Salah Perintah

Normal kalau orang tua memerintahkan anaknya untuk rajin belajar. Agaknya juga normal jika perintah itu didorong oleh hasrat agar anaknya kelak meraih pendidikan tinggi sehingga pada waktunya berpenghasilan tinggi. Ungkapan  ini agaknya merefleksikan kepercayaan umum: yang tidak berpendidikan, kerja-berat,  gaji-ringan; yang berpendidikan, kerja-ringan gaji-berat. Istilah gaji-berat di sini menurut versi teman adalah gaji dua digit yang diterima anaknya yang baru saja selesai S1; maksudnya, di atas 10 jutaan per bulan.

Singkatnya, perintah rajin-belajar itu normal apalagi jika dikaitkan dengan kewajiban moral orang tua untuk tidak meninggalkan ‘generasi yang lemah’. Paling tidak demikianlah perspektif Islam sejauh yang penulis memahaminya.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa yang diperintahkan orang tua kepada ‘ahlinya’ (termasuk anak) bukan rajin-belajar melainkan Salat serta bersabar dalam mendirikannya. Ini adalah perintah eksplisit dalam QS (20:132):

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًۭا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَـٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan Salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Untuk memaknai tafsir ayat ini tentu kita perlu bertanya kepada ahlinya. Walaupun demikian, yang terkesan jelas ayat ini mengaitkan Salat dengan rezeki. Entah bagaimana kaitan keduanya. Yang tampak masuk akal, orang yang rajin Salat (dibandingan dengan yang tidak Salat atau tidak rajin Salat, ceteris paribus):

      • cenderung lebih bersih (sehat) karena harus sering cuci tangan, cuci muka-hidung-telinga, cuci kaki, paling tidak lima kali sehari,
      • cenderung lebih disiplin karena Salat dilakukan menurut waktu tertentu (sesuai dengan waktu rotasi bumi), termasuk waktu sebelum terbit matahari (Subuh), dan
      • cenderung lebih mudah menyadari keberadaan pengatur rezeki yang sejati (Dia SWT).

Yang juga terkesan jelas dari ayat di atas adalah ketidakperluan terlalu menghawatirkan rezeki. Dalam perspektif Al-Quran, binatang melata saja dijamin rezekinya (QS 11:6); apalagi anak-anak Adam (QS 17:70):

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا

Dan sungguh, Kami telah muliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Lalu, apakah perintah rajin-belajar kepada anak adalah salah perintah? Tentu tidak, sejauh tidak berlebihan. Meningkatnya angka bunuh diri anak-anak di Jepang yang baru-baru ini dilaporkan[1] bisa jadi karena tradisi orang tua disana yang terlalu berlebihan dalam memerintahkan anak-anakya untuk rajin-berlajar. Entahlah; upaya untuk memahami faktor penyebanya baru di survei. Yang pasti salah, dalam teranag QS(20:32), adalah mengabaikan perintah-Salat kepada anak, atau, melakukan pembiaran anaknya yang tidak disiplin Salat.

Wallahualam….. ….@

[1] https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/backstories/1672/