Climgeddon

Akhir dunia. Semua agama dan tradisi besar mengenai istilah ini. Dalam Hinduisme, misalnya, ada istilah Pralaya[1] yang merujuk pada periode kehancuran alam semesta atau akhir dunia. Kata Mahapralaya merujuk pada situasi ketika kehancuran itu bersifat menyeluruh atau total. Tulisan ini terkait dengan skenario akhir dunia dalam skala Pralaya, akhir kehidupan di planet bumi ini. Skenario ini dikenal dengan kata majemuk Climgeddon, kombinasi kata Armageddon (skenario akhir dunia) dan climate (iklim) atau mudahnya pemanasan global. Singkatnya, Climgeddon adalah skenario berakhirnya kehidupan di bumi karena pemanasan global. Asumsi skenario: kita secara kolektif melakukan kegiatan normal seperti biasa tanpa aksi nyata untuk mengatasinya.

Masuk Akal

Skenario Climgeddon masuk akal karena tren pemanasan global adalah haq (Arab); artinya, benar dan nyata (riil). Ini angkanya: rata-rata suhu global naik lebih 1℃ dibandingkan dengan suhu sebelum industri (1950-an); angkanya, meningkat (Grafik 1).

Grafik 1: Rata-rata anomali Suhu Global

Sepintas kenaikan ini suhu global kecil tapi dampaknya luar biasa dan dapat dirasakan secara global. Kenaikan ini terjadi karena atmosfer bumi dipenuhi CO2 dan gas rumah kaca lainnya. Sekarang ini konsentrasi CO2 di atmosfer bumi sekitar 400 ppm, tertinggi selama 800,000 tahun. Yang bertanggung jawab kita yang secara global memancarkan CO2 ke atmosfer sekitar 36 miliar ton per tahun; angkanya, meningkat (Grafik 2).

Grafik 2 Total Emisi CO2 menurut Kawasan

Daftar Pendek

Kini kita berada pada Fase-1 Climgeddon dengan suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri. Dalam fase ini kita sudah menyaksikan berbagai bencana yang semakin sering dan parah. Ini daftar pendeknya (Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario):

  • menyusutnya laut es dan rak es, gletser dan salju di belahan Utara Bumi,
  • kegagalan panen serta meningkatkan kelaparan massal (juga, melonjaknya harga pangan),
  • meningkatnya frekuensi dan intensitas semua jenis badai ekstrem, (angin topan, tornado, bom hujan, topan bom, dll.),
  • meluasnya kekeringan, semakin langkanya ketersediaan air minum bersih,
  • meluasnya penggurunan,
  • semakin seringnya kebakaran dan kebakaran hutan dan banjir, semakin beracunnya polusi udara, pengasaman laut semakin meningkat[2],
  • keanekaragaman hayati terus berkurang,
  • migrasi hewan dan serangga,
  • semakin berkurangnya fungsinya hutan dalam mengambil karbon dari atmosfer[3], dan
  • semakin besarnya kerugian ekonomi karena dampak pemanasan global[4].

Daftar dapat ditambah dengan, misalnya, semakin banyaknya pulau yang ‘hilang’ tenggelam[5].

Sukar Dibayangkan

Dengan mengaji daftar pendek di atas, ketika suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri, mudah bagi kita membayangkan skenario ketika suhu global menjadi 2.5º-3.2º Celsius. Angka ini adalah Fase-2 Climgeddon; jadwalnya, 2027. Suhu global terus meningkat sehingga pada tahun 2071 mencapai 5º-6º Celsius.

Perancang Climgeddon membuat gambaran situasi sampai tahun 2070 tetapi tidak berani membayangkan situasinya tahun berikutnya dan hanya menuliskan ‘unknown‘. Silahkan simak Grafik 3 untuk melihat jadwal lengkap Climgeddon.

Grafik 3: Jadwal Climgeddon

Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario

******

Bagi Muslim, dalam konteks tulisan ini, terjemahan dua ayat ini layak direnungkan:

  • Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS 2;11).
  • Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia… (QS 30:41).

Wallahualam….. @

[1] Kamus Meriam-Webser mendefinisikannya sebagai “a period of dissolution or destruction of the manifested universe at the end of a kalpa according to Hindu philosophy: the end of the world“.

[2] Ini menyebabkan kehidupan laut kritis dan kematian terumbu karang. Pemanasan laut dan pengasaman laut dari karbon dari pemanasan global pada akhirnya akan membunuh banyak plankton penghasil oksigen lautan. Plankton ini bertanggung jawab atas sebanyak 50% dari semua oksigen diproduksi di planet ini.

[3] Hutan yang merupakan kekuatan penstabil utama yang menyerap karbon menjadi netral dalam penyerapan karbonnya dan berhenti mengambil karbon dari atmosfer. Segera dalam fase selanjutnya, hutan akan mulai melepaskan simpanan karbon mereka yang besar yang mendorong suhu lebih tinggi bahkan lebih cepat.

[4] Dalam fase ini, sebagian besar negara akan menghabiskan 1-3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) secara langsung atau tidak langsung untuk membayar konsekuensi dari darurat pemanasan global.

[5] Menurut suatu laporan Pulau Seribu sudah kehilangan beberapa pulau kecial dan Indonesia dalam waktu dekat akan kehilangan sekitar 2,000 pulau.

Al-Ghazali dalam Pandangan Jackson

Konteks

Abad 8-14 dikenal sebagai era emas dalam sejarah Islam (the Islamic Golden Age). Era emas tidak berarti ada stabilitas politik. Di era Imam Ghazali (1058-1111), misalnya, dunia Islam tidak menikmati kesatuan politik: di Spanyol ada Dinasti Umayyah, di Afrika Utara dan sekitar ada Dinasti Fatimiyah (Syiah), dan di Baghdad ada Dinasti Abbasiyah (Suni). Yang terakhir semakin menua di dalam penjara istananya sendiri tanpa kekuatan politik riil dan berperan sekadar simbol kesatuan dunia Islam. Kekuatan politik riil dalam genggaman dinasti Buyids (Syiah) dan itu sudah berlangsung seabad: abad ke-10 dikenal sebagai dekade Syiah. Tiga tahun sebelum Sang Imam dilahirkan Baghdad ditaklukkan oleh suku Saljuk (Turki)[1].

Tulisan mengenai Imam Ghazali (selanjutnya Sang Imam) melimpah. Dalam konteks ini layak disimak pandangan seorang ahli dalam bidang pemikiran filsafat dan keagamaan dari Universitas Gloucestershire (Inggris). Beliau adalah reader dan pengajar di universitas itu untuk kajian Islam, Nietzsche, filsafat Yunani, dan filsafat agama. Karya-karya akademiknya memperoleh reputasi internasional termasuk Muslim and Supermuslim: The Quest for the Perfect Being and Beyond (2020), Hayy ibn Yaqzan: A Philosophical Novel by Ibn Tufayl. Alfinge (2018), Al-Ghazali’s Deliverance From Error (2014), dan What is Islamic Philosophy? (2014). Yang menjadi rujukan tulisan ini selanjutnya adalah karya Jackson yang lain, Fifty Key Figures in Islam (2006).

Tokoh Kunci Kedua

Nama Sang Imam termasuk dalam daftar 50 tokoh kunci ini. Bagi Jackson Sang Imam adalah tokoh kunci Islam terpenting kedua (setelah Nabi SAW) dan bukan hanya sufi tetapi juga teolog dan filsuf: “The theologian, jurist, philosopher, and mystic al-Ghazali is universally known as the ‘proof of Islam’ (hujja al-islam) and the great ‘renewer’ (mujtahid) of the faith[2]. Kedua gelar ini, bagi Jakson, terkait dengan kemampuan Sang Imam dalam mensintesakan berbagai disiplin ilmu:

Much of this is due to his attempt to synthesise the three main strands of Islamic rationality: theoretical and philosophical enquiry, juridical legislation and mystical practice. His importance to Islamic thought lies in his skills in redirecting and reinvigorating Sunni religious thought in the aftermath of the Shi’a intellectual dominance of the previous century. His life and writings have been subject to more study in the Western world than probably any other Muslim, with the exception, of course, of the Prophet Muhammad.

Muhasabah Radikal

Di usia 30-an Sang Imam sudah mencapai kehidupan yang sangat cemerlang: menguasai hampir semua cabang ilmu yang dikenal di zamannya (termasuk ilmu musik), menempati posisi akademis puncak di perguruan yang paling bergengsi saat itu, memperoleh penghargaan Umat karena luas-mendalam ilmunya, kepiawaiannya dalam berdebat (ketika itu metode lazim untuk menguji keahlian), dan karena kejernihan berpikir dan menyampaikan gagasan. Di atas semua itu, keistimewaan Sang Imam adalah keberaniannya melakukan muhasabah atau menilai diri-sendiri secara jujur dan radikal. Dalam hal ini Jackson mencatat pengakuan Sang Imam ketika meragukan motivasi kehidupannya: 

I considered the circumstances of my life, and realised that I was caught in a veritable thicket of attachments. I also considered my activities, of which the best was my teaching and lecturing, and realised that in them I was dealing in sciences that were unimportant and contributed nothing to the attainment of eternal life. After that I examined my motive in my work of teaching, and realised that it was not a pure desire for the things of God, but that the impulse moving me … was the desire for an influential position and public recognition.

Keraguan itu serius sehingga Sang Imam mengalami semacam krisis mental-emosional yang juga serius. Pada gilirannya, krisis itu menyebabkan Sang Imam tidak mampu berbicara:    

For nearly six months beginning with Rajab 488 [July, 1095], I was continuously tossed about between the attractions of worldly desires and the impulses towards eternal life. In that month the matter ceased to be one of choice and became one of compulsion. God caused my tongue to dry up so that I was prevented from lecturing.

Buah Uzlah

Muhasabah jujur dan radikal mendorong Sang Imam untuk beruzlah atau mengundurkan diri dunia ramai dan mulai menempuh perjalanan batin yang semakin intensif. Buah uzlah luar biasa: Sang Imam menghasilkan lebih dari 70 karya besar yang sampai sekarang masih diapresiasi di kalangan internal Umat maupun di Dunia Barat, termasuk Ihya (mengenai agama Islam) dan tahafutul falasifah (mengenai filsafat). Yang terakhir ini sering dijadikan argumen untuk ‘menuduh’ sang Imam anti-filsafat. Faktanya karyanya ini  diakui luas sebagai tonggak penting dalam sejarah filsafat karena memajukan kritik ilmu pengetahuan Aristoteles, kritik yang selanjutnya dikembangkan di Eropa abad ke-14.

Ihya memperoleh apresiasi luar biasa dari kalangan internal Umat maupun dunia Barat. Dari kalangan internal, pandangan Imam Nawawi[3], misanya, mungkin cukup untuk mewakili ketika mengatakan bahwa Ihya cukup untuk mewakili semua kitab keagamaan (Islam) lainnya. Apresiasi Dunia Barat terlihat dari muatan www.algzali.com yang mendokumentasikan karya akademik mengenai Sang Imam yang pada umumnya fokus pada satu dari 40 buku ihya, termasuk 85 tesis PhD dan 20 tesis MA mengenai karya Sang Imam. Dalam salah satu page-nya, website ini menyatakan Ihya “… is widely regarded as the greatest work of Muslim spirituality, and is perhaps the most read work in the Muslim world, after the Qurān“.

Berpikir Radikal

Karya-karya besar Sang Imam agaknya terkait dengan obsesinya terhadap kebenaran serta bakat alami berpikir radikal (pola pikir yang dibutuhkan oleh seorang filsuf) sebagaimana terlihat kutipan ini:

From my childhood until the present, while I am fifty years of age, I have always looked into the viewpoints of other sects and nations. I have reviewed religious ideologies, philosophies, mystic patterns, theology, etc. The great thirst that I had for discovering the truth has been inside of me since childhood. This caused me to break the chain of imitation and doubt about inherited beliefs because I saw that Christian children only look at Christianity; Jewish children only look at Judaism; and Muslim children only look at Islam. The Prophet (s) has stated: ‘Every child is born with a pure divine disposition.’ Therefore, I was instigated to find the truth; to find the roots of my beliefs.”

Kutipan ini berasal dari karya Syahid Muthahhari, salah seorang cendekiawan Iran modern terkemuka yang juga seorang arsitek revolusi Iran (seperti halnya Ali Syariati) dan shahid pasca keberhasilan revolusi itu. Fakta ini menunjukkan Sang Imam dan karya-karyanya diapresiasi di kalangan Syiah.

*****

Demikianlah gambar besar mengenai Sang Imam khususnya dalam perspektif Jackson, pakar yang hemat penulis memiliki kejujuran intelektual yang dapat diandalkan. Tulisan ini diharapkan bermanfaat untuk melihat secara objektif sosok Sang Imam sehingga tidak tergesa-gesa mengamini narasi para orientalis abad 19-20 yang cenderung mendiskreditkan Sang Imam sebagai anti-filsafat bahkan bertanggung jawab terhadap kemunduran peradaban Umat.

Semoga… @


[1]  Untuk menambah komplikasi, di era itu ada kelompok sempalan Ismailiyyah (Syiah) yang menempuh cara kekerasan bahkan pembunuhan untuk kepentingan politik. Kata assassination (Inggris) berasal dari nama kelompok sempalan itu. Kritik Al-Ghazali terhadap dasar pemikiran kelompok ini jauh lebih tajam dari pada kritiknya terhadap filsafat.  

[2] Roy Jackson (2006:86), FIFTY KEY FIGURES IN ISLAM, Routledge.

[3] Imam Nawawi adalah seorang ulama besar. Nama lengkapnya Abū Zakariyyā Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī (12343-1277). Selama hidupnya (45 tahun) beliau memproduksi karya tulis paling tidak 45 kitab besar termasuk Riyadh as-Saaliheen, Minhaj al-Talibin, dan Sharh Sahih Muslim yang sangat terkenal di Indonesia.

 

 

Hagia Sophia yang Rupawan

Konteks

Hagia Sophia adalah suatu bangunan fisik yang megah dan rupawan di Kota Istanbul (Turki). Dengan kubah biru setinggi 182 kaki, berdiameter sekitar 131 kaki, diapit oleh 4 menara, dan dengan arsitektur bercita-rasa tinggi, kemegahan dan keindahan Hagia tak-terbantahkan. Seni arsitekturnya mewakil secara sempurna (epitome) arsitektur Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium. Ia dibangun atas perintah oleh Kaisar Constantine dalam periode 532-537, suatu periode singkat dilihat dari besarnya bangunan.

Selain megah-rupawan, Hagia juga kaya nama. Sebutannya dalam Yunani Kuno: Ἁγία Σοφία, Latin: Sancta Sophia atau Sancta Sapientia (Inggris: Holy Wisdom), Romawi: Naós tis Hagías tou Theou Sophías, dan Turki (bahasa resmi): Ayasofya-i Kebir Camii Şerifi (Inggris: the Great Mosque of Ayasofya) [1]. Selain kaya-nama, Hagia juga kaya simbolisme interaksi budaya yang dinamis antara Timur dan Barat. Simbolisme ini rumit sehingga tulisan ini hanya bermaksud memotret gambar besarnya. Yang jelas, isunya kini tengah menghangat karena ‘kejutan” Endrogan.

Sumber Gambar: INI

Alih Fungsi

Presiden Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan suka membuat kejutan berani. Sebagai ilustrasi, pada 24/11/2015, atas perintahnya, Turki menembak jatuh Jet Tempur Su-24 di perbatasan Turki-Suriah. Akibat ‘keberanian” ini ekonomi Turki kehilangan sekitar 138 triliun rupiah. Juga atas perintahnya, sebagai ilustrasi lain, setelah dicapai konsensus dewan negara (19/7/2020), pada 14/7/2020 Hagia Sophia dialih-fungsikan dari museum menjadi Masjid. Pengalih-fungsian bangunan ini sebenarnya bukan hal bari bagi Hagia:

  • 1204: Hagia difungsikan sebagai Katedral Roman Katolik oleh pasukan Perang Salib ke-4;
  • 1453: Hagia difungsikan sebagai Masjid oleh Mehmed Sang Penakluk, Mehmed the Conquer; dan
  • 1935: Menjadi museum oleh penguasa Turki yang sekuler.

Reaksi Dunia

Keberanian Sang Presiden mengalih-fungsikan Hagia menjadi masjid tak-pelak mengundang reaksi tokoh dunia; juga UNESCO. UNSECO dalam hal ini berkepentingan karena sebagai warisan dunia Hagia membutuhkan persetujuan dari pihaknya untuk dapat beralih fungsi. Dalam salah satu siarannya UNESCO menyatakan:

UNESCO calls on the Turkish authorities to open a dialog without delay in order to avoid a step back from the universal value of this exceptional heritage whose preservation will be reviewed by the World Heritage Committee in its next session.

Itulah sebabnya Yunani mencela keputusan Sang Presiden dan menganggapnya sebagai suatu pelanggaran aturan UNECO World Heritage. Reaksi lebih keras datang dari pemimpin Kristen Ortodoks Rusia, Patriarch Kirill Moscow, yang  menyebut pengalihfungsian itu sebagai  ‘a threat of the whole of Christian civilization’.

Dalam konteks ini komentar bicara Kementerian Luar Ngeri AS relatif lunak, hanya disappointed: “We are disappointed by the decision by the government of Turkey to change the status of the Hagia Sophia”. Reaksi Uni Eropa juga relatif lunak, hanya regrettable:

The ruling by the Turkish Council of State to overturn one of modern Turkey’s landmark decisions and President Erdogan’s decision to place the monument under the management of the Religious Affairs Presidency is regrettable,”

Reaksi Hamas mudah ditebak. Juru bicara siaran internasional Hamas, Rafat Murra, mengungkapkan ‘”Opening of Hagia Sophia to prayer is a proud moment for all Muslims”. Yang menarik reaksi Republik Cyprus Utara yang tersirat dalam ungkapan PM Ersin Tatar:

Hagia Sophia has been Turkish, a mosque and a world heritage since 1453. The decision to use it as a mosque, at the same time to be visited as a museum, is sound and it is pleasing.

Kekhawatiran Berlebihan

Kekhawatiran pihak gereja terhadap isu pengalih-fungsian Hagi dapat dimaklumi karena alasan sejarah. Tetapi seperti dikemukakan orang bijak, sejarah seyogianya dijadikan bahan pelajaran berharga untuk menatap masa depan, bukan beban yang mendikte dan membelenggu akal sehat. Kekhawatiran tidak perlu berlebihan karena seperti ditegaskan juru bicara kepresidenan, Hagia akan menjadi masjid  terbuka (working mosque), terbuka bagi siapa saja seperti halnya gereja-gereja Parisian Sacré-Cœur dan Notre-Dame, tidak mengubah statusnya sebagai warisan dunia UNESCO, dan ikon-ikon kristiani akan tetap dipertahankan.

Yang terakhir ini penting karena dapat menguak harapan dapat memfungsikan Hagia sebagai pusat dialog Timur-Barat yang produktif demi kepentingan kemanusiaan par excellence. Dalam konteks ini posisi geografis Istanbul sebagai jalur persimpangan Timur-Barat mungkin membantu menciptakan situasi yang kondusif. Yang juga mungkin membantu, latar belakang sejarah Turki dan karakter masyarakatnya yang dikenal progresif-berakar-tradisi. Mungkin; wallahualam. Yang jelas, dari pada Yerusalem dengan “Satu-Tuhan-Tiga-Agama”[2] yang terlanjur menjadi sumber konflik, lebih baik Istanbul dengan “Banyak-Budaya-Satu-Komitmen-Kemanusiaan” dengan semangat saling-memahami dan kerjasama global.

Semoga…. @

[1] Pertama dikenal sebagai Gereja Agung (Inggris: Great Church, Yunani: Megale Ekklesia, Latin: Magna Ecclesia) karena besarnya banggunan fisik gereja.

[2] Istilah Karen Amstrong.

Covid-19, Ekonomi dan Penganggur: Kasus Amerika Serikat

Konteks

Covid-19, ekonomi dan penganggur. Tiga kata ini merefleksikan krisis global masa kini. Dampak buruk Covid-19 terhadap ekonomi jelas dan terdokumentasikan secara relatif memadai: statistik untuk menilai secara objektif relatif mudah diakses. Dampak buruk terhadap ketenagakerjaan juga jelas tetapi statistik yang relevan masih langka. Sejauh ini penulis hanya mampu mengakses data Amerika Serikat (AS) yang melalui tulisan ini dimanfaatkan untuk menilai dampak buruk Covid-19 terhadap ketenagakerjaan, menggunakan ukuran angka pengangguran.

Klaim Berlebihan

Bagi AS– tidak mustahil juga bagi negara lain– dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan luar biasa. Angka penganggur negara ini menembus dua digit (10% ke atas) sebagaimana disajikan dalam laporan thebalance berikut:

The current U.S. unemployment rate fell slightly to 13.3% after reaching 14.7% in April 2020. More than 20 million workers were let go from their jobs in response to the coronavirus pandemic. The forecast for second-quarter 2020 is 14% as the economy recovers from the shut-down.

Untuk melihat dimensi sejarahnya dapat dilihat tren angka pengangguran selama 70 tahun terakhir sebagaimana disajikan oleh Grafik 1. Dari grafik ini ada tiga catatan yang layak dikemukakan. Pertama, sejak 1950, angka pengangguran selalu satu digit kecuali pada 1981 (11%) ketika krisis moneter (angka inflasi yang hiper) dan 2009 (10%) ketika terjadi krisis ekonomi. Kedua, pada 2020 angka pengangguran melonjak luar biasa padahal sebelumnya terus turun sejak 2010. Ketiga penurunan angka penganggur sampai 2019 berlangsung sejak 2010.

Catatan terakhir menunjukkan penurunan angka pengangguran berlangsung sejak era Obama, bukan baru terjadi di era Trump sebagaimana sering diklaim oleh Administrasi Trump. Dinyatakan secara berbeda, klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Grafik 1: Tren Angka Pengangguran AS, 1950-2020

Sumber: thebalance

….. klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Pertanyaan Moral

Angka pengangguran 14% (kuartal II 2020) bagi AS luar biasa tinggi karena yang biasa sejak 1942 angkanya hanya satu digit (4-6%). Dalam konteks ini, peristiwa pada 1942 dan 1945 layak dibubuhi catatan khusus:

  • Tahun 1942 adalah tahun ke-3 Perang Dunia II (PD II). Pada tahun ini angka pengangguran AS hanya 5%. Yang menarik, angka itu cenderung turun pada tahun-tahun berikutnya: 2% (1943), 1% (1944) dan 2% (1945).
  • Pada 1945 PD II berakhir. Angka pengangguran hanya 2% sementara angka pertumbuhan ekonomi minus 1%. Yang menarik, tahun berikutnya angka penganggur masih masih relatif rendah (4%) padahal angka pertumbuhan ekonomi minus 12%.

Dari catatan itu dapat ditarik pelajaran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu terkait secara langsung dengan angka pengangguran[1]. Pelajaran lainnya, industri terkait perang “bagus” untuk menekan angka penganggur. Catatan kedua menimbulkan pertanyaan moral: Apakah menekan angka pengangguran melalui pembangunan industri “perang” dapat dibenarkan secara moral? Pertanyaan analog: Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Tidak Sederhana

Gambaran menyeluruh tren angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi (GDP growth) dalam periode 1930-50 disajikan pada Grafik 2. Pada grafik ini tampak kecenderungan penurunan angka pengangguran di era PD II walaupun angka pertumbuhan ekonomi berfluktuasi bahkan negatif.

Grafik 3 menyajikan hal serupa tetapi untuk periode 1951-2000. Pada grafik ini tampak dalam periode 1993-2000, misalnya, kecenderungan umum penurunan angka penganggur sejalan dengan kenaikan angka pertumbuhan ekonomi. Pola serupa juga terjadi dalam dekade terakhir sejak 2011 sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 4.

Grafik 2: Tren Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1930-1950

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 3: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1950-2000

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 4: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 201-2019

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Dari tiga grafik ini tampak hubungan yang tidak sederhana antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi: ada hubungan negatif antara keduanya tetapi tidak selalu. Di sini letaknya arti penting intervensi pemerintah.

…. antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi ada hubungan negatif tetapi tidak selalu.

Intervensi Pemerintah

Melabeli AS sebagai negara liberal secara ekonomi mungkin menyesatkan. Fakta sejarah menunjukkan pemerintah AS seringkali melakukan intervensi terhadap kegiatan ekonomi “pasar-bebas” untuk melindungi kepentingan umum termasuk dalam bidang ketenagakerjaan. Pihak eksekutif tertinggi AS pada umumnya memprakarsai intervensi yang dimaksud seperti terlihat dalam beberapa kasus berikut.

  • Inisiatif Presiden Roosevelt (1933) untuk mengamankan sistem jaminan Bank untuk mengatasi Depresi Besar yang dipicu oleh rontoknya pasar saham (1929).
  • Inisiatif Presiden Truman yang menginstruksikan George yang (diakui sebagai arsitek kemenangan PD II) untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kelesuan ekonomi akibat perang yang melahirkan apa yang dikenal sebagai Marshall Plan (1947).
  • Obama tax cut (2010) untuk keluar dari krisis ekonomi 2009, dan
  • Tumpt tax cut (2018) untuk memberikan dorongan kuat terhadap pertumbuhan ekonomi dan menekan angka pengangguran

Yang terakhir secara luas dinilai berhasil dan keberhasilan ini merupakan andalan Trump dalam memenangkan Pilpres mendatang. Yang layak-catat, inisiatif menambah sekitar $1 triliun utang negara dalam 10 tahun mendatang.

Kebijakan Trump hampir selalu menuai kontroversi khususnya antara kalangan Republik dan kalangan Demokrat. Tapi dalam kasus jaminan penganggur hampir tidak ada yang mengkritik. Langkah ini secara ekonomi memang dinilai paling efektif untuk menggerakkan ekonomi dan mengurang dampak pengangguran. Logikanya sederhana: Uang jaminan pengangguran yang diberikan akan segera dibelanjakan oleh penerima untuk memperoleh kebutuhan pokok. Ini berarti kegiatan ekonomi penyedia barang dan jasa kebutuhan pokok bergerak. Pada gilirannya, ini akan berdampak positif terhadap lapangan kerja jasa keamanan di pasar, jasa transportasi, dan petani. Singkatnya, uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

….. uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

******

Kebijakan Trump terkait jaminan bagi penganggur, karena efektivitas dan kecepatan dampaknya, layak dipertimbangkan oleh pemerintah mana pun termasuk Indonesia. Untuk Indonesia belum tersedia data resmi yang dapat diakses oleh publik) pengangguran akibat Covid-19. Angkanya beredar antara 2-6 juta[2]. Katakanlah angkanya 4 juta dan pemerintah bermaksud memberikan jaminan Rp 1 juta/kepala/bulan maka kebutuhan per bulan hanya Rp 4 triliun. Hemat penulis angka ini relatif kecil terutama jika dilihat sebagai umpan untuk menggerakkan ekonomi.

Wallahualam.…. @

[1] (Orang ekonomi bilang angka penganggur adalah lag variable; artinya variabel itu akan terdampak secara positif (turun) jika pertumbuhan ekonomi terlalu berlangsung beberapa lama.)

[2] Perbedaannya terlalu besar untuk mengandalkan salah satu.

Dampak Ekonomi Covid-19: Lebih Buruk dari Dugaan

Konteks

Kapan pandemi Covid-19 akan berakhir? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Kasusnya di sebagian kawasan menurun secara meyakinkan tetapi di sebagian kawasan lainnya naik juga secara meyakinkan. Isyarat lonjakan kasus baru kini semakin memprihatinkan. Kasus semacam ini dilaporkan dialami, misalnya, di 36 negara bagian AS. Di Yaman yang dua bulan lalu memiliki kasusnya paling rendah (hanya 1 kasus), sebagai misal lain, kini mengalami lonjakan kasus yang cenderung meningkat. Yaman kini menjadi easy target (istilah penyiar BBC-TV) bagi pandemi Covid-19. Yang layak-catat, di luar dugaan sebelumnya, Covid-19 kini cenderung menyasar kelompok usia muda: median umur korban pandemi cenderung turun. Menurut laporan Wapres AS, sekitar 50% kasus baru di AS berusia kurang dari 35 tahun.

Yang menambah komplikasi, pandemi Covid-19 ini berdampak sangat negatif terhadap sektor ekonomi yang pada gilirannya menyulitkan semua sektor lainnya. Pertanyaannya bukan ya atau tidak tetapi seberapa besar dampak buruk itu. Isu inilah yang dicoba diulas secara sekilas dalam tulisan ini.

Tertolong China

World Economic Outlook (WEO) menduga ekonomi global akan mengalami kontraksi. Lembaga ini menaksir pertumbuhan Real GDP global pada 2020 bukan hanya turun tetapi negatif atau minus. Jika Real GDP dianalogikan dengan kue maka pertumbuhan negatif berarti berkurangnya ukuran kue (global) yang pada gilirannya berarti semakin kecil ukuran kue yang dapat dinikmati masyarakat global. Demikianlah halnya karena populasi global diproyeksikan masih akan tumbuh sampai akhir abad 21 ini[1]. Ini isu kompleks. Untuk menambah kompleksitas, pembagian jatah kue antar negara sepanjang sejarah selalu timpang dan bias ke arah negara-negara maju.

Menurut sumber yang sama pertumbuhan “kue” global minus  3.0% pada 2020 dan diharapkan plus 5.8% pada 2021. Ini taksiran April 2020. Taksiran ini dinilai terlalu optimistis sehingga WEO merevisinya Juni ini: real GDP global minus -4.9% pada 2020 dan plus 5.4% pada 2021. Dinyatakan secara berbeda, dampak pandemi Covid-19[2] terhadap ekonomi global lebih buruk dan pemulihannya lebih lambat dari yang diduga sebelumnya.

Global growth is projected at –4.9 percent in 2020, 1.9 percentage points below the April 2020 World Economic Outlook (WEO) forecast. The COVID-19 pandemic has had a more negative impact on activity in the first half of 2020 than anticipated, and the recovery is projected to be more gradual than previously forecast. In 2021 global growth is projected at 5.4 percent. Overall, this would leave 2021 GDP some 6½ percentage points lower than in the pre-COVID-19 projections of January 2020. The adverse impact on low-income households is particularly acute, imperiling the significant progress made in reducing extreme poverty in the world since the 1990s.

Angka global itu sebenarnya tertolong kinerja ekonomi China yang pada 2020 real GDP-nya masih diduga masih akan positif, plus 1%. Dari 30 negara yang dilaporkan WEO, hanya dua negara yang dalam 2020 pertumbuhannya positif, China dan Mesir (plus 2%).

The COVID-19 pandemic has had a more negative impact on activity in the first half of 2020 than anticipated, and the recovery is projected to be more gradual than previously forecast (WEO).

Kinerja Indonesia

Sebagaimana dilaporkan WEO, angka kontraksi ekonomi 2020 bervariasi antar negara. Di lima negara angka kontraksi (diukur dengan pertumbuhan real GDP) mencapai dua digit: Italia dan Spanyol; masing-masing minus 12.8%; Prancis, Inggris dan Mexico masing-masing minus 12.5%, 10.5% dan 10.2%. Tabel 1 menunjukkan angka lebih lengkap dan Grafik menyajikan gambaran visual untuk 2020

Seperti terlihat pada Grafik 1, angka untuk Indonesia paling rendah dibandingkan dengan angka dari 30 negara yang dibandingkan (kecuali China dan Mesir yang angkanya positif). Dengan angka minus 0.3% Indonesia sebenarnya  “lebih tangguh” dari tiga negara jiran yaitu Thailand, Malaysia dan Filipina yang mengalami kontraksi ekonomi (dikur dengan pertumbuhan real GDP) masing-masing 7.7%, 3.8% dan 3.6%. Yang layak-catat, WEO menaksir pertumbuhan real GDP Indonesia pada 2021 sekitar 6.1%, lebih rendah dari angka-angka Malaysia (6.3%) maupun Filipina (6.8%).

…. Dengan angka minus 0.3% Indonesia sebenarnya “lebih tangguh” dari Thailand, Malaysia dan Filipina yang mengalami kontraksi ekonomi masing-masing 7.7% 3.8% dan 3.6%.

Tabel 1: Pertumbuhan Negatif Real GDP di 30 Negara Terpilih

(2020 dan 2021 Angka Proyeksi)

Sumber: WEOA Crisis like No Other, An Uncertain Recovery”

 

Grafik 1: Proyeksi Pertumbuhan Real GDP di 30 Negara Terpilih 2020

Sumber: WEOA Crisis like No Other, An Uncertain Recovery”

 

*****

Semua angka pada Grafik 1 tidak perlu dibaca secara harfiah tetapi layak dicermati sebagai probable arah dalam waktu dekat ini. Argumennya, sebagaimana layaknya semua taksiran manusiawi, taksiran WEO mengandung faktor ketidakpastian (uncertainty). Dalam hal ini WEO mengakuinya secara terbuka sebagaimana terungkap dalam judul artikelnya: A Crisis like No Other, An Uncertain Recovery. Catatan ini sejalan dengan kekhawatiran global mengenai kemungkinan merebaknya gelombang ke-2 pandemi Covid-19 yang gejala-gejalanya terus bermunculan dan rajin diwanti-wanti oleh WHO. Pada analisis terakhir, siapa yang dapat memastikan apa yang akan terjadi hari besok (QS 18:23)?

Wallahualam.…. @

[1] Mengenai isu ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/06/22/global-population-21th-century/

[2] Faktor lain tentu berkontribusi termasuk melemahnya “wibawa” WTO sebagaimana terlihat dari nasehatnya yang diabaikan dalam kasus Brexit Inggris dan perseteruan AS-China.