Makna Simbolis Angka 0-3


Ayah, Ibu, Adik

Kita semua agaknya hafal lirik ‘lagu wajib’ anak Indonesia berikut:

“Satu satu, aku sayang ibu! Dua dua, juga sayang ayah! Tiga tiga.. sayang adik kakak! Satu-dua-tiga, sayang semuanya!” 

Lagu ini adalah ciptaan Pak Soerjono (atau Pak Kasur) kelahiran Purbalingga (1912). Pesan lagunya “kasih sayang”, bukan “konsep bilangan” walaupun disebutkan angka-angka. Lagu ini, karena sarat kandungan nilai edukasinya, boleh dikatakan abadi, paling tidak dalam konteks budaya Indonesia. 

Pertanyannya, bagaimana lirik lagu itu jika diterjemahkan dalam konteks budaya lain, katakanlah Mesir[1]. Penulis menduga, dalam konteks Mesir, liriknya kira-kira begini:

1-1, aku sayang ayah (abi),

2-2, sayang ayah ibu (ummi),

3-3, sayang adik (ukhti).

Di sini pesan atau geregetnya bukan ‘kasih sayang’ tetapi “makna simbolis” angka (1-3) walaupun kata sayang disebutkan. 

  • Angka 1[2] menyimbolkan kegagahan (arab: jalal),
  • Angka 2 meyimbolkan pasangan dua unsur yang memiliki sifat berbeda[3] yaitu kegagahan yang diwakili oleh ayah dan keindahan (Arab: jamal) yang disimbolkan oleh ibu, dan
  • Angka 3 menyimbolkan produk yang dihasilkan oleh energi gabungan pasangan itu[4].

Sumber Keberadaan

Konsep pasangan jalal-jamal ini kira-kira pararel dengan konsep yang-yin dalam filsafat Cina Kuno. Secara harfiah, yang-yin berarti terang-gelap, positif-negatif. Ini adalah konsep dualisme yang menjelaskan bagaimana dua hal yang tampaknya berlawanan atau bertentangan sebenarnya saling-melengkapi, saling-terkonekasi dan saling-tergantung dalam dunia alamiah.

Angka 1,  simbol jalal atau yang, sampai tarap tertentu dapat dimaknai sebagai sumber keberadaan: ada ukhti karena ada abi. Dalam dunia biologis konsepnya jelas: kelangsungan hidup suatu spesies mensyaratkan keajekan keberadaan unsur ‘ayah’ dalam habitat spesies itu. Dengan kata lain, defisit unsur ‘ayah’ mengancam keberlangsungan hidup suatu sepsies.

Gejala defisit itu ditemukan dalam habitas kura-kura, misalnya, spesies yang diyakini memainkan peran penting bagi kesehatan habitat makhluk hidup secara keseluruhan. Defisit ini terjadi karena generasi baru kura-kura, karena semakin menghangatnya suhu air laut akibat perubahan iklim, semakin didominasi betina. 

Konsep sumber keberadaan ini mungkin lebih mudah dipahami jika menggunakan analogi dalam aritmatika: suatu angka, katakanlah angka 4, dapat terpahami hanya jika dilihat sebagai ‘keturunan’ atau kelipatan SATU-an: 1+1+1+1 = 4×1. Tanpa angka 1 tidak akan ada angka 4.

Angka Cantik

Selain merupakan sumber angka lain, angka 1, dengan operasi matematik tertentu, dapat menghasilkan angka-angka yang cantik. Sebagai ilustrasi, ambil contoh 5-suku deret angka berikut:

1, 11, 111, 1111, dan 11111.

Perjumlahan angka dalam deret itu menghasilkan angka 12345. Jika deret dilanjutkan sehingga secara keseluruhan mencakup 9-suku maka hasilnya adalah 123456789. Dua angka cantik!

Menggunakan deret yang sama, kuadrat suku ke-5, (11111)2, menghasilkan angka 123454321, sementara kuadrat suku ke-9, (111111111)2, menghasilkan angka 12345678987654321. Juga dua angka cantik!  

Nihil dan Absurd

Angka 12,345,678,987,654,321 jelas angka besar, lebih besar dari 12,345 trilun atau 12,2345×1012. Catatannya, angka besar ini menjadi nihil jika dipertentangkan atau dikalikan dengan 0. Ini berarti angka 0 menihilkan semua angka, atau menggunakan terminilogi Budhisme, membuat angka menjadi hampa (void).

Sebaliknya, jika angka besar itu dibandingkan (dibagi) dengan 0 hasilnya ‘meledak’ (exploded), bukan tak-terhingga, tetapi tidak terdefinsikan, absurd. Jadi, membandingkan suatu angka dengan 0 mengakibatkan angka itu tak-terpahami.

Sekalipun menihilkan, kehadiran angka 0 merupakan syarat agar angka lain terpahami: 0 menjadi pusat rujukan (center). Angka 4 dalam suatu garis bilangan, misalnya, hanya dapat dipahami jika dikaitkan dengan titik O(0). Analog, titik P(2,3) atau Q(2,3,5), sebagai dua misal lain, agar dapat dipahami perlu dirujukkan dengan titik O(0,0) dalam bidang datar atau O(0,0,0) dalam ruang. Singkatnya, posisi suatu titik– apakah dalam garis bilangan, bidang datar atau ruang—hanya dapat dipahami jika dikaitkan dengan pusat rujukan. Celakanya, kita secara keseluruhan hidup dalam dunia yang tanpa center[5] sehingga terpapar bahaya dislokasi secara mental-spiritual. 

*****

Konon filsafat hampa seperti dibahas secara singkat di atas yang membuat orang-orang Arab dulu menemukan angka 0. Pengerak idenya konon konsep Wujud wajib (necessary Being), suatu konsep teologis. 

Wallahualam….@


[1] Pemilihan Mesir sebagai iluatrasi diilhami oleh ceramah Dr. Waleed El-Ansary yang berjudul Islamic Esotercism & Mathematical Archetypes of Nature, Science, and Art,  George Washington University,  22 May 2016. Sebagian tulisan ini mengadaptasi isi ceramah itu.

[2] Satu dalam Bahasa Arab wahid tetapi jika dikaitkan dengan Dia SWT terjemahannya ahad, bukan wahid. Istilah Yang Maha Esa agaknya padanan kata ahad.

[3] Dalam konsep Islam, Tuhan diyakini memiliki sifat jalal sekaligus jamal. Sifat Akbar, Aziz, Qahhar, misalnya, termasuk jalal;  Rahman, Rahim, Latif, misalnya, termasuk jamal

[4] Dalam tradisi China, seni bela diri Tai Chi konon dikembangkan dari kepercayaan akan besarnya energi yag dihasilkan dari pasngan unsur yin-yang.

[5] Lihat Fritjhof Schuoan (1990), To Have A Center, World Wisdom.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.