu-satunya kesatuan kolektif manusia yang berkesempatan mengembangkan kehidupan pribadi, bertetangga, sosial, dan bernegara secara konkret di “dunia” berdasarkan ajaran ‘langit’ (wahyu), serta di bawah bimbingan langsung utusan ‘langit’. Itulah agaknya signifikansi Hijrah. Peristiwa ini jelas bukan hanya bersifat fisik tetapi memiliki signifikansi¬† sisi peradaban, budaya dan sejarah kemanusiaan sebagaimana diungkapkan Dr. Ibrahim B. Syed dalam History of Islam:

In physical terms, hijrah was a journey between two cities about 200 miles apart, but in its grand significance it marked the beginning of an era, a civilization, a culture and a history for the whole mankind. Islam progressed not only from the physical hijrah, but because Muslims took hijrah seriously in all its aspects and dimensions.

Tulisan lain mengenai signifikansi hijrah dapat diakses di sini:

https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2017/09/25/signifikansi-hijrah/

Wallahualam …..@

[1] Dien adalah kata Arab yang sukar dicari padanannya dalam bahasa lain.