Baju dan Perhiasan Takwa

Salah satu istilah keagamaan yang mungkin paling popular bagi Umat (Islam) adalah takwa. Ketika mendengarkan khotbah Jumat mereka hampir selalu diingatkan apa yang dimaksud dengan istilah ini: “mematuhi semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya”. Demikian ‘definisi’ takwa dalam perspektif hukum (Islam): padat, mudah dipahami dan bersifat menentukan (preskriptif). Umat juga umumnya memahami takwa sebagai kriteria kemuliaan seseorang: semakin bertakwa, semakin mulia (QS 49:13). 

Tulisan ini menelusuri dua istilah terkait takwa: baju takwa dan perhiasan takwa. Istilah yang pertama sudah populer (paling tidak dalam konteks budaya Jawa), yang kedua tidak atau belum dikenal dan dicoba dipopulerkan melalui tulisan ini.

Baju Takwa

Istilah baju takwa adalah istilah qurani dalam arti tercantum dalam alquran (QS 7:26). Teks suci ini menggunakan istilah libasuttaqwa (لباس التقوى) yang umumnya diterjemahkan sebagai pakaian atau baju takwa. Menurut salah satu sumber yang dapat dipercaya, istilah Baju Takwa berbeda dengan Baju Koko atau Baju Surjan. Baju Koko dikembangkan dari baju Tuikim yang berasal dari budaya Cina, sementara Baju Takwa dari baju Surjan yang dianggap produk budaya asli Jawa. Berbeda dengan baju Surjan yang umumnya berlengan pendek, baju Takwa berlengan Panjang. Selain itu, berbeda dengan dua yang lainnya berfungsi lebih sebagai pakaian lahir, Baju Takwa berkonotasi pakaian batin. 

Baju Takwa memiliki kekhasan yang masing-masing unsurnya melambangkan nilai-nilai keagamaan (Islam) tertentu. Sebagai ilustrasi, menurut Ustadz Salim A Fillah dalam salah satu ceramahnya mengenai Babad Tanah Jawi, bilangan kancing pada bagian kerah (berjumlah enam) dan pada masing-masing lengan baju (berjumlah lima), masing-masing melambangkan Rukun Iman (6 rukun) dan Rukun Islam (6 rukun). Menurut beliau, blangkon yang merupakan kelengkapan Baju Takwa, aslinya dibentuk dari 17 lipatan yang diikat di belakang sebagai kalimat tauhid. Jumlah lipatan menurut beliau melambangkan bilangan rakaat sehari-semalam yaitu 17 rakaat.

Jika pendapat beliau benar maka simbolisme Baju Takwa agaknya bukan disandarkan sepenuhnya pada definisi umum takwa (‘mematuhi semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya’), melainkan pada QS (2:3-5) yang mendefisikan takwa secara lebih operasional. Dalam ayat ini takwa didefinisikan sebagai integral dari Iman dan Islam. Wallahualam!

Hiasan Takwa

Jika takwa dianalogikan dengan pakai atau baju, pertanyaannya apakah ada aksesori atau hiasan yang membuat baju itu cemerlang atau bersinar. Dengan kata lain, pertanyaannya adalah adakah yang dikenal dengan hiasan takwa (Arab: زخرفة التقوى). Sejauh ini penulis belum pernah menemukan istilah itu.

Dalam konteks ini menarik untuk disimak ungkapan Uztadz Fillah bahwa kata surjan (dalam istilah Baju Surjan) merujuk pada istilah qurani Siraajan Munira (سراجا منيرا) yang kira-kira berarti ‘cahaya yang bersinar’.  Wallahualam!

‘Teori’ penulis, jika ada istilah hiasan takwa maka istilah itu layaknya hanya bisa disandang oleh mereka yang memiliki kemampuan pribadi yang luar biasa. Kemampuan luar biasa mencakup itu antara lain:

  • Kemampuan menafkahkan harta bahkan dalam keadaan sempit,
  • Kemampuan mengendalikan amarah bahkan di tengah provokasi pihak luar, dan 
  • Kemampuan memaafkan orang bahkan ketika orang itu melakukan kezaliman berlebihan kepada dirinya.

Bagi penulis kemapuan itu luar biasa karena kita memiliki bakat pelit (lihat QS 17:100) dan ditakdirkan memiliki unsur nafsu yang menurut Yusuf AS ‘terus menerus memerintahkan pada keburukan’, lammaratu bisuui (QS 12:53).

Yang layak dicatat dalam konteks ini adalah kemampuan luar biasa itu dituntut bagi atau seyogianya menjadi karakter orang-orang yang bertakwa sebagaimana tersirat dalam QS(3:134):

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(orang-orang bertakwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang ihsan.

Potongan terakhir ayat mengaitkan tawa dan Ihsan[1], istilah agama yang relatif kurang popular (dibandingkan Iman dan Islam). Penulis memahami fakta ini sebagai isyarat bahwa Ihsan merupakan hiasan takwa dalam arti memungkinkan takwa menjadi lebih cemerlang (التقوى الرائعة) atau bersinar (براق التقوى). Wallahualam.

******

Agaknya bermanfaat bagi kita semua untuk mengevaluasi diri sendiri secara jujur dan mengajukan pertanyaan retrospeksi mengenai kehadiran masing-masing kemampuan luar biasa itu dalam diri kita. Prosesnya secara sederhana tercermin dalam Diagram Alir di bawah ini yang didasarkan pada QS(3:134). Untuk penyederhanaan, untuk masing-masing kemampuan luar biasa itu digunakan istilah pemurah, penyabar dan pemaaf.


[1] Secara kebahasaan, kata Ihsan berarti indah, cantik, proporsional, dan ideal lainnya yang serupa. Tetapi konteksnya dalam tataran batin. Kata jamal memiliki makna yang sama dtetapi diberlakukan dalam tataran lahir. Hemat penulis Ihsan adalah bagian dari trilogi risalah Muhammad SAW yang cenderung diabaikan oleh Umat.  Lihat ini: https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2009/10/31/ihsan/