Konsep Penduduk yang Diterapkan dalam Sensus Penduduk 2010

Kegiatan pendataan Sensus Penduduk 2010 (SP2010) di Indonesia akan segera berlangsung selama sebulan penuh 1-31 May 2010. Sejalan dengan rekomendasi UN, SP2010 dimaksudkan sebagai basis yang dipercaya untuk memperoleh angka jumlah penduduk yang cermat serta bemanfaat bagi perencanaan pembangunan yang efisien. Praktek sensus penduduk pada umumnya menggunakan salah satu dari dua konsep yang berbeda yaitu de jure atau de facto.

Penggunaan kedua istilah yang terlanjur sudah sangat popular itu sebenarnya tidak direkomedasikan oleh UN karena berpotensi disalah-pahami.

Rekomendasi UN menyinggung kedua istilah itu sekedar untuk maksud penegasan.

Tulisan ini meninjau secara singkat kedua konsep itu dan menjelaskan penerpannya dalam SP2010. Bagi yang berminat mengakses silakan klik INI

[Untuk kembali ke Daftar Isi klik INI]

Anak yang Bekerja dan Pekerja Anak

Sebagai warga negara yang baik kita harus peduli mengenai aset negara yang mungkin paling berharga bagi dan menentukan nasib masa depan bangsa yaitu anak. Itulah sebabnya negara memberikan perlindungan hukum yang cukup—bahkan dalam standar internasional—kepada aset negara yang tak ternilai ini.  Tetapi perlindungan semacam itu sulit dilakukan jika anak berada dalam pasar kerja baik sebagai ‘anak yang bekerja’ maupun ‘pekerja anak’.

Pada pertengahan tahun 2009 total anak pada kelompok umur 5-17 tahun diperkirakan mencapai 58.8 juta jiwa atau hamir sekitar  25% dari total penduduk. Tetapi yang menjadi fokus keperhatinan global, regional maupun nasional adalah pekerja anak, bukan anak yang bekerja secara keseluruhan. Menurut SPA,  total pekerja anak mencapai angka sekitar 1.8 juta jiwa, setara dengan 3.0 % dari total anak 5-17 tahun atau 43.3% dari total  anak yang bekerja.

[Lanjut]

Beberapa Isu-terkait Kemiskinan: Analisis Awal Data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004-2008

Artikel ini mengulas beberapa isu terkait-kemiskinan. Dua jenis pertanyaan yang ingin dijawab: (1) Apakah kesenjangan dalam hal isu-terkait kemiskinan itu semakin menyempit atau melebar? dan (2) Apakah ada perbedaan aksesibilitas terhadap fasilitas dasar antar strata sosial? Ulasan mencakup rentang waktu 2004-2008, rentang waktu yang tidak mustahil, sedikit banyak, mencerminkan gambaran kinerja pemerintah era itu. Bagi yang berminat silakan klik: isu-terkaitkemiskinan

Kelompok Sasaran Risalah Era Muhammad SAW

Sasaran risalah Muhammad saw mencakup seluruh umat manusia lintas-suku-budaya-bangsa dan lintas-waktu. Walaupun demikian, dalam rentang waktu sejak beliau menerima tugas kerasulan sampai wafat, yang menjadi sasaran langsung risalah hanya mencakup tiga kelompok besar: kaum mukmin, kaum kafir musyrikin dan ahli-kitab.

Rasul yang agung telah menyelesaikan misinya menyampikan risalah kepada ketiga kelompok itu secara sangat efektif dan sangat efisien. Lebih dari itu, beliau berhasil membangun ‘super suku’ baru yang luar biasa, dengan landasan ‘Konstitusi Madinah’, konstitusi pertama dalam sejarah umat manusia. Sang Rasul yang ummi itu berhasil menyempunakan bangunan agama samawi.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik: SasaranRisalah2

Tinjauan Buku: The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World

Tinjauan Buku
Judul : The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope   Are Reshaping the World
Pengarang : Moïsi, Dominique
Tahun terbit : 2009
Penerbit : Doubleday
Halaman : 176 halaman + xii

Seperti tercermin dari judul, buku ini memetakan geopolitik dengan tilikan tidak lumrah, emosi. Karena tidak lumrah inilah buku ini menuai banyak kritik. Sebagian kritikus ‘meragukan’ kadar ilmiah isi buku ini dan mengatakan kira-kira ‘kok urusan geopolitik pakai pendekatan emosi’. Oleh penulisnya buku ini didedikasikan untuk bapaknya dalam bahasa yang emosional tetapi juga inspirasional: ‘Untuk mengenang bapak saya, Jules Moïsi, number 159721 di Auschwitz, yang selamat dari ketakutan dan penghinaan yang ekstrim dan mengajarkan harapan pada saya’.

Tetapi kita keliru jika mengira penulis menganggap masing-masing emosi itu sebagai sesuatu yang salah dalam dirinya sendiri. Bagi dia ketiganya ‘diperlukan’. Darah yang sehat, argumennya, memerlukan darah merah, darah putih dan plasma. Kehilangan salah satu akan membuat darah menjadi tidak sehat. Analog dengan itu, situasi geopolitik tidak sehat yang didominasi oleh harapan, mislanya. Yang diperlukan adalah keseimbangan: keseimbangan antara ketakutan, humiliasi dan harapan.

Bagi saya, dengan cara ini penulis bermaksud menegaskan posisinya: tidak seoptimis Fukuyama (dengan the end of history-nya) tetapi juga tidak sepersimis Hutington (dengan clash of civialtion-nya). Bagi yang meminati artikel lengkap silakan klik: TinjBukuMosi