Basmalah: Analisis Teks dan Refleksi (2/3)

Ini adalah tulisan kedua dari tiga tulisan dengan judul yang sama. Tulisan sebelumnya mengutip Hadits yang menyiratkan hubungan antara Basmalah dengan keberkahan. Dengan demikian, jika seseorang mengucapkan Basmalah ketika memulai suatu kegiatan maka sebenarnya dia tenngah berharap agar kegiatan itu menghasilkan keberkahan. Pemaknaan semacam ini, selain sejalan dengan Hadits yang dikutip dalam tulisan sebelumnya, juga sesuai dengan salah satu fungsi Huruf Ba yaitu untuk minta bantuan (للاستعانة) atau berdoa. 

Jika tulisan sebelumnya membahas Basmalah secara keseluruhan maka tulisan yang ini dan yang sesudahnya lebih fokus pada masing-masing kata yang membentuk lafadh Basmalah: huruf Ba (ب), lafadh Ism (اسم), Allah (الله), al-Rahman (الرحمن) dan al-Rahim (الرحيم).

Huruf Ba (حرف الباء)

Di sini Huruf Ba dilihat sebagai Huruf Ma’ani (mengandung arti), bukan sebagai Huruf Hijaiayyah[1]. Secara gramatika huruf ini berfungsi sebagai huruf jar (حرف الجر) yang menghendaki agar lafadh Ismi yang terletak sesudahnya dibaca kasrah.

Sejauh ini kita menggunakan kata ‘dengan’ sebagai terjemahan Huruf Ba dan memfungsikannya sebagai pernyataan minta bantuan (للاستعانة). Sebenarnya banyak makna dan fungsi Huruf ini; dua di antaranya yang sesuai dengan konteks Basmalah adalah sebagai pernyataan partisipasi atau keikutsertaan (للمشاركة) dan pertemanan (للمصاحبة). Jika keduanya diterapkan ketika kita membaca Basmaah maka seolah-olah kita mengungkapkan narasi ini:

Aku memulai kegiatan ini dengan Basmalah dengan harapan agar keberkahan senantiasa menyertai atau menemani keseluruhan proses kegiatan ini.

Sejauh yang penulis pahami, narasi itu sejalan dengan sejumlah ayat al-Quran; di antaranya, dalam potongan ayat-ayat berikut:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. QS (57:4).

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS 8:17)

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. QS (37:96)

Tiga ayat di atas jika dibaca secara lengkap menujukan ketergantungan hakiki (ontological dependency) alam semseta termasuk kita dan perbuatan kita kepada Allah SWT. Ketergantunagan itu terungkap juga dalam ayat al-Fatihah, rabbil ‘alamiin di mana lafadh ‘alamiin dimaknai sebagai apa pun selain Allah, yang dalam hubungannya dengan Alah SWT berkedudukan sebagai hamba (عبد), suka atau tidak suka. Ketergatungan hakiki ini terlambangkan dalam Huruf Ba dalam Basmalah. Wallahu’alam.

Lafadh Ism (لفظ اسم)

Lafadh ini diberi harakat kasrah karena perintah huruf jar, Bi, sehingga lafadh ism pasti dibaca ismi, bukan ismu atau isma. Sementara ini kita terjemahkan lafdh ism dengan Nama tetapi sebenarnya ada perbedaan paham di kalangan ulama mengenai artinya. Sementara Ulama Basrah percaya kata ini berasal dari kata السمو yang menunjukkan makna tinggi atau agung, Ulama Kuffah percaya kata itu itu berasal dari kata السمة yang berarti tanda. Sebagai catatan, huruf Alif dalam dihilangkan dengan alasan sering digunakan.

Dalam al-Quran kata Ism dalam berbagai kedudukan hampir selalu berkonotasi keagungan; dalam kebanyakan kasus, disandingkan dengan lafadh Allah atau Rabb. Nuansa keagungan lafdh Ism dapat dirasakan dalam ayat-ayat yang mengandung kombinasi dua kata Ism-Allah dan Ism-Rabb.

Kombinasi Ismi-Allah dapat ditemukan selain dalam Basmalah juga dalam ayat-ayat dalam QS (5:4, 6:118,119, 121, 38, dan 22:28,34,36,40). Semenara itu kombinsi Ism-Rabb dapat ditemukan dalam QS (55:78, 73:8, 76:25, 87:1,15):

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Lafadh Agung (لفظ الجلاله)

Dalam Basmalah lafadh Ism dikaitkan dengan lafadh Allah (الله), Lafdh al-Jalaalah (لفظ الجلالة), Nama yang Agung, yang meurut para ahli bahasa merupakan Ism ma’rifat yang paling ma’rifat. Bagi para ahli kalam Allah adalah nama dzat yang wajib ada (واجب الوجود); sumber dan akhir segala; Alpha-Omega.

*****

Sejauh ini sudah dibahas tiga kata pembentuk Basmalah yaitu huruf Ba (ب), lafadh Ism (اسم), Allah (الله) menggunakan lebih dari 1,000 kata. Yang pertama dan kedua masing berkedudukan sebagai huruf yang berfungsi ‘mengkasrahkan’ yang kedua, sementara yang kedua berkedudukan sebagai obyek yang dikasrahkan. Demikian, keduanya secara keseluruhan membangun jumlah huruf kasrah dan yang dikasrahkan. Yang ketiga merujuk pada “pemilik” kata sebelumnya sehingga berkedudukan sebagai yang ‘dijarkan demi keagungan-Nya’. Hasilnya, semua dari tiga kata itu memiliki harakat kasrah. 

Demikianlah kira-kira model santri ketika menganalisis kedudukan kata atau meng-‘irab teks Arab. Versi ‘irab-nya yang agak lengkap dan formal kira-kira sebagai berikut:

 :(بِسْمِ)

جار ومجرور متعلقان بفعل محذوف تقديره ابتدئ أو بخبر محذوف تقديره ابتدائي
   :(اللَّهِ
)

لفظ الجلالة مضاف إليه مجرور للتعظيم

Sebagai catatan, istilah جار و مجرور merujuk pada frasa proposional (preposional phrase) yang dalam konteks ini merupakan gabungan antara partikel awalan بـِ  dengan اسم. Sementara itu, istilah مُضَاف إلَيْه: “pemilik” kata yang ditambahkan atau dilampirakn (attached, annexed) yang dalam hal ini adalah اسم.

Wallahualam…. @

Referensi

Muhiddin al-Darusyi (tt), I’rab al-Quran Wal Bayanah: Juz al-Awwal, Juz al-Tsani, Juz ats-Talitsu(اعراب القران وبيانة : الجزء الاول– الجزء الثاني — الجزء الثالث), Suriah.

Grand Quran Academic Circle, https://www.haqeeqat.pk/index.htm


[1] Dalam gramatika Arab huruf dibedakan dalam dua kategori: (1) Huruf Mabni () atau Huruf Hijaiyyah (حروف الحجاءيه), huruf sebagian unsur pembentuk kata, dan tidak bermakna dalam dirinya sendiri, dan (2) Hurfu Ma’ani (حروف المعانى), huruf yang mengandung makna dan dapat terdiri dari 1-5 huruf hijaiyyah.

Lanjut ke series tulisan berikutnya tekan SINI

Basmalah: Analisis Teks dan Refleksi (1/3)

Ruang Lingkup Bahasan 

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari tiga tulisan yang berjudul sama. Untuk menghindari kerancuan, judul di atas perlu klarifikasi segera mengenai dua istilah yang digunakan yaitu Basmalah dan Analisis Teks. Istilah Basmalah merujuk pada lafadzh:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمَ

Istilah analisis teks (text analysis atau text mining) sebagaimana digunakan dalam ruang lingkup Sains Data (Data Science) diartikan sebagai proses otomatis untuk mengklasifikasikan dan menyarikan informasi dari teks yang tidak terstruktur. Istilah ini dalam konteks tulisan ini– tidak terkait dengan otomatisasi maupun teks tidak terstruktur– dimaksudkan sebagai proses identifikasi teks yang sudah terstruktur melalui pendekatan bahasa (lingusitik) dengan tujuan untuk mendalami makna teks secara keseluruhan.

Teks yang menjadi subyek analisis adalah Basmalah. Yang menjadi perhatian adalah bentuk masing-masing kata pembentuk teks Basmalah secara keseluruhan, kedudukan serta arti dari masing-masing kata itu. Dalam literatur tradisional keislaman analisis bentuk kata dikenal dengan ilmu Sharaf (الصرف), kedudukan kata dengan ilmu Nahwu (النحو), dan arti kata dengan Ma’ani (المعانى). Berdasarkan kajian kebahasaan inilah penulis mencoba berefleksi mengani makna teks secara keseluruhan. 

Demikianlah kira-kira ruang lingkup analisis ini.  Sebelum memasuki analisis berikut ini disajikan secara ringkas posisi Basmalah dalam al-Quran untuk sekadar memberikan konteks analisis.

Kedudukan dalam al-Quran

Teks Basmalah bersifat qurani dalam arti tercantum dalam al-Quran; tepatnya bagian dari ayat Surat ke-27 (النمل) Ayat ke-30, QS (27:30): 

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

Selain dalam ayat itu Basmalah juga tercantum dalam dan mengawali semua Surat kecuali Surat ke-9 (التوبة). Karena al-Quran terdiri dari 114 Surat maka Basmalah tercantum 114 kali di dalamnya. Terkait pertanyaan apakah Basmalah pada permulaan Surat merupakan bagian dari Surat itu kalangan ulama berbeda pendapat. Yang jelas, fakta tekstual dalam mushaf Al-Quran menunjukkan Basmalah tidak diberi nomor ayat kecuali dalam Surat ke-1 (الفاتحة). 

Karena Surat الفاتحة ini wajib dibaca dalam setiap rakaat Salat maka pelaku Salat (مصلى) membaca Surat itu paling tidak 17 kali, jumlah rakaat dalam Salat. Pada umumnya Basmalah termasuk dalam bacaan itu walaupun terkadang dilafalkan secara perlahan oleh Imam Salat; mungkin untuk menyikapi perbedaan pendapat yang dalam tradisi Islam sudah sangat biasa.

Pokok Kalimat

Terjemahan Basmalah umumnya dinarasikan dalam kalimat: “Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Kenapa ada imbuhan kata Maha? Adakah penalaran liguistiknya? “Ya”, arena kata رحمن maupun رحيم  merupakan kata benda yang dalam Ilmu Sharaf dikenal Sighah Mubalaghah (صيغة المبالغة) yang mengimplikasikan arti meninggikan, memperbanyak (الاكثر atau ارتفاع), kelimpahan atau– dalam konteks Basmalah– Maha. Dengan terjemahan ini maka kata الرحمن  dan الرحيم  secara eksklusif adalah sifat Allah SWT. 

Dalam terjemahan ini tidak tercantum kata kerja sehingga Basmalah merupakan kalimat nominal (Arab: جملة اسميه). Pertanyannya, dengan terjemahan semacam itu, apakah Basmalah merupakan kalimat sempurna (Arab: الكلام). Pertanyaan berikutnya, kata atau kalimat apakah yang menjadi pokok kalimat atau subyek dari lafazh Basmalah?

Timbulnya pertanyaan semacam ini merupakan bukti akan kebutuhan kita akan bantuan ahli tafsir dan ahli gramatika Arab untuk memahami teks Arab apalagi ayat al-Quran. Dinyatakan secara berbeda, memahami teks Arab apalagi ayat al-Quran dengan hanya mengandalkan terjemahan tidak memadai dan berpotensi gagal-paham bahkan menimbulkan risiko malpraktik (menggunakan analogi kedokteran). 

... memahami teks Arab hanya dengan mengandalkan terjemahan tidak memadai dan berpotensi gagal-paham bahkan menimbulkan risiko malpraktik... 

Kembali, apakah pokok kalimat dan sebutan dari lafazh Basmalah?

Menurut para ahli, Basmalah adalah susunan kata {Arab: al-Kalim (الكلم) atau Jumlah (جملة)} yang secara keseluruahan merupakan sebutan (Arab: خبر ) dari pokok kalimat yang dibuang (Arab: مخذوف)—atau—pokok kalimat (Arab: مبتداء) dari sebutan yang dibuang. Jadi ada dua alternatif.

Tidak ada ahli yang berani memastikan pokok kalimat atau sebutan yang dibuang itu karena meyakini hanya Yang Maha Tinggi yang mengetahuinya secara pasti. Para ahli hanya berani memperkirakan. Alternatif pertama, Basmalah diperkirakan didahuli oleh kata kata kerja ابتداء yang wajib menyimpan kata انا sehingga artinya kira-kira ‘aku memulai’. Alternatif kedua Basmalah diikuti oleh kata ابتداي yang artinya kira-kira ‘yang utama’. 

Apa implikasinya buat kita?

Ketika mengucapkan Basmalah sebenarnya kita bermaksud mengucapkan 

ابتداء بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Bermula (Jawi: utawi) Aku memulai kegiatan ini adalah (Jawi: iku) Basmalah.

Alternatinya,

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ابتداي

Bermula Basmalah itu adalah yang pokok (utama).

Sebagai catatan, kata ابتداء adalah kata kerja masa kini dan masa akan datang (فعل المضارع ) yang wajib menyimpan secara tersembunyi kata انا  (Saya atau Aku).

Terjamahan di atas (gaya santri) terkesan bertele-tele tetapi sebenarnya mengungkapkan secara jelas posisi suatu kata atau susunan kata dalam kalimat. 

Sebagai catatan lain, cara baca alternatif pertama sesuai dengan suatu Hadits (HR Hibban):

كل امر ذي بال لا يبدأ ب “بسم الله ” فهو ابتر اي ناقص البركة

Setiap hal penting yang tidak dimulai dengan “Dengan Nama Tuhan” diamputasi, yang berarti kurang berkah. (Terjemahan Paman Google.)

Wallahau alam…. @

Referensi

Muhiddin al-Darusyi (tt), I’rab al-Quran Wal Bayanah: Juz al-Awwal, Juz al-Tsani, Juz ats-Talitsu(اعراب القران وبيانة : الجزء الاول– الجزء الثاني — الجزء الثالث), Suriah

Lanjut ke series tulisan berikutnya tekan SINI