MDGs dan Beberapa Isu Ketenagakerjaan: Beberapa Catatan Awal

Artikel ini meninjau keterkaitan MDGs dengan beberapa isu ketenagakerjaan di Indonesia. Uriannya mencakup tinjauan MDGs secara singkat, kaitan ketenagakerjaan dan MDGs, masalah Ketenagakerjaan yang serius, pengalaman Indonesia dan beberapa opsi staregi kebijakan.

[Lanjut]

Ihsān: Pilar Agama yang Terabaikan

Hadits Jibril menegaskan tiga cabang, logi, atau pilar Agama:  Īmān, Islām dan Ihsān. Dua cabang pertama sangat populer karena terkait dengan apa yang dikenal sebagai Rukun Iman dan Rukun Islam, cabang terakhir kurang populer. Cabang ini dirumuskan secara sangat padat: “Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak mampu melihat-Nya, percayalah Dia senantiasa melihatmu”.

Layaknya fungsi cabang pada pohon, kekurangan cabang pasti akan mengurangi ‘keteduhan’ pohon Islam. Layaknya bangunan gedung, kekurangan satu pilar dari yang seharausnya akan mengurangi nilai seni arsitektur, mengganggu keseimbangan daya tahan atau bahkan merobohkan bangunan Islam.

Tulisan pendek ini terkait dengan topik Ihsān dan dapat diakses di SINI

 

Tablig, Haji Wada dan Hak Azasi Manusia

Secara etimologis kata tablig berasal dari kata dalam bahasa Arab balaga- kata kerja masa lalu (fi’il madhi) yang secara harfiah berarti ‘telah menyampikan’. Mengenai cara, metode atau media, para ahli sepakat tidak harus dalam bentuk verbal tetapi dapat dalam bentuk lainnya termasuk tulisan, perbuatan, sikap, serta contoh prilaku sehari-hari orang yang menyampaikan (mubalig). Yang diperdebatkan para ahli adalah cakupan materi tablig. Tulisan pendek INI membahas topik ini berdasarkan pembelajaran dari khutbah historis haji wada’.

Desakralisasi Radikal

Doktrin desakralisasi radikal melepaskan energi kebebasan yang luar biasa serta membuka wawasan ke horison terjauh yang mungkin dapat dibayangkan. Dengan doktrin itu benda-benda yang tadinya dianggap suci atau keramat sehingga tidak dapat disentuh kini secara bebas dapat diamati dan dipelajari dengan seksama secara ilmiah (menurut kriteria kontemporer). Tulisan pendek mengenai doktrin ini dapat diakses di SINI 

 

Ulul Albab: Istilah Qurani yang Terabaikan

Akal adalah salah satu kelengkapan rohaniah terbesar bagi manusia. Akal penting untuk menafsirkan suatu ajaran agama tetapi tidak memadai. Argumennya, sebagian ajaran agama bersifat supra-rasional (bukan irasional) sehingga untuk menangkap pesan moralnya dibutuhkan selain  kemampuan berfikir akliah tetapi juga kemampuan berzikir qolbiah. Istilah Ulul-Albab dalam Al-Qur’an mengacu pada orang yang memiliki dua jenis kemampuan ini.

Istilah Ulul-Albab banyak ditemukan dalam teks Suci ini sehingga pasti bermakna penting. Sayangnya, fakta tekstual ini terkesan kurang mendapat perhatian dari para ulama-cendikia kita. Tulisan INI dimaksudkan sebagai undangan untuk mendalami hal ini.