Indeks Kemajuan Sosial: Tinjauan Umum


Kata kunci: Dimensi IKS, pertanyaan kunci, metode dan hasil perhitungan, hubungan antara IKS dan GDP Per Kapita, Kapasitas Indonesia.

Setiap negara tentu mengupayakan agar warganya maju secara sosial. Upaya ini berarti, tetapi tidak terbatas pada, pemenuhan kebutuhan dasar akan sandang-pangan-papan-pendidikan-kesehatan semua warga, juga anak-cucu-cicit mereka yang masih hidup maupun yang akan hidup di abad-abad mandatang. Inilah upaya ke arah kebajikan yang dikenal secara universal (Arab: ma’ruf). Masalahnya, kapasitas negara untuk mewujudkan semua itu berbeda. Jadi pertanyannya bagaimana mengukur kapasitas itu. Indeks Kemajuan Sosial (IKS) atau Social Progress Index, indeks komposit yang dikembangkan oleh Social Progress Initiative sekitar satu dekade yang lalu, dimaksudkan untuk mengukur kapasitas itu tapi bukan satu-satunya[1]. Tulisan berdurasi-baca enam menit ini meninjau secara umum indeks komposit ini, menelisik anatomi dan metodologinya secara sepintas, serta mengevaluasi hasil perhitungannya secara sederhana. 

Anatomi IKS

Substansi IKS mencakup tiga dimensi sosial-lingkungan yang mendasar bagi kemanusiaan: kebutuhan dasar, pondasi kesejahteraan dan peluang untuk maju. 

  • Kebutuhan dasar (basic needs): memenuhi kebutuhan dasar seluruh warga bangsa,
  • Fondasi kesejahteraan (foundation of wellbeing): membangun pondasi yang memungkinkan individu dan masyarakat meningkatkan dan mempertahankan taraf kesejahteraan, dan
  • Peluang (opportunity): menciptakan peluang bagi setiap individu warga agar mampu mencapai tingkat  potensi tertingginya.

Tiga dimensi IKS itu pada dasarnya mencakup semua sasaran SDG (Sutainable Development Goals) sehingga skor IKS dapat mengukur tingkat capaian SDG suatu negara. Paling tidak demikianlah klaim pihak penyusun IKS. 

The Social Progress Index captures outcomes related to all 17 Sustainable Development Goals in a simple but rigorous framework designed for aggregation, making it an invaluable proxy measure of SDG performance.

Masing-masing dimensi IKS dibangun berdasarkan empat komponen sehingga IKS secara keseluruhan mencakup 12 komponen. Masing-masing komponen ini dihitung berdasarkan 3-5 indikator sehingga IKS secara keseluruhan mencakup 50 indikator. Singkatnya, anatomi IKS terdiri dari 3 dimensi, 12 komponen dan 50 indikator[2].

IKS hanya mencakup indikator outcome (bukan input) dalam bidang sosial dan lingkungan (tanpa indikator ekonomi) yang dipilih sedemikian rupa sehingga dapat ditindaklanjuti dalam program aksi (prinsip actionability), serta relevan bagi semua negara (prinsip inclusivity). Demikianlah kira-kira prinsip IKS menurut klaim Social Progress Initiative.

Pertanyaan Kunci

Gambar besar mengenai kemajuan sosial yang ingin direfleksikan oleh IKS tercermin dari pertanyaan kunci yang ingin dijawab oleh setiap komponen dari masing-masing dimensi. Pertanyaan kunci itu memandu penyusunan indikator yang relevan. Daftar pertanyaan kunci dari dimensi pertama, Kebutuhan Dasar, adalah sebagai berikut:

  1. Apakah penduduk memiliki makanan yang cukup dan dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar?
  2. Apakah penduduk dapat mengakses air minum yang bersih-sehat tanpa risiko dampak kontaminasi?
  3. Apakah penduduk bertempat tinggal dalam bangunan yang dilengkapi dengan utilitas dasar layaknya suatu bangunan tempat tinggal?
  4. Apakah penduduk dapat menikmati rasa aman?[3]

Dari pertanyaan pertama dihasilkan lima indikator yang dua di antaranya adalah gizi buruk dan kematian karena penyakit infeksi. Daftar pertanyaan komponen untuk dua dimensi IKS lainnya dapat dilihat dalam Kotak 1:

Metode Penghitungan

Metode penghitungan IKS relatif sederhana dan pada dasarnya terdiri dari tiga tahapan. Tahapan pertama, menghitung indeks komponen untuk masing-masing dimensi IKS. Indeks komponen ini dihitung berdasarkan hasil perhitungan rata-rata tertimbang indikator pembentuk masing-masing komponen. Tahapan kedua, menghitung indeks dimensi berdasarkan hasil perhitungan rata-rata sederhana indeks komponen. Tahapan akhir, menghitung IKS yang tidak lain dari pada rata-rata sederhana indeks dimensi. Penjelasan penghitungan IKS secara lebih rinci dapat dilihat pada Kotak 2.

Hasil Perhitungan

Skor IKS secara teoretis  terletak antara 0 sampai 100: 0 menujukan kapasitas paling rendah, 100 paling sempurna. Hasil perhitungan untuk 2020 menunjukkan angka terendah adalah 31.06 untuk Sudan Selatan dan 92.73 untuk Norwegia. Jadi tidak ada negara yang skornya di bawah 30 dan di atas 93. Negara-negara lain, terletak dalam interval angka itu yang dikelompokkan ke dalam enam tingkat (tier) pendapatan yang diukur dengan GDP per capita PPP.

Diukur dengan IKS, kemajuan sosial dunia mengalami perbaikan tetapi lambat dan tidak merata. Menurut laporan Social Progress Initiative, dalam kurun 2011-2020: 

  • secara rata-rata skor IKS meningkat 3.61 poin persen dari 60.63 ke 64.24;
  • sebanyak 155 atau 95% negara mengalami kenaikan hanya satu poin;
  • ada tiga negara (2%) mengalami penurunan: Brazil, Hongaria dan Amerika Serikat (faktor Trump?); dan
  • sebanyak 69 (42%) negara yang mengalami perbaikan skor mengalami kenaikan skor 5 poin persen atau lebih.

Sebagaimana dilaporkan Green dkk dari Social Progress Initiative Perbaikan, skor IKS global kebanyakan terjadi dalam hal Akses ke Informasi dan Komunikasi, Akses ke Pendidikan Tinggi, Perumahan, dan akses ke Air serta Sanitasi:

Since 2011 the world score has improved on eight components: Access to Information and Communications (+21.61 point change), Access to Advanced Education (+7.45), Shelter (6.10), Water and Sanitation (+5.57), Access to Basic Knowledge (+4.18), Nutrition and Basic Medical Care (+4.20), Personal Freedom and Choice (+2.32), and Health and Wellness (+1.55).

Berdasarkan sumber yang sama, skor IKS mengalami penurunan dari sisi HAM dan Kualitas Lingkungan:

The world is declining on Personal Rights (-6.42), Inclusiveness (-3.48) and stagnating on Personal Safety (-0.61) and Environmental Quality (value). The world score on Personal Rights has declined by 4.17 points since 2011.

IKS dan GDP Per Kapita

Seperti disinggung sebelumnya, IKS fokus pada indikator sosial dan lingkungan dan tidak memasukkan indikator ekonomi. Di satu sisi hal ini terkesan menunjukkan kelemahan IKS dari sisi cakupan. Di sisi lain hal ini justru menunjukkan kekuatan focus IKS. Ada alasan lain yang menunjukkan kekauatan IKS: hubungan antara indikator sosial-lingkungan ternyata positif. Ini berarti, dari sisi teknis indeksing komposit, memasukkan indikator ekonomi memang tidak diperlukan karena merupakan pengulangan yang tidak perlu.

Grafik 1 menunjukkan hubungan fungsional antara skor IKS dan tingkat ekonomi (diukur dengan GDP per capita PPP). Seperti tampak pada grafik itu, banyak negara yang kuat secara ekonomi tetapi memiliki skor IKS yang relatif rendah. Termasuk dalam kelompok negara ini adalah Sudan Selatan, Guinea, Turki, Arab Saudi, Qatar, Singapura, Luxemburg, dan Amerika Serikat (AS). Relatif rendahnya IKS untuk negara seperti Sudan Selatan dapat dimaklumi mengingat rendahnya tingkat ekonomi negara ini. Tetapi bagi negara seperti Qatar (IKS=sekitar 70) dengan GDP per kapita hampir $100,000 PPP seyogianya memiliki skor IKS lebih tinggi (IKS> 95). Oleh Social Progress Initiative, kelompok negara ini (ada 35 negara) disebut underperformers (on social progress relative to their incomes).

Grafik 1 juga mebunjukkan kasus negara dengan IKS yang tinggi relatif terhadap tingakt ekonominya. Termasuk dalam kelompok negara ini adalah Norwegia, New Zealand, Kyrgystan dan Costa Rica. Yang terakhir ini skor IKS-nya setara dengan AS padahal GDP/kapitanya hanya sekitar sepertiga GDP/kapita AS. Kelompok negara seperti Costa Rica ini (ada 13 negara) disebut over-performers.

Terkait dengan Grafik 1, Green dkk melaporkan tiga poin temuan kunci:

    1. There is a positive and strong relationship between the Social Progress Index and GDP per capita.
    2. The relationship between economic development and social progress is not linear. At lower income levels, small differences in GDP per capita are associated with large improvements in social progress. As countries reach high levels of income, however, the rate of change slows.
    3. GDP per capita does not completely explain social progress. Countries achieve divergent levels of social progress at similar levels of GDP per capita.

Grafik 1: Hubungan Antara IKS dan GDP Per Kapita (PPP)

Kapasitas Indonesia

Bagaimana kapasitas Indonesia dalam hal kemajuan sosial diukur dengan IKS? Tabel 1 menunjukkan Indonesia dalam kancah global, dengan IKS=79.79, berada pada rangking 84 dari 163 negara yang dibandingkan, di bawah Aljazair (IKS=87.69). Mengomentari ranking ini seorang kolega menilai , Indonesia sebagai angota G20 (46 angota), ‘normal’-nya ranking sekitar 46.  Dalam kancah ASEAN, seperti ditunjukkan oleh Tabel 2, posisi Indonesia di bawah Singapura (IKS=85.46), Malaysia (IKS=76.69) dan Thailand (IKS=70.72); di atas Vietnam (IKS=68.85). 

Table 1: 2020 Social Progress Index rankings 
Tier Rank Country Score Basic Human Needs Foundation of Well-being Opport-unity
1 1 Norway 92.73 96.85 93.39 87.95
1 2 Denmark 92.11 96.10 91.58 88.66
1 13 Japan 90.14 97.78 92.15 80.50
2 14 Luxemburg 89.56 95.72 91.84 81.13
2 15 Austria 89.50 96.03 91.84 80.63
2 42 Barbados 80.50 87.25 80.08 74.16
3 43 Bulgaria 79.86 90.88 78.19 70.51
3 44 Mauritius 78.96 90.90 76.52 69.47
3 82 South Africa 70.26 73,35 69.28 68.14
4 83 Algeria 87.69 87.69 68.76 59.92

4

84

Indonesia

69.49

79.79

68.76

59.92

4 111 Senegal 60.04 66.20 61.17 52.76
5 112 Egypt 59.98 79.41 51.55 48.98
5 113  Turkmenistan 58.35 83.18 59.84 32.05
5 139 North Korea 50.01 63.94 52.79 33.30
6 140  Burkina Faso 49.87 47.93 54.74 46.95
6 141  Pakistan 49.25 59.49 46.88 41.39
6 163 Soth Sudan 31.06 35.74 36.69 20.73

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Social_Progress_Index

Table 2: Social Progress Indices of ASEAN Countries
Country Rank Score Basic Human Needs Foundation of Well-being Opportunity
Singapore 29 85.46 97.66 86.13 73.58
Malaysia 48 76.96 88.77 80.52 61.59
Thailand 79 70.72 80.89 75.44 55.83
Indonesia 84 69.49 79.79 68.76 59.92
Vietnam 88 68.85 82.03 72.31 52.23
Philippies 98 66.62 70.74 71.24 57.87
Timor-Leste 110 61.08 63.84 66.88 52.53
Cambodia 118 56.27 67.27 62.09 39.53
Myanmar 120 55.99 64.61 59.27 44.10
Laos 133 51.80 62.64 55.18 37.58

Sumberhttps://en.wikipedia.org/wiki/Social_Progress_Index

Dilihat dari dimensi IKS, Tabel 2 menunjukkan bahwa kapasitas Indonesia relatif kuat dalam dimensi Kebutuhan Dasar (walaupun rendah dibandingkan Vietnam) tetapi relatif lemah dalam dimensi Peluang (walaupun lebih kuat dibandingkan Malaysia). Fakta ini layak catat bagi para pengambil kebijakan negeri ini.  Fakta lain yang layak catat adalah bahwa menurut Social Progress Initiative prospek IKS secara global ke depan tidak terlalu cerah dan ini terkait pandemic Covid-19.

Based on 2020 Social Progress Index projections, if current trends continue the world won’t achieve the Sustainable Development Goals 2082 – missing the 2030 target by more than a half-century. 

And unless urgent actions are taken, the Covid-19 pandemic and accompanying economic crisis risk setting social progress in the world back by another decade, pushing out achieving the SDGs until 2092.

Wallahualam….. @


[1] Indeks komposit lain yang dirancang untuk maksud serupa antara lain Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Happy Planet Index, dan OECD Better Life, dan Legatum Prosperity Index.

[2] Bandingkan angka-angka ini dengan 17 sasaran dan hampir 250 indikator SDG.

[3] Ini layak catat: rasa aman dikategorikan sebagai komponen kebutuhan dasar.

Published by

Uzair Suhaimi

Statistics and religion. This is perhaps an unusual combination for many. The first is dealing with the empirical world, the second with that beyond that world. However, that is my reflection regarding myself. As a statistician, I spent 30 years (1981-2011) serving BPS-Statistics Indonesia. After that my professional services were dedicated to TNP2K office (an office under the vice president office) for a few months and to ILO-ROAP as a senior statistician for half a year. Since 2012 most of my time is dedicated as an independent consultant on statistics-related work, mostly for ILO and on some occasions for some government offices Indonesia. My recent work (2019) was on estimating child labour in Indonesia for ILO Country Office Jakarta. As for personal interest, since young, I've been fascinated with the basic principles of religious thought, especially on its esoteric dimensions, essentiality, and universality. Sufism and perennial philosophy are of my special interest. On this subject, I have posted a number of short articles in my personal blog: https://uzairsuhaimi.blog.

One thought on “Indeks Kemajuan Sosial: Tinjauan Umum”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.