Rahman: Pendalaman Makna

Kata Rahman dalam Basmalah[1] umumnya diterjemahkan atau dialihbahasakan menjadi ‘Yang Maha Pengasih”. Tantangannya, terjemahan atau alih-bahasa, selalu bersifat pendekatan. Implikasinya, mengandalkan arti kamus (leksikal) untuk memahami suatu Bahasa asing umumnya tidak memadai bahkan dapat mengecoh. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang turis Australia yang berbahasa ibu Inggris dan mengandalkan kamus Indonesia-Inggris mendengar kalimat ini: “Awas, nanti tak pukul!” Sekalipun dia tahu arti kata per kata kalimat itu orang itu berpotensi keliru paham. Sebagai ilustrasi lain, ketika membaca ayat terakhir al-Fatihah dan menagrtikan hanya dengan mengandalkan pendekatan leksikal maka kita berpotensi menarik kesimpulan kata yang tersesat (الضالين) adalah sesuatu yang positif; nalarnya, kata itu didahului dua kata yang bersifat negatif yaitu ghair (غير) dan la(لا).

Mencakup Semua

Dari sisi morfologi kata Rahman memiliki timbangan atau wazan فعلان (fa’laan), tanpa tanwin (غيرمنصرف). Dengan timbangan yang sama kita dapat mengidentikasi kata-kata, misalnya, غضبان (ghagbaan), فرحان (farhaan), سكران (sakraan), عطشان (athshaan) dan كسلان (kaslaan). Masing-masing kata ini mengandung arti marah, bahagia, mabuk, haus dan malas.

Catatan pertama mengenai timbangan ini adalah bahwa kandungan maknanya memiliki arti sangat atau superlatif. Demikianlah sehingga kata-kata   غضبان dan  فرحان, misalnya, berarti yang sangat pemarah dan yang sangat berbahagia[2]. Analog, kata-kata سكران, عطشان  dan كسلان masing-masing berarti yang sangat pemabuk, yang sangat kehausan, yang sangat pemalas. Dengan nalar ini al-Rahman diterjemahkan yang Maha Pengasih. 

Imbuhan Maha mengandung arti bahwa kasih-Nya mencakup semua makhluk dan tanpa kenal pilih kasih. Dengan demikian tidak mengherankan jika kita bertemu dengan orang berperilaku sangat buruk tetapi sangat beruntung dari sisi kekayaan. Dengan gambaran ini para ulama sepakat bahwa al-Rahman adalah sifat-Nya yang eksklusif; artinya, selain-Nya tidak ada yang layak memiliki sifat itu. 

Makna Sementara

Normalnya tidak ada orang yang selalu dalam keadaan marah, bahagia mabuk atau malas. Dengan kata lain, keadaan-keadaan semacam itu normalnya bersifat sementara. Ini adalah catatan kedua dari timbangan فعلان. Dengan nalar ini para ulama memahami al-Rahman berlaku bagi semua makhluk-Nya tanpa kecuali, tetapi waktunya terbatas di dunia ini. 

Makna keterbatasan waktu ini diisyaratkan[3] oleh cara penulisan tanpa mencantumkan huruf Alif (= الرحمن). Ini berbeda dengan cara penulisan ‘normal’ timbangan ini yaitu الرحمان.

Sebagai perbandingan, berbeda dengan Rahman, kata Rahim[4] yang berwazan فعيل (faiil) mengandung arti permanen, tetap, atau abadi (dalam konteks Basmalah). Itulah sebabnya para ulama umumnya memahami Rahim merujuk pada sifat sayang-Nya yang abadi di akhirat. Ini jelas anugerah hanya bagi orang yang terpilih. Menurut Bahasa seorang teman: “Sayang pasti kasih tetapi kasih belum tentu sayang”. 

Bagi yang percaya kepada hari pembalasan, nikmat di dunia, seberapa pun besarnya, dinilai relatif kecil (Jawa/Sunda: alit) dibandingkan dengan nikmat di akhirat. Di lingkungan Muslim, pemahaman ini sudah dikenalkan sejak dini kepada anak-anak sehingga, ketika diberi pelajaran Basmalah, mereka harus menghafalkan seperti ini: 

Al-Rahman, nu maparin nikmat alit di dunia; al-Rahim, nu maparin nikmat ageung di akhirat.

Al-Rahman sebagai Kata Ganti 

Para ulama umumnya sepakat bahwa Rahman adalah sifat Allah SWT. Penyifatan ini tak-terbantahkan karena bukan merupakan produk dari kajian para ulama atau manusiawi, melainkan didasarkan dari firman-Nya: كتب على نفسه الرحمه  (QS 6:12). 

Sebagia ulama cenderung menempatkan Rahman dalam kedudukan sebagai kata ganti (Arab: بدل ) dari lafadh Allah SWT. Dalam kedudukan ini maka lafadh Rahman dapat menggantikan lafadh Allah SWT. Pandangan ini juga bukan tanpa dasar. Sebagai alasan, kata ini digunakan oleh Maryam AS ketika didatangi ‘laki-laki’:

قَالَتْ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحْمَـٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّۭا

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada al-Rahman, jika kamu seorang yang bertakwa”. QS(19: 18).

Kata ini juga digunakan oleh Ibrahim AS kepada bapaknya (QS 19:44-35):

يَـٰٓأَبَتِ لَا تَعْبُدِ ٱلشَّيْطَـٰنَ ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَـٰنَ كَانَ لِلرَّحْمَـٰنِ عَصِيًّۭا

يَـٰٓأَبَتِ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌۭ مِّنَ ٱلرَّحْمَـٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَـٰنِ وَلِيًّۭا

Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari al-Rahman, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada al-Rahman.

Bagi penulis, QS(17:110) terkesan lebih langsung dalam memposisikan al-Rahman sebagai kata ganti Allah SW:

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّۭا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).

Juga bagi penulis, kutipan-kutipan ayat di atas mengesankan makna al-Rahman yang sangat luas dan dalam dalam arti melampaui maka leksikal maupun qiyas lughahnya.

Wallahualam…. @ 

Catatan: Tulisan serupa dengan tulisan ini dapat diakses di https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2021/12/29/basmalah-analisis-bahasa/


[1] بسم الله الرحمن الرحيم

[2] Kata Arab untuk orang yang marah dan orang yang berbahagia menggunakan timbangan فاعل (fa’ilun): غاضب dan فارح.

[3] Makna isyarat tidak baku. Isyarat keerdipkan mata, misalnya, bisa ditafsirkan macam-macam, tergantung GR atau tidak.

[4] Kata Rahim, seperti kata Rahman, termasuk ism mubalagah yang mengandung arti superlatif.

Pakta Primordial dan Pencarian Mistis

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Sebelum diciptakan setiap manusia membuat pakta atau perjanjian primordial dengan al-Khaliq. Pacta ini tak-terelakkan dan mendorong manusia untuk melakukan pencarian mistis. Keberhasilan pencarian ini menentukan derjat manusia dari yang terndah sampai tertinggi. Upaya pencarian ini berat terutama bagi manusia kontemporer yang menjadi ‘korban’ aliran filsafat modern: manusia kontemporer mengalami dahaga tanpa mengetahui dahaga akan apa.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik: Pakta Primordial

View original post

Rabb: Pendalaman Makna

Rabb adalah kata Arab yang umumnya diterjemahkan sebagai Tuhan. Demikianlah sehingga rabb al-‘aalaim dalam Surat al-Fatihan diterjemahkan sebagai Tuhan alam semesta. Ini adalah potongan dari ayat pertama atau kedua al-Quran, tergantung pada apakah Basmalah merupakan bagian dari Surat itu atau bukan[1]. Ayat lengkapnya adalah hamdalah: ‘Alhamdu lillahi rabbi al-‘lamain’. Tulisan ini menganalisis ayat ini dengan fokus pada kata  Rabb.

Komposisi Hamdalah

Hamdalah yang biasa diterjemahkan dengan ‘Segala puji Bagi Allah Tuhan semesta alam’ terdiri dari empat kata (Arab: كلمة):

الحمد\ل\الله\رب\العالمين

Kedudukan kata pertama adalah subyek (Arab: مبتداء ); dua kata berikutnya sebutan (Arab: خبر) karena kemapuannya memberi makna (Arab: متم الفائدة ) kepada subyek. Kedudukan dua kata terakhir agak kompleks. Sebagian ahli Nahwu menganggap rabb ‘aalamin sebagai sifat (Arab: صفة ) atau julukan (Arab: نعت) dari lafadh al-Jalaalah yaitu Allah SWT; sebagian lagi menganggapnya sebagai kata ganti (Arab: بدل ) dari lafadh itu. Jika dianggap sebagai kata ganti maka dapat dikatakan ‘Allah SWT itu Rabb alam semesta’, tetapi dapat juga dikatakan ‘Rabb alam semesta adalah Allah SWT.

Pertanyaannya, apakah arti kata Rabb? Bagi yang merasa cukup dengan terjemahan Tuhan untuk kata itu maka pembahasan selesai sehingga tidak perlu melanjutkan bacaan ini. Bagi yang meminati kedalaman makannya—misalnya karena menyadari ayat al-Quran selalu mengandung makna yang mendalam bahkan transedental[2] dalam arti tidak ada tafsir final– maka tulisan ini diharapkan dapat membantu. Kesadaran akan makna transcendental itu yang membuat para ulama selalu menghakhiri kajian keagamaan dengan ucapan “Allah lebih Tahu” (والله اعلم). Ini adalah ucapan yang menggungkapkan adab menaggungkan-Nya (Arab: للتعظيم)[3], sekaligus mencerminkan kerendahan hati secara intelektual.  

Rabb: Arti Dasar

Menurut Ibn Faris, lafadh Rabb adalah sesuatu yang awal atau bersifat prinsip. Prinsip pertamanya terkait dengan perbaharuan dan realisasi. Ibn faris menarasikan prinsip ini dalam kalimat sederhana:

إصلاح الشيءِ والقيامُ عليه

Dalam kalimat sederhana terkandung makna yang luas terkait dengan kata إصلاح dan القيامُyang sukar dicari kata padananya dalam Bahasa Indonesia. Menurut ALMAANI kata إصلاحmengandung arti antara lain restorasi (restoration), perbaikan (being redressed), reklamasi (reclamation), dan reformasi (reformation). Menurut sumber yang sama kata القيامُmengandung arti antara lain pemecahan (breaking out), pengaturan (setting out), pelaksanaan (effectuation), cara kinerja (manner of performance), dan melaksanakan rencana (carrying out a plan). Hubungan keduanya terungkap dalam kalimat Arab ini[4]:

‏ والله جلّ ثناؤُه الرَّبٌّ؛ لأنه مصلحُ أحوالِ خَلْقه‏

Tuhan Yang Mahakuasa memuji Rabb karena dia adalah pembaru kondisi ciptaannya.

Bagi Ibn Faris, dengan prinsip pertama ini (prinsip إصلاح), subyek Rabb (المُصْلِح للشّيء) berperan sebagai pencipta (الخالقُ) sekaligus pemilik (المالكُ). Tidak dijelaskan nalarnya tetapi dapat diperkirakan begini:

Melakukan perbaharuan berarti melakukan sesuatu yang baru sehingga subyeknya  memainkan peran sebagai pencipta. Di sisi lain, logisnya subyek melakukan perbaharuan hanya kepada obyek yang menjadi miliknya. 

Menutnya juga, sesuai dengan prinsip yang sama, kata Rabb mengandung arti kedekatan (Arab: الصاحب), pendidikan dan perawatan. Kandungan arti pendidikan tercemin dalam istilah murabbi (مربي)[5] yang artinya pendidik; sementara kandungan arti pemelihara terungkap dalam  terungkap dalam ayat, misalnya, QS (17:24):

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًۭا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. 

Dalam ayat ini kata رَبَّيَانِى memiliki akar kata dengan Rabb dalam bentuk kata kerja (fi’il).

Implikasi Praktis

Paling tidak ada tiga implikasi praktis dari bahasan sebelumnya. Pertama, ketika kita membaca hamdalah akan lebih lengkap jika kita mentadaburi Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Pendidik, dan Pemelihara alam semesta. Kedua, analog dengan yang pertama, ketika kita membaca rabb an-naas (QS 144:1) maka akan lebih lengkap membayangkan Rabb sebagai Pencipta, Pemilik, Pendidik dan Pemelihara manusia. Ketiga, pemaknaan atau terjemahan ayat al-Quran perlu dimaknai sebagai bersifat pendekatan. Kesadaran mengenai yang terakhir ini yang agaknya mendorong searing ahi tafsir besar Indonesia, M. Quraish Shihab mengungkapkan ini:

… perlu saya tegaskan bahwa kalimat-kalimat yang tersusun dalam buku ini, yang sepintas lalu seperti terjemahan al-Quran, hendaknya jangan diterjemahkan sebagai terjemahan al-Quran….
 

Wallhualam.

Referensi

Ibn Faris (wafat 1002)

معجم مقاييس اللغة (Kamus Standar Bahasa, eBook), eBook

Muhiddin al-Darusyi (tt), 

I’rab al-Quran Wal Bayanah: Juz al-Awwal, Juz al-Tsani, Juz ats-Talitsu (اعراب القران وبيانة : الجزءالاول– الجزء الثاني — الجزء الثالث), Suriah.

M. Quraisy Shihab

Tafsir al-Mishbah Volume 1 halaman x.

Grand Quran Academic Circle, https://www.haqeeqat.pk/index.htm

Al-MAANY, https://www.almaany.com/ar/dict/ar-en/


[1] Bagi Imam Syafii, Basmalah adalah ayat pertama semua Surat al-Quran; bagi Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad ibn Hambal ayat pertama al-Fatihah tetapi tidak bagi Surat yang lain. Di luar ini ada sejumlah ulama yang berpendapat bahwa Basmalah bagian atau tepatnya bagian ayat dari QS(27:30). Lihat, misalnya, Muhiddin dalam ‘Irab al-Quran (halaman 10).

[2] Pengertian transendental dapat dianalogikan dengan, misalnya, π yang merupakan rasio antara luas dan jari tengah suatu lingkaran. Ini angka konstan tetapi tidak diketahui angka pastinya. Menurut MatIsFun sejauh ini ‘π has been calculated to over sixty trillion decimal places and still there is no pattern to the digits. Rasio ini biasa didekati dengan (22/7) tetapi ini dinilai tidak cermat; (355/113) lebih cermat: (22/7) = 3.1428571…; (355/113) = 3.1415929…; dan π = 3.14159265...

[3] Dalam konteks ini secara kebahasaan menarik untuk mencermati susunan kalimat dalam ayat وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (QS: 26:80). Dalam ayat ini kata sakit dikaitkan dengan Aku sementara kata sembuh dengan Rabb. Ini contoh pengajaran al-Quran mengenai للتعظيم.  

[4] Dikutip dalam Majmu Ibn Faris

[5] Dalam kata ini rabbi dibaca cepat atau pendek. Jika dibaca panjang sehingga tulisannya menjadi الْمُرَابِي maka artinya sangat berbeda yaitu lintah darat atau pemakan riba. 

Basmalah: Analisis Teks dan Refleksi (3/3)

Ini adalah tulisan terakhir dari tiga tulisan dengan judul yang sama. Sejauh ini sudah dianalisis tiga dari lima kata (Arab: الكلمة) pertama dari lafadh Basmalah sehingga fokusnya kali ini adalah dua kata terakhir dari lafadh Basmalah yaitu الرحمن dan الرحيم.

Secara gramatika kedudukan dua kata ini jelas: masing-masing sebagai sifat (na’at) pertama dan kedua dari lafadh al-Jalalah (الله). Kedudukan ini menyebabkan dua kata ini berharakat kasrah (tepatnya majrur, مجرور), sama seperti harakat lafadh itu. Sebagai catatan, pemberian dua sifat ini merupakan ketetapan-Nya sebagaimana terungkap dalam QS (6:12),

قُل لِّمَن مَّا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ ۚ

Katakanlah(Muhammad) : “Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang atas Diri-Nya …

Secara kehabahasaan dua kata kata itu termasuk kata benda turunan (اسم مستق) sehingga untuk memahami artinya secara tepat perlu ditelusuri arti dari akar kata kedua kata itu yaitu R-H-M (رحم). R-H-M adalah kata dasar: tanpa harakat tertentu (sehingga bisa dibaca berbagai cara), bisa berarti kata benda (ism), bisa juga kata kerja (fi’il), tergantung konteks atau maksud kalimat (Arab: مراد). 

R-H-M (رحم)

Untuk menelisik makna kata R-H-M di sini digunakan Kitab معجم مقاييس اللغة (Kamus Standar Bahasa, eBook) karya Ibn Faris (wafat 1002) sebagai rujukan. Alasannya, kitab ini fokus pada akar kata (Arab: اصل من الاصول) dari kosa kata Arab. Menurut Ibn Faris, 

: (رحم)

الراء و الحاء و الميم اصله واحد يدل على الراءفة — يقال من ذالك رحمه يرحمه — اذا رق له و يعطف عليه والرحم و المرحمةوالرحمة بمعنى

Maksudnya kira-kira, R-H-M asalnya adalah satu kata yang menunjukkan rasa kasih sayang. Jika dikatakan A menyangi B maka maka maksudnya A baik kepada B serta bersimpati kepadanya. Dari kata ini diturunkan kata ruhmmarhamahrahmah. Ibn Faris selanjutnya mengatakan: 

والرحيم:  علاقة القرابة – ثم سميت رحما لانثى رحما من هذا لان منها ما يكون يرحم ويرق له من ولد

Maksudnya kira-kira, al-Rahim menunjukkan hubungan kekerabatan dan atas dasar ini kata rahim digunakan sebagai nama organ tumbuh seorang ibu untuk menyimpan janin bayi . Nalarnya kira-kira, berawal dari rahimlah kasih sayang yang lembut dari seorang ibu kepada anaknya. 

Al-Rahman (الرحمن)

Secara kebahasaan kata al-Rahman adalah ism mubalagah, kata benda (noun) yang mengandung arti superlatif: sangat banyak, melimpah, … , Maha. Itulah sebabnya kata ini diterjemahkan sebagai Yang Maha Pengasih. Menurut Muhiddin al-Darusyi (tt:9): 

الرحمن– صيغة فعلان في اللغة تدل على وصف فعلي فيه معنى المبالغة با االصفات الطارئة كعطثان وغرثان

Rumusannya kira-kira berarti kata Ar-Rahman memiliki acuan atau timbangan kata (Arab: وزن) fa’laan (فعلان) yang menunjukkan deskripsi aktual, sangat, dan “darurat” seperti  terbersit dalam ungkapan “sangat rindu”(Inggris: longing, eager for) atau “sangat haus”. 

Orang yang dilanda  kerinduan atau kehausan mengehendaki segera melepaskan kerinduan dan kehausannya. Dengan analogi ini al-Rahman patut diduga mengandung unsur dorongan yang kuat untuk segera melepaskan ‘rahmat’ kepada makhluk-Nya. Wallahu’alam.

Unsur ‘darurat’ (الطارئة) agaknya menyiratkan situasi khusus dan karenanya menuntut ‘pengabaian’ aturan kepatutan (dalam perspektif manusia) sampai tarap tertentu. Jika pemaknaan ini logis maka hal itu mejelaskan banyaknya kasus ‘orang baik yang mati muda dan hidup sengsara’, misalnya; atau, ‘orang jahat yang berumur panjang dan hidup makmur’. Nalarnya kira-kira sebagai berikut:

      • Dalam Weltanschauung atau perspektif al-Quran, kesengsaraan atau kemakmuran merupakan cobaan. 
      • Bagi manusia secara keseluruhan berlaku ‘hukum’: keseluruhan drama kehidupan dan kematian untuk menguji siapa ‘di antara kamu yang lebih baik amalannya’ (QS 67:2). 
      • Bagi orang yang beriman berlaku ‘hukum’: ujian adalah keniscayaan:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? [QS(29: 2)]

… keseluruhan drama kehidupan dan kematian untuk menguji siapa ‘di antara kamu yang lebih baik amalannya’… bagi orang yang beriman ujian adalah keniscayaan.

Berdasarkan gambaran di atas dapat dikatakan al-Rahman agaknya merujuk pada kasih-Nya yang tak-terbatas dan unconditional di dunia fana ini. Wallhu’alam.

Al-Rahim (الرحيم)

Seperti halnya al-Rahman, al-Rahim juga merupakan ism mubalagah (yang berarti Maha) dan berakar kata R-H-M’ tetapi berbeda acuan atau wazannya. Bagi al-Rahim wazannya adalah fa’iil (فعيل). Menurut Muhiddin al-Darusyi (tt:9):

الرحيم– صيغة فعيل في اللغة تدل على وصف فعلي فيه معنى المبالغة للصفا ت الداءمة الثابتة ولهذا لايستغنى باحد الوصفين عنالاخر

Rumusan ini sama dengan rumusan al-Rahman. Yang membedakan, acuan al-Rahim adalah fa’iil (فعيل). Yang juga membedakan adalah bahwa sifatnya al-Rahim bersifat permanen (الداءمة) dan tetap (الثابتة). Sifat ini yang agaknya mendasari argumen bahwa al-Rahim terkait dengan sayang-Nya di akhirat kelak yang merupakan hak ekslusif orang-orang beriman, sementara al-Rahman dengan kasih- -Nya di dunia ini untuk seluruh makhluk. Wallahu’alam.

Catatan Akhir

Series tiga tulisan ini adalah rekaman ikhtiar penulis untuk memahami Basmalah, satu ayat pendek al-Quran yang hanya terdiri dari lima kata menggunakan lebih dari 2,500 kata. Bagi penulis fakta ini (5~2500) memantulkan kedalaman dan keluasan makna ayat al-Quran serta kompleksitas gramatika bahasa Kitab ini, Kitab yang diharapkan berfungsi sebagai kompas, huda (هدى). 

Terkait huda al-Quran QS(2:2) menggunakan kata isyarat untuk sesuatu yang jauh letaknya, dzalika(ذالك). Ayat ini agaknya mengisyaratkan bahwa untuk dapat memfungsikan al-Quran sebagai huda diperlukan upaya serius (Arab: جهاد ) yang bagi penulis lumayan melelahkan. Sekalipun melelahkan penulis tetap berupaya ke arah itu dengan harapan tetap berada dalam jalur-jalur (Arab: سبل) al-Rahman:

وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [QS (29: 69)]

Tulisan ini bukan buah pikiran murni dari penulisnya. Tulisan ini sekadar merefleksikan hasil bacaan dari sejumlah karya penulis lain yang tidak semuanya dapat dikutip di sini demi untuk penyederhanaan. Mereka lah yang berhak memperoleh pujian.

Wallahualam ….@

Referensi

Ibn Faris (wafat 1002)

معجم مقاييس اللغة (Kamus Standar Bahasa, eBook), eBook

Muhiddin al-Darusyi (tt), 

I’rab al-Quran Wal Bayanah: Juz al-Awwal, Juz al-Tsani, Juz ats-Talitsu (اعراب القران وبيانة : الجزءالاول– الجزء الثاني — الجزء الثالث), Suriah.

Grand Quran Academic Circle, https://www.haqeeqat.pk/index.htm

Al-MAANY, https://www.almaany.com/ar/dict/ar-en/

Kembali ke series tulisan pertama tekan SINI

Basmalah: Analisis Teks dan Refleksi (2/3)

Ini adalah tulisan kedua dari tiga tulisan dengan judul yang sama. Tulisan sebelumnya mengutip Hadits yang menyiratkan hubungan antara Basmalah dengan keberkahan. Dengan demikian, jika seseorang mengucapkan Basmalah ketika memulai suatu kegiatan maka sebenarnya dia tenngah berharap agar kegiatan itu menghasilkan keberkahan. Pemaknaan semacam ini, selain sejalan dengan Hadits yang dikutip dalam tulisan sebelumnya, juga sesuai dengan salah satu fungsi Huruf Ba yaitu untuk minta bantuan (للاستعانة) atau berdoa. 

Jika tulisan sebelumnya membahas Basmalah secara keseluruhan maka tulisan yang ini dan yang sesudahnya lebih fokus pada masing-masing kata yang membentuk lafadh Basmalah: huruf Ba (ب), lafadh Ism (اسم), Allah (الله), al-Rahman (الرحمن) dan al-Rahim (الرحيم).

Huruf Ba (حرف الباء)

Di sini Huruf Ba dilihat sebagai Huruf Ma’ani (mengandung arti), bukan sebagai Huruf Hijaiayyah[1]. Secara gramatika huruf ini berfungsi sebagai huruf jar (حرف الجر) yang menghendaki agar lafadh Ismi yang terletak sesudahnya dibaca kasrah.

Sejauh ini kita menggunakan kata ‘dengan’ sebagai terjemahan Huruf Ba dan memfungsikannya sebagai pernyataan minta bantuan (للاستعانة). Sebenarnya banyak makna dan fungsi Huruf ini; dua di antaranya yang sesuai dengan konteks Basmalah adalah sebagai pernyataan partisipasi atau keikutsertaan (للمشاركة) dan pertemanan (للمصاحبة). Jika keduanya diterapkan ketika kita membaca Basmaah maka seolah-olah kita mengungkapkan narasi ini:

Aku memulai kegiatan ini dengan Basmalah dengan harapan agar keberkahan senantiasa menyertai atau menemani keseluruhan proses kegiatan ini.

Sejauh yang penulis pahami, narasi itu sejalan dengan sejumlah ayat al-Quran; di antaranya, dalam potongan ayat-ayat berikut:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. QS (57:4).

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS 8:17)

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. QS (37:96)

Tiga ayat di atas jika dibaca secara lengkap menujukan ketergantungan hakiki (ontological dependency) alam semseta termasuk kita dan perbuatan kita kepada Allah SWT. Ketergantunagan itu terungkap juga dalam ayat al-Fatihah, rabbil ‘alamiin di mana lafadh ‘alamiin dimaknai sebagai apa pun selain Allah, yang dalam hubungannya dengan Alah SWT berkedudukan sebagai hamba (عبد), suka atau tidak suka. Ketergatungan hakiki ini terlambangkan dalam Huruf Ba dalam Basmalah. Wallahu’alam.

Lafadh Ism (لفظ اسم)

Lafadh ini diberi harakat kasrah karena perintah huruf jar, Bi, sehingga lafadh ism pasti dibaca ismi, bukan ismu atau isma. Sementara ini kita terjemahkan lafdh ism dengan Nama tetapi sebenarnya ada perbedaan paham di kalangan ulama mengenai artinya. Sementara Ulama Basrah percaya kata ini berasal dari kata السمو yang menunjukkan makna tinggi atau agung, Ulama Kuffah percaya kata itu itu berasal dari kata السمة yang berarti tanda. Sebagai catatan, huruf Alif dalam dihilangkan dengan alasan sering digunakan.

Dalam al-Quran kata Ism dalam berbagai kedudukan hampir selalu berkonotasi keagungan; dalam kebanyakan kasus, disandingkan dengan lafadh Allah atau Rabb. Nuansa keagungan lafdh Ism dapat dirasakan dalam ayat-ayat yang mengandung kombinasi dua kata Ism-Allah dan Ism-Rabb.

Kombinasi Ismi-Allah dapat ditemukan selain dalam Basmalah juga dalam ayat-ayat dalam QS (5:4, 6:118,119, 121, 38, dan 22:28,34,36,40). Semenara itu kombinsi Ism-Rabb dapat ditemukan dalam QS (55:78, 73:8, 76:25, 87:1,15):

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Lafadh Agung (لفظ الجلاله)

Dalam Basmalah lafadh Ism dikaitkan dengan lafadh Allah (الله), Lafdh al-Jalaalah (لفظ الجلالة), Nama yang Agung, yang meurut para ahli bahasa merupakan Ism ma’rifat yang paling ma’rifat. Bagi para ahli kalam Allah adalah nama dzat yang wajib ada (واجب الوجود); sumber dan akhir segala; Alpha-Omega.

*****

Sejauh ini sudah dibahas tiga kata pembentuk Basmalah yaitu huruf Ba (ب), lafadh Ism (اسم), Allah (الله) menggunakan lebih dari 1,000 kata. Yang pertama dan kedua masing berkedudukan sebagai huruf yang berfungsi ‘mengkasrahkan’ yang kedua, sementara yang kedua berkedudukan sebagai obyek yang dikasrahkan. Demikian, keduanya secara keseluruhan membangun jumlah huruf kasrah dan yang dikasrahkan. Yang ketiga merujuk pada “pemilik” kata sebelumnya sehingga berkedudukan sebagai yang ‘dijarkan demi keagungan-Nya’. Hasilnya, semua dari tiga kata itu memiliki harakat kasrah. 

Demikianlah kira-kira model santri ketika menganalisis kedudukan kata atau meng-‘irab teks Arab. Versi ‘irab-nya yang agak lengkap dan formal kira-kira sebagai berikut:

 :(بِسْمِ)

جار ومجرور متعلقان بفعل محذوف تقديره ابتدئ أو بخبر محذوف تقديره ابتدائي
   :(اللَّهِ
)

لفظ الجلالة مضاف إليه مجرور للتعظيم

Sebagai catatan, istilah جار و مجرور merujuk pada frasa proposional (preposional phrase) yang dalam konteks ini merupakan gabungan antara partikel awalan بـِ  dengan اسم. Sementara itu, istilah مُضَاف إلَيْه: “pemilik” kata yang ditambahkan atau dilampirakn (attached, annexed) yang dalam hal ini adalah اسم.

Wallahualam…. @

Referensi

Muhiddin al-Darusyi (tt), I’rab al-Quran Wal Bayanah: Juz al-Awwal, Juz al-Tsani, Juz ats-Talitsu(اعراب القران وبيانة : الجزء الاول– الجزء الثاني — الجزء الثالث), Suriah.

Grand Quran Academic Circle, https://www.haqeeqat.pk/index.htm


[1] Dalam gramatika Arab huruf dibedakan dalam dua kategori: (1) Huruf Mabni () atau Huruf Hijaiyyah (حروف الحجاءيه), huruf sebagian unsur pembentuk kata, dan tidak bermakna dalam dirinya sendiri, dan (2) Hurfu Ma’ani (حروف المعانى), huruf yang mengandung makna dan dapat terdiri dari 1-5 huruf hijaiyyah.

Lanjut ke series tulisan berikutnya tekan SINI