Visi, Misi dan Aktivitas Hidup

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Artikel ini menyajikan rumusan visi-misi-aktivitas hidup dalam perspektif penulisanya: (1) visi: tiba dengan selamat di tempat-kepulangan dengan penuh suka-cita dan disambut baik, (2) misi: mengetahui arah-pulang yang benar, senantiasa berada dalam jalur yang benar arahnya, serta ‘memuluskan’ perjalanan-pulang, dan (3) aktivitas: menyiapkan bekal perjalanan-pulang yang relevan serta dalam jumlah yang memadai.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik:  VisiMisi

View original post

Yesus dalam Al-Quran

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Nama Yesus banyak disebutkan dalam Al-Quran, tentu tidak secara harfiah tetapi dalam padanan Arabnya yaitu Isa. Kitab Suci ini mencantumkan nama Isa AS secara eksplisit sebanyak 27 kali dalam 26 ayat. Ini fakta qurani yang menarik karena penyebutan Muhammad SAW secara eksplisit jauh lebih jarang: 4 kali dalam 4 ayat. Yang mungkin lebih menarik, penyebutan nama Maryam RA jauh lebih sering lagi: 34 kali dalam 31 ayat[1]. Tulisan ini membahas secara singkat ayat-ayat yang terkait dengan Isa AS dan Maryam RA. Sebelum memasuki topik utama ini, untuk memberikan konteks yang lebih luas, berikut ini disajikan perspektif Al-Quran mengenai rasul secara keseluruhan[2].

Konteks

Al-Quran “tidak membeda-bedakan” para rasul-Nya dan mengakui “kelebihan” masing-masing. Ayat-ayat mengenai hal ini sangat eksplisit. Mengenai yang pertama QS(2:136) menarasikan sebagai berikut:

Katakanlah “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub…

View original post 712 more words

Covid-19 dan Ketengakerjaan: Kasus Indonesia

Ekonomi Indonesia triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49 persen (y-on-y)….. Ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,03 persen (c-to-c).

Kutipan di atas berasal dari Berita Resmi BPS (Bahan Tayangan) yang pada intinya mengkonfirmasi sesuatu yang dapat diduga secara mudah: dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap ekonomi di Indonesia. Dampak negatif itu bagi Indonesia sebenarnya tidak separah dari yang dialami oleh Uni Eropa, Amerika Serikat atau Singapura, tetapi lebih parah dibandingkan dengan yang dialami Korea Selatan, misalnya. Sebagai catatan, China dan Vietnam merupakan kasus dua negara yang terdampak Covid-19 tetapi tidak sampai menyebabkan kontraksi ekonomi; artinya, pertumbuhannya masih positif selama periode Kuartal 2-3 tahun 2020.

Mengingat eratnya hubungan antara ekonomi dan ketenagakerjaan maka  pertanyaannya adalah bagaimana dampak ikutannya terhadap pasar kerja. Tulisan berdurasi-baca empat menit ini bermaksud menjawab secara singkat pertanyaan ini untuk kasus Indonesia. Dasarnya, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang secara berkala diselenggarakan BPS dalam dua siklus setiap tahunnya pada setiap Februari dan Agustus.

Titik Puncak-Nadir

Tabel 1 menyajikan tren ketenagakaerjaan Indonesia dalam dua-setengah tahun terakhir. Tabel itu  mengindikasikan situasi ketenagakerjaan Indonesia pada Februari 2020 berada pada titik puncak dalam arti:

  • Angkatan Kerja (labour force) tengah tinggi-tingginya (140.2 juta),
  • Penduduk yang Bekerja (employment) tengah tinggi-tingginya (133.8 juta), dan
  • Angka Penganggur (unemployment rate) tengah rendah-rendahnya (kurang dari 5%).
Tabel 1: Tren Kenetagakerjaan Indonesia 
Februari 2018-Agustus 2020
  2018 2019 2020
  Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus
Panel A (dalam Ribuan)
Penduduk 15+   196.938,7   198.126,6   199.785,2   201.185,0   202.597,1   203.972,5
Angkatan Kerja   136.443,0   133.355,6   138.591,4   135.859,7   140.218,4   138.221,9
Bekerja   129.479,5   126.282,2   131.692,6   128.755,3   133.755,3   128.454,2
Penganggur         6.963,5         7.073,4         6.898,8         7.104,4         6.925,5         9.767,8
Bukan Angkatan Kerja      60.495,7      64.771,0      61.193,8      65.325,3      62.378,7      65.750,5
Sekolah      15.581,4      16.524,4      16.091,4      15.943,3      16.672,8      12.900,2
Mengurus Rumah Tangga      36.665,1      40.382,2      37.483,5      40.949,7      38.506,5      42.085,6
Lainnya         8.249,2         7.864,4         7.618,9         8.432,3         7.199,4      10.764,7
Panel B (Indikator Ketenagakerjaan)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%)                69,3                67,3                69,4                67,5                69,2                67,8
Angka Penganggur (%) 5,1 5,3 5,0 5,2 4,9 7,1
             
Sumber: Diolah dari BPS, Keadaan Agkatan Kerja Indonesia Agustus 2020

Kotras dengan situasi Maret 2020, situasi Agustus 2020 mengindikasikan situasi pada titik nadir.

  • Angkatan Kerja (labour force) tengah rendah-fendahnya (138. 2 juta),
  • Penduduk yang Bekerja (employment) tengah rendah-rendahnya (128.8 juta), dan
  • Angka Penganggur (unemployment rate) tengah tinggi-tingginya (lebih dari 7%).

Perubahan angka dari posisi puncak ke posisi nadir jelas akan terkesan dramatis:

  • Jumlah Angkatan Kerja turun hampir tiga juta,
  • Jumlah penduduk Bekerja turun lebih dari lima juta, dan
  • Jumlah Penganggur naik hampir tiga juta.
Pertanyaannya, apakah tiga poin terakhir di atas menggambarkan secara cermat dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan di Indonesi? Jawabannya tidak sederhana karena alasan yang akan segera jelas.

Masalah Perbandingan

Jika diasumsikan dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan tercermin dari penurunan angkatan kerja[1] dan penduduk yang bekerja serta kenaikan angka penganggur maka ‘perubahan dramatis’ sebagaimana disinggung di atas mengindikasikan: (a) dampak itu di Indonesia sampai Februari 2020 (posisi puncak) belum terjadi, dan (b) dampak itu paling parah pada Agustus 2020. Pertanyaannya, apakah data Sakernas Februari dan Agustus secara statistik dapat diperbandingkan secara langsung dan aman. Ini masalah perbandingan yang perlu menjadi catatan bagi pemakai data Sakernas. 

Jika dicermati perbandingan angka-angka Febuai dan Agustus untuk tahun 2018 dan 2019 maka akan terlihat jelas bahwa angka-angka Agustus:

  • Selalu lebih rendah untuk angkatan kerja,
  • Selalu lebih rendah untuk penduduk yang bekerja, dan
  • Selalu lebih tinggi untuk penganggur.

Tiga fakta ini dapat menunjukkan adanya variasi musim dalam ketenagakerjaan di Indonesia dan dapat menggambarkan situasi lapangan yang sebenarnya. Aturan jempolnya sederhana: perbedaan waktu survei dapat menyebabkan perbedaan hasil. Dengan aturan ini dapat ditarik analogi: “perubahan drmatis” dari posisi puncak (Februari 2020) ke posisi nadir (Agustus 2020) dapat terjadi, paling tidak sebagian, karena perubahan waktu survei. Implikasinya, melihat dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan Indonesia berdasarkan data Sakernas Febuari 2020 dan Februari 2020 dapat rancu atau bahkan menyesatkan karena masalah perbandingan ini. Untuk menambah komplikasi, besar sampel Sakernas jauh lebih besar untuk siklus Agustus dari pada intui siklus Febuari sehingga angka Agustus ada kemungkinan relatif lebih kokoh (robust).

Menakar Dampak

Berdasarkan discus sebelumnya, untuk melihat perubahan situasi ketenagakerjaan di Indonesia berdasarkan Sakernas, dapat disarankan untuk membandingkan data Sakernas untuk siklus yang (sama-sama Februari atau sama-sama Agustus) untuk tahun yang berbeda. Strategi ini menghindari secara efektif kemungkinan noise karena varisi musim dan perbedaan robustness karena perbedaan besar sampel sebagaimana dibahas sebelumnya.  

Grafik 1 menyajikan ilustrasi untuk keperluan perbandingan semacam itu untuk kasus penduduk yang bekerja. Pada grafik itu tampas penduduk yang bekerja turun sekitar 300 ribu selama periode Agustus 2019-Agustus 2020, penurunan kecil yang agaknya data diabaikan. Walaupun demikian, penurunan kecil ini, bagi sebagian, lebih realistis menggambarkan dampak Covid-19; dibandingkan dengan penurnan angka sekitar 5.3 juta untuk periode Maret-Agustus 2020. Angka terakhir ini bagi Indonesia– yang masih didonimasi sektor informal dan belum mampu memberikan jaminan penganggur– agaknya terlalu “mewah”, sekalipun atas nama Covid-19. Sebagai catatan,  sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 1 kembali menguatkan dugaan sebelumnya bahwa sampai Februari 2020 pandemi Covid-19 belum berdampak terhadap ketenagakerjaan Indonesia.

Jika untuk masing-masing komponen penduduk usia kerja diasumsikan:

A: Angka-angka Agustus 2019 mengambarkan keadaan normal dalam arti pra-pandemi dan dijadikan sebagai penimbang (skor 100),

B: Angka-angka Agustus 2020 menggambarkan situasi ketenagakerjaan di masa pandemi yang skornya ditimbang dengan angka-angka Agustus 2019,

maka perubahan skor A-B secara logis menggambarkan sampan taraf tertentu  besarnya dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap ketenagakerjaan.

Dengan mengikuti alur logika ini maka dapat disimpulkan bahwa pandemi Covid-19:

  • Tidak membawa perubahan signifikan terhadap jumlah penduduk yang bekerja,
  • Meningkatkan jumlah penganggur sekitar 37%,
  • Menurunkan Bukan Angkatan Kerja (BAK) yang sekolah sekitar 9%,
  • Meningkatkan BAK yang mengurus rumah tanga sekitar 3%, dan
  • Meningkagkan BAK lainnya sekitar 28%.

Grafik 2 menyajikan gambaran visual mengenai kesimpuan-kesimpulan itu.

Dua poin terakhir ini, sebagian atau seluruhnya, patut diduga merujuk pada angkatan kerja potensial (potential labour force) menurut definisi global: penduduk yang tidak berkerja dan tidak mencari pekerjaan (karenanya masuk BAK) karena menduga tidak tersedia kesempatan kerja.

Kalau BBC dalam satu running text mengkarakterisasi ‘penganggur’ di Amerika Serikat tidak tahu harus berbuat apa. maka BBC keliru dengan menyebut penganggur yang menurut definisi aktif mencari pekerjaan. Kemungkinan BBC merujuk pada kelompok BAK lainnya. Peningkatan besar jumlah kelompok ini sebagaimana tercermin pada Grafik 2 agaknya mencerimkan dampak negatif yang khas terhadap ketenagakerjaan dari tragedi seperti pandemi Covid-19 ini.      

Wallahualam….. @

[1] Artikel mengenai konsep dan ism ketenagakerjaan di Indonesia dapat diakses dalam tautan ini: https://uzairsuhaimi.wordpress.com/category/jejak-pemikiran/ketenagakerjaan/page/3/

Indeks Kemajuan Sosial: Tinjauan Umum

Kata kunci: Dimensi IKS, pertanyaan kunci, metode dan hasil perhitungan, hubungan antara IKS dan GDP Per Kapita, Kapasitas Indonesia.

Setiap negara tentu mengupayakan agar warganya maju secara sosial. Upaya ini berarti, tetapi tidak terbatas pada, pemenuhan kebutuhan dasar akan sandang-pangan-papan-pendidikan-kesehatan semua warga, juga anak-cucu-cicit mereka yang masih hidup maupun yang akan hidup di abad-abad mandatang. Inilah upaya ke arah kebajikan yang dikenal secara universal (Arab: ma’ruf). Masalahnya, kapasitas negara untuk mewujudkan semua itu berbeda. Jadi pertanyannya bagaimana mengukur kapasitas itu. Indeks Kemajuan Sosial (IKS) atau Social Progress Index, indeks komposit yang dikembangkan oleh Social Progress Initiative sekitar satu dekade yang lalu, dimaksudkan untuk mengukur kapasitas itu tapi bukan satu-satunya[1]. Tulisan berdurasi-baca enam menit ini meninjau secara umum indeks komposit ini, menelisik anatomi dan metodologinya secara sepintas, serta mengevaluasi hasil perhitungannya secara sederhana. 

Anatomi IKS

Substansi IKS mencakup tiga dimensi sosial-lingkungan yang mendasar bagi kemanusiaan: kebutuhan dasar, pondasi kesejahteraan dan peluang untuk maju. 

  • Kebutuhan dasar (basic needs): memenuhi kebutuhan dasar seluruh warga bangsa,
  • Fondasi kesejahteraan (foundation of wellbeing): membangun pondasi yang memungkinkan individu dan masyarakat meningkatkan dan mempertahankan taraf kesejahteraan, dan
  • Peluang (opportunity): menciptakan peluang bagi setiap individu warga agar mampu mencapai tingkat  potensi tertingginya.

Tiga dimensi IKS itu pada dasarnya mencakup semua sasaran SDG (Sutainable Development Goals) sehingga skor IKS dapat mengukur tingkat capaian SDG suatu negara. Paling tidak demikianlah klaim pihak penyusun IKS. 

The Social Progress Index captures outcomes related to all 17 Sustainable Development Goals in a simple but rigorous framework designed for aggregation, making it an invaluable proxy measure of SDG performance.

Masing-masing dimensi IKS dibangun berdasarkan empat komponen sehingga IKS secara keseluruhan mencakup 12 komponen. Masing-masing komponen ini dihitung berdasarkan 3-5 indikator sehingga IKS secara keseluruhan mencakup 50 indikator. Singkatnya, anatomi IKS terdiri dari 3 dimensi, 12 komponen dan 50 indikator[2].

IKS hanya mencakup indikator outcome (bukan input) dalam bidang sosial dan lingkungan (tanpa indikator ekonomi) yang dipilih sedemikian rupa sehingga dapat ditindaklanjuti dalam program aksi (prinsip actionability), serta relevan bagi semua negara (prinsip inclusivity). Demikianlah kira-kira prinsip IKS menurut klaim Social Progress Initiative.

Pertanyaan Kunci

Gambar besar mengenai kemajuan sosial yang ingin direfleksikan oleh IKS tercermin dari pertanyaan kunci yang ingin dijawab oleh setiap komponen dari masing-masing dimensi. Pertanyaan kunci itu memandu penyusunan indikator yang relevan. Daftar pertanyaan kunci dari dimensi pertama, Kebutuhan Dasar, adalah sebagai berikut:

  1. Apakah penduduk memiliki makanan yang cukup dan dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar?
  2. Apakah penduduk dapat mengakses air minum yang bersih-sehat tanpa risiko dampak kontaminasi?
  3. Apakah penduduk bertempat tinggal dalam bangunan yang dilengkapi dengan utilitas dasar layaknya suatu bangunan tempat tinggal?
  4. Apakah penduduk dapat menikmati rasa aman?[3]

Dari pertanyaan pertama dihasilkan lima indikator yang dua di antaranya adalah gizi buruk dan kematian karena penyakit infeksi. Daftar pertanyaan komponen untuk dua dimensi IKS lainnya dapat dilihat dalam Kotak 1:

Metode Penghitungan

Metode penghitungan IKS relatif sederhana dan pada dasarnya terdiri dari tiga tahapan. Tahapan pertama, menghitung indeks komponen untuk masing-masing dimensi IKS. Indeks komponen ini dihitung berdasarkan hasil perhitungan rata-rata tertimbang indikator pembentuk masing-masing komponen. Tahapan kedua, menghitung indeks dimensi berdasarkan hasil perhitungan rata-rata sederhana indeks komponen. Tahapan akhir, menghitung IKS yang tidak lain dari pada rata-rata sederhana indeks dimensi. Penjelasan penghitungan IKS secara lebih rinci dapat dilihat pada Kotak 2.

Hasil Perhitungan

Skor IKS secara teoretis  terletak antara 0 sampai 100: 0 menujukan kapasitas paling rendah, 100 paling sempurna. Hasil perhitungan untuk 2020 menunjukkan angka terendah adalah 31.06 untuk Sudan Selatan dan 92.73 untuk Norwegia. Jadi tidak ada negara yang skornya di bawah 30 dan di atas 93. Negara-negara lain, terletak dalam interval angka itu yang dikelompokkan ke dalam enam tingkat (tier) pendapatan yang diukur dengan GDP per capita PPP.

Diukur dengan IKS, kemajuan sosial dunia mengalami perbaikan tetapi lambat dan tidak merata. Menurut laporan Social Progress Initiative, dalam kurun 2011-2020: 

  • secara rata-rata skor IKS meningkat 3.61 poin persen dari 60.63 ke 64.24;
  • sebanyak 155 atau 95% negara mengalami kenaikan hanya satu poin;
  • ada tiga negara (2%) mengalami penurunan: Brazil, Hongaria dan Amerika Serikat (faktor Trump?); dan
  • sebanyak 69 (42%) negara yang mengalami perbaikan skor mengalami kenaikan skor 5 poin persen atau lebih.

Sebagaimana dilaporkan Green dkk dari Social Progress Initiative Perbaikan, skor IKS global kebanyakan terjadi dalam hal Akses ke Informasi dan Komunikasi, Akses ke Pendidikan Tinggi, Perumahan, dan akses ke Air serta Sanitasi:

Since 2011 the world score has improved on eight components: Access to Information and Communications (+21.61 point change), Access to Advanced Education (+7.45), Shelter (6.10), Water and Sanitation (+5.57), Access to Basic Knowledge (+4.18), Nutrition and Basic Medical Care (+4.20), Personal Freedom and Choice (+2.32), and Health and Wellness (+1.55).

Berdasarkan sumber yang sama, skor IKS mengalami penurunan dari sisi HAM dan Kualitas Lingkungan:

The world is declining on Personal Rights (-6.42), Inclusiveness (-3.48) and stagnating on Personal Safety (-0.61) and Environmental Quality (value). The world score on Personal Rights has declined by 4.17 points since 2011.

IKS dan GDP Per Kapita

Seperti disinggung sebelumnya, IKS fokus pada indikator sosial dan lingkungan dan tidak memasukkan indikator ekonomi. Di satu sisi hal ini terkesan menunjukkan kelemahan IKS dari sisi cakupan. Di sisi lain hal ini justru menunjukkan kekuatan focus IKS. Ada alasan lain yang menunjukkan kekauatan IKS: hubungan antara indikator sosial-lingkungan ternyata positif. Ini berarti, dari sisi teknis indeksing komposit, memasukkan indikator ekonomi memang tidak diperlukan karena merupakan pengulangan yang tidak perlu.

Grafik 1 menunjukkan hubungan fungsional antara skor IKS dan tingkat ekonomi (diukur dengan GDP per capita PPP). Seperti tampak pada grafik itu, banyak negara yang kuat secara ekonomi tetapi memiliki skor IKS yang relatif rendah. Termasuk dalam kelompok negara ini adalah Sudan Selatan, Guinea, Turki, Arab Saudi, Qatar, Singapura, Luxemburg, dan Amerika Serikat (AS). Relatif rendahnya IKS untuk negara seperti Sudan Selatan dapat dimaklumi mengingat rendahnya tingkat ekonomi negara ini. Tetapi bagi negara seperti Qatar (IKS=sekitar 70) dengan GDP per kapita hampir $100,000 PPP seyogianya memiliki skor IKS lebih tinggi (IKS> 95). Oleh Social Progress Initiative, kelompok negara ini (ada 35 negara) disebut underperformers (on social progress relative to their incomes).

Grafik 1 juga mebunjukkan kasus negara dengan IKS yang tinggi relatif terhadap tingakt ekonominya. Termasuk dalam kelompok negara ini adalah Norwegia, New Zealand, Kyrgystan dan Costa Rica. Yang terakhir ini skor IKS-nya setara dengan AS padahal GDP/kapitanya hanya sekitar sepertiga GDP/kapita AS. Kelompok negara seperti Costa Rica ini (ada 13 negara) disebut over-performers.

Terkait dengan Grafik 1, Green dkk melaporkan tiga poin temuan kunci:

    1. There is a positive and strong relationship between the Social Progress Index and GDP per capita.
    2. The relationship between economic development and social progress is not linear. At lower income levels, small differences in GDP per capita are associated with large improvements in social progress. As countries reach high levels of income, however, the rate of change slows.
    3. GDP per capita does not completely explain social progress. Countries achieve divergent levels of social progress at similar levels of GDP per capita.

Grafik 1: Hubungan Antara IKS dan GDP Per Kapita (PPP)

Kapasitas Indonesia

Bagaimana kapasitas Indonesia dalam hal kemajuan sosial diukur dengan IKS? Tabel 1 menunjukkan Indonesia dalam kancah global, dengan IKS=79.79, berada pada rangking 84 dari 163 negara yang dibandingkan, di bawah Aljazair (IKS=87.69). Mengomentari ranking ini seorang kolega menilai , Indonesia sebagai angota G20 (46 angota), ‘normal’-nya ranking sekitar 46.  Dalam kancah ASEAN, seperti ditunjukkan oleh Tabel 2, posisi Indonesia di bawah Singapura (IKS=85.46), Malaysia (IKS=76.69) dan Thailand (IKS=70.72); di atas Vietnam (IKS=68.85). 

Table 1: 2020 Social Progress Index rankings 
Tier Rank Country Score Basic Human Needs Foundation of Well-being Opport-unity
1 1 Norway 92.73 96.85 93.39 87.95
1 2 Denmark 92.11 96.10 91.58 88.66
1 13 Japan 90.14 97.78 92.15 80.50
2 14 Luxemburg 89.56 95.72 91.84 81.13
2 15 Austria 89.50 96.03 91.84 80.63
2 42 Barbados 80.50 87.25 80.08 74.16
3 43 Bulgaria 79.86 90.88 78.19 70.51
3 44 Mauritius 78.96 90.90 76.52 69.47
3 82 South Africa 70.26 73,35 69.28 68.14
4 83 Algeria 87.69 87.69 68.76 59.92

4

84

Indonesia

69.49

79.79

68.76

59.92

4 111 Senegal 60.04 66.20 61.17 52.76
5 112 Egypt 59.98 79.41 51.55 48.98
5 113  Turkmenistan 58.35 83.18 59.84 32.05
5 139 North Korea 50.01 63.94 52.79 33.30
6 140  Burkina Faso 49.87 47.93 54.74 46.95
6 141  Pakistan 49.25 59.49 46.88 41.39
6 163 Soth Sudan 31.06 35.74 36.69 20.73

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Social_Progress_Index

Table 2: Social Progress Indices of ASEAN Countries
Country Rank Score Basic Human Needs Foundation of Well-being Opportunity
Singapore 29 85.46 97.66 86.13 73.58
Malaysia 48 76.96 88.77 80.52 61.59
Thailand 79 70.72 80.89 75.44 55.83
Indonesia 84 69.49 79.79 68.76 59.92
Vietnam 88 68.85 82.03 72.31 52.23
Philippies 98 66.62 70.74 71.24 57.87
Timor-Leste 110 61.08 63.84 66.88 52.53
Cambodia 118 56.27 67.27 62.09 39.53
Myanmar 120 55.99 64.61 59.27 44.10
Laos 133 51.80 62.64 55.18 37.58

Sumberhttps://en.wikipedia.org/wiki/Social_Progress_Index

Dilihat dari dimensi IKS, Tabel 2 menunjukkan bahwa kapasitas Indonesia relatif kuat dalam dimensi Kebutuhan Dasar (walaupun rendah dibandingkan Vietnam) tetapi relatif lemah dalam dimensi Peluang (walaupun lebih kuat dibandingkan Malaysia). Fakta ini layak catat bagi para pengambil kebijakan negeri ini.  Fakta lain yang layak catat adalah bahwa menurut Social Progress Initiative prospek IKS secara global ke depan tidak terlalu cerah dan ini terkait pandemic Covid-19.

Based on 2020 Social Progress Index projections, if current trends continue the world won’t achieve the Sustainable Development Goals 2082 – missing the 2030 target by more than a half-century. 

And unless urgent actions are taken, the Covid-19 pandemic and accompanying economic crisis risk setting social progress in the world back by another decade, pushing out achieving the SDGs until 2092.

Wallahualam….. @


[1] Indeks komposit lain yang dirancang untuk maksud serupa antara lain Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Happy Planet Index, dan OECD Better Life, dan Legatum Prosperity Index.

[2] Bandingkan angka-angka ini dengan 17 sasaran dan hampir 250 indikator SDG.

[3] Ini layak catat: rasa aman dikategorikan sebagai komponen kebutuhan dasar.

Garry Wills dan Quran

Memahami pandangan Garry Wills (1934- ) mengenai Quran menarik paling tidak karena dua alasan. Pertama, beliau adalah seorang akademisi ternama di Amerika Serikat (AS), lulusan Saint Louis University (BA filsafat, 1957), Xavier University (MA, filsafat, 1958), dan Yale University (PhD, Classics, 1961). Dia juga dikenal luas sebagai dosen sejarah di John Hopkins University (1962-1980), pengarang, jurnalis dan ahli sejarah, khususnya sejarah gereja Katolik. Sejak 1973 beliau menghasilkan lebih dari 40 buku.

Kedua, beliau adalah seorang penganut Katolik yang saleh paling tidak sebagaimana terungkap dalam kutipan ini:

Wills describes himself as a Roman Catholic and ….has been a Roman Catholic all his life. He continues to attend Mass at the Sheil Catholic Center in Northwestern University. He prays the rosary every day, and wrote a book about the devotion (The Rosary: Prayer Comes Around) in 2005.

Pertanyanya, bagaimana Garry, dengan latar belakang akademis dan kehidupan pribadi seperti itu, tertarik dengan Quran. Itulah pertanyaan yang diajukan seorang moderator kepadanya ketika memulai ceramah di forum Carnegie Council on Ethics (2010). Jawaban Garry di luar dugaan: “Malu!” (“Shame!”).

Memalukan

Pasca peristiwa 9/11, sekelompok akademisi berdiskusi menanggapi tragedi itu termasuk Garry. Dalam kesempatan ini terungkap pertanyaan: “Siapa di antara kita yang pernah baca Al-Quran”. Ternyata tidak ada seorang pun dari peserta diskusi yang pernah Quran. “Bagaimana dengan kamu Garry sebagai seorang religious scholar?”, tanya seorang peserta. Jawaban Garry, “Itulah masalah saya. Saya tidak pernah baca Quran”. 

Bagi Garry, itu momen yang sangat memalukan baginya. Baginya, membahas hubungan antara Tragedi 9/11 dengan Islam (yang agaknya topik utama diskusi), tanpa memahami Quran, secara akademis naif. Garry mengaku mulai mempelajari Quran untuk ‘menebus’ rasa malu dan sikap naif itu. Dalam berbagai kesempatan dia mengajak secara terbuka semuanya, khusunya koleganya dari kalangan akademisi, unduk membaca Quran. Baginya hal ini penting untuk memahami perilaku Muslim yang menurutnya mencakup 23 persen populasi global, serta menyikapinya secara cerdas dan proporsional. 

Muslim dan Tragedi 9/11

Ketika ditanya mengenai hubungan antara Islam dengan Tragedi 9/11 dia menjawab hubungan itu tidak ada. Logikanya sederhana: Islam adalah agama, bukan orang atau pelaku kejahatan atau kebaikan. Sebagai ilustrasi, orang yang mengaku-habis sebagai seorang Pancasilais bisa saja berprilaku koruptor yang rakus, perilaku yang jelas bertentangan dengan niai-luhur Pancasila.

Bagi Garry, perilaku dari pelaku Tragedi 9/11 sama sekali tidak mewakili perilaku Muslim global. Sebagai argumen dia mengemukakan hasil Survei Gallup yang dinilainya sangat terpercaya (walaupun menurutnya sangat mahal tetapi masuk akal karena luasnya cakupan survei). Hasil survei itu menunjukkan secara global hanya tujuh persen Muslim yang membenarkan tindakan yang menyebabkan tragedi itu. 

Ketika didesak mengenai fenoma ISIS dan radikalisme dalam lingkungan Muslim lainnya dia tidak menjawab secara langsung. Alih-alih dia mengajak hadirin (yang agaknya mayoritas Kristen) untuk berpikir mengenai fenomena Perang Salib. Bagi Garry, perilaku ‘tragedi’ ini dari sisi Barat, sekalipun secara resmi diprakarsai oleh Gereja, tidak merepresentasikan nilai-nilai Kristiani.

Inklusif

Garry mengaku menemukan banyak yang mengagetkan dalam Quran; di antaranya, ketegasan mengenai “tidak adanya dosa asal (bawaan)” dan banyaknya ayat mengenai “Dia Maha Pengampun”. Dia juga mengaku sangat kaget inklusifitas Quran, “lebih inklusif dari Taurat maupun Injil”, tegasnya. Sebagai argumen dia mengemukakan QS (4:163):

Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami memberikan Kiatb Zabur kepada Daud.

Garry juga mengutip ayat yang mengemukan tidak ada perbedaan di antara para nabi (QS 2:136):

Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya”. 

Demikianlah ‘perkataan berat’ (qulan tsaqila) (QS 73:5) dua ayat Quran yang ditangkap oleh Garry dan menilanya sebagai cerminan inklusifitas ajaran qurani. Rincian pemikirannya lebih lanjut mengenai topik ini dapat diakses dalam bukunya yang berjudul: What the Qur’an Meant and Why It Matters?[1] Pertanyaan: sejauh mana Muslim kontemporer memiliki sense mengenai inklusifitas itu? 

Wallahualam…. @

[1] Kindle Edition, 235 pages. Published October 3rd 2017 by Penguin Books (first published October 1st 2017).