Proporsi Ilahi

Mereka yang pernah belajar matematik umumnya mengenal deret Fibonacci ini: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, …Tiga titik terakhir menunjukkan deret itu dapat dilanjutkan secara tak-terhingga. Deret ini dapat dikatakan sederhana karena angka pada setiap suku mudah ditebak: perjumlahan dari dua suku sebelumnya. Dengan demikian, setelah 144 kita dapat menduga dua angka berikutnya adalah 233 dan 337.

Berdasarkan deret itu dapat disusun deret rasio dari dua suku yang berurutan (tentu saja hanya dapat dimulai dari suku-3) sebagai berikut:

1,000, 2,000, 1,667, 1,600, 1,625, 1,615, 1,619, 1,618, 1,618 dan 1,618

Yang menarik, tiga angka terakhir ini adalah 1,618 dan, ini lebih menarik, angka ini tidak berubah secara signifikan pada suku-suku berikutnya (sejauh menggunakan tiga digit di belakang koma). Sebagai contoh: 233/144=1,618, 377/233=1,618, dan 610/377=1,618.

Rasio ini telah ‘menyihir’ banyak matematikawan kaliber dunia sejak abad ke-5 SM. Mereka juga menyusun beragam formula; satu di anatarnya yang mungkin paling mudah dipahami adalah formula Binet: [1+sqrt(5)] /2. Rasio inilah yang dikenal sebagai ‘rasio emas’ oleh para metmatikawan dan ‘proporsi ilahi’ oleh para artis abad renaisans:

The Golden Ratio (phi = φ) is often called The Most Beautiful Number In The Universe. The reason φ is so extraordinary is because it can be visualized almost everywhere, starting from geometry to the human body itself! The Renaissance Artists called this “The Divine Proportion” or “The Golden Ratio”.

Alasan pemberian nama itu, seperti yang terlihat dalam kutipan, karena rasio itu hampir selalu termanfastasikan di manapun, termasuk, misalnya, di dunia flora (seperti rasio diameter dua kuncup bunga matahari yang berdekatan), organisme DNA, system matahari (solar system), seni-arsitektur, dan struktur tubuh manusia. Dalam seni-arsitektur,  misalnya, rasio emas digunakan secara ekstensif dalam bangunan The Great Pyramid of Giza, Notre Dame, The Vitruvian Man, The Last Supper, dan The Parthenon. Dalam struktur tubu manusia, sebagai misal lain, penggunaan ratio emas terlihat dalamkutipan berikut:

  • … jika Anda membagi panjang dari kepala sampai ujung kaki dengan panjang dari pusar sampai ujung kaki, Anda akan menemukan jawabannya cenderung mendekati φ..
  • Sekarang, bagi panjang dari bahu ke ujung jari telunjuk dengan panjang dari siku ke pergelangan tangan (dari lengan yang sama) dan Anda akan mendapatkan φ .!!
  • Bagilah panjang dari atas kepala hingga bahu dengan panjang dari atas kepala hingga dagu, φ lagi!
  • Bagian atas kepala sampai pusar dengan panjang antara kepala dan bahu…φ lagi!!!
  • Jarak antara pusar dan lutut, dengan jarak antara lutut dan bagian bawah kaki …. φ lagi!
  • Sekarang bagi panjang wajahmu dengan lebar wajah…… φ lagi!!
  • Lebar dua gigi atas Anda dengan tingginya, dan Anda akan mendapatkan φ lagi!
  • Bibir ke alis dibagi panjang hidung, φ lagi!

Secara singkat, struktur fisik bagian-bagian tubuh proprsional dengan proporsi ilahi (meminjam istila para artis era Renaissance), φ. Mungkin ini maksud ayat yang mengatakan manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (QS 95:4, ahsanu taqwim) walaupun harkatnya dapat tergradasi “lebih rendah dari bintang ternak” (QS 7:179). Rasio ini mungkin isyarat sekaligus tantangan-Nya yang diwahyukan lebih dari 14 abad lalu bahwa: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami pada ufuk-ufuk dan pada diri mereka sendiri… “ (QS 41:153).

Wallahu’alam…. @

 

 

 

Barakah Basmalah

Kata kunci: kalimah berbarakah, akar kata basmalah, rahmat intrinsik dan ekstrinsik.

Ketika siap menyantap makanan nenek penulis dulu selalu meningatkan untuk membaca basmalah terlebih dahulu; untuk “ngalep berkah”, katanya. Wejangannya biasanya panjang dan mengulang-ngulang yang pada intinya bermaksud menegaskan bahwa basmalah adalah “mantra” yang harus dibaca sebelum memulai suatu kegiatan: berangkat sekolah, belajar dan bepergian. Karena bukan cucu yang baik penulis hampir selalu melupakan wejangnan itu. Baru akhir-akhir ini saja penulis mengingatnya dan berupaya ‘menguji’ apakah wejangan nenek itu berdasar. Tulisan ini mencatat sebagaian upaya itu dan disajikan di sini dengan harapan ada bisa ‘ngalep’ berkah.

Basmalah sebagai Kalimah Berbarakah

Istilah mantra yang digunakan nenek (sekolah sampai kelas 2 SR menurut pengakuannya) ternyata tidak terlalu keliru[1]. Ini mengagetkan. Yang mengagetkan lagi, kaitan antara basmalah dan keberkahan ternyata ada haditsnya[2]

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara perkara (kehidupan) yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” 

Komentar ulama mengenai hadits ini beragam. Sebagian mereka menilainya “lemah” (dhaif), sebagian “baik” (hasan) dan “sah” (shahih). Walaupun demikian, sebagian besar ulama agaknya memberikan penilaian ‘baik’ (termasuk Imam Nawawi dan Ibnu Hajar)[3]. Mengenai hal ini pendapat Syaikh shalih Al-Fauzan agaknya layak jadi rujukan ketika mengemukakan[4]:

والحكمة في البدء ببسم الله الرحمن الرحيم التبرك بها لأنها كلمة مباركة فإذا ذكرت في أول الكتاب أو في أول الرسالة تكونبركة عليه. أما الكتب أو الرسائل التي لا تبدأ ببسم الله الرحمن الرحيم فإنها تكون ناقصة لا خير فيها، ومن ناحية أخرى بسمالله الرحمن الرحيم فيها الاستعانة بالله جل وعلا

Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah ta’ala”.

Analisis Bahasa: Akar Kata Basmalah

Basmalah terdiri dari lima kata: bi, ismi, Allah, al-Rahman, dan al-Rahiem. Dua kata terakhir terkait dengan keberkahan. Akar kata keduanya adalah ر ح م. Ibn Faris (wafat 1005) merumuskan akar kata itu sebagai berikut

رحم (مقاييس اللغة) 
الراء والحاء والميم أصلٌ واحدٌ يدلُّ على الرّقّة والعطف والرأفة.

(Sebagai referensi lihat Grand Quran Academic Study Circle.)

Rumusan ini menggambarkan akar kata itu terkait dengan kelembutan (gentility, gentleness, tenderness, softness), kasih sayang (affection), kebaikan dan belas kasih (kindnsess and mercy), pengampunan (celemency) dan keibuan (motherliness). Keluasan makna itu agaknya membuat kata رحم  sangat sulit (jika mungkin) dicarikan padananya dalam bahasa non-Arab.

Al-Rahman dan al-Rahiem pada umumnya diterjemahkan sebagai ‘yang Maha Pengasih” dan ‘Maha Penyayang”. Terjemahan ini sesuai dengan rumusan di atas. Walaupun demikian, terjemahan itu terkesan kurang ‘menggigit’ bahkan mungkin dapat dikatakan mengisyaratkan kemiskinan kosa kata Bahasa Indonesia ketika mengalih-bahasakan bahasa lain khsusnya al-Quran. 

Dalam konteks ini, kosa kata Bahasa Inggris agaknya lebih kaya dari Bahasa Indonesia. Sebagai ilustrasi, Grand menyebut al-Rahman sebagai “Nama Pribadi Allah SWT” (“Personal Name of Allah the Exalted”) sementara al-Rahien sebagai “Sumber belas kasih, kasih yang menguasai semua keputusan-Nya” (“The fountain of mercy—mercy overarching all His decisions”). Yang terkhir jelas lebih mendalam dari sekadar ‘Maha Penyayang’.

Rahmat Intrinsik dan Rahmat Ekstrinsik

Sudut pandang yang berbeda dikemukakan oleh Schuon dalam beberapa tulisannya termasuk “Understanding Islam” dan “Al-Quran”. Baginya, al-Rahman dan al-Rahiem berasal dari kata rahmah. Bedanya, yang pertama merupakan Rahmat intrinsik, yang kedua Rahmat ekstrinsik. Agar jelas, berikut disajikan pendapatnya sebagaimana dikutip oleh Velodia (tanpa tahun)[5]:

Rahman / Rahim: The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits . . . The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man. [UI, The Quran].

Rahman / Rahim: Nama Ilahi Rahman dan Rahim, keduanya berasal dari kata Rahmah (“Mercy”), yang berarti, yang pertama adalah Rahmat intrinsik Tuhan dan yang terakhir Rahmat ekstrinsik; dengan demikian yang pertama menunjukkan kualitas yang tidak terbatas dan yang terakhir merupakan manifestasi tanpa batas dari kualitas itu. Kata-kata itu juga bisa masing-masing diterjemahkan sebagai Pencipta melalui Cinta dan “Penyelamat melalui Rahmat,” atau mengambil inspirasi dari sebuah Hadits, kita bisa berkomentar sebagai berikut: Ar-Rahman adalah Pencipta dunia karena apriori dan sekali dan untuk semua Dia telah melengkapi unsur-unsur kesejahteraan dari dunia yang lebih rendah ini, sementara Ar-Rahim adalah Penyelamat manusia karena Dia menganugerahkan kepada mereka kebahagiaan dunia setelahnya, atau sejauh Dia memberi mereka di sini di bawah benih itu dunia lain atau membagikan manfaatnya. . . Nama Rahman seperti langit yang penuh cahaya; Nama Rahim seperti sinar hangat yang datang dari langit dan memberi kehidupan bagi manusia. [UI, Alquran].

Kutipan itu menggambarkan kedalaman makna Rahman-Rahim, juga kedalaman pemahaman Schuon mengenai dua kata ini. Garis bawah adalah tambahan penulis tulisan ini yang melihat kedalaman kandungan maknanya sehingga layak direnungkan lebih lanjut.

Wallahualam…. @


[1] Menurut Cambridge Content Dictionary,  mantra adalah “any word or expression used repeatedly: “Moderate” is the new Republican mantra … “

[2] HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya.

[3] Mengenai penilaian ini lihat https://rumaysho.com/14810-mulailah-dengan-bismillah.html.

[4] Ibid

[5] Glossary of Terms Used by Fritjhof Schuon.

Alif-Lam-Mim: Analisis Kuantitatif

Bagian dari misteri angka 7. Mungkin ada yang tartarik….

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Angka Istimewa

Angka 7 itu istimewa. Paling tidak ada dua macam argumen mengenai ini. Pertama, angka ini sering disebutkan dalam ayat-ayat kitab suci agama samawi; juga dalam tradisi peradaban kuno termasuk Hindu, China dan Maya. Kedua, angka ini juga banyak ditemukan dalam ayat-ayat “alamiah”:

  • Ada 7 planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Satunus dan Uranus;
  • Ada 7 atmosfer: troposfir, stratosfir, mesosfir, termosfir, ionosfir, eksosfir dan magnetosfir
  • Ada 7 kali gerak-rotasi bumi/minggu: Minggu, Senin, Selasa, Rabu. Kamis, Jumat dan Sabtu.

Pertanyaan: Apakah hal ini kebetulan semata? Wallahualam. Secara intuitif penulis menilai fakta-fakta quraniah dan kauniyah semacam itu hampir mustahil bersifat random. Yang jelas, keistimewaan angka 7 juga tampak jelas dalam kaitannya dengan salah satu ayat Al-Quran yaitu alif-lam-mim sebagaimana dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Sumber Gambar: Google

Ayat Istimewa

Alif-lam-mim adalah ayat istimewa. Atau misteri. Misterinya terletak pada fakta bahwa tidak ada mufasir yang berani…

View original post 526 more words

Artihmetical Code: A Brief Note

Tulisan singkat ini (Bahasa Inggris, kurang dari 1.000 kata) terkait dengan apa yang oleh Yuskel (2019) disebut sebagai kode matematika; maksudnya adalah angka 19. Dalam arti tertentu kode ini adalah sebuah misteri. Tulisan membahas secara singlar bagaimana dan mengapa data dikatakan demikian.

This short writing (in English, less than 1,000 words) has something to do with what Yuskel (2019) calls a mathematical code; meaning the number 19. In a sense this code is a mystery. This paper briefly discusses how and why.

Bagi yang tertarik membaca teks yang dimaksud, silakan klik/ For those who are interested in reading the text in question, please click ini/this atau/or disini/here

  

Memahami Angka Penganggur

Beberapa bulan lalu BPS mengumkan angka pengangguran Indonesia per Agustus 2020 hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Angkanya sekitar 7.1%. Ketika membaca angka ini seorang teman dari suatu kementerian mengaku tidak yakin memahami angka itu secara tepat dan mengajukan dua pertanyaan mendasar kepada penulis: “Apa artinya angka itu dan bagaimana angka itu diperoleh?” Penulis merespons secara singkat yang intinya kira-kira:

Orang yang cukup umur (15+) butuh pekerjaan. Yang terpenuhi kebutuhannya disebut bekerja. Yang tidak terpenuhi dan berupaya memperoleh pekerjaan serta bersedia bekerja, disebut pengagguran. Angka pengangguran dihitung sebagai persentase terhadap Angkatan Kerja.

Respons penanya di luar dugaan: “Antum (maksudnya ‘kamu’) tidak menjawab pertanyaan saya dan malah membuat saya lebih bingung”. Akibatnya, obrolan panjang terkait dengan isu pengangguran tidak terhindarkan. Untuk keperluan pribadi isi obrolan itu didokuemntasikan dalam bentuk tulisan sederhana. Bagi yang berminat mengaksesnya silakan klik ini.