Rahman: Pendalaman Makna

Kata Rahman dalam Basmalah[1] umumnya diterjemahkan atau dialihbahasakan menjadi ‘Yang Maha Pengasih”. Tantangannya, terjemahan atau alih-bahasa, selalu bersifat pendekatan. Implikasinya, mengandalkan arti kamus (leksikal) untuk memahami suatu Bahasa asing umumnya tidak memadai bahkan dapat mengecoh. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang turis Australia yang berbahasa ibu Inggris dan mengandalkan kamus Indonesia-Inggris mendengar kalimat ini: “Awas, nanti tak pukul!” Sekalipun dia tahu arti kata per kata kalimat itu orang itu berpotensi keliru paham. Sebagai ilustrasi lain, ketika membaca ayat terakhir al-Fatihah dan menagrtikan hanya dengan mengandalkan pendekatan leksikal maka kita berpotensi menarik kesimpulan kata yang tersesat (الضالين) adalah sesuatu yang positif; nalarnya, kata itu didahului dua kata yang bersifat negatif yaitu ghair (غير) dan la(لا).

Mencakup Semua

Dari sisi morfologi kata Rahman memiliki timbangan atau wazan فعلان (fa’laan), tanpa tanwin (غيرمنصرف). Dengan timbangan yang sama kita dapat mengidentikasi kata-kata, misalnya, غضبان (ghagbaan), فرحان (farhaan), سكران (sakraan), عطشان (athshaan) dan كسلان (kaslaan). Masing-masing kata ini mengandung arti marah, bahagia, mabuk, haus dan malas.

Catatan pertama mengenai timbangan ini adalah bahwa kandungan maknanya memiliki arti sangat atau superlatif. Demikianlah sehingga kata-kata   غضبان dan  فرحان, misalnya, berarti yang sangat pemarah dan yang sangat berbahagia[2]. Analog, kata-kata سكران, عطشان  dan كسلان masing-masing berarti yang sangat pemabuk, yang sangat kehausan, yang sangat pemalas. Dengan nalar ini al-Rahman diterjemahkan yang Maha Pengasih. 

Imbuhan Maha mengandung arti bahwa kasih-Nya mencakup semua makhluk dan tanpa kenal pilih kasih. Dengan demikian tidak mengherankan jika kita bertemu dengan orang berperilaku sangat buruk tetapi sangat beruntung dari sisi kekayaan. Dengan gambaran ini para ulama sepakat bahwa al-Rahman adalah sifat-Nya yang eksklusif; artinya, selain-Nya tidak ada yang layak memiliki sifat itu. 

Makna Sementara

Normalnya tidak ada orang yang selalu dalam keadaan marah, bahagia mabuk atau malas. Dengan kata lain, keadaan-keadaan semacam itu normalnya bersifat sementara. Ini adalah catatan kedua dari timbangan فعلان. Dengan nalar ini para ulama memahami al-Rahman berlaku bagi semua makhluk-Nya tanpa kecuali, tetapi waktunya terbatas di dunia ini. 

Makna keterbatasan waktu ini diisyaratkan[3] oleh cara penulisan tanpa mencantumkan huruf Alif (= الرحمن). Ini berbeda dengan cara penulisan ‘normal’ timbangan ini yaitu الرحمان.

Sebagai perbandingan, berbeda dengan Rahman, kata Rahim[4] yang berwazan فعيل (faiil) mengandung arti permanen, tetap, atau abadi (dalam konteks Basmalah). Itulah sebabnya para ulama umumnya memahami Rahim merujuk pada sifat sayang-Nya yang abadi di akhirat. Ini jelas anugerah hanya bagi orang yang terpilih. Menurut Bahasa seorang teman: “Sayang pasti kasih tetapi kasih belum tentu sayang”. 

Bagi yang percaya kepada hari pembalasan, nikmat di dunia, seberapa pun besarnya, dinilai relatif kecil (Jawa/Sunda: alit) dibandingkan dengan nikmat di akhirat. Di lingkungan Muslim, pemahaman ini sudah dikenalkan sejak dini kepada anak-anak sehingga, ketika diberi pelajaran Basmalah, mereka harus menghafalkan seperti ini: 

Al-Rahman, nu maparin nikmat alit di dunia; al-Rahim, nu maparin nikmat ageung di akhirat.

Al-Rahman sebagai Kata Ganti 

Para ulama umumnya sepakat bahwa Rahman adalah sifat Allah SWT. Penyifatan ini tak-terbantahkan karena bukan merupakan produk dari kajian para ulama atau manusiawi, melainkan didasarkan dari firman-Nya: كتب على نفسه الرحمه  (QS 6:12). 

Sebagia ulama cenderung menempatkan Rahman dalam kedudukan sebagai kata ganti (Arab: بدل ) dari lafadh Allah SWT. Dalam kedudukan ini maka lafadh Rahman dapat menggantikan lafadh Allah SWT. Pandangan ini juga bukan tanpa dasar. Sebagai alasan, kata ini digunakan oleh Maryam AS ketika didatangi ‘laki-laki’:

قَالَتْ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحْمَـٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّۭا

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada al-Rahman, jika kamu seorang yang bertakwa”. QS(19: 18).

Kata ini juga digunakan oleh Ibrahim AS kepada bapaknya (QS 19:44-35):

يَـٰٓأَبَتِ لَا تَعْبُدِ ٱلشَّيْطَـٰنَ ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَـٰنَ كَانَ لِلرَّحْمَـٰنِ عَصِيًّۭا

يَـٰٓأَبَتِ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌۭ مِّنَ ٱلرَّحْمَـٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَـٰنِ وَلِيًّۭا

Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari al-Rahman, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada al-Rahman.

Bagi penulis, QS(17:110) terkesan lebih langsung dalam memposisikan al-Rahman sebagai kata ganti Allah SW:

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّۭا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).

Juga bagi penulis, kutipan-kutipan ayat di atas mengesankan makna al-Rahman yang sangat luas dan dalam dalam arti melampaui maka leksikal maupun qiyas lughahnya.

Wallahualam…. @ 

Catatan: Tulisan serupa dengan tulisan ini dapat diakses di https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2021/12/29/basmalah-analisis-bahasa/


[1] بسم الله الرحمن الرحيم

[2] Kata Arab untuk orang yang marah dan orang yang berbahagia menggunakan timbangan فاعل (fa’ilun): غاضب dan فارح.

[3] Makna isyarat tidak baku. Isyarat keerdipkan mata, misalnya, bisa ditafsirkan macam-macam, tergantung GR atau tidak.

[4] Kata Rahim, seperti kata Rahman, termasuk ism mubalagah yang mengandung arti superlatif.