Zikir: “Belum Tibakah Waktunya…”

Kata Zikir mengandung banyak arti, tergantung sisi pandang. Dari sisi bahasa (lughah) Zikir bermakna mengingat. Dari sisi istilah Zikir, menggunakan bahasa santri, kegiatan “membasahi lidah” dengan menyebut nama-Nya; jadi, lebih merupakan pekerjaan lisan (lisaniah). Tetapi seperti diingatkan Imam Nawawi, Zikir juga pekerjaan hati (qalbiah). Bagi ulama besar ini yang ideal adalah Zikir dengan lisan dan hati sekaligus, tetapi jika harus memilih maka pekerjaan hati yang utama.

Dari sisi etimologi Zikir berasal dari kata “dzakara”. Arti kata ini luas sehingga agaknya mustahil dialih-bahasakan menjadi satu kata dalam bahasa Non-Arab. Kata ini antara lain menyebut, mengingat, menyucikan, memuji, menggaungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, menasihati. Dengan demikian, melafalkan bacaan untuk menyucikan-Nya (tasbih), memuji-Nya (tahmid) dan mengagungkan-Nya (takbir) merupakan salah satu bentuk praktik Zikir. Kegiatan ini sangat diajurkan untuk dilakukan setiap setelah Salat.

Tidak Mengenal Waktu

Anjuran Zikir dalam bentuk tasbih, tahmid dan takbir setelah Salat berdasarkan Hadits Nabi SAW. Yang menarik, Hadits ini merujuk pada angka 33. Maksudnya, masing-masing kegiatan itu dianjurkan dilakukan sebanyak 33 kali setiap habis Salat. Ini berarti seorang mushalli (orang yang mendirikan Salat) terbiasa bertsabih, bertahmid, dan bertakbir masing-minimal 165 kali dalam setiap harinya.

Entah apa makna angka itu tetapi itulah tradisi Nabi SAW. Melalui tradisi ini beliau agaknya ingin mengajarkan Umat untuk membiasakan memperbanyak Zikir. Ini sejalan dengan penegasan QS (33:41-42):

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah (teks: uzkurullaha), dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

Kalangan sufi melihat perintah ini serius sehingga mengabaikannya dianggap alpa (gaflah)[1]: bagi mereka setiap tarikan nafas harus disertai Zikir. Intensitas semacam inilah yang agaknya yang dimaksudkan Laude[2] Ketika dengan istilah pray without ceasing.

Tidak Mengenal Kondisi

Berbeda dengan ibadah lainnya, Zikir tidak mengenal kondisi; artinya, dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Ini berbeda dengan ibadah lain:

  • Haji dan Zakat hanya diwajibkan bagi yang mampu; 
  • Puasa bisa ditunda waktunya karena alasan yang tepat (sakit, misalnya); bahkan bagi yang “berat menjalankannya” (sudah sangat tua, orang yang hamil atar menyusui), ibadah ini dapat digantikan dengan ibadah lain yang bersifat sosial (“fidyah, memberi makan orang miskin”);  
  • Salat bisa digabungkan waktunya (jama’) atua dikurangi jumlah rakaatnya (qashar) karena alasan yang tepat (dalam perjalanan, misalnya); bahkan terlarang bagi wanita yang tengah datang bulan; dan
  • Puasa dan Salat waktunya tertentu.

Zikir terbabas dari semua kondisi semacam itu dan dapat dipraktikkan sambil berdiri, duduk dan berbaring, misalnya (lihat QS 3:191).

Zikir … dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Signifikansi Zikir

Kata Zikir banyak ditemukan dalam Al-Quran. Dua ayat di antaranya terkait dengan Salat:

  • QS (20:14): Perintah Salat kepada Musa AS dalam rangka Zikir, dan
  • QS (29:45): Zikir lebih utama (teks: akbar) dibandingkan dengan Salat (atau ibadah lain).

Dua ayat ini menunjukkan keutaman Zikir. Ayat lain (QS 57:16) menunjukkan bahaya menunda-nunda Zikir arena konsekuensinya yang serius: keras hati dan fasik:

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada (mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.

(Teks-teks ayat dapat diakses di sini).

Bahasa ayat ini sangat kuat (qaulan tsaqila), gaya bahasa khas Al-Quran[3]. Bahasanya selain kuat juga bersifat perintah, instruktif. Bahasa kuat dan instruktif juga dapat ditemukan dalam Schuon ketika berbicara mengenai Zikir dalam kaitannya dengan realisasi spiritual. Ini ungkapannya[4]:

Spiritual realization is theoretically the easiest thing and in practice the most difficult thing there is. It is the easiest because it is enough to think of God. It is the most difficult because human nature is forgetfulness of God. 

Realisasi spiritual secara teoritis paling mudah tapi dalam praktek paling sulit: paling mudah karena caranya hanya mengingat Tuhan (Zikir), paling sulit karena sifat manusia melupakan Tuhan.

Wallahualam…. @

 

[1] Gaflah bagi sufi setara dengan dosa bagi kebanyakan sehingga mereka berupaya untuk mehindarinya.

[2] Patrik Laude (ed.), Pray Without Ceasing: The Way of the Invocation in World Religions, World Wisdom (2006). Dalam buku ini Laude menunjukkan bahwa tradisi Zikir dapat ditemukan dalam semua agama dan tradisi besar.

[3] Lihat QS (73:5).

[4] Frithjof. Schuon, Spiritual Perspective and Human Facts, World Wisdom (1987).

Terorisme Global: Definisi dan Peta_Batin Global

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Menjelang abad ke-21 masyarakat global optimis akan memasuki abad baru yang lebih aman_damai. Belum genap tahun kedua abad ke-21 masyarakat global menyaksikan serangan brutal terhadap menara kembar WTO di New York pada 11/9/2001. Serangan itu memicu kemarahan besar warga Amerika Serikat (AS) yang oleh pemerintahnya diterjemahkan apa adanya dalam bahasa politik: perang global terhadap terorisme global. Dalam waktu singkat, optimisme akhir abad ke-20 berganti menjadi ledakan kemarahan di satu sisi, dan frustasi di sisi lain. Inilah peta_batin global. Artikel pendek ini, dinarasikan dalam 740 kata, menyajikan ilustrasi singkat mengenai peta_batin semacam itu serta tantangannya. Bagi yang berminat mengakses silakan kilik: Terorisme Global

View original post

Takdir Manusia

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Takdir Manusia (Human Destiny)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Takdir manusia adalah mengetahui. Mengetahui apa? Mengetahui yang Mutlak (the Absolute) atau yang Riil (the Real), yang berbeda dengan yang relatif atau yang tidak (kurang) riil. Kemampuan membedakan itulah fungsi intelegensi; tanpa fungsi itu intelegnsi bukan apa-apa. Pengetahuan mengenai yang Mutlak menghadirkan kesadaran mengenai keberadaan pusat (sense of the center) yang dibutuhkan agar tidak tersesat atau terombang-ambing tanpa arah. Thawaf, ritual mengeliling Ka’bah, antara lain dimaksudkan untuk memperkuat kesadaran ini. Pengetahuan mengenai yang Mutlak juga menghadirkan perasaan mengenai kesucian (sense of the holy) yang dibutuhkan agar tetap bermartabat sebagai manusia.

dest_3

Mengetahui Dia yang Mutlak adalah alasan hakiki keberadaan manusia. Tanpa pengetahuan itu kita tak_layak dikategorikan sebagai manusia karena tidak sesuai dengan takdir atau alasan keberadaannya. Simak dan renungkanlah hadits qudsi ini: “Aku adalah harta karun; Aku ingin dikenal maka Aku menciptakan”. Menciptakan apa?…

View original post 598 more words

Statistik dan Negara: Tinjauan Etimologis

Secara etimologís, barbicara statistik berarti berbicara mengenai negara (state). Ini berarti, asal kata statistik, atau lahirnya kata statistik, dengan satu dan lain cara, sealu terkait dengan negara. Terkaiit artinya tidak independen. Implikasinya, istilah lembaga statistik yang independen dengan pemerintah (yang mewakili negara) bertentangan dengan kata statistik itu sendiri (ditinjau dari perspektif etimiologis). Istilah yang lebin kena agaknya ini: lembaga statistik yang memiliki otonomi penuh dalam kegiatan profesionalnya mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan mendiseminiasi data statistik. Kata kuncinya, otonomi.

Soal cara bagaimana kegiatan profesional itu diselnggarakan, itu merupakan otonomi dari lembaga statistik; tidak ada pihak yang berhak mencampuri lumbaga itu, termasuk pemerintah. Tapi soal data apa yang dikumpulkan harus relevan tengan kepentingan pemerintah (yang mewakili negara). Singkatnya, lembaga statistik independen dengan pemerintah dalam tataran metodologi terapi tidak bisa dari sisi substansi.

Secara etimologis kata statistik (statistics), dengan satu dan lain cara, selalu terkait dengan negara (state). Kaitan mendasar antara keduanya itu terungkap secara padat dalam kutipan berikut ini (Sumber: https://www.etymonline.com/search?q=statistics)

statitistics (n), 1770, “science dealing with data about the condition of a state or community” [Barnhart], from German Statistik, popularized and perhaps coined by German political scientist Gottfried Aschenwall (1719-1772) in his “Vorbereitung zur Staatswissenschaft” (1748), from Modern Latin statisticum (collegium) “(lecture course on) state affairs,” from Italian statista “one skilled in statecraft,” from Latin status “a station, position, place; order, arrangement, condition,” figuratively “public order, community organization,” noun of action from past participle stem of stare “to stand” from PIE root *sta- “to stand, make or be firm.”

Dari kutipan di atas data dilihat bahwa kata statstik berasal atau terkait dengan kata atau ungkapan berikut: 

  • Statistik (Jerman), dengan huruf besar S: “sains yang berurusan dengan negara dan masyarakat” (“science dealing with data about the condition of a state or community” Barnhart (1770). Istilah ini dipopulerkan atau bahkan mungkin ditemukan oleh pakar ilmu politik Gottfried Aschenwall (1719-1772)dalam bukunya “Vorbereitung zur Staatswissenschaft” (1748).
  • statisticum (collegium) (Modern Latin): “(mata kuliah) urusan kenegaran,“(lecture course) on state affairs. 
  • statista, (Italia), “orang yang terlatih dalam urusan kenegaraan” (“one skilled in statecraft”),
  • status (Latin): staiun, posisi, tempat; tatanan, pengaturan, kondisi “a station, position, place; order, arrangement, condition,”; secara figurative ketertiban masyarakat, organisasi komunitas (figuratively “public order, community organization,”)
  • [stem of stare (Latin), kata benda aksi masa lalu: “untuk berdiri kokoh” (to stand, make be firmed).]

Dari poin pertama jelas statistik adalah sains; artinya, sesuatu berhubungan dengan apa yang diketahui, “what is known, knowledge (of something) acquired by study; information”. Ini definsi pertengahan abad ke-14. Sebagai catatan akhir, dalam ranah sains, kita tidak boleh berbicara sebelum kita ketahui:

In science you must not talk before you know. In art you must not talk before you do. In literature you must not talk before you think. [John Ruskin, “The Eagle’s Nest,” 1872]. Sumberhttps://www.etymonline.com/search?q=statistics.

 

Narasi Induk Dakwah: Penjajagan Awal

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Jika dakwah dianggap identik dengan kegiatan pelayanan publik– dalam arti menyangkut kepentingan orang banyak– maka dakwah memerlukan semacam Rumah Cerita (Story House). Itu diperlukan untuk mamastikan materi dakwah bersifat islami (terkait secara genuine dengan ajaran Islam), bukan islamawy . Istilah terakhir ini merujuk pada pseudo atau lawan islami,  tampak luarnya saja yang islami tetapi hakikatnya tidak.

Tulisan singkat INI menyajikan upaya awal untuk mengembangkan Rumah Certa Dakwah.

View original post