Makhluk Terbaik

Untuk memahami istilah makhluk terbaik penulis melakukan penelusuran melalui Google. Dengan entri the best creature in the world hasilnya mengecewakan: yang muncul hampir semuanya terkait dengan binatang buas. Bagi penulis makhluk terbaik logisnya dari berasal dari species manusia.  Dengan entri the best man hasilnya lebih mengecewakan: yang keluar terkait dengan film yang berjudul the Best Man

Penelusuran berlanjut tanpa Google dan merasa beruntung ketika bertemu dengan QS (98:37). Sumber ini menggunakan istilah khairul bariyyah yang umumnya diterjemahkan sebagai “sebaik-baiknya makhluk” atau “makhluk terbaik”. Terjemahan ini sejalan degan terjemahan Quran-Inggris yang sempat penulis periksa: Picthal, Yusuf, Mawdudi-Zafar, Ishaq, Ismatullah, Shaheeh, Mahmoud. Semuanya menggunakan narasi the best creature atau the best of all creature sebagai terjemahan khairul bariyyah.  Perasaan beruntung berlipat karena istilah qurani ini ternyata merujuk pada manusia. 

Tulisan ini bertemakan makhluk terbaik dengan rujukan utama QS (98:37) yang dibaca dalam perspektif logika simbol (symbolic logic). Agar memudahkan tulisan ini dibagi ke tiga topik. Topik pertama, demi kejelasan, membahas Logika Simbol secara singkat. Topik kedua, membahas ayat ini menggunakan T-Table dan Diagram Venn sebagai alat bantu analisis. Bagian terakhir membahas ekuivalensi makhluk terbaik dengan ahli surga berdasarkan QS (98:37-38).

Topik

  1. Logika Simbol: Pengantar Singkat.
  2. Makhluk Terbaik: Analisis T-Table dan Diagram Venn.
  3. Makhluk Terbaik dan Ahli Surga.

Prinsipnya masing-masing topik dapat dibaca secara terpisah tetapi, untuk memperoleh gambaran utuh, disarankan untuk membaca semua topik secara berurutan.

[Untuk mengakses Topik 1 klik INI]

Esensi Iman, Perlambang Wujud Mutlak dan Segitiga Sama Sisi[1]

Menurut hadits Jibril –hadits yang disampaikan melalui dialog antara Rasul SAW dengan Malaikat Jibril dalam wujud manusia di hadapan para sahabat—salah satu dimensi agama adalah Iman. Hadits itu merinci enam pilar atau rukun yang masig-masing merupakan obyek imani (kalau boleh menggunakan istilah ini):  (1) Allah SWT, (2) Malaikat-Nya, (3) Rasul-Nya, (4) Kitab-Nya, (5) Hari Akhirat, dan (6) Takdir. Hadits ini tidak dimaksudkan untuk mendefinsikan iman karena bagi para sahabat definisi itu tidak diperlukan. Mereka sudah memahami iman dan bahkan sudah menginternalisasikannya secara mantap berkat didikan langsung Rasul SAW. Bagi kita yang hidup belasan abad setelah era Rasul SAW yang penuh berkah itu, definisi Iman agaknya diperlukan agar mampu menginternalisasikan nilai-nilanya.

Sebenarnya, para ulama besar sudah banyak yang membahas definsi Iman serta mendokumentasikan dalam berbagai karya besar mereka. Sayangnya, kita pada umumnya (termasuk penulis) sulit memahami karya besar mereka karena kecenderungan bahasa kita sulit mengapresiasi secara memadai “rasa bahasa” yang mereka gunakan.

Esensi Iman

Pertanyaan mendasar ini bagi kita masih relavan: “Apakah esensi Iman?” Hemat penulis, Iman seacara esensial dapat dimaknai sebagai keyakinan jujur terhadap yang Mutlak (the Absolute, Atma) yang secara kategoris berbeda dengan yang relatif (relative, maya). Keyakinan terhadap yang Mutlak dimungkinkan karena inteligensi, satu fakultas ruhaniah yang melekat bagi manusia. Fakultas rohaniah ini mampu membedakan (to discern) yang Mutlak dari yang relatif. Tanpa kemampuan itu inteligensi bukan apa-apa.

Sebagai keyakinan jujur, Iman kira-kira pararel dengan faith dalam Bahasa Inggris (bukan believe), kata yang memiliki konotasi kepastian (certitude) dan kejujuran (veracity), kejujuran dalam pengertian intelektual, bukan moral. Hemat penulis, istilah ikhlas dalam bahasa agama merujuk pada keyakinan yang mengadung unsur kejujuran intelektual sebagaimana diisyaratkan dalam teks suci berikut:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِين٥

Padahal mereka diperintah menyembah Allah dengan ikhlas (al-Bayyinah:5)

Perlambang Wujud Mutlak

Iman, sebagai bentuk keyakinan jujur dan pasti, pada gilirannya melahirkan tiga macam kapasitas sensibilitas yang langka dalam peradaban kontemporer: (1) sensibilitas proporsionalitas (sense of proportionality) terhadap yang Mutlak, (2) sensibilitas mengenai kebutuhan berkah dari langit (grace), dan (3) sensibilitas mengenai yang suci (sense of sacred).

Sensibilitas proporsionalitas memicu pengakuan jujur (sebagai sikap intelektual, bukan moral) mengenai kekerdilan diri di hadapan yang Mutlak. Pengakuan jujur inilah yang (diharapkan) menyertai ucapan la haula wala quwwata illah billah (tidak ada daya tanpa campur tangan-Nya). Sensibilitas kebutuhan akan berkah dari langit melahirkan sikap rendah hati, serta meredam agitasi sifat arogansi dan keangkuhan. Sensibilitas mengenai yang suci melahirkan apresiasi atau sikap hormat terhadap segala sebagai simbol atau lambang wujud Mutlak:

  • langit melambangkan kekokohan, kemahaluasan, keluasan rahmat dan dan berkah-Nya;
  • bumi melambangkan kesabaran dan kebaikan-Nya;
  • guntur, letusan gunung dan tsunami melambangkan amarah-Nya;
  • keragaman flora, fauna, ras manusia –juga agama, melambangkan implikakasi alamiah atau logis dari multiplisitas ciptaan dari satu-satunya yang Esa; dan
  • “aku”, tetangga, orang lain, melambangkan keunikan atau subyektivitas dari Subyek Murni (Pure Subject), satu-satunya yang berhak mengakatakan Aku dalam pengertian sebenarnya.

Dimenesi Islam dan Ihsan

Menurut Hadits Jibril, Iman bukan satu-satunya dimensi agama: agama harus mencakup dua dimensi lainnya yaitu Islam dan Ihsan. Dalam konteks ini Islam bukan merujuk pada Agama Islam secara keseluruhan (yang mencakup juga dimensi Iman dan Ihsan), melainkan dalam pengertian ketundukan keseluruhan diri terhadap Kehendak Ilahi (Divine Will) yang diwujudkan dalam hukum syari’at. Sikap ini hanya mungkin dicapai jika ada sensibilitas mengenai proporsionalitas terhadap yang Mutlak. Ketaatan terhadap hukum atau syrai’at agama hanya efektif jika didasari oleh sikap tunduk semacam ini.

Berbeda dengan dimensi Iman yang “menghidupaknan” inteligensi, dimensi Islam “menghidupkan” dan mengarahkan kehendak: untuk beriman inteligensi harus mengikuti kecenderungan alamiahnya, untuk ber-Islam kehendak harus “melawan” kecenderungan alami egoseismenya. Risalah Islam dimaksudkan untuk menghidupkan semua fakultas rohaniah manusia, termasuk inteligensi dan kehendak. Hemat penulis, inilah yang antara lain yang diisyaratkan oleh teks scuci berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ….. ٢٤

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhuilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu… (al-Anfal: 24)

Bagaimana dengan Dimensi Ihsan[2]? Secara esensial Ihsan dapat didefinisikan sebagai segala upaya untuk menyempurnakan atau membuat indah semua apa yang merupakan keyakinan imani dan tindakan islami. Wujud ihsani yang penting adalah kapasitas dalam hal sensibilitas mengenai keindahan (sense of beauty), suatu kapasitas yang muncul karena daya tarik atau atraksi Dia yang Maha Indah (Jammal, Beautitude). Wujud ihsani yang juga penting adalah kapasitas memperluas diri (self-extension) atau kemampuan untuk berempati terhadap orang lain, sehingga melihat orang lain seperti dirinya sebagai sama-sama “citra” Tuhan. Dimensi Ihsan dalam pengertian esnsial inilah yang membuat suatu agama –termasuk Agama Islam– berwajah teduh.

Segitiga Sama Sisi

Terniari Iman, Islam dan Ihsan merupakan dimensi agama bagi Agama Islam. Dalam pengertian yang esensial, masing-masing dimensi itu, hemat penulis, berlaku juga bagi agama lain, paling tidak dalam lingkungan agama-agama samawi yang masih memiliki leluhur geneologis dan sumber pewahyuan yang sama. Jelasnya, Milah Ibrahim, Agama Yahudi dan Agama Nasrani, semuanya memiliki unsur-unsur keimanan, keislaman dan keihsanan sebagai dimensinya. Yang memberdakan adalah penekanan atau signifikansi relatif dari masing-masing dimensi. Dalam Milah Ibrahim yang ditekankan adalah dimensi Iman sehingga jika dianalogikan dengan segitiga maka konfigurasi milah Ibrahim dapat digambarkan sebagai segitiga siku dengan sudut siku pada dimensi Iman. Atas dasar ini Ibrahim AS dikenal sebagai tokoh monoteisme[3] yang diakui tidak hanya oleh Islam, tetapi juga oleh agama lain.

Dengan alasan-alasan yang secara manusiawi tidak sepenuhnya dapat dipahami, penekanan pada dimensi Iman dalam Milah Ibrahim bergeser pada dua agama samawi berikutnya: sudut siku pada Agama Yahudi merepresentasikan dimensi Islam (Hukum), sementara pada Agama Nasrani merepresentasikan Ihsan (Kebaikan).

Bagaimana dengan konfigurasi Agama Islam? Hemat penulis, konfigurasi Agama Islam tidak dapat digambarkan oleh segitiga siku (dengan merepresentasikan konfigurasi dengan penekanan pada dimensi agama tertentu), melainkan oleh segitiga sama-sisi(*). Apa artinya? Artinya, sejauh pemahaman penulis, Agama Islam menekankan keseimbangan tiga dimensi agama. Sebagai ilustrasi, dalam Agama Islam, perintah beriman (dimensi Iman) hampir selalu diikuti oleh perintah beramal shaleh (dimensi Islam). Dalam agama samawi terakhir ini, dimensi Ihsan sangat tegas: Surat al-Mâûn menegaskan bahwa kepedulian terhadap orang miskin (dimensi Ihsan) ibarat lakmus untuk membedakan seseorang tergolong beragama atau pendusta agama.

Wallâhu’alam.


[1] Tulisan ini merupakan bagian dari draft tulisan yang berjudul Seputar Hadis Jibril: Kandungan, Makna dan Implikasi yang tengah dipersiapkan.

[2] Dimensi agama yang ketiga ini relatif tidak populer. Lihathttps://uzairsuhaimi.blog/2009/10/31/ihsan-pilar-islam-yang-terabaikan-2/

[3] Lihat “Mengenal Tokoh Ibrahim AS”, uzairsuhaimi.wordpress.com

(*) Tulisan mengenai perbedaan penekanan dalam agama-agam samawi lihat https://wordpress.com/post/uzairsuhaimi.blog/645

 

Puasa, Iman dan Kebajikan

Puasa secara umum dapat didefinisikan sebagai berpantang_diri selama periode tertentu untuk makan, minum, hubungan seksual, tiga kebutuhan dasar fisiologis dan biologis, atau perbuatan lain yang dapat membatalkan puasa. Dalam pengertian ini puasa dikenal dalam semua agama dan tradisi, bukan hanya Islam. Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kemampuan berpantang_diri sementara untuk tidak makan_minum_sex menentukan derajat manusia secara kategoris: tanpa kemampuan itu manusia setara dengan binatang atau bahkan lebih rendah[1]. Dari cara pandang ini alasan berpuasa sangat mendasar dan gamblang: kita berpuasa karena kita manusia (bukan binatang).

Bagi seorang muslim “perintah” puasa tak_terbantahkan karena berdasarkan dalil naqli (berbasiskan nash atau teks suci):

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Ayat 183).

(Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Ayat 184)[2]

Ayat di atas dimulai dengan seruan bagi orang-orang yang beriman yang mengisyaratkan pentingnya unsur iman  dalam berpuasa[3]. Beriman kepada apa? Beriman kepada Dia yang Mutlak yang formulanya disarikan dalam bentuk kesaksian (syahadah): “La ilaha illa Allah”, “Tidak ada Tuhan Selain Allah”, rukun Islam yang pertama dan utama. Kenapa utama? Karena tanpanya, puasa dan pilar Islam lainnya (Salat, Zakat dan Haji) tidak bermakna. Kesaksian itu juga mengisyaratkan keterkaitan erat antara rukun Islam (Law) dengan rukun Iman (Faith)[4]. Menarik untuk dikemukakan bahwa rumusan syahadat itu menurut Schuon (2002: 81) merangkum semua Kebenaran metafisis: “All metaphysic is in fact contained in the Testimony of Faith (Shahadah), which is the pivot of Islam[5]. Kebenaran metafisis secara sederhana dapat didifenisikan sebagai Kebenaran[6] (dengan K besar) atau Truth (dengan T besar) yang bersifat abadi, supra-formal, bersifat mutlak karena sudah tertanam (built-in, pre-printed) dalam cetak_biru jiwa manusia, diakui atau tidak diakui.

Istilah Iman tidak sama dengan kepercayaan sebagaimana dipahami secara umum. Dalam kaitan ini berharga untuk dicermati “peringatan” Schuon mengenai perbedaan kedua istilah itu:

Faith is nothing other than the adherence of our whole being to Truth, whether we have of truth a direct intuition of this Truth or indirect notion. It is a misuse of language to reduce “faith” to “belief”; it is the opposite that is true: believe—or theoretical knowledge—must be changed into faith “that moves the mountain.

Iman tidak lain dari pada ketaatan keseluruhan diri kita pada Kebenaran (dengan K besar), apakah kita memahaminya secara langsung maupun tidak langsung. Merupakan suatu kesalahan bahasa untuk mereduksi Iman dengan Kepercayaan; sebaliknya lah yang benar: kepercayaan –atau pengetahuan teroritis– perlu dirubah menjadi Iman agar dapat “memindahkan gunung”[7].

Dalam konteks Islam, amalan-amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Puasa, termasuk salat taraweh, salat malam, tadarus dan dzikir (kontemplasi dan meditasi), semuanya dapat dilihat sebagai upaya sadar dan intensional untuk memperkuat Iman serta mendekatkan diri (muraqabah) kepada yang Mutlak sampai seolah-olah melihat dan “jatuh cinta” kepada-Nya. Singkatnya, amalan-amalan itu dapat dilihat sebagai upaya untuk memcintai-Nya dengan seluruh keberadaan diri kita (with the whole of our being).

Tetapi mencintai-Nya perlu bukti dan ini berarti kebajikan (virtue) dalam arti luas sehingga kebenaran Iman menjadi kongkrit, terlihat dan hidup. Tiga unsur kebajikan yang fundamental adalah kebersahajaan (humility), kemurahan_hati (charity) dan kebenaran (veracity)[8]. Iman -syarat sah puasa- jelas terkait dengan unsur ketiga yaitu kebenaran.

Unsur pertama, kebersahajaan dapat diartikan sebagai pengakuan jujur mengenai keterbatasan diri. Hemat penulis, potongan kalimat “agar kamu menjadi bertakwa” mengesankan bahwa puasa merupakan syarat yang perlu (necessary reason), bukan syarat yang cukup (sufficient reason), untuk mencapai derajat takwa. Ini berarti, untuk mencapai derajat itu, mutlak perlu unsur lain dan itu tidak lain dari rahmat (mercy) Dia SWT[9].

Bagaimana dengan unsur kedua yaitu kemurahan_hati? Secara sederhana kemurahan hati dapat dirumuskan sebagai kemampuan melihat kedudukan orang lain setara dengan kedudukan kita di hadapan-Nya: seperti aku, orang lain juga subyek -tepatnya subyek yang kita obyektifkan (objectified subjects)- yang merupakan ekstensi atau perluasan dari Subyek Murni (Pure Subject) yang Riil yang mencakup subyek-subyek ralatif termasuk aku dan orang lain. Dalam perpektif ini maka anjuran untuk banyak ber-sodaqoh (berderma) selama bulan puasa dapat mudah dipahami dasar metafisisnya. Demikian pentingnya kemurahan_hati sehingga puasa menjadi kondisional bagi orang yang berat menjalankan puasa dengan cara mengkonpensasinya dengan “fidyah”, “memberi makan orang miskin” (pertengahan Ayat 184). Wallahu’alam…@


[1] Kenapa lebih rendah? Karena, konon, hewan mampu “mengendalikan diri”: makan_minum sekadar memenuhi kebutuhan fisiologis -tanpa unsur keserakahan apalagi kemewahan- dan kawin sesuai “musim” dan semata-mata karena dorongan biologis untuk reproduksi. “Musim kawin” tidak dikenal manusia.

[2] Al-Qur’an ( 2:183); terjemahan dari Al-Qur’an: Diseratai Terjemahan dan Transelasi, Al-Mizan (2008).

[3] Demikian pentingnya unsur itu sehingga para ulama pada umumnya menyepakatinya menentukan keabsahan puasa.

[4] Dua rukun itu, ditambah dengan pilar lainnya ang kurang popular yaitu Ihsan (Way), sesuai hadits Jibril, merupakan bangunan dari Tradisi terakhir dalam rangkaian agama-agama Langit (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bagi penulis, istilah “memeluk Islam secara sempurna” (kaffah) berarti merealisasikan ketiga pilar itu (Iman, Islam dan Ihsan) secara lengkap dan seimbang. Artikel penulis mengenai ikhsan dapat diakses dalam web ini.

[5] Roots of the Human Condition, World Wisdom. Schuon menerjemahkan syahadat itu dengan “There is no divinity if not the (sole) Divinty (Allah)”. Baginya, rumusan dapat dibandingklan dengan rumusan Vedanata: “Brahman is real, the world is an appearance”.

[6] Dalam perspektif filsafat perrennial Kebenaran metafisis dapat diketahui oleh inteligensi yang fungsi utamanya membedakan antara yang Mutlak (the absolute, Atma) dengan yang relatif (maya, riil tetapi realitasnya relatif terhadap yang Mutlak). Tanpa kemampuan ini inteligensi bukan apa-apa. Dari kemampuan membedakan ini mucul kapasitas perasaan proporsionalitas (sense of proportionality) diri terhadap yang Mutlak: di hadapan yang Mutlak aku bukan apa-apa. Kelangkaan perasaan proporsionalitas ini yang ditemukan dalam figur Iblis, Fir’aun atau manusia lainnya dengan mentalitas luferian.

[7] Schuon (2007), Spiritual Perspective and Human Facts,”Knowledge and Love” (halaman 134).

[8] Uraian agak rinci mengenai kebajikan dapat diakses daalm web ini yang berjudul Kebajikan Funmdamental.

[9] Karena penuh rahmat, maka bulan puasa, khusunya dalam lailatul qadar, merupakan waktu yang tepat untuk menyiapkan diri menerima rahmat-Nya yang di luar kuasa kita. Apa yang dapat dilakukan adalah meningkatkan status kesiapan diri (state of preparadeness) untuk menerimanya.