Covid-19 dan Ketengakerjaan: Kasus Indonesia


Ekonomi Indonesia triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49 persen (y-on-y)….. Ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,03 persen (c-to-c).

Kutipan di atas berasal dari Berita Resmi BPS (Bahan Tayangan) yang pada intinya mengkonfirmasi sesuatu yang dapat diduga secara mudah: dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap ekonomi di Indonesia. Dampak negatif itu bagi Indonesia sebenarnya tidak separah dari yang dialami oleh Uni Eropa, Amerika Serikat atau Singapura, tetapi lebih parah dibandingkan dengan yang dialami Korea Selatan, misalnya. Sebagai catatan, China dan Vietnam merupakan kasus dua negara yang terdampak Covid-19 tetapi tidak sampai menyebabkan kontraksi ekonomi; artinya, pertumbuhannya masih positif selama periode Kuartal 2-3 tahun 2020.

Mengingat eratnya hubungan antara ekonomi dan ketenagakerjaan maka  pertanyaannya adalah bagaimana dampak ikutannya terhadap pasar kerja. Tulisan berdurasi-baca empat menit ini bermaksud menjawab secara singkat pertanyaan ini untuk kasus Indonesia. Dasarnya, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang secara berkala diselenggarakan BPS dalam dua siklus setiap tahunnya pada setiap Februari dan Agustus.

Titik Puncak-Nadir

Tabel 1 menyajikan tren ketenagakaerjaan Indonesia dalam dua-setengah tahun terakhir. Tabel itu  mengindikasikan situasi ketenagakerjaan Indonesia pada Februari 2020 berada pada titik puncak dalam arti:

  • Angkatan Kerja (labour force) tengah tinggi-tingginya (140.2 juta),
  • Penduduk yang Bekerja (employment) tengah tinggi-tingginya (133.8 juta), dan
  • Angka Penganggur (unemployment rate) tengah rendah-rendahnya (kurang dari 5%).
Tabel 1: Tren Kenetagakerjaan Indonesia 
Februari 2018-Agustus 2020
  2018 2019 2020
  Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus
Panel A (dalam Ribuan)
Penduduk 15+   196.938,7   198.126,6   199.785,2   201.185,0   202.597,1   203.972,5
Angkatan Kerja   136.443,0   133.355,6   138.591,4   135.859,7   140.218,4   138.221,9
Bekerja   129.479,5   126.282,2   131.692,6   128.755,3   133.755,3   128.454,2
Penganggur         6.963,5         7.073,4         6.898,8         7.104,4         6.925,5         9.767,8
Bukan Angkatan Kerja      60.495,7      64.771,0      61.193,8      65.325,3      62.378,7      65.750,5
Sekolah      15.581,4      16.524,4      16.091,4      15.943,3      16.672,8      12.900,2
Mengurus Rumah Tangga      36.665,1      40.382,2      37.483,5      40.949,7      38.506,5      42.085,6
Lainnya         8.249,2         7.864,4         7.618,9         8.432,3         7.199,4      10.764,7
Panel B (Indikator Ketenagakerjaan)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%)                69,3                67,3                69,4                67,5                69,2                67,8
Angka Penganggur (%) 5,1 5,3 5,0 5,2 4,9 7,1
             
Sumber: Diolah dari BPS, Keadaan Agkatan Kerja Indonesia Agustus 2020

Kotras dengan situasi Maret 2020, situasi Agustus 2020 mengindikasikan situasi pada titik nadir.

  • Angkatan Kerja (labour force) tengah rendah-fendahnya (138. 2 juta),
  • Penduduk yang Bekerja (employment) tengah rendah-rendahnya (128.8 juta), dan
  • Angka Penganggur (unemployment rate) tengah tinggi-tingginya (lebih dari 7%).

Perubahan angka dari posisi puncak ke posisi nadir jelas akan terkesan dramatis:

  • Jumlah Angkatan Kerja turun hampir tiga juta,
  • Jumlah penduduk Bekerja turun lebih dari lima juta, dan
  • Jumlah Penganggur naik hampir tiga juta.
Pertanyaannya, apakah tiga poin terakhir di atas menggambarkan secara cermat dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan di Indonesi? Jawabannya tidak sederhana karena alasan yang akan segera jelas.

Masalah Perbandingan

Jika diasumsikan dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan tercermin dari penurunan angkatan kerja[1] dan penduduk yang bekerja serta kenaikan angka penganggur maka ‘perubahan dramatis’ sebagaimana disinggung di atas mengindikasikan: (a) dampak itu di Indonesia sampai Februari 2020 (posisi puncak) belum terjadi, dan (b) dampak itu paling parah pada Agustus 2020. Pertanyaannya, apakah data Sakernas Februari dan Agustus secara statistik dapat diperbandingkan secara langsung dan aman. Ini masalah perbandingan yang perlu menjadi catatan bagi pemakai data Sakernas. 

Jika dicermati perbandingan angka-angka Febuai dan Agustus untuk tahun 2018 dan 2019 maka akan terlihat jelas bahwa angka-angka Agustus:

  • Selalu lebih rendah untuk angkatan kerja,
  • Selalu lebih rendah untuk penduduk yang bekerja, dan
  • Selalu lebih tinggi untuk penganggur.

Tiga fakta ini dapat menunjukkan adanya variasi musim dalam ketenagakerjaan di Indonesia dan dapat menggambarkan situasi lapangan yang sebenarnya. Aturan jempolnya sederhana: perbedaan waktu survei dapat menyebabkan perbedaan hasil. Dengan aturan ini dapat ditarik analogi: “perubahan drmatis” dari posisi puncak (Februari 2020) ke posisi nadir (Agustus 2020) dapat terjadi, paling tidak sebagian, karena perubahan waktu survei. Implikasinya, melihat dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan Indonesia berdasarkan data Sakernas Febuari 2020 dan Februari 2020 dapat rancu atau bahkan menyesatkan karena masalah perbandingan ini. Untuk menambah komplikasi, besar sampel Sakernas jauh lebih besar untuk siklus Agustus dari pada intui siklus Febuari sehingga angka Agustus ada kemungkinan relatif lebih kokoh (robust).

Menakar Dampak

Berdasarkan discus sebelumnya, untuk melihat perubahan situasi ketenagakerjaan di Indonesia berdasarkan Sakernas, dapat disarankan untuk membandingkan data Sakernas untuk siklus yang (sama-sama Februari atau sama-sama Agustus) untuk tahun yang berbeda. Strategi ini menghindari secara efektif kemungkinan noise karena varisi musim dan perbedaan robustness karena perbedaan besar sampel sebagaimana dibahas sebelumnya.  

Grafik 1 menyajikan ilustrasi untuk keperluan perbandingan semacam itu untuk kasus penduduk yang bekerja. Pada grafik itu tampas penduduk yang bekerja turun sekitar 300 ribu selama periode Agustus 2019-Agustus 2020, penurunan kecil yang agaknya data diabaikan. Walaupun demikian, penurunan kecil ini, bagi sebagian, lebih realistis menggambarkan dampak Covid-19; dibandingkan dengan penurnan angka sekitar 5.3 juta untuk periode Maret-Agustus 2020. Angka terakhir ini bagi Indonesia– yang masih didonimasi sektor informal dan belum mampu memberikan jaminan penganggur– agaknya terlalu “mewah”, sekalipun atas nama Covid-19. Sebagai catatan,  sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 1 kembali menguatkan dugaan sebelumnya bahwa sampai Februari 2020 pandemi Covid-19 belum berdampak terhadap ketenagakerjaan Indonesia.

Jika untuk masing-masing komponen penduduk usia kerja diasumsikan:

A: Angka-angka Agustus 2019 mengambarkan keadaan normal dalam arti pra-pandemi dan dijadikan sebagai penimbang (skor 100),

B: Angka-angka Agustus 2020 menggambarkan situasi ketenagakerjaan di masa pandemi yang skornya ditimbang dengan angka-angka Agustus 2019,

maka perubahan skor A-B secara logis menggambarkan sampan taraf tertentu  besarnya dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap ketenagakerjaan.

Dengan mengikuti alur logika ini maka dapat disimpulkan bahwa pandemi Covid-19:

  • Tidak membawa perubahan signifikan terhadap jumlah penduduk yang bekerja,
  • Meningkatkan jumlah penganggur sekitar 37%,
  • Menurunkan Bukan Angkatan Kerja (BAK) yang sekolah sekitar 9%,
  • Meningkatkan BAK yang mengurus rumah tanga sekitar 3%, dan
  • Meningkagkan BAK lainnya sekitar 28%.

Grafik 2 menyajikan gambaran visual mengenai kesimpuan-kesimpulan itu.

Dua poin terakhir ini, sebagian atau seluruhnya, patut diduga merujuk pada angkatan kerja potensial (potential labour force) menurut definisi global: penduduk yang tidak berkerja dan tidak mencari pekerjaan (karenanya masuk BAK) karena menduga tidak tersedia kesempatan kerja.

Kalau BBC dalam satu running text mengkarakterisasi ‘penganggur’ di Amerika Serikat tidak tahu harus berbuat apa. maka BBC keliru dengan menyebut penganggur yang menurut definisi aktif mencari pekerjaan. Kemungkinan BBC merujuk pada kelompok BAK lainnya. Peningkatan besar jumlah kelompok ini sebagaimana tercermin pada Grafik 2 agaknya mencerimkan dampak negatif yang khas terhadap ketenagakerjaan dari tragedi seperti pandemi Covid-19 ini.      

Wallahualam….. @

[1] Artikel mengenai konsep dan ism ketenagakerjaan di Indonesia dapat diakses dalam tautan ini: https://uzairsuhaimi.wordpress.com/category/jejak-pemikiran/ketenagakerjaan/page/3/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.