Covid-19, Iklim dan Pakistan

Kita secara kolektif tengah menghadapi dua macam krisis global luar biasa: krisis kesehatan dan krisis cuaca. Yang pertama dalam bentuk pandemi Covid-19 yang disebut oleh Dirjen WHO sebagai krisis kesehatan ‘sekali-dalam-seabad’ (once-in-a-century health crisis). Yang kedua dalam bentuk ‘bencana cuaca’ (climate cliff) yang belum tetapi patut diduga akan segera terjadi jika kita secara kolektif tidak segera melakukan aksi nyata untuk menghadapinya[1]. Dalam konteks ini Pakistan menarik untuk disorot karena memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia. Dari sisi agama keduanya sama-sama mayoritas muslim; dari sisi penduduk Indonesia hanya menang tipis (sekitar 52 juta).

Dampak Ekonomi

Dalam peringkat dunia Pakistan menempati urutan ke-16 negara yang paling terinfeksi pandemi Covid-19. Menurut worldmeter, per tanggal 25 Agustus 2020, negara ini mencatat sekitar 294,000 total kasus dengan 6,255 total kematian karena Covid-19. Sebagai perbandingan, pada tanggal yang sama Indonesia mencatat 155,000 kasus dengan 6,759 kasus kematian. Jadi dalam hal kematian, Indonesia sedikit lebih ‘unggul’. Dilihat dari total kasus yang tersembuhkan (recovered) Pakistan yang unggul: 278,425 kasus (Pakistan) berbanding 111,060 kasus (Indonesia).

Seperti halnya yang terjadi di semua negara, di Pakistan pandemi Covid-19 berdampak buruk terhadap ekonomi. Seperti dikemukakan Zafar Moti (mantan direktur Pasar Modal Pakistan, KSE), ‘Ekonomi Pakistan merosot, penganggur meningkat dan beberapa sektor ekonomi dalam krisis”. Walaupun demikian ia mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan pasar keuangan Pakistan dan lebih prihatin mengenai dampak jangka panjang pandemi. Gejalanya sudah tampak: ketika Khan menduduki jabatan Presiden di tahun 2018, pertumbuhan GDP sekitar 5.8%; sekarang hanya 0.98% dan diperkirakan akan terus merosot.

PSBB Cerdas

Kasus harian Covid-19 di Pakistan dilaporkan cenderung turun. Bagi sebagian hal ini lebih terkait dengan berkurangnya pemeriksaan kasus ketimbang gambaran riil lapangan. Bagi Khan (PM Pakistan) penurunan itu terjadi karena PSBB yang cerdas (smart lockdown).

Sukar dipastikan penyebab penurunan kasus tetapi yang pasti Khan mengambil “strategi hijau” (green strategy) dengan proyek restorasi hutan yang ambisius, proyek 10 juta Pohon Tsunami (the 10 Billion Tree Tsunami). Strategi ini dipuji Sekjen PBB ketika melakukan kunjungan di empat negara Asia Selatan (16 Februari 2020): “Like all developing countries, Pakistan has contributed little to the problem but is facing a major impact from climate changes”.

Terkait perubahan iklim ini upaya Pakistan sangat serius. Pada tahun 2014 (jauh sebelum ada Covid-19), Pakistan menanam satu milyar pohon yang mencakup 350,000 hektar. Pada tahun 2020 ini upaya itu diperluas dengan mencakup 10 miliar pohon. Kita boleh saja menilai proyek ini ambisius tetapi pengalaman 2014 menunjukkan bahwa proyek semacam ini dapat dilakukan secara berhasil.

Mega proyek 10 miliar pohon diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru dalam jumlah yang relatif besar: “the mega 10 billion tree scheme is expected to create 1.5 million jobs in the next four years, according to Pakistan’s Ministry of Climate Change. Rupanya di Pakistan ada Menteri Perubahan Iklim. Itu adalah strategi ini cerdas, ‘sekali tepuk dua lalat mati’: pengangguran (akibat ekonomi terpuruk) dan pemanasan global.

******

Pakistan dan Indonesia sama-sama mayoritas Muslim dan sama-sama berpenduduk besar. Tetapi dalam urusan pohon keduanya berseberangan: jika Pakistan menanam pohon maka Indonesia menebang pohon (lihat Tabel).

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2020/08/06/climgeddon-global-warming-climate-change/

Covid-19, Ekonomi dan Penganggur: Kasus Amerika Serikat

Konteks

Covid-19, ekonomi dan penganggur. Tiga kata ini merefleksikan krisis global masa kini. Dampak buruk Covid-19 terhadap ekonomi jelas dan terdokumentasikan secara relatif memadai: statistik untuk menilai secara objektif relatif mudah diakses. Dampak buruk terhadap ketenagakerjaan juga jelas tetapi statistik yang relevan masih langka. Sejauh ini penulis hanya mampu mengakses data Amerika Serikat (AS) yang melalui tulisan ini dimanfaatkan untuk menilai dampak buruk Covid-19 terhadap ketenagakerjaan, menggunakan ukuran angka pengangguran.

Klaim Berlebihan

Bagi AS– tidak mustahil juga bagi negara lain– dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan luar biasa. Angka penganggur negara ini menembus dua digit (10% ke atas) sebagaimana disajikan dalam laporan thebalance berikut:

The current U.S. unemployment rate fell slightly to 13.3% after reaching 14.7% in April 2020. More than 20 million workers were let go from their jobs in response to the coronavirus pandemic. The forecast for second-quarter 2020 is 14% as the economy recovers from the shut-down.

Untuk melihat dimensi sejarahnya dapat dilihat tren angka pengangguran selama 70 tahun terakhir sebagaimana disajikan oleh Grafik 1. Dari grafik ini ada tiga catatan yang layak dikemukakan. Pertama, sejak 1950, angka pengangguran selalu satu digit kecuali pada 1981 (11%) ketika krisis moneter (angka inflasi yang hiper) dan 2009 (10%) ketika terjadi krisis ekonomi. Kedua, pada 2020 angka pengangguran melonjak luar biasa padahal sebelumnya terus turun sejak 2010. Ketiga penurunan angka penganggur sampai 2019 berlangsung sejak 2010.

Catatan terakhir menunjukkan penurunan angka pengangguran berlangsung sejak era Obama, bukan baru terjadi di era Trump sebagaimana sering diklaim oleh Administrasi Trump. Dinyatakan secara berbeda, klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Grafik 1: Tren Angka Pengangguran AS, 1950-2020

Sumber: thebalance

….. klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Pertanyaan Moral

Angka pengangguran 14% (kuartal II 2020) bagi AS luar biasa tinggi karena yang biasa sejak 1942 angkanya hanya satu digit (4-6%). Dalam konteks ini, peristiwa pada 1942 dan 1945 layak dibubuhi catatan khusus:

  • Tahun 1942 adalah tahun ke-3 Perang Dunia II (PD II). Pada tahun ini angka pengangguran AS hanya 5%. Yang menarik, angka itu cenderung turun pada tahun-tahun berikutnya: 2% (1943), 1% (1944) dan 2% (1945).
  • Pada 1945 PD II berakhir. Angka pengangguran hanya 2% sementara angka pertumbuhan ekonomi minus 1%. Yang menarik, tahun berikutnya angka penganggur masih masih relatif rendah (4%) padahal angka pertumbuhan ekonomi minus 12%.

Dari catatan itu dapat ditarik pelajaran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu terkait secara langsung dengan angka pengangguran[1]. Pelajaran lainnya, industri terkait perang “bagus” untuk menekan angka penganggur. Catatan kedua menimbulkan pertanyaan moral: Apakah menekan angka pengangguran melalui pembangunan industri “perang” dapat dibenarkan secara moral? Pertanyaan analog: Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Tidak Sederhana

Gambaran menyeluruh tren angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi (GDP growth) dalam periode 1930-50 disajikan pada Grafik 2. Pada grafik ini tampak kecenderungan penurunan angka pengangguran di era PD II walaupun angka pertumbuhan ekonomi berfluktuasi bahkan negatif.

Grafik 3 menyajikan hal serupa tetapi untuk periode 1951-2000. Pada grafik ini tampak dalam periode 1993-2000, misalnya, kecenderungan umum penurunan angka penganggur sejalan dengan kenaikan angka pertumbuhan ekonomi. Pola serupa juga terjadi dalam dekade terakhir sejak 2011 sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 4.

Grafik 2: Tren Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1930-1950

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 3: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1950-2000

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 4: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 201-2019

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Dari tiga grafik ini tampak hubungan yang tidak sederhana antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi: ada hubungan negatif antara keduanya tetapi tidak selalu. Di sini letaknya arti penting intervensi pemerintah.

…. antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi ada hubungan negatif tetapi tidak selalu.

Intervensi Pemerintah

Melabeli AS sebagai negara liberal secara ekonomi mungkin menyesatkan. Fakta sejarah menunjukkan pemerintah AS seringkali melakukan intervensi terhadap kegiatan ekonomi “pasar-bebas” untuk melindungi kepentingan umum termasuk dalam bidang ketenagakerjaan. Pihak eksekutif tertinggi AS pada umumnya memprakarsai intervensi yang dimaksud seperti terlihat dalam beberapa kasus berikut.

  • Inisiatif Presiden Roosevelt (1933) untuk mengamankan sistem jaminan Bank untuk mengatasi Depresi Besar yang dipicu oleh rontoknya pasar saham (1929).
  • Inisiatif Presiden Truman yang menginstruksikan George yang (diakui sebagai arsitek kemenangan PD II) untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kelesuan ekonomi akibat perang yang melahirkan apa yang dikenal sebagai Marshall Plan (1947).
  • Obama tax cut (2010) untuk keluar dari krisis ekonomi 2009, dan
  • Tumpt tax cut (2018) untuk memberikan dorongan kuat terhadap pertumbuhan ekonomi dan menekan angka pengangguran

Yang terakhir secara luas dinilai berhasil dan keberhasilan ini merupakan andalan Trump dalam memenangkan Pilpres mendatang. Yang layak-catat, inisiatif menambah sekitar $1 triliun utang negara dalam 10 tahun mendatang.

Kebijakan Trump hampir selalu menuai kontroversi khususnya antara kalangan Republik dan kalangan Demokrat. Tapi dalam kasus jaminan penganggur hampir tidak ada yang mengkritik. Langkah ini secara ekonomi memang dinilai paling efektif untuk menggerakkan ekonomi dan mengurang dampak pengangguran. Logikanya sederhana: Uang jaminan pengangguran yang diberikan akan segera dibelanjakan oleh penerima untuk memperoleh kebutuhan pokok. Ini berarti kegiatan ekonomi penyedia barang dan jasa kebutuhan pokok bergerak. Pada gilirannya, ini akan berdampak positif terhadap lapangan kerja jasa keamanan di pasar, jasa transportasi, dan petani. Singkatnya, uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

….. uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

******

Kebijakan Trump terkait jaminan bagi penganggur, karena efektivitas dan kecepatan dampaknya, layak dipertimbangkan oleh pemerintah mana pun termasuk Indonesia. Untuk Indonesia belum tersedia data resmi yang dapat diakses oleh publik) pengangguran akibat Covid-19. Angkanya beredar antara 2-6 juta[2]. Katakanlah angkanya 4 juta dan pemerintah bermaksud memberikan jaminan Rp 1 juta/kepala/bulan maka kebutuhan per bulan hanya Rp 4 triliun. Hemat penulis angka ini relatif kecil terutama jika dilihat sebagai umpan untuk menggerakkan ekonomi.

Wallahualam.…. @

[1] (Orang ekonomi bilang angka penganggur adalah lag variable; artinya variabel itu akan terdampak secara positif (turun) jika pertumbuhan ekonomi terlalu berlangsung beberapa lama.)

[2] Perbedaannya terlalu besar untuk mengandalkan salah satu.

Gambar Besar Penduduk Global

Kata kunci: pertumbuhan yang melambat, konsekuensi pertumbuhan penduduk, 10 negara terbesar, sumbangan penduduk Afrika, tantangan global.

Konteks

PBB meramal penduduk global sampai akhir abad ini masih akan tumbuh. Hal ini tentu membawa konsekuensi pada berbagai bidang kehidupan termasuk sosek, ketenagakerjaan, kerawanan sosial, pelayanan publik, kesehatan masyarakat, migrasi, urbanisasi, dan lingkungan hidup termasuk pemanasan global. Sebagai contoh ilustratif, peningkatan penduduk berarti peningkatan permintaan akan kebutuhan pangan yang mendasar yaitu makanan dan minuman.

Tantangannya, luas dan kesuburan lahan pertanian semakin berkurang atau memburuk sementara sumber air minum bersih yang layak minum semakin menyusut. Tantangan ini sangat kompleks. Untuk menambah kompleksitas, komitmen para pengambil kebijakan secara umum dinilai tidak memadai [1]. Demikianlah situasinya sekalipun komunitas ilmiah dan sejumlah rekomendasi PBB rajin mengingatkan betapa seriusnya isu yang secara langsung terkait dengan kelangsungan hidup manusia di planet yang terbatas ini.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas secara rinci konsekuensi pertumbuhan penduduk yang kompleks itu tapi hanya memotret gambar besar penduduk global serta trennya sampai akhir abad ini. Tujuannya sekadar untuk membantu membayangkan besar masalah yang dihadapi komunitas global. Dalam konteks ini dinamika penduduk 10 negara terbesar memperoleh perhatian khusus karena sumbangannya terhadap penduduk global.

Masih Meningkat sekalipun Melambat

Seperti disinggung sebelumnya, total penduduk global masih akan meningkat. Totalnya diperkirakan sekitar 9.1 milyar pada 2019, meningkat menjadi 15.9 milyar pada 2050 dan 22.6 milyar pada 2100. Grafik 1 menyajikan tren total penduduk global yang dimaksud [2].

Kabar baiknya, rata-rata pertumbuhan per tahun (=r) terus turun mulai dari sekitar 2% dalam era 1950-an, menjadi 1% pada 2015 dan minus 2% pada 2100 (Grafik 1). Sebagai catatan, r minus tidak secara niscaya berarti penurunan total penduduk karena momentum penduduk sehubungan dengan struktur gender-umur. Situasinya ibarat kapal laut raksasa yang merapat ke pantai yang masih akan bergerak sekalipun mesinnya sudah dimatikan.

Grafik 1: Total dan Pertumbuhan Penduduk Global

Sumber: UN World Population Prospects 2019: Highlights.

10 Negara Terbesar

Tren penduduk global banyak dipengaruhi oleh dinamika penduduk kelompok negara “raksasa” dalam arti menempati rangking 10 negara terbesar. Dua dari 10 anggota kelompok ini adalah China dan India. Demikian besarnya penduduk dua negara ini sehingga dilaporkan tidak ada negara di planet ini yang secara budaya tidak dipengaruhi oleh budaya dua negara raksasa ini. Seperti akan terlihat nanti, dua negara ini masih akan mendominasi profil penduduk global.

Yang layak-catat, dua negara ini mewakili ras (bangsa) yang berbeda. Jika China mewakili ras berkulit kuning maka India berkulit putih dari cabang Aria (sama dengan ras Eropa)[3].

Di luar China dan India, ke delapan negara raksasa lainnya adalah Amerika Serikat (AS), Indonesia, Brasil, Rusia, Jepang, Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria. Terlihat Nigeria adalah satu-satunya wakil Afrika yang secara ras didominasi berkulit hitam. Yang wajib-segera-catat adalah bahwa urutan negara raksasa itu adalah keadaan tahun 1990 yang mengalami perubahan sepanjang abad ini.

Peranan Afrika

Tabel 1 menyajikan kelompok 10 negara terbesar dalam periode 1990-2100. (Angka dalam kurung adalah total penduduk dalam jutaan.) Pada tabel itu tampak total penduduk secara keseluruhan di kelompok ini meningkat sampai 2050 dan menurun dalam lima dekade berikutnya. Ini mengindikasikan berkurangnya sumbangan mereka terhadap penduduk global. Indikasinya lebih jelas jika dilihat dari proporsinya terhadap penduduk global: hampir 50% pada 2019 (penduduk global: 9.1 milyar), 33.4% pada 2050 (penduduk global: 15.9 milyar) dan hanya 23% pada 2100 (penduduk global 22.6 milyar).

Tabel 1: Daftar 10 Negara dengan Penduduk Terbesar

Urutan 1990 2019 2050 2100
1 China (1,177) China (1,434) India (1,639) India (1,450)
2 India (873) India (1,366) China (1,402) China (1,065)
3 Amerika Serikat (AS) (252) AS (329) Nigeria (401) Nigeria (733)
4 Indonesia (181) Indonesia (271) AS (379) AS (434)
5 Brasil (149) Pakistan (217) Pakistan (338) Pakistan (403)
6 Rusia (145) Brasil (211) Indonesia (331) Congo (362)
7 Jepang (125) Nigeria (201) Brasil (229) Indonesia (321)
8 Pakistan (108) Bangladesh (183) Ethiopia (205) Ethiopia (294)
9 Bangladesh (103) Rusia (146) Congo (194) Tanzania (286)
10 Nigeria (95) Meksiko (128) Bangladesh (193) Mesir (225)
Total 3,204 4.486 5,312 5,198

Sumber: Seperti Sumber Grafik 1.

Paling tidak ada enam butir catatan yang layak dikemukakan:

  • Asia. Mulai 2050 India menggeser posisi China sebagai negara terbesar. Pada 2100, dua negara ini bersama Indonesia dan Pakistan mewakili negara Asia dalam kelompok 10 negara terbesar dunia. Berbeda dengan Bangladesh, Indonesia masih bertahan sekalipun peringkatnya turun dari rangking ke-4 (1990 dan 2019), menjadi ke-6 (2050) dan ke-7 (2100).
  • Amerika Latin. Tahun 2019 Meksiko masuk 10 kelompok negara terbesar (1990: ke-11) sementara Jepang keluar dari kelompok itu (menjadi ke-11). Pada 2100 tidak ada wakil Amerika Latin dalam kelompok 10 terbesar dunia.
  • Afrika. Tahun 2100 Tanzania masuk kelompok terbesar (2050: ke-15) menggeser Brasil dan Bangladesh. Di sisi lain, pada tahun ini tiga negara yang sebelumnya “raksasa” sudah tidak muncul: Brasil, Rusia, dan Jepang. Tahun 2050 Ethiopia (2019: ke-12) dan Congo (2019: ke-16) masuk kelompok terbesar menggeser Rusia dan Meksiko (2019: ke-12). Peringkat Nigeria naik cepat dari rangking ke-10 (1990), ke-7 (2019), dan ke-3 (2050 dan 2100).

Seperti terlihat pada Tabel 1, pada 2100, dari 10 negara terbesar, 5 diantaranya wakil Benua Afrika yang pada 1990 hanya diwakili Nigeria. Pertumbuhan penduduk negeri ini luar biasa: total penduduknya pada tahun 1990 hanya 95 juta di 1990 dan 733 juta pada tahun 2100. Angka terakhir ini lebih dari dua kali total penduduk Indonesia pada tahun 2100 yang diproyeksikan sekitar 321 juta. Dari sisi ras, Indonesia, Malaysia dan Filipina termasuk ras berkulit kuning cabang katul istiwa.

Tantangan Global

Dengan masuknya lima negara Afrika (termasuk ras berkulit hitam kecuali Mesir yang tergolong Arab) ke dalam kelompok 10 negara “raksasa” maka profil penduduk global akhir abad ke-21, secara geografis dan ras, akan semakin beragam. Sepanjang abad ke-22 tidak mustahil Afrika akan mendominasi. Hal ini dapat diduga paling tidak karena dua alasan. Pertama, angka kelahiran Cina (juga Indonesia) cenderung turun terus dan penduduknya semakin menua. Kedua, angka kelahiran negara Afrika secara umum relatif tinggi. Terkait ini, struktur umur penduduk Afrika masih tergolong muda sehingga memiliki momentum untuk berkembang.

Jika para investor “melirik” Afrika (khususnya dari China) maka hal ini merupakan tindakan cerdas karena bagi mereka pertumbuhan penduduk berarti perluasan pangsa pasar. Tantangannya yang khas bagi penduduk kawasan ini adalah kerentanan terhadap rawan pangan dan kelangkaan sumber atau teknologi air bersih yang layak minum yang cenderung diperparah oleh perubahan iklim global. Masalah ini bersifat global walaupun mencolok di kawasan Afrika. Masalah ini juga serius dan mendesak sebagaimana dilaporkan WHO:

Water is a basic human need.

Without it, survival is not possible. Yet, in 2020, 2.1 billion people still wake up each morning without access to clean water. This means that millions of vulnerable families around the world do not drink, cook, or bathe with clean water.

For most rural schools and communities, access to clean water depends on outside NGOs (nonprofit organizations) purchasing or “giving” a well. However, there are millions of schools and communities that do not have access to nonprofit agencies or local government support. We must then ask ourselves: “How can we make water available for all?” Something must be done.

Must be done and Now!… @

[1] Sebagian melihat akar masalahnya terletak pada sistem demokrasi. Dalam sistem ini, masa kerja pendek (5-10 tahun) memaksa para pengambil kebijakan untuk fokus pada isu jangka pendek dan pragmatis demi mempertahankan kelangsungan hidup politik serta mengabaikan visi masa depan yang agak jauh sekalipun isunya mendesak secara kemanusiaan dan berbasis ilmiah.

[2] Model proyeksi yang mendasari grafik itu adalah model stokastik yang berarti memperhitungkan faktor ketidakpastian. Secara keseluruhan hasil proyeksi meyakinkan dengan 95% selang kepercayaan.

[3] Cabang kulit putih lainnya adalah ras Semit yang terdiri dari sub-cabang Arab dan Yahudi. Secara ras, Iran termasuk Aria yang bersama India membentuk Aria Timur yang dibedakan dengan Aria Barat (Eropa). Lihat William Soddart (2008: 66), Remembering in a World of Forgetting (World Wisdom).

Penduduk Jawa Tempo Dulu

Konteks

Penduduk pulau Jawa pada tahun 2020 diduga berjumlah sekitar  152.4 juta jiwa. Angka ini lebih besar dari, misalnya, angka total penduduk dari gabungan lima negara ASEAN lainnya: Filipina, Malaysia, Singapura, Brunei dan Timur Leste. Keseluruhan total penduduk lima negara ini sekitar 149.5 juta.

Trennya ke depan relatif mudah diperkirakan. Argumennya, Indonesia diberkahi data sensus penduduk setiap dekade sejak 1960-an yang merupakan sumber utama penghitungan angka proyeksi penduduk. Berkah lain, berbagai survei nasional yang dapat mendukung upaya perhitungan itu. Singkatnya, ada banyak “bukti keras” (hard evidence“) untuk meramal jumlah penduduk masa depan.

Pertanyaannya, bagaimana penduduk Jawa tempo dulu ketika bukti keras seperti itu belum tersedia. Tulisan ini bermaksud menyajikan potret besar dari penduduk yang dimaksud. Lebih penting dari itu, tulisan ini diharapkan dapat mendorong kajian lebih lanjut bidang yang “kurang seksi” ini.

Fokus pada Jawa

Yang menjadi perhatian tulisan ini adalah bidang kajian demografi sejarah (historical demography)[1] yang relatif masih terbelakang apalagi bagi Indonesia. Pengamatan penulis sejauh ini belum ada sarjana Indonesia yang menekuni bidang ini dan Prof. Widjoyo Nitisasatro mungkin satu-satunya kekecualian. Karyanya yang  berjudul Population Trends in Indonesia (1970) merupakan rujukan utama bagi yang meminati gambaran demografi Indonesia tempo dulu termasuk tulisan ini.

Dalam bukunya ini Widjoyo mempelajari secara cermat dan kritis sumber-sumber informasi yang relevan yang pada umumnya dihasilkan oleh para ahli-ahli sejarah Belanda. Selain itu, dari caranya menerapkan teknik demografi yang relatif canggih termasuk model penduduk stabil, beliau terkesan sebagai ahli demografi, bukan sekadar pemakai datanya. Tulisan ini mengulas secara sekilas tren penduduk Jawa dalam periode 1775-1900 utamanya berdasarkan karya Widjoyo itu[2].

Terhadap pertanyaan kenapa fokus pada Pulau Jawa jawabannya ada dua. Pertama, ulasan mencakup periode ketika NKRI belum ada. Kedua, data “Luar Jawa”, menurut para ahli termasuk Widjoyo, kurang dapat dipercaya. Latar belakangnya, para sejarawan Belanda yang lebih fokus pada penduduk Jawa dari pada Luar Jawa.

Periode 1775-1880

Total penduduk Jawa menjelang akhir abad ke-18, tepatnya 1775, diperkirakan sekitar 2.0 juta. Angka ini kira-kira setara dengan total penduduk Jakarta Selatan 2020. Angkanya meningkat per tahun sekitar 2.17% sehingga total penduduk mencapai angka 3.6 juta jiwa pada 1802. Ada tiga peristiwa sejarah penting yang layak-catat sekitar tahun itu:

  • Lima tahun sebelumnya (1770), Kapten James Cook memperbaiki kapalnya di Pulau Onrust (pantai Batavia) dalam upayanya mengelilingi dunia,
  • Tiga tahun setelahnya, lembaga pionir kegiatan ilmiah di Indonesia dan pendiri Museum Nasional di Jakarta, Royal Batavian Society of Arts and Sciences, didirikan oleh para intelektual Belanda (1778), dan
  • Enam tahun setelahnya Hamangkubuono 1 meninggal dunia.

Angka r=2.17% tergolong relatif tinggi. Hal ini tidak mustahil mengindikasikan membaiknya taraf kemakmuran penduduk selama periode 1775-1880.

Periode 1800-1850

Dalam 50 tahu berikutnya, angka pertumbuhan lebih rendah, r=2.01%. Tidak jelas mengenai alasan penurunan yang tergolong relatif signifikan ini. Yang dapat diketahui adalah beberapa catatan berikut:

  • 1800: VOC bangkrut dan dinasionalisasikan.
  • 1803: Fase pertama Perang Padri (sampai 1825)
  • 1808: Dandels, Gubernur Hindia Belanda, mulai membangun jalan raya besar di Jawa (Java Great Post Road),
  • 1814: Gunung Tambora (Sumbawa) meletus,
  • 1825: Perang Diponegoro (sampai 1830), dan
  • 1831: Perang Padri II (sampai 1838).

Periode 1850-1990

Tidak jelas bagaimana peristiwa-peristiwa sejarah itu terkait dengan penurunan angka pertumbuhan penduduk. Yang jelas, dengan r=2.01%, total penduduk Jawa 1850 menjadi 9.6 juta, kira-kira setara dengan 90% penduduk Jakarta 2020.

Angka pertumbuhan kembali meningkat menjadi 2.0% selama periode 1850-1900 sehingga total penduduk Jawa pada 1900 menjadi 28.7 juta atau sekitar 2.7 kali penduduk Jakarta 2020. Ada indikasi kenaikan pertumbuhan itu mencerminkan membaiknya taraf kemakmuran penduduk Jawa termasuk beberapa peristiwa sejarah berikut:

  • 1864: Pemerintah kolonial Belanda membangun pertama kali jaringan Kereta Api antara Semarang dan Tanggung(?),
  • 1868: Museum Nasional Indonesia secara resmi dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda.
  • 1870: Menghapus secara resmi sistem kerja paksa (Cultivation System) dan mulainya “Kebijakan Liberal” dengan mederegulasi sistem pemerintahan Hindia Belanda,
  • 1873: Lahirnya tokoh pejuang wanita Kartini (Jepara),
  • 1888: Dibangunnya kapal KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij) untuk mendukung unifikasi dan pembangunan perekonomian kolonial, dan
  • 1894: LA Brandes, seorang ahli filologi Balanda, menemukan serta mengamankan naskah Nagarakretagama.

Pada 1900 tidak ada peristiwa khusus yang perlu dicatat di sini. Pada 1901 ada: pemerintah kolonial Belanda mengumumkan kebijakan Etis (Ethical Policy). Kebijakan ini krusial karena membuka jalan bagi putra-putra terbaik bangsa untuk memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi yang pada gilirannya memampukan mereka menggalang kesadaran berbangsa bagi masyarakat luas.

*****

Tabel 1 meringkas tren penduduk Jawa dalam periode 1775-1900. Sebagai catatan,. Grafik 2 meringkas gambaran rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun selama periode 1775-1900.

Grafik 1: Tren Penduduk Jawa 1775-1900

Sumber: Widjoyo (1973), dikutip atau diolah dari berbagai tabel.

Catatan: Angka 1880-1900 hasil hitungan penulis berdasarkan data rata-rata angka pertumbuhan sebagaimana dilaporkan Widjoyo (1973: Tabel 9).

Tabel 1: Rata-rata Angka Pertumbuhan Penduduk Jawa (%)

Sumber: Seperti sumber Grafik 1

******

Diskusi di atas mengilustrasikan bagaimana dinamika penduduk (bidang kajian demografi) diletakkan dalam konteks sejarah (bidang kajian sejarah). Ini menunjukkan adanya kaitan antara demografi dan ilmu sejarah. Seperti ditegaskan Pichat (1973:12) [3], demografi sebenarnya terkait erat dengan berbagai disiplin ilmu-ilmu yang lain. Sayangnya semangat berbagi antara demografer dan spesialis dari disiplin keilmuan lain masih sedikit, paling tidak menurut Pichat:

Despite demography’s close links with the other sciences, little interchanges take place between demographers and other science specialist. The result is that the letter are unaware of the full scope of their own particular branch in which their researchers would prove useful to demographers. It is to be hoped that this situation will change and that demographers and other scientists will be led to co-operative fully together.

Kutipan di atas jelas merefleksikan seruan kerja sama antara demogafer dengan spesialis bidang lain: ahli sejarah, sosiolog, ekonom, ahli lingkungan hidup, arkeolog, ahli kebijakan publik, fisiologi manusia, psikologi, ahli tata kota ruang, dan kriminolog. Ini daftar terbuka yang masih dapat diperpanjang. Seruan semacam ini kini lebih urgen karena semakin kompleksnya masyarakat global.

Wallahualam….. @

[1] Ulasan singkat mengenai cabag kajian ini dapat dilihat dalam Jean Bourgeois-Pichat, Main trends in demography (1973:57-61), George Allen & Unwin

[2] Kecuali disebutkan lain, sumber data berasal dari karya itu.

[3] Pichat (Ibid)

Isu Kerdil yang Besar

Apa masalahnya dengan kerdil? Bukankah itu soal genetis atau turunan orang tua? Apakah itu sesuatu yang dapat dicegah? Daftar pertanyaan semacam ini dapat diperpanjang. Tapi apapun jawabannya, yang jelas pemerintah menilai serius urusan ini. Indikasinya, untuk mengurusi isu ini, pemerintah telah membentuk P2AK: Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil[1]. Secara administrasi Tim ini berada di bawah Sekretariat Kantor Wakil Presiden dan ini menunjukkan besar, serius dan kompleksnya isu ini

Dari kepanjangan TP2AK terlihat beberapa hal berikut: (1) fokus perhatian pada anak, (2) pengerdilan anak diasumsikan dapat dicegah, dan (3) upaya pencegahan itu perlu dipercepat. Tapi apa masalahnya dengan kekerdilan ini? Inilah yang akan dicoba dijawab secara sederhana melalui tulisan singkat ini, sekadar untuk memperoleh gambar besarnya.

Definsi dan Dampak Stunting

Padanan Bahasa Inggris untuk kata kerdil adalah swarf (kata benda) sementara untuk kata pengerdilan adalah stunting (kata kerja). Yang menjadi isu bukan swarf tetapi stunting. Asumsi dasarnya, berbeda dengan swarf yang lebih bersifat genetis atau terjadi karena kelainan hormonal yang tidak dapat dicegah, stunting dapat dicegah. UNICEF menggunakan istilah yang terakhir ini untuk merujuk pada rendahnya tinggi badan anak relatif terhadap umurnya karena kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang dan seringnya infeksi: “Stunting, or low height for age, is caused by long-term insufficient nutrient intake and frequent infections”.

Dampak stunting ternyata luas termasuk lambatnya pertumbuhan motorik dan rusaknya fungsi kognitif anak, kedua hal ini pada gilirannya berakibat  pada buruknya kinerja sekolah anak. Dampak lebih jauh, menurut WHO stunting membawa dampak negatif terhadap produktivitas ekonomi nasional. Yang ‘menakutkan’, menurut UNICEF dampak stunting terhadap pertumbuhan motorik dan kognitif anak bersifat permanen (irreversible).

Prevalensi Stunting

Menurut UNICEF hampir sepertiga anak balita secara global tergolong stunting. Angka ini tidak berbeda jauh dari angka Indonesia yang dalam periode 2010-2019 sekitar 27-35%[2]. Dinyatakan secara berbeda, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa angka stunting Indonesia merepresentasikan angka stunting global.

…. angka stunting Indonesia representasi angka stunting global.

Prevalensi stunting relatif tinggi di negara-negara berkembang. Walaupun demikian, angkanya sangat bervariasi menurut kawasan. Angka untuk kawasan Asia Timur (Pasifk), misalnya, hanya 16%, jauh lebih rendah dari angka kawasan Asia Selatan (46%). Yang layak-catat, angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Highest levels are found in South Asia
Prevalence of stunting in children under five, by region (2000–2006)

Source: UNICEF

Angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Sebagai catatan, proses pengumpulan data untuk menghitung angka pengukuran stunting secara langsung relatif kompleks sehingga sulit diajarkan pada petugas Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Di sisi lain, kuesioner Susenas menyediakan sejumlah variabel yang dapat digunakan untuk membangun variabel penjelas (explanatory variables) bahkan untuk menghitung proksi indikator stunting. Dengan demikian data Susenas secara umum berpotensi untuk digunakan sebagai alat pemantauan status stunting secara berkala.

Tantangannya, rancangan sampel Susenas utamanya dimaksudkan untuk mengukur karakteristik rumah tangga secara umum, bukan karakteristik sub-populasi anggota rumah tangga secara spesifik seperti balita apalagi baduta. Dalam konteks ini, kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan bukan merupakan pilihan tetapi merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

…. kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan … merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

Faktor Pengaruh

Terkait anak stunting ini catatan pentingnya adalah bahwa kondisinya merupakan akibat dari sejumlah faktor yang terjadi bahkan sebelum anak itu terlahir. Itulah sebabnya upaya penanganannya mencakup 1000 hari pertama termasuk ketika anak itu masih berbentuk janin dalam rahim ibunya. Dengan demikian faktor ibu turut menentukan: asupan gizi dan kesehatan reproduksi ibu ketika mengandung turut menentukan. Jika asupan gizinya buruk atau secara fisik belum siap (akibat pernikahan dini) maka besar kemungkinan dia melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR).

Banyak faktor yang mempengaruhi stunting termasuk sejarah kesakitan neonatal dan kemiskinan. Menurut suatu penelitian (2017) terhadap anak berumur 12-23 bulan, bayi dengan sejarah kesakitan neonatal (neonatal illness) memilki OR=1.23; artinya, memiliki risiko menjadi stunting 23% lebih tinggi dari bayi yang tidak memiliki sejarah itu. Sementara itu, risiko kemiskinan (tidak langsung) memiliki OR=1.3.

Menurut penelitian yang sama, risiko BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan risiko dua faktor sebelumnya. Angka OR-nya sekitar 1.74. Dengan kata lain, bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau di bawah normal (<2.5 kg) berisiko 74% lebih tinggi untuk menjadi stunting dibandingkan bayi yang lahir dengan berat badan normal (>=2.5 kg[3]). Yang juga layak-catat dari penelitian ini adalah bahwa bayi laki-laki 27% berisiko lebih tinggi menjadi stunting dari pada bayi perempuan. Apakah angka terakhir menunjukkan bahwa wanita lebih “tangguh” dari pria sejak masih bayi?

Wallahualam…. @

[1] Penulis baru saja kenal istilah TP2AK karena kebetulan beberapa hari lalu (3/6/20) berpartisipasi dalam suatu Zoom Meeting terkait isu ini.

[2] Menurut suatu penelitian (2017), prevalensi stunting anak umur 12-23 bulan di Indonesia sekitar 40.4%.

[3] Angka ini lebih kecil dari 2 standar deviasi median dari standar tinggi badan per umur menurut standar WHO.