Al-Ghazali dalam Pandangan Jackson

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Konteks

Abad 8-14 dikenal sebagai era emas dalam sejarah Islam (the Islamic Golden Age). Era emas tidak berarti ada stabilitas politik. Di era Imam Ghazali (1058-1111), misalnya, dunia Islam tidak menikmati kesatuan politik: di Spanyol ada Dinasti Umayyah, di Afrika Utara dan sekitar ada Dinasti Fatimiyah (Syiah), dan di Baghdad ada Dinasti Abbasiyah (Suni). Yang terakhir semakin menua di dalam penjara istananya sendiri tanpa kekuatan politik riil dan berperan sekadar simbol kesatuan dunia Islam. Kekuatan politik riil dalam genggaman dinasti Buyids (Syiah) dan itu sudah berlangsung seabad: abad ke-10 dikenal sebagai dekade Syiah. Tiga tahun sebelum Sang Imam dilahirkan Baghdad ditaklukkan oleh suku Saljuk (Turki)[1].

Tulisan mengenai Imam Ghazali (selanjutnya Sang Imam) melimpah. Dalam konteks ini layak disimak pandangan seorang ahli dalam bidang pemikiran filsafat dan keagamaan dari Universitas Gloucestershire (Inggris). Beliau adalah reader dan pengajar di universitas itu untuk kajian Islam, Nietzsche, filsafat Yunani…

View original post 1,036 more words

HUSTON DAN AL-FATIHAH

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Mengaitkan Huston dan Al-Fatihah menarik paling tidak karena tiga alasan. Pertama, Huston[1](1919-2016) adalah tokoh berkaliber dunia dalam bidang studi keagamaan. Kedua, dari sisi afiliasi keagamaan beliau adalah seorang Metodis (Protestan), bukan Muslim. Paling tidak demikianlah beliau dikenal. Ketiga, dari sisi kebiasaan, lebih dari 20 tahun dari masa akhir hidupnya, beliau terbiasa memulai kegiatan hariannya dengan Salat Subuh. Paling tidak demikianlah pengakuannya dalam satu wawancara yang direkam dalam berbagai media termasuk bukunya yang berjudul The Way Things Are (2003).

Yang lebih menarik lagi, ketiga ditanya alasan kebiasaanya Salat Subuh, beliau mengemukakan al-Fatihan– surat pendek Al-Quran yang hanya terdiri dari tujuh ayat, bacaan wajib dalam Salat– sebagai konsiderans. Ini katanya: “That so much of what is important in life could be packed into just seven short phrases is almost in itself that Islam is a revealed religion (WTA, halaman 18). Berikut adalah garis argumennya.

AYAT 1: ALHAMUDULILLAH…

View original post 401 more words

Zikir: “Belum Tibakah Waktunya…”

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Kata Zikir mengandung banyak arti, tergantung sisi pandang. Dari sisi bahasa (lughah) Zikir bermakna mengingat. Dari sisi istilah Zikir, menggunakan bahasa santri, kegiatan “membasahi lidah” dengan menyebut nama-Nya; jadi, lebih merupakan pekerjaan lisan (lisaniah). Tetapi seperti diingatkan Imam Nawawi, Zikir juga pekerjaan hati (qalbiah). Bagi ulama besar ini yang ideal adalah Zikir dengan lisan dan hati sekaligus, tetapi jika harus memilih maka pekerjaan hati yang utama.

Dari sisi etimologi Zikir berasal dari kata “dzakara”. Arti kata ini luas sehingga agaknya mustahil dialih-bahasakan menjadi satu kata dalam bahasa Non-Arab. Kata ini antara lain menyebut, mengingat, menyucikan, memuji, menggaungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, menasihati. Dengan demikian, melafalkan bacaan untuk menyucikan-Nya (tasbih), memuji-Nya (tahmid) dan mengagungkan-Nya (takbir) merupakan salah satu bentuk praktik Zikir. Kegiatan ini sangat diajurkan untuk dilakukan setiap setelah Salat.

Tidak Mengenal Waktu

Anjuran Zikir dalam bentuk tasbih, tahmid dan takbir setelah Salat berdasarkan Hadits Nabi SAW. Yang…

View original post 560 more words

Covid-19: Indonesia dalam Dunia

Dalam seminggu terakhir (cases in the last 7 days) kasus global infeksi Covid-19 yang terkonfirmasi dilaporkan sekitar 2.4 juta kasus. Ini laporan mingguan yang jika dibandingkan dengan laporan harian lebih cermat karena dampak ketepatan waktu laporan diduga sudah sangat berkurang. Karena alasan yang sama, perubahan angka mingguan lebih cermat dari perubahan angka harian untuk menggambarkan perubahan keadaan kasus Covid-19 terkini.

Dalam seminggu terakhir sebelumnya (cases in the preceding 7 days) secara global terkonfirmasi sekitar 2.6 juta kasus. Ini berarti dalam dua minggu terakhir terjadi kenaikan kasus (weekly case % change) sekitar 3% (dari 2.4 juta ke 2.6 juta). Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia?

Data worldmeter per 2 Juli 2021 menunjukkan bahwa dalam seminggu terakhir sekitar 46% kasus global merupakan sumbangan lima negara “terbesar” yaitu Brasil, India, Kolombia, Rusia dan Indonesia. Jadi, Indonesia termasuk lima negara terbesar dalam konteks sumbangannya terhadap kasus Covid-19 global.

Berbeda situasi global yang mengalami kenaikan kasus mingguan sekitar 3% (seperti disinggung sebelumnya), situasi di Brasil dan India mengalami penurunan kasus mingguan yang lumayan besar masing-masing 3% dan 14%.

Indonesia, seperti halnya Kolombia dan Rusia, mengalami kenaikan kasus. Yang layak catat, kenaikan bagi Indonesia mencapai 44%, jauh lebih tinggi dari angka kenaikan Kolombia (5%) maupun Rusia (20%). Singkatnya, di antara lima negeri terbesar Indonesia adalah ‘juara’ dalam hal kecepatan penambahan kasus mingguan. Tabel 1 menyajikan angka-angka yang dimaksud.

Sekadar untuk ‘menghibur diri’, Indonesia masih ‘dikalahkan’ Spanyol (+80%), Inggris (70%), Tunisia (69%), dan Bangladesh (53%). (Tidak disajikan dalam tabel.)

Table: Covid-19 Cases in 5 Largest Countries

Cases in the last 7 days Case in the preceding 7 days Change (%)
(1) (2) (3) (4)=[(2)-(3)]/(3)
World 2,642,497 2,571,772 3
Brazil 378,821 539,442 -30
India 320,520 371,453 -14
Colombia 209,284 200,189 5
Russia 149,447 124,648 20
Indonesia 149,113 103,719 44
Subtotal 1,207,185 1,339,451 -10
% subtotal 46 52

Sumber: Worldmeter

Proporsi Ilahi

Mereka yang pernah belajar matematik umumnya mengenal deret Fibonacci ini: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, …Tiga titik terakhir menunjukkan deret itu dapat dilanjutkan secara tak-terhingga. Deret ini dapat dikatakan sederhana karena angka pada setiap suku mudah ditebak: perjumlahan dari dua suku sebelumnya. Dengan demikian, setelah 144 kita dapat menduga dua angka berikutnya adalah 233 dan 337.

Berdasarkan deret itu dapat disusun deret rasio dari dua suku yang berurutan (tentu saja hanya dapat dimulai dari suku-3) sebagai berikut:

1,000, 2,000, 1,667, 1,600, 1,625, 1,615, 1,619, 1,618, 1,618 dan 1,618

Yang menarik, tiga angka terakhir ini adalah 1,618 dan, ini lebih menarik, angka ini tidak berubah secara signifikan pada suku-suku berikutnya (sejauh menggunakan tiga digit di belakang koma). Sebagai contoh: 233/144=1,618, 377/233=1,618, dan 610/377=1,618.

Rasio ini telah ‘menyihir’ banyak matematikawan kaliber dunia sejak abad ke-5 SM. Mereka juga menyusun beragam formula; satu di anatarnya yang mungkin paling mudah dipahami adalah formula Binet: [1+sqrt(5)] /2. Rasio inilah yang dikenal sebagai ‘rasio emas’ oleh para metmatikawan dan ‘proporsi ilahi’ oleh para artis abad renaisans:

The Golden Ratio (phi = φ) is often called The Most Beautiful Number In The Universe. The reason φ is so extraordinary is because it can be visualized almost everywhere, starting from geometry to the human body itself! The Renaissance Artists called this “The Divine Proportion” or “The Golden Ratio”.

Alasan pemberian nama itu, seperti yang terlihat dalam kutipan, karena rasio itu hampir selalu termanfastasikan di manapun, termasuk, misalnya, di dunia flora (seperti rasio diameter dua kuncup bunga matahari yang berdekatan), organisme DNA, system matahari (solar system), seni-arsitektur, dan struktur tubuh manusia. Dalam seni-arsitektur,  misalnya, rasio emas digunakan secara ekstensif dalam bangunan The Great Pyramid of Giza, Notre Dame, The Vitruvian Man, The Last Supper, dan The Parthenon. Dalam struktur tubu manusia, sebagai misal lain, penggunaan ratio emas terlihat dalamkutipan berikut:

  • … jika Anda membagi panjang dari kepala sampai ujung kaki dengan panjang dari pusar sampai ujung kaki, Anda akan menemukan jawabannya cenderung mendekati φ..
  • Sekarang, bagi panjang dari bahu ke ujung jari telunjuk dengan panjang dari siku ke pergelangan tangan (dari lengan yang sama) dan Anda akan mendapatkan φ .!!
  • Bagilah panjang dari atas kepala hingga bahu dengan panjang dari atas kepala hingga dagu, φ lagi!
  • Bagian atas kepala sampai pusar dengan panjang antara kepala dan bahu…φ lagi!!!
  • Jarak antara pusar dan lutut, dengan jarak antara lutut dan bagian bawah kaki …. φ lagi!
  • Sekarang bagi panjang wajahmu dengan lebar wajah…… φ lagi!!
  • Lebar dua gigi atas Anda dengan tingginya, dan Anda akan mendapatkan φ lagi!
  • Bibir ke alis dibagi panjang hidung, φ lagi!

Secara singkat, struktur fisik bagian-bagian tubuh proprsional dengan proporsi ilahi (meminjam istila para artis era Renaissance), φ. Mungkin ini maksud ayat yang mengatakan manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (QS 95:4, ahsanu taqwim) walaupun harkatnya dapat tergradasi “lebih rendah dari bintang ternak” (QS 7:179). Rasio ini mungkin isyarat sekaligus tantangan-Nya yang diwahyukan lebih dari 14 abad lalu bahwa: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami pada ufuk-ufuk dan pada diri mereka sendiri… “ (QS 41:153).

Wallahu’alam…. @