Gambar Besar Penduduk Global

Kata kunci: pertumbuhan yang melambat, konsekuensi pertumbuhan penduduk, 10 negara terbesar, sumbangan penduduk Afrika, tantangan global.

Konteks

PBB meramal penduduk global sampai akhir abad ini masih akan tumbuh. Hal ini tentu membawa konsekuensi pada berbagai bidang kehidupan termasuk sosek, ketenagakerjaan, kerawanan sosial, pelayanan publik, kesehatan masyarakat, migrasi, urbanisasi, dan lingkungan hidup termasuk pemanasan global. Sebagai contoh ilustratif, peningkatan penduduk berarti peningkatan permintaan akan kebutuhan pangan yang mendasar yaitu makanan dan minuman.

Tantangannya, luas dan kesuburan lahan pertanian semakin berkurang atau memburuk sementara sumber air minum bersih yang layak minum semakin menyusut. Tantangan ini sangat kompleks. Untuk menambah kompleksitas, komitmen para pengambil kebijakan secara umum dinilai tidak memadai [1]. Demikianlah situasinya sekalipun komunitas ilmiah dan sejumlah rekomendasi PBB rajin mengingatkan betapa seriusnya isu yang secara langsung terkait dengan kelangsungan hidup manusia di planet yang terbatas ini.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas secara rinci konsekuensi pertumbuhan penduduk yang kompleks itu tapi hanya memotret gambar besar penduduk global serta trennya sampai akhir abad ini. Tujuannya sekadar untuk membantu membayangkan besar masalah yang dihadapi komunitas global. Dalam konteks ini dinamika penduduk 10 negara terbesar memperoleh perhatian khusus karena sumbangannya terhadap penduduk global.

Masih Meningkat sekalipun Melambat

Seperti disinggung sebelumnya, total penduduk global masih akan meningkat. Totalnya diperkirakan sekitar 9.1 milyar pada 2019, meningkat menjadi 15.9 milyar pada 2050 dan 22.6 milyar pada 2100. Grafik 1 menyajikan tren total penduduk global yang dimaksud [2].

Kabar baiknya, rata-rata pertumbuhan per tahun (=r) terus turun mulai dari sekitar 2% dalam era 1950-an, menjadi 1% pada 2015 dan minus 2% pada 2100 (Grafik 1). Sebagai catatan, r minus tidak secara niscaya berarti penurunan total penduduk karena momentum penduduk sehubungan dengan struktur gender-umur. Situasinya ibarat kapal laut raksasa yang merapat ke pantai yang masih akan bergerak sekalipun mesinnya sudah dimatikan.

Grafik 1: Total dan Pertumbuhan Penduduk Global

Sumber: UN World Population Prospects 2019: Highlights.

10 Negara Terbesar

Tren penduduk global banyak dipengaruhi oleh dinamika penduduk kelompok negara “raksasa” dalam arti menempati rangking 10 negara terbesar. Dua dari 10 anggota kelompok ini adalah China dan India. Demikian besarnya penduduk dua negara ini sehingga dilaporkan tidak ada negara di planet ini yang secara budaya tidak dipengaruhi oleh budaya dua negara raksasa ini. Seperti akan terlihat nanti, dua negara ini masih akan mendominasi profil penduduk global.

Yang layak-catat, dua negara ini mewakili ras (bangsa) yang berbeda. Jika China mewakili ras berkulit kuning maka India berkulit putih dari cabang Aria (sama dengan ras Eropa)[3].

Di luar China dan India, ke delapan negara raksasa lainnya adalah Amerika Serikat (AS), Indonesia, Brasil, Rusia, Jepang, Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria. Terlihat Nigeria adalah satu-satunya wakil Afrika yang secara ras didominasi berkulit hitam. Yang wajib-segera-catat adalah bahwa urutan negara raksasa itu adalah keadaan tahun 1990 yang mengalami perubahan sepanjang abad ini.

Peranan Afrika

Tabel 1 menyajikan kelompok 10 negara terbesar dalam periode 1990-2100. (Angka dalam kurung adalah total penduduk dalam jutaan.) Pada tabel itu tampak total penduduk secara keseluruhan di kelompok ini meningkat sampai 2050 dan menurun dalam lima dekade berikutnya. Ini mengindikasikan berkurangnya sumbangan mereka terhadap penduduk global. Indikasinya lebih jelas jika dilihat dari proporsinya terhadap penduduk global: hampir 50% pada 2019 (penduduk global: 9.1 milyar), 33.4% pada 2050 (penduduk global: 15.9 milyar) dan hanya 23% pada 2100 (penduduk global 22.6 milyar).

Tabel 1: Daftar 10 Negara dengan Penduduk Terbesar

Urutan 1990 2019 2050 2100
1 China (1,177) China (1,434) India (1,639) India (1,450)
2 India (873) India (1,366) China (1,402) China (1,065)
3 Amerika Serikat (AS) (252) AS (329) Nigeria (401) Nigeria (733)
4 Indonesia (181) Indonesia (271) AS (379) AS (434)
5 Brasil (149) Pakistan (217) Pakistan (338) Pakistan (403)
6 Rusia (145) Brasil (211) Indonesia (331) Congo (362)
7 Jepang (125) Nigeria (201) Brasil (229) Indonesia (321)
8 Pakistan (108) Bangladesh (183) Ethiopia (205) Ethiopia (294)
9 Bangladesh (103) Rusia (146) Congo (194) Tanzania (286)
10 Nigeria (95) Meksiko (128) Bangladesh (193) Mesir (225)
Total 3,204 4.486 5,312 5,198

Sumber: Seperti Sumber Grafik 1.

Paling tidak ada enam butir catatan yang layak dikemukakan:

  • Asia. Mulai 2050 India menggeser posisi China sebagai negara terbesar. Pada 2100, dua negara ini bersama Indonesia dan Pakistan mewakili negara Asia dalam kelompok 10 negara terbesar dunia. Berbeda dengan Bangladesh, Indonesia masih bertahan sekalipun peringkatnya turun dari rangking ke-4 (1990 dan 2019), menjadi ke-6 (2050) dan ke-7 (2100).
  • Amerika Latin. Tahun 2019 Meksiko masuk 10 kelompok negara terbesar (1990: ke-11) sementara Jepang keluar dari kelompok itu (menjadi ke-11). Pada 2100 tidak ada wakil Amerika Latin dalam kelompok 10 terbesar dunia.
  • Afrika. Tahun 2100 Tanzania masuk kelompok terbesar (2050: ke-15) menggeser Brasil dan Bangladesh. Di sisi lain, pada tahun ini tiga negara yang sebelumnya “raksasa” sudah tidak muncul: Brasil, Rusia, dan Jepang. Tahun 2050 Ethiopia (2019: ke-12) dan Congo (2019: ke-16) masuk kelompok terbesar menggeser Rusia dan Meksiko (2019: ke-12). Peringkat Nigeria naik cepat dari rangking ke-10 (1990), ke-7 (2019), dan ke-3 (2050 dan 2100).

Seperti terlihat pada Tabel 1, pada 2100, dari 10 negara terbesar, 5 diantaranya wakil Benua Afrika yang pada 1990 hanya diwakili Nigeria. Pertumbuhan penduduk negeri ini luar biasa: total penduduknya pada tahun 1990 hanya 95 juta di 1990 dan 733 juta pada tahun 2100. Angka terakhir ini lebih dari dua kali total penduduk Indonesia pada tahun 2100 yang diproyeksikan sekitar 321 juta. Dari sisi ras, Indonesia, Malaysia dan Filipina termasuk ras berkulit kuning cabang katul istiwa.

Tantangan Global

Dengan masuknya lima negara Afrika (termasuk ras berkulit hitam kecuali Mesir yang tergolong Arab) ke dalam kelompok 10 negara “raksasa” maka profil penduduk global akhir abad ke-21, secara geografis dan ras, akan semakin beragam. Sepanjang abad ke-22 tidak mustahil Afrika akan mendominasi. Hal ini dapat diduga paling tidak karena dua alasan. Pertama, angka kelahiran Cina (juga Indonesia) cenderung turun terus dan penduduknya semakin menua. Kedua, angka kelahiran negara Afrika secara umum relatif tinggi. Terkait ini, struktur umur penduduk Afrika masih tergolong muda sehingga memiliki momentum untuk berkembang.

Jika para investor “melirik” Afrika (khususnya dari China) maka hal ini merupakan tindakan cerdas karena bagi mereka pertumbuhan penduduk berarti perluasan pangsa pasar. Tantangannya yang khas bagi penduduk kawasan ini adalah kerentanan terhadap rawan pangan dan kelangkaan sumber atau teknologi air bersih yang layak minum yang cenderung diperparah oleh perubahan iklim global. Masalah ini bersifat global walaupun mencolok di kawasan Afrika. Masalah ini juga serius dan mendesak sebagaimana dilaporkan WHO:

Water is a basic human need.

Without it, survival is not possible. Yet, in 2020, 2.1 billion people still wake up each morning without access to clean water. This means that millions of vulnerable families around the world do not drink, cook, or bathe with clean water.

For most rural schools and communities, access to clean water depends on outside NGOs (nonprofit organizations) purchasing or “giving” a well. However, there are millions of schools and communities that do not have access to nonprofit agencies or local government support. We must then ask ourselves: “How can we make water available for all?” Something must be done.

Must be done and Now!… @

[1] Sebagian melihat akar masalahnya terletak pada sistem demokrasi. Dalam sistem ini, masa kerja pendek (5-10 tahun) memaksa para pengambil kebijakan untuk fokus pada isu jangka pendek dan pragmatis demi mempertahankan kelangsungan hidup politik serta mengabaikan visi masa depan yang agak jauh sekalipun isunya mendesak secara kemanusiaan dan berbasis ilmiah.

[2] Model proyeksi yang mendasari grafik itu adalah model stokastik yang berarti memperhitungkan faktor ketidakpastian. Secara keseluruhan hasil proyeksi meyakinkan dengan 95% selang kepercayaan.

[3] Cabang kulit putih lainnya adalah ras Semit yang terdiri dari sub-cabang Arab dan Yahudi. Secara ras, Iran termasuk Aria yang bersama India membentuk Aria Timur yang dibedakan dengan Aria Barat (Eropa). Lihat William Soddart (2008: 66), Remembering in a World of Forgetting (World Wisdom).

Penduduk Jawa Tempo Dulu

Konteks

Penduduk pulau Jawa pada tahun 2020 diduga berjumlah sekitar  152.4 juta jiwa. Angka ini lebih besar dari, misalnya, angka total penduduk dari gabungan lima negara ASEAN lainnya: Filipina, Malaysia, Singapura, Brunei dan Timur Leste. Keseluruhan total penduduk lima negara ini sekitar 149.5 juta.

Trennya ke depan relatif mudah diperkirakan. Argumennya, Indonesia diberkahi data sensus penduduk setiap dekade sejak 1960-an yang merupakan sumber utama penghitungan angka proyeksi penduduk. Berkah lain, berbagai survei nasional yang dapat mendukung upaya perhitungan itu. Singkatnya, ada banyak “bukti keras” (hard evidence“) untuk meramal jumlah penduduk masa depan.

Pertanyaannya, bagaimana penduduk Jawa tempo dulu ketika bukti keras seperti itu belum tersedia. Tulisan ini bermaksud menyajikan potret besar dari penduduk yang dimaksud. Lebih penting dari itu, tulisan ini diharapkan dapat mendorong kajian lebih lanjut bidang yang “kurang seksi” ini.

Fokus pada Jawa

Yang menjadi perhatian tulisan ini adalah bidang kajian demografi sejarah (historical demography)[1] yang relatif masih terbelakang apalagi bagi Indonesia. Pengamatan penulis sejauh ini belum ada sarjana Indonesia yang menekuni bidang ini dan Prof. Widjoyo Nitisasatro mungkin satu-satunya kekecualian. Karyanya yang  berjudul Population Trends in Indonesia (1970) merupakan rujukan utama bagi yang meminati gambaran demografi Indonesia tempo dulu termasuk tulisan ini.

Dalam bukunya ini Widjoyo mempelajari secara cermat dan kritis sumber-sumber informasi yang relevan yang pada umumnya dihasilkan oleh para ahli-ahli sejarah Belanda. Selain itu, dari caranya menerapkan teknik demografi yang relatif canggih termasuk model penduduk stabil, beliau terkesan sebagai ahli demografi, bukan sekadar pemakai datanya. Tulisan ini mengulas secara sekilas tren penduduk Jawa dalam periode 1775-1900 utamanya berdasarkan karya Widjoyo itu[2].

Terhadap pertanyaan kenapa fokus pada Pulau Jawa jawabannya ada dua. Pertama, ulasan mencakup periode ketika NKRI belum ada. Kedua, data “Luar Jawa”, menurut para ahli termasuk Widjoyo, kurang dapat dipercaya. Latar belakangnya, para sejarawan Belanda yang lebih fokus pada penduduk Jawa dari pada Luar Jawa.

Periode 1775-1880

Total penduduk Jawa menjelang akhir abad ke-18, tepatnya 1775, diperkirakan sekitar 2.0 juta. Angka ini kira-kira setara dengan total penduduk Jakarta Selatan 2020. Angkanya meningkat per tahun sekitar 2.17% sehingga total penduduk mencapai angka 3.6 juta jiwa pada 1802. Ada tiga peristiwa sejarah penting yang layak-catat sekitar tahun itu:

  • Lima tahun sebelumnya (1770), Kapten James Cook memperbaiki kapalnya di Pulau Onrust (pantai Batavia) dalam upayanya mengelilingi dunia,
  • Tiga tahun setelahnya, lembaga pionir kegiatan ilmiah di Indonesia dan pendiri Museum Nasional di Jakarta, Royal Batavian Society of Arts and Sciences, didirikan oleh para intelektual Belanda (1778), dan
  • Enam tahun setelahnya Hamangkubuono 1 meninggal dunia.

Angka r=2.17% tergolong relatif tinggi. Hal ini tidak mustahil mengindikasikan membaiknya taraf kemakmuran penduduk selama periode 1775-1880.

Periode 1800-1850

Dalam 50 tahu berikutnya, angka pertumbuhan lebih rendah, r=2.01%. Tidak jelas mengenai alasan penurunan yang tergolong relatif signifikan ini. Yang dapat diketahui adalah beberapa catatan berikut:

  • 1800: VOC bangkrut dan dinasionalisasikan.
  • 1803: Fase pertama Perang Padri (sampai 1825)
  • 1808: Dandels, Gubernur Hindia Belanda, mulai membangun jalan raya besar di Jawa (Java Great Post Road),
  • 1814: Gunung Tambora (Sumbawa) meletus,
  • 1825: Perang Diponegoro (sampai 1830), dan
  • 1831: Perang Padri II (sampai 1838).

Periode 1850-1990

Tidak jelas bagaimana peristiwa-peristiwa sejarah itu terkait dengan penurunan angka pertumbuhan penduduk. Yang jelas, dengan r=2.01%, total penduduk Jawa 1850 menjadi 9.6 juta, kira-kira setara dengan 90% penduduk Jakarta 2020.

Angka pertumbuhan kembali meningkat menjadi 2.0% selama periode 1850-1900 sehingga total penduduk Jawa pada 1900 menjadi 28.7 juta atau sekitar 2.7 kali penduduk Jakarta 2020. Ada indikasi kenaikan pertumbuhan itu mencerminkan membaiknya taraf kemakmuran penduduk Jawa termasuk beberapa peristiwa sejarah berikut:

  • 1864: Pemerintah kolonial Belanda membangun pertama kali jaringan Kereta Api antara Semarang dan Tanggung(?),
  • 1868: Museum Nasional Indonesia secara resmi dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda.
  • 1870: Menghapus secara resmi sistem kerja paksa (Cultivation System) dan mulainya “Kebijakan Liberal” dengan mederegulasi sistem pemerintahan Hindia Belanda,
  • 1873: Lahirnya tokoh pejuang wanita Kartini (Jepara),
  • 1888: Dibangunnya kapal KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij) untuk mendukung unifikasi dan pembangunan perekonomian kolonial, dan
  • 1894: LA Brandes, seorang ahli filologi Balanda, menemukan serta mengamankan naskah Nagarakretagama.

Pada 1900 tidak ada peristiwa khusus yang perlu dicatat di sini. Pada 1901 ada: pemerintah kolonial Belanda mengumumkan kebijakan Etis (Ethical Policy). Kebijakan ini krusial karena membuka jalan bagi putra-putra terbaik bangsa untuk memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi yang pada gilirannya memampukan mereka menggalang kesadaran berbangsa bagi masyarakat luas.

*****

Tabel 1 meringkas tren penduduk Jawa dalam periode 1775-1900. Sebagai catatan,. Grafik 2 meringkas gambaran rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun selama periode 1775-1900.

Grafik 1: Tren Penduduk Jawa 1775-1900

Sumber: Widjoyo (1973), dikutip atau diolah dari berbagai tabel.

Catatan: Angka 1880-1900 hasil hitungan penulis berdasarkan data rata-rata angka pertumbuhan sebagaimana dilaporkan Widjoyo (1973: Tabel 9).

Tabel 1: Rata-rata Angka Pertumbuhan Penduduk Jawa (%)

Sumber: Seperti sumber Grafik 1

******

Diskusi di atas mengilustrasikan bagaimana dinamika penduduk (bidang kajian demografi) diletakkan dalam konteks sejarah (bidang kajian sejarah). Ini menunjukkan adanya kaitan antara demografi dan ilmu sejarah. Seperti ditegaskan Pichat (1973:12) [3], demografi sebenarnya terkait erat dengan berbagai disiplin ilmu-ilmu yang lain. Sayangnya semangat berbagi antara demografer dan spesialis dari disiplin keilmuan lain masih sedikit, paling tidak menurut Pichat:

Despite demography’s close links with the other sciences, little interchanges take place between demographers and other science specialist. The result is that the letter are unaware of the full scope of their own particular branch in which their researchers would prove useful to demographers. It is to be hoped that this situation will change and that demographers and other scientists will be led to co-operative fully together.

Kutipan di atas jelas merefleksikan seruan kerja sama antara demogafer dengan spesialis bidang lain: ahli sejarah, sosiolog, ekonom, ahli lingkungan hidup, arkeolog, ahli kebijakan publik, fisiologi manusia, psikologi, ahli tata kota ruang, dan kriminolog. Ini daftar terbuka yang masih dapat diperpanjang. Seruan semacam ini kini lebih urgen karena semakin kompleksnya masyarakat global.

Wallahualam….. @

[1] Ulasan singkat mengenai cabag kajian ini dapat dilihat dalam Jean Bourgeois-Pichat, Main trends in demography (1973:57-61), George Allen & Unwin

[2] Kecuali disebutkan lain, sumber data berasal dari karya itu.

[3] Pichat (Ibid)

Isu Kerdil yang Besar

Apa masalahnya dengan kerdil? Bukankah itu soal genetis atau turunan orang tua? Apakah itu sesuatu yang dapat dicegah? Daftar pertanyaan semacam ini dapat diperpanjang. Tapi apapun jawabannya, yang jelas pemerintah menilai serius urusan ini. Indikasinya, untuk mengurusi isu ini, pemerintah telah membentuk P2AK: Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil[1]. Secara administrasi Tim ini berada di bawah Sekretariat Kantor Wakil Presiden dan ini menunjukkan besar, serius dan kompleksnya isu ini

Dari kepanjangan TP2AK terlihat beberapa hal berikut: (1) fokus perhatian pada anak, (2) pengerdilan anak diasumsikan dapat dicegah, dan (3) upaya pencegahan itu perlu dipercepat. Tapi apa masalahnya dengan kekerdilan ini? Inilah yang akan dicoba dijawab secara sederhana melalui tulisan singkat ini, sekadar untuk memperoleh gambar besarnya.

Definsi dan Dampak Stunting

Padanan Bahasa Inggris untuk kata kerdil adalah swarf (kata benda) sementara untuk kata pengerdilan adalah stunting (kata kerja). Yang menjadi isu bukan swarf tetapi stunting. Asumsi dasarnya, berbeda dengan swarf yang lebih bersifat genetis atau terjadi karena kelainan hormonal yang tidak dapat dicegah, stunting dapat dicegah. UNICEF menggunakan istilah yang terakhir ini untuk merujuk pada rendahnya tinggi badan anak relatif terhadap umurnya karena kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang dan seringnya infeksi: “Stunting, or low height for age, is caused by long-term insufficient nutrient intake and frequent infections”.

Dampak stunting ternyata luas termasuk lambatnya pertumbuhan motorik dan rusaknya fungsi kognitif anak, kedua hal ini pada gilirannya berakibat  pada buruknya kinerja sekolah anak. Dampak lebih jauh, menurut WHO stunting membawa dampak negatif terhadap produktivitas ekonomi nasional. Yang ‘menakutkan’, menurut UNICEF dampak stunting terhadap pertumbuhan motorik dan kognitif anak bersifat permanen (irreversible).

Prevalensi Stunting

Menurut UNICEF hampir sepertiga anak balita secara global tergolong stunting. Angka ini tidak berbeda jauh dari angka Indonesia yang dalam periode 2010-2019 sekitar 27-35%[2]. Dinyatakan secara berbeda, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa angka stunting Indonesia merepresentasikan angka stunting global.

…. angka stunting Indonesia representasi angka stunting global.

Prevalensi stunting relatif tinggi di negara-negara berkembang. Walaupun demikian, angkanya sangat bervariasi menurut kawasan. Angka untuk kawasan Asia Timur (Pasifk), misalnya, hanya 16%, jauh lebih rendah dari angka kawasan Asia Selatan (46%). Yang layak-catat, angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Highest levels are found in South Asia
Prevalence of stunting in children under five, by region (2000–2006)

Source: UNICEF

Angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Sebagai catatan, proses pengumpulan data untuk menghitung angka pengukuran stunting secara langsung relatif kompleks sehingga sulit diajarkan pada petugas Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Di sisi lain, kuesioner Susenas menyediakan sejumlah variabel yang dapat digunakan untuk membangun variabel penjelas (explanatory variables) bahkan untuk menghitung proksi indikator stunting. Dengan demikian data Susenas secara umum berpotensi untuk digunakan sebagai alat pemantauan status stunting secara berkala.

Tantangannya, rancangan sampel Susenas utamanya dimaksudkan untuk mengukur karakteristik rumah tangga secara umum, bukan karakteristik sub-populasi anggota rumah tangga secara spesifik seperti balita apalagi baduta. Dalam konteks ini, kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan bukan merupakan pilihan tetapi merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

…. kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan … merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

Faktor Pengaruh

Terkait anak stunting ini catatan pentingnya adalah bahwa kondisinya merupakan akibat dari sejumlah faktor yang terjadi bahkan sebelum anak itu terlahir. Itulah sebabnya upaya penanganannya mencakup 1000 hari pertama termasuk ketika anak itu masih berbentuk janin dalam rahim ibunya. Dengan demikian faktor ibu turut menentukan: asupan gizi dan kesehatan reproduksi ibu ketika mengandung turut menentukan. Jika asupan gizinya buruk atau secara fisik belum siap (akibat pernikahan dini) maka besar kemungkinan dia melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR).

Banyak faktor yang mempengaruhi stunting termasuk sejarah kesakitan neonatal dan kemiskinan. Menurut suatu penelitian (2017) terhadap anak berumur 12-23 bulan, bayi dengan sejarah kesakitan neonatal (neonatal illness) memilki OR=1.23; artinya, memiliki risiko menjadi stunting 23% lebih tinggi dari bayi yang tidak memiliki sejarah itu. Sementara itu, risiko kemiskinan (tidak langsung) memiliki OR=1.3.

Menurut penelitian yang sama, risiko BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan risiko dua faktor sebelumnya. Angka OR-nya sekitar 1.74. Dengan kata lain, bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau di bawah normal (<2.5 kg) berisiko 74% lebih tinggi untuk menjadi stunting dibandingkan bayi yang lahir dengan berat badan normal (>=2.5 kg[3]). Yang juga layak-catat dari penelitian ini adalah bahwa bayi laki-laki 27% berisiko lebih tinggi menjadi stunting dari pada bayi perempuan. Apakah angka terakhir menunjukkan bahwa wanita lebih “tangguh” dari pria sejak masih bayi?

Wallahualam…. @

[1] Penulis baru saja kenal istilah TP2AK karena kebetulan beberapa hari lalu (3/6/20) berpartisipasi dalam suatu Zoom Meeting terkait isu ini.

[2] Menurut suatu penelitian (2017), prevalensi stunting anak umur 12-23 bulan di Indonesia sekitar 40.4%.

[3] Angka ini lebih kecil dari 2 standar deviasi median dari standar tinggi badan per umur menurut standar WHO.

Estimasi Populasi Global Sepanjang Masa

Global dan Sepanjang Masa. Ini adalah dua kata kunci untuk menghindari keliru-baca judul tulisan dan keliru-paham isinya. Kata global mengimplikasikan faktor migrasi tidak relevan. Kata sepanjang masa mengimplikasikan status kelangsungan hidup (masih hidup atau sudah meninggal) juga tidak relevan. Singkatnya, dua faktor pertumbuhan penduduk ini, Migrasi (M) dan Kematian (D), tidak relevan dalam tulisan ini. Satu-satunya yang relevan adalah faktor Kelahiran (B). Dengan kata lain, populasi dalam judul tulisan identik dengan total Kelahiran, tepatnya total kelahiran-hidup[1], atau populasi yang pernah hidup (ever lived). Tulisan ini bermaksud mengestimasi populasi yang dimaksud.

Klarifikasi Teknis

Pertanyaannya, apakah mengestimasi populasi yang dimaksud secara teknis dimungkinkan dalam arti menghasilkan angka yang masuk akal. Jawabannya positif. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya.

Estimasi suatu populasi apa pun dimungkinkan asalkan dipenuhi dua syarat. Pertama, fungsi matematis dari populasi yang dimaksud dapat diketahui. Teknik demografi memastikan fungsi itu diketahui untuk organisme hidup termasuk manusia. Kedua, ruang lingkup fungsi itu dapat didefinisikan. Begitulah persyaratan kalkulus (definite integral). Dalam konteks tulisan ini, ruang lingkup yang dimaksud adalah batasan waktu dari “sepanjang masa”. Catatan sejarah demografi global memungkinkan pendefinisian ruang lingkup itu

Seperti yang akan segera terlihat, batas bawah “sepanjang masa” dalam tulisan ini adalah tahun 600,000 SM ketika hanya ada seorang populasi global, batas atasnya 2011 ketika total penduduk mencapai tujuh milyar, 107. Dengan demikian, bahasan dalam tulisan ini mencakup periode sekitar (6×106 + 2011) tahun, periode yang mencakup era sebelum maupun sesudah banjir akbar, era Nabi Nuh AS[2].

Metodologi

Populasi tahun t2 (=N2) merupakan fungsi dari populasi tahun t1 (=N1), rentang periode  yang menjadi perhatian (t2 -t1) dan pertumbuhan populasi dalam periode itu:

N2= f(N1, r, (t2 -t1))

Fungsi N2 dapat dinyatakan dalam model eksponensial[3] berikut:

N2 = N1exp(r(t2 -t1)) atau

(N2/N1) = exp(r(t2 -t1)) …. (1)

Dari persamaan (1) dapat dirumuskan pertumbuhan penduduk:

r = log(N2/N1)/(t2-t1)] …. (2)

Fokus tulisan ini adalah total kelahiran atau populasi yang pernah hidup yang dalam tulisan ini dinotasikan dengan n1 (untuk t1) dan n2 (untuk t2). Menggunakan analogi persamaan (1), total kelahiran dapat dinyatakan sebagaiJika persamaan (1) disubstitusikan ke persamaan (3) maka hasilnya

B = [((n2-n1) (t2-t2)] / [log(n2)-log((n1)] ….. (4)

di mana B adalah total kelahiran hidup atau populasi yang pernah hidup. B inilah yang menjadi tujuan akhir dari estimasi populasi dalam tulisan ini.

Hasil Perhitungan

Tabel 1 menyajikan hasil perhitungan berdasarkan persamaan (4). Sumber data diperoleh dari Keyfitz dan Caswell[4] dan hasil olahan data yang bersumber Worldmeter.

Tabel 1: Penghitungan Orang Pernah Dilahirkan

Seperti yang tampak pada tabel itu, rentang waktu dibagi dalam 8 periode mulai 600,000 SM. Catatan singkat mengenai empat periode pertama layak disisipkan di sini:

  • 600,000 SM: Di Afrika diduga Homo sapiens mulai berkembang;
  • 6,000 SM: Di Eropa mulai ada kehidupan Cro-magnous (Homo sapiens sapiens) mulai kehidupan di Eropa, jelas jelas apakah mereka  migran dari Afrika;
  • 1650: IPTEK mulai maju pesat; jarak antara bumi-matahari telah dapat dihitung dan dijadikan sebagai 1 unit astronomi oleh Kepler (1619); dan
  • 1962: Umur Battle (Grup Musik Inggris) baru berumur 2 tahun dan Yuri Gagarin baru saja bermanuver di Ruang Angkasa.

Tabel 1 (Kolom (3) juga menunjukkan betapa cepatnya populasi ‘manusia modern” (Homo Sapiens) tumbuh dalam lintasan waktu. Berikut ini adalah ilustrasi mengenai kecepatan pertumbuhan itu:

  • Pada fase awal, manusia perlu waktu hampir 600 milenium agar secara agregat berjumlah 250,000 jiwa;
  • Dalam fase berikutnya, makhluk ini perlu waktu kurang dari 8 milenium untuk menjadi 100 kali lipat dari fase sebelumnya; menjadi 25,000 juta jiwa. Dari sini mulai tampak akselerasi dari kecepatan pertumbuhan populasi manusia; dan
  • Dalam enam fase terakhir (1650-2011), populasi manusia hanya perlu waktu sekitar 3.5 abad untuk melipatkan-diri sebanyak 38 kali; dari 25 juta menjadi 7 milyar jiwa.

Fokus tulisan adalah Kolom terakhir pada Tabel 1. Pada kolom itu tampak pada awal, dari 600,000 SM–6000 SM, sudah ada hampir  sampai 12 milyar penduduk yang pernah hidup atau peristiwa kelahiran hidup. Yang mencolok adalah pertambahan kelahiran-hidup dalam periode 1974-1987 ketika kelahiran-hidup bertambah dari sekitar 13 milyar menjadi 58 miliar; lebih dari 4.5 kali lipat hanya dalam waktu hanya 12 tahun. Atas dasar ini maka masuk akal jika istilah ledakan penduduk (population explosion) menjadi keprihatinan hampir semua pihak di era 1970-90-an.

Kolom terakhir baris jumlah menunjukkan sampai 2011 sekitar 284 milyar jiwa yang pernah dilahirkan-hidup di muka bumi ini. “Populasi” yang sudah meninggal, dengan demikian, berjumlah sekitar 277 miliar jiwa. Proporsi yang “masih hidup” sekitar 2.5% (=7/284). Angka ini lebih rendah dari perhitungan Winter (1959) dan Fuhs (1951) yaitu 4-6% sebagaimana dikutip Keyfitz-Caswell (1977:13)[5]. Catatannya, yang terakhir ini mengomentari angka 4-6% ketinggian,

…. a proportion that would be somewhat smaller if we moved human origin back in time. The corresponding fraction for adults is greater, and the fraction of those with specific modern occupations who have lived, for instance engineers, much greater.

******

“Populasi” yang sudah meninggal yang berjumlah sekitar 277miliar jiwa itu (sampai 2011), menggunakan terminologi Islam, adalah populasi alam barzah (alam antara), antara alam dunia dan alam akhirat. Populasi Alam Dunia: Populasi Alam Barzah = 1:40. Jumlah mereka pasti terus bertambah karena sifatnya monotonously increasing menurut istilah orang matematik. Demikianlah faktanya karena “yang pernah hidup” pasti akan memasuki “pintu kematian”, meminjam istilah Hadits: “Kematian adalah pintu dan setiap orang akan memasukinya”.

 Dalam Weltanschauung Al-Quran, sebelum memasuki alam akhirat, setiap individu dalam populasi alam barzah akan dihitung satu-persatu untuk memastikan keadilan-Nya berlaku secara sempurna. Yang layak catat, soal perhitungan ini secara eksplisit tercantum dalam QS (19:93-95):

  • Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.
  • Dia Allah benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.
  • Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.

Wallahualam….. @

[1] Menurut definisi, kelahiran hidup adalah kelahiran yang diikuti oleh tanda-tanda kehidupan seperti menangis walaupun sesaat. Istilah kematian hanya berlaku bagi kelahiran hidup, istilah kematian tidak relevan untuk kasus lahir mati.

[2] Menurut catatan sejarah terjadi sekitar tahun 7,550 Sebelum Masehi.

[3] Rumus geometrik bisa diterapkan tetapi proses perhitungan menjadi rumit dan –ini yang mendasar– hasilnya tidak berbeda secara signifikan.

[4] Keyfitz, Nathan and Hal Caswell (1977), Applied Mathematical Demography (3rd Edition), Springer.

[5] Ibid.

Pandemi Covid-19: Tujuh Rekomendasi Endcoronavirus

Konteks

Perang melawan pandemi Covid-19. Tidak banyak negara yang sudah berhasil memenangkan peperangan ini; lebih banyak yang “baru akan” menang, lebih banyak lagi yang perlu “bertindak cepat” agar berpeluang menang. Masing-masing kategori ini bisa dilabeli Zona Hijau, Kuning, dan Merah, tergantung status kemenangannya. Sejauh ini tidak ada daftar lengkap negara berdasarkan label Hijau, Kuning dan Merah. Walaupun demikian, Endcoronavius berhasil mendaftar sekitar 60 negara berdasarkan label itu dan menawarkan tujuh rekomendasi yang relevan. Tulisan ini meringkas daftar dan rekomendasi yang dimaksud.

Zona Hijau-Kuning-Merah

Endcoronavius mendaftar 15 negara yang dinilai berada pada zona Hijau: Australia, Austria,  Kamboja, Cina, Kroasia, Estonia, Yunani, Islandia, Yordania, Lebanon, Luxembourg, Mauritius, New Zealand, Norwegia, Slovakia, Slovenia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Endcoronavirus agaknya melabel Hijau suatu negara jika berhasil membentuk kurva kasus baru Covid-19 sudah membentuk secara ajeg pola U terbalik, topi atau lonceng. Pola itu diilustrasikan oleh kasus Australia, Austria, Cina, Thailand dan Vietnam. Lima negara ini, termasuk dua negara ASEAN di dalamnya, termasuk negara yang berhasil memenangkan peperangan melawan Covid-19 versi Endcoronavirus.

Australia_05_06.pngCambodia_05_06.png

China_05_07.pngThailand_05_06.png

Vietnam_05_06.png

Endcornavirus mendaftar 17 negara dalam Zona Kuning: Azerbaijan, Belgia, Costa Rica, Kroasia, Denmark, Prancis, Jerman, Iran, Irlandia, Israel, Italia, Jepang, Kyrgyzstan, Malaysia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, Tunisia, Turki dan Uzbekistan. Terlihat satu negara ASEAN masuk daftar ini. Kurva Kuning menyerupai Kurva Hijau tetapi belum ajeg. Hal ini diilustrasikan oleh lima negara berikut.

Dalam dua daftar di atas tidak tercantum Indonesia. Negara ini pasti berada di zona sisa, Zona Merah, bersama 31 negara lainnya versi Endcoronavirus. Daftar ke-32 negara yang berada Zona Merah adalah Argentina, Bahrain, Bangladesh, Belorusia, Brasil, Kanada, Chili, Kolombia, Ekuador, Mesir, Finlandia, Hongaria, India, Indonesia, Irak, Mali, Meksiko, Pakistan, Panama, Peru, Filipina, Polandia, Qatar, Romania, Rusia, Singapura, Swedia, UEA, Ukraina, Inggris dan Amerika Serikat.

Kurva Zona Merah secara umum belum membentuk pola Huruf U terbalik sebagaimana diilustrasikan oleh lima negara berikut. Pada kelompok ini, ini di luar dugaan, termasuk AS. Yang layak dicatat adalah kurva Irak yang mengilustrasikan pengalaman arus-balik-arah atau lonjakan-kedua (second spike) kasus baru Covid-19, pengalaman yang konon sudah diingatkan ada kemungkinan dialami oleh AS.

Tujuh Rekomendasi

Rekomendasi  endcoronavius berlaku untuk semua negara terlepas dari Zona Hijau, Kuning atau Merah. Walaupun demikian, rekomendasi tentu lebih serius bagi Zona Merah dan Zona Kuning dari pada bagi Zona Hijau. Berikut adalah tujuh rekomendasi yang dimaksud.

1) CEPATLAH BERTINDAK

Jangan menunggu “lebih banyak data” atau hasil dari model yang rumit. Belum terlambat untuk memulai sekarang. Semakin dini Anda bertindak; hal-hal sebelumnya dapat kembali normal.

2) SIAPKAN FASILITAS ISOLASI INDIVIDU

Siapkan fasilitas untuk mengisolasi individu yang terinfeksi dari anggota keluarga mereka. Sekitar 80% transmisi di Wuhan ada di dalam rumah.

3) PERKETAT PEMBATASAN PERJALANAN

Jika Anda berada di zona hijau dengan sedikit atau tanpa transmisi komunitas, lakukan pembatasan perjalanan dan buka kembali ekonomi lokal. Untuk zona merah, batasi perjalanan keluar agar tidak menulari orang lain. Untuk perjalanan penting, miliki karantina wajib untuk menghindari penyebaran virus.

4) TINGKATKAN JANGKAUAN PENGUJIAN

Pengujian memungkinkan Anda mengidentifikasi individu yang terinfeksi dan memisahkan mereka dari komunitas yang lain.

5) MINTA AGAR SEMUA ORANG MEMAKAI MASKER

Mengurangi penularan dengan meminta setiap orang memakai masker wajah itu sederhana, murah, dan sangat efektif.

6) LANJUTKAN PRAKTEK JARAK SOSIAL

Jauhi area yang ramai dan jaga jarak sejauh mungkin antara tetangga terdekat. Mereka yang memiliki komorbiditas (orang tua, kelebihan berat badan, immunocompromised, dll.) harus menjadi orang terakhir yang diperkenalkan kembali ke masyarakat, karena mereka yang paling rentan.

7) SABARLAH, JANGAN BUKA-KEMBALI TERLALU DINI

Buka-kembali (reopening) terlalu dini berisiko memicu pertumbuhan eksponensial lagi. Ini mungkin menghapus semua manfaat yang diperoleh dari penguncian sejauh ini. Ini dapat meningkatkan jumlah total kematian, membanjiri sistem medis, dan membuat skenario di mana penguncian lain diperlukan.

*****

Demikian tujuh rekomendasi endcoronavius. Rekomendasi itu berlaku bagi semua negara terlepas apakah berada dalam Zona Hijau, Kuning atau Merah. Yang Hijau perlu bersyukur dengan tetap waspada, yang Kuning perlu bersabar untuk tidak buru-buru reopening, yang Merah perlu “beristighfar” serta disiplin tinggi. Syukur, sabar dan istighfar. Trilogi ini yang dalam pandangan para bijak-bestari ampuh untuk menghadapi suatu bencana kemanusiaan. Dalam pandangan mereka, cobaan hidup merupakan suatu keniscayaan eksistensial[1] bagi manusia (QS 2:155) . Pandangan mereka mengena jika tekanan psikologis (psychological distress) masuk dalam kalkulus dampak Covid-19[2], gejala yang kabarnya mulai bermunculan.di Amerika Serikat (AS)

Wallahualam….@

[1]Tulisan mengenai keniscyaan ini dapat dilihat diakses di  https://uzairsuhaimi.blog/2020/04/26/covid-19-spiritual-reflection/

[2] Menurut Endcoronavius, “Lockdowns hurt the economy, which in turn can cause many problems. Unemployment, psychological distress….” (garis bawah tambahan).