Basmalah: Analisis Teks dan Refleksi (1/3)

Ruang Lingkup Bahasan 

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari tiga tulisan yang berjudul sama. Untuk menghindari kerancuan, judul di atas perlu klarifikasi segera mengenai dua istilah yang digunakan yaitu Basmalah dan Analisis Teks. Istilah Basmalah merujuk pada lafadzh:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمَ

Istilah analisis teks (text analysis atau text mining) sebagaimana digunakan dalam ruang lingkup Sains Data (Data Science) diartikan sebagai proses otomatis untuk mengklasifikasikan dan menyarikan informasi dari teks yang tidak terstruktur. Istilah ini dalam konteks tulisan ini– tidak terkait dengan otomatisasi maupun teks tidak terstruktur– dimaksudkan sebagai proses identifikasi teks yang sudah terstruktur melalui pendekatan bahasa (lingusitik) dengan tujuan untuk mendalami makna teks secara keseluruhan.

Teks yang menjadi subyek analisis adalah Basmalah. Yang menjadi perhatian adalah bentuk masing-masing kata pembentuk teks Basmalah secara keseluruhan, kedudukan serta arti dari masing-masing kata itu. Dalam literatur tradisional keislaman analisis bentuk kata dikenal dengan ilmu Sharaf (الصرف), kedudukan kata dengan ilmu Nahwu (النحو), dan arti kata dengan Ma’ani (المعانى). Berdasarkan kajian kebahasaan inilah penulis mencoba berefleksi mengani makna teks secara keseluruhan. 

Demikianlah kira-kira ruang lingkup analisis ini.  Sebelum memasuki analisis berikut ini disajikan secara ringkas posisi Basmalah dalam al-Quran untuk sekadar memberikan konteks analisis.

Kedudukan dalam al-Quran

Teks Basmalah bersifat qurani dalam arti tercantum dalam al-Quran; tepatnya bagian dari ayat Surat ke-27 (النمل) Ayat ke-30, QS (27:30): 

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

Selain dalam ayat itu Basmalah juga tercantum dalam dan mengawali semua Surat kecuali Surat ke-9 (التوبة). Karena al-Quran terdiri dari 114 Surat maka Basmalah tercantum 114 kali di dalamnya. Terkait pertanyaan apakah Basmalah pada permulaan Surat merupakan bagian dari Surat itu kalangan ulama berbeda pendapat. Yang jelas, fakta tekstual dalam mushaf Al-Quran menunjukkan Basmalah tidak diberi nomor ayat kecuali dalam Surat ke-1 (الفاتحة). 

Karena Surat الفاتحة ini wajib dibaca dalam setiap rakaat Salat maka pelaku Salat (مصلى) membaca Surat itu paling tidak 17 kali, jumlah rakaat dalam Salat. Pada umumnya Basmalah termasuk dalam bacaan itu walaupun terkadang dilafalkan secara perlahan oleh Imam Salat; mungkin untuk menyikapi perbedaan pendapat yang dalam tradisi Islam sudah sangat biasa.

Pokok Kalimat

Terjemahan Basmalah umumnya dinarasikan dalam kalimat: “Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Kenapa ada imbuhan kata Maha? Adakah penalaran liguistiknya? “Ya”, arena kata رحمن maupun رحيم  merupakan kata benda yang dalam Ilmu Sharaf dikenal Sighah Mubalaghah (صيغة المبالغة) yang mengimplikasikan arti meninggikan, memperbanyak (الاكثر atau ارتفاع), kelimpahan atau– dalam konteks Basmalah– Maha. Dengan terjemahan ini maka kata الرحمن  dan الرحيم  secara eksklusif adalah sifat Allah SWT. 

Dalam terjemahan ini tidak tercantum kata kerja sehingga Basmalah merupakan kalimat nominal (Arab: جملة اسميه). Pertanyannya, dengan terjemahan semacam itu, apakah Basmalah merupakan kalimat sempurna (Arab: الكلام). Pertanyaan berikutnya, kata atau kalimat apakah yang menjadi pokok kalimat atau subyek dari lafazh Basmalah?

Timbulnya pertanyaan semacam ini merupakan bukti akan kebutuhan kita akan bantuan ahli tafsir dan ahli gramatika Arab untuk memahami teks Arab apalagi ayat al-Quran. Dinyatakan secara berbeda, memahami teks Arab apalagi ayat al-Quran dengan hanya mengandalkan terjemahan tidak memadai dan berpotensi gagal-paham bahkan menimbulkan risiko malpraktik (menggunakan analogi kedokteran). 

... memahami teks Arab hanya dengan mengandalkan terjemahan tidak memadai dan berpotensi gagal-paham bahkan menimbulkan risiko malpraktik... 

Kembali, apakah pokok kalimat dan sebutan dari lafazh Basmalah?

Menurut para ahli, Basmalah adalah susunan kata {Arab: al-Kalim (الكلم) atau Jumlah (جملة)} yang secara keseluruahan merupakan sebutan (Arab: خبر ) dari pokok kalimat yang dibuang (Arab: مخذوف)—atau—pokok kalimat (Arab: مبتداء) dari sebutan yang dibuang. Jadi ada dua alternatif.

Tidak ada ahli yang berani memastikan pokok kalimat atau sebutan yang dibuang itu karena meyakini hanya Yang Maha Tinggi yang mengetahuinya secara pasti. Para ahli hanya berani memperkirakan. Alternatif pertama, Basmalah diperkirakan didahuli oleh kata kata kerja ابتداء yang wajib menyimpan kata انا sehingga artinya kira-kira ‘aku memulai’. Alternatif kedua Basmalah diikuti oleh kata ابتداي yang artinya kira-kira ‘yang utama’. 

Apa implikasinya buat kita?

Ketika mengucapkan Basmalah sebenarnya kita bermaksud mengucapkan 

ابتداء بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Bermula (Jawi: utawi) Aku memulai kegiatan ini adalah (Jawi: iku) Basmalah.

Alternatinya,

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ابتداي

Bermula Basmalah itu adalah yang pokok (utama).

Sebagai catatan, kata ابتداء adalah kata kerja masa kini dan masa akan datang (فعل المضارع ) yang wajib menyimpan secara tersembunyi kata انا  (Saya atau Aku).

Terjamahan di atas (gaya santri) terkesan bertele-tele tetapi sebenarnya mengungkapkan secara jelas posisi suatu kata atau susunan kata dalam kalimat. 

Sebagai catatan lain, cara baca alternatif pertama sesuai dengan suatu Hadits (HR Hibban):

كل امر ذي بال لا يبدأ ب “بسم الله ” فهو ابتر اي ناقص البركة

Setiap hal penting yang tidak dimulai dengan “Dengan Nama Tuhan” diamputasi, yang berarti kurang berkah. (Terjemahan Paman Google.)

Wallahau alam…. @

Referensi

Muhiddin al-Darusyi (tt), I’rab al-Quran Wal Bayanah: Juz al-Awwal, Juz al-Tsani, Juz ats-Talitsu(اعراب القران وبيانة : الجزء الاول– الجزء الثاني — الجزء الثالث), Suriah

Lanjut ke series tulisan berikutnya tekan SINI