Basmalah: Analisis Teks dan Refleksi (3/3)


Ini adalah tulisan terakhir dari tiga tulisan dengan judul yang sama. Sejauh ini sudah dianalisis tiga dari lima kata (Arab: الكلمة) pertama dari lafadh Basmalah sehingga fokusnya kali ini adalah dua kata terakhir dari lafadh Basmalah yaitu الرحمن dan الرحيم.

Secara gramatika kedudukan dua kata ini jelas: masing-masing sebagai sifat (na’at) pertama dan kedua dari lafadh al-Jalalah (الله). Kedudukan ini menyebabkan dua kata ini berharakat kasrah (tepatnya majrur, مجرور), sama seperti harakat lafadh itu. Sebagai catatan, pemberian dua sifat ini merupakan ketetapan-Nya sebagaimana terungkap dalam QS (6:12),

قُل لِّمَن مَّا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ ۚ

Katakanlah(Muhammad) : “Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang atas Diri-Nya …

Secara kehabahasaan dua kata kata itu termasuk kata benda turunan (اسم مستق) sehingga untuk memahami artinya secara tepat perlu ditelusuri arti dari akar kata kedua kata itu yaitu R-H-M (رحم). R-H-M adalah kata dasar: tanpa harakat tertentu (sehingga bisa dibaca berbagai cara), bisa berarti kata benda (ism), bisa juga kata kerja (fi’il), tergantung konteks atau maksud kalimat (Arab: مراد). 

R-H-M (رحم)

Untuk menelisik makna kata R-H-M di sini digunakan Kitab معجم مقاييس اللغة (Kamus Standar Bahasa, eBook) karya Ibn Faris (wafat 1002) sebagai rujukan. Alasannya, kitab ini fokus pada akar kata (Arab: اصل من الاصول) dari kosa kata Arab. Menurut Ibn Faris, 

: (رحم)

الراء و الحاء و الميم اصله واحد يدل على الراءفة — يقال من ذالك رحمه يرحمه — اذا رق له و يعطف عليه والرحم و المرحمةوالرحمة بمعنى

Maksudnya kira-kira, R-H-M asalnya adalah satu kata yang menunjukkan rasa kasih sayang. Jika dikatakan A menyangi B maka maka maksudnya A baik kepada B serta bersimpati kepadanya. Dari kata ini diturunkan kata ruhmmarhamahrahmah. Ibn Faris selanjutnya mengatakan: 

والرحيم:  علاقة القرابة – ثم سميت رحما لانثى رحما من هذا لان منها ما يكون يرحم ويرق له من ولد

Maksudnya kira-kira, al-Rahim menunjukkan hubungan kekerabatan dan atas dasar ini kata rahim digunakan sebagai nama organ tumbuh seorang ibu untuk menyimpan janin bayi . Nalarnya kira-kira, berawal dari rahimlah kasih sayang yang lembut dari seorang ibu kepada anaknya. 

Al-Rahman (الرحمن)

Secara kebahasaan kata al-Rahman adalah ism mubalagah, kata benda (noun) yang mengandung arti superlatif: sangat banyak, melimpah, … , Maha. Itulah sebabnya kata ini diterjemahkan sebagai Yang Maha Pengasih. Menurut Muhiddin al-Darusyi (tt:9): 

الرحمن– صيغة فعلان في اللغة تدل على وصف فعلي فيه معنى المبالغة با االصفات الطارئة كعطثان وغرثان

Rumusannya kira-kira berarti kata Ar-Rahman memiliki acuan atau timbangan kata (Arab: وزن) fa’laan (فعلان) yang menunjukkan deskripsi aktual, sangat, dan “darurat” seperti  terbersit dalam ungkapan “sangat rindu”(Inggris: longing, eager for) atau “sangat haus”. 

Orang yang dilanda  kerinduan atau kehausan mengehendaki segera melepaskan kerinduan dan kehausannya. Dengan analogi ini al-Rahman patut diduga mengandung unsur dorongan yang kuat untuk segera melepaskan ‘rahmat’ kepada makhluk-Nya. Wallahu’alam.

Unsur ‘darurat’ (الطارئة) agaknya menyiratkan situasi khusus dan karenanya menuntut ‘pengabaian’ aturan kepatutan (dalam perspektif manusia) sampai tarap tertentu. Jika pemaknaan ini logis maka hal itu mejelaskan banyaknya kasus ‘orang baik yang mati muda dan hidup sengsara’, misalnya; atau, ‘orang jahat yang berumur panjang dan hidup makmur’. Nalarnya kira-kira sebagai berikut:

      • Dalam Weltanschauung atau perspektif al-Quran, kesengsaraan atau kemakmuran merupakan cobaan. 
      • Bagi manusia secara keseluruhan berlaku ‘hukum’: keseluruhan drama kehidupan dan kematian untuk menguji siapa ‘di antara kamu yang lebih baik amalannya’ (QS 67:2). 
      • Bagi orang yang beriman berlaku ‘hukum’: ujian adalah keniscayaan:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? [QS(29: 2)]

… keseluruhan drama kehidupan dan kematian untuk menguji siapa ‘di antara kamu yang lebih baik amalannya’… bagi orang yang beriman ujian adalah keniscayaan.

Berdasarkan gambaran di atas dapat dikatakan al-Rahman agaknya merujuk pada kasih-Nya yang tak-terbatas dan unconditional di dunia fana ini. Wallhu’alam.

Al-Rahim (الرحيم)

Seperti halnya al-Rahman, al-Rahim juga merupakan ism mubalagah (yang berarti Maha) dan berakar kata R-H-M’ tetapi berbeda acuan atau wazannya. Bagi al-Rahim wazannya adalah fa’iil (فعيل). Menurut Muhiddin al-Darusyi (tt:9):

الرحيم– صيغة فعيل في اللغة تدل على وصف فعلي فيه معنى المبالغة للصفا ت الداءمة الثابتة ولهذا لايستغنى باحد الوصفين عنالاخر

Rumusan ini sama dengan rumusan al-Rahman. Yang membedakan, acuan al-Rahim adalah fa’iil (فعيل). Yang juga membedakan adalah bahwa sifatnya al-Rahim bersifat permanen (الداءمة) dan tetap (الثابتة). Sifat ini yang agaknya mendasari argumen bahwa al-Rahim terkait dengan sayang-Nya di akhirat kelak yang merupakan hak ekslusif orang-orang beriman, sementara al-Rahman dengan kasih- -Nya di dunia ini untuk seluruh makhluk. Wallahu’alam.

Catatan Akhir

Series tiga tulisan ini adalah rekaman ikhtiar penulis untuk memahami Basmalah, satu ayat pendek al-Quran yang hanya terdiri dari lima kata menggunakan lebih dari 2,500 kata. Bagi penulis fakta ini (5~2500) memantulkan kedalaman dan keluasan makna ayat al-Quran serta kompleksitas gramatika bahasa Kitab ini, Kitab yang diharapkan berfungsi sebagai kompas, huda (هدى). 

Terkait huda al-Quran QS(2:2) menggunakan kata isyarat untuk sesuatu yang jauh letaknya, dzalika(ذالك). Ayat ini agaknya mengisyaratkan bahwa untuk dapat memfungsikan al-Quran sebagai huda diperlukan upaya serius (Arab: جهاد ) yang bagi penulis lumayan melelahkan. Sekalipun melelahkan penulis tetap berupaya ke arah itu dengan harapan tetap berada dalam jalur-jalur (Arab: سبل) al-Rahman:

وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [QS (29: 69)]

Tulisan ini bukan buah pikiran murni dari penulisnya. Tulisan ini sekadar merefleksikan hasil bacaan dari sejumlah karya penulis lain yang tidak semuanya dapat dikutip di sini demi untuk penyederhanaan. Mereka lah yang berhak memperoleh pujian.

Wallahualam ….@

Referensi

Ibn Faris (wafat 1002)

معجم مقاييس اللغة (Kamus Standar Bahasa, eBook), eBook

Muhiddin al-Darusyi (tt), 

I’rab al-Quran Wal Bayanah: Juz al-Awwal, Juz al-Tsani, Juz ats-Talitsu (اعراب القران وبيانة : الجزءالاول– الجزء الثاني — الجزء الثالث), Suriah.

Grand Quran Academic Circle, https://www.haqeeqat.pk/index.htm

Al-MAANY, https://www.almaany.com/ar/dict/ar-en/

Kembali ke series tulisan pertama tekan SINI

Published by

Uzair Suhaimi

Statistics and religion. This is perhaps an unusual combination for many. The first is dealing with the empirical world, the second with that beyond that world. However, that is my reflection regarding myself. As a statistician, I spent 30 years (1981-2011) serving BPS-Statistics Indonesia. After that my professional services were dedicated to TNP2K office (an office under the vice president office) for a few months and to ILO-ROAP as a senior statistician for half a year. Since 2012 most of my time is dedicated as an independent consultant on statistics-related work, mostly for ILO and on some occasions for some government offices Indonesia. My recent work (2019) was on estimating child labour in Indonesia for ILO Country Office Jakarta. As for personal interest, since young, I've been fascinated with the basic principles of religious thought, especially on its esoteric dimensions, essentiality, and universality. Sufism and perennial philosophy are of my special interest. On this subject, I have posted a number of short articles in my personal blog: https://uzairsuhaimi.blog.

One thought on “Basmalah: Analisis Teks dan Refleksi (3/3)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.