Memahami Peradaban Muslim Awal

 

[For English version Clik HERE}

Untuk pemahaman yang lebih baik tentang sejarah awal peradaban Muslim.

Buku ini memberi Anda bahan bacaan ringan dan enak dibaca untuk memahami asal-usul dan dinamika peradaban Muslim awal.

Dalam buku ini, Anda akan memperoleh gambaran yang jelas-tapi-padat mengenai:

Konteks sejarah kelahiran Agama Islam sebagai siklus terakhir dari tradisi monoteisme Nabi Ibrahim AS;

Penolakan sengit kaum Kuffar Mekah terhadap pesan ajaran tauhid dan kemanusian yang disampaikan oleh agama ini;

Hijrah atau migrasi paksa komunitas Muslim dari Mekah ke Madinah yang menandai munculnya peradaban Muslim (Umat);

Tantangan yang dihadapi oleh Umat awal di Madinah untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan untuk menginisiasi lahirnya peradaban unik dalam sejarah manusia;

Bagaimana Umat awal dipandu oleh Wahyu dan suri teladan Rasul SAW selama sekitar 23 tahun di era Mekah dan Madinah; dan

Warisan Rasul SAW kepada Umat dan refleksi mengenainya.

Jika Anda memiliki komitmen untuk memperluas dan memperdalam pemahaman peradaban Muslim awal dalam waktu singkat serta berbasis referensi yang dapt diandalkan maka BUKU INI adalah tepat untuk Anda.

Signifikansi Keindahan dalam Ajaran dan Peradaban Islam

Istilah keindahan dalam artikel ini merupakan terjemahan bebas kata Arab husn yang menunjukkan kualitas baik dan indah. Keindahan sangat terkait dengan cinta sebagaimana terungkap dalam sabda Junjugan: “Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Artikel ini melihat secara sepintas lalu signifikasi keindahan dalam ajaran Islam— khususnya pilar Ihsan– dan dalam peradaban Islam, khusunya bidang kesenian. Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap (diedit terakhir 3/4/2010) silakan klik:  Cinta dan Keindahan

Ihsān: Pilar Agama yang Terabaikan

Hadits Jibril menegaskan tiga cabang, logi, atau pilar Agama:  Īmān, Islām dan Ihsān. Dua cabang pertama sangat populer karena terkait dengan apa yang dikenal sebagai Rukun Iman dan Rukun Islam, cabang terakhir kurang populer. Cabang ini dirumuskan secara sangat padat: “Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak mampu melihat-Nya, percayalah Dia senantiasa melihatmu”.

Layaknya fungsi cabang pada pohon, kekurangan cabang pasti akan mengurangi ‘keteduhan’ pohon Islam. Layaknya bangunan gedung, kekurangan satu pilar dari yang seharausnya akan mengurangi nilai seni arsitektur, mengganggu keseimbangan daya tahan atau bahkan merobohkan bangunan Islam.

Tulisan pendek ini terkait dengan topik Ihsān dan dapat diakses di SINI