Garry Wills dan Quran

Memahami pandangan Garry Wills (1934- ) mengenai Quran menarik paling tidak karena dua alasan. Pertama, beliau adalah seorang akademisi ternama di Amerika Serikat (AS), lulusan Saint Louis University (BA filsafat, 1957), Xavier University (MA, filsafat, 1958), dan Yale University (PhD, Classics, 1961). Dia juga dikenal luas sebagai dosen sejarah di John Hopkins University (1962-1980), pengarang, jurnalis dan ahli sejarah, khususnya sejarah gereja Katolik. Sejak 1973 beliau menghasilkan lebih dari 40 buku.

Kedua, beliau adalah seorang penganut Katolik yang saleh paling tidak sebagaimana terungkap dalam kutipan ini:

Wills describes himself as a Roman Catholic and ….has been a Roman Catholic all his life. He continues to attend Mass at the Sheil Catholic Center in Northwestern University. He prays the rosary every day, and wrote a book about the devotion (The Rosary: Prayer Comes Around) in 2005.

Pertanyanya, bagaimana Garry, dengan latar belakang akademis dan kehidupan pribadi seperti itu, tertarik dengan Quran. Itulah pertanyaan yang diajukan seorang moderator kepadanya ketika memulai ceramah di forum Carnegie Council on Ethics (2010). Jawaban Garry di luar dugaan: “Malu!” (“Shame!”).

Memalukan

Pasca peristiwa 9/11, sekelompok akademisi berdiskusi menanggapi tragedi itu termasuk Garry. Dalam kesempatan ini terungkap pertanyaan: “Siapa di antara kita yang pernah baca Al-Quran”. Ternyata tidak ada seorang pun dari peserta diskusi yang pernah Quran. “Bagaimana dengan kamu Garry sebagai seorang religious scholar?”, tanya seorang peserta. Jawaban Garry, “Itulah masalah saya. Saya tidak pernah baca Quran”. 

Bagi Garry, itu momen yang sangat memalukan baginya. Baginya, membahas hubungan antara Tragedi 9/11 dengan Islam (yang agaknya topik utama diskusi), tanpa memahami Quran, secara akademis naif. Garry mengaku mulai mempelajari Quran untuk ‘menebus’ rasa malu dan sikap naif itu. Dalam berbagai kesempatan dia mengajak secara terbuka semuanya, khusunya koleganya dari kalangan akademisi, unduk membaca Quran. Baginya hal ini penting untuk memahami perilaku Muslim yang menurutnya mencakup 23 persen populasi global, serta menyikapinya secara cerdas dan proporsional. 

Muslim dan Tragedi 9/11

Ketika ditanya mengenai hubungan antara Islam dengan Tragedi 9/11 dia menjawab hubungan itu tidak ada. Logikanya sederhana: Islam adalah agama, bukan orang atau pelaku kejahatan atau kebaikan. Sebagai ilustrasi, orang yang mengaku-habis sebagai seorang Pancasilais bisa saja berprilaku koruptor yang rakus, perilaku yang jelas bertentangan dengan niai-luhur Pancasila.

Bagi Garry, perilaku dari pelaku Tragedi 9/11 sama sekali tidak mewakili perilaku Muslim global. Sebagai argumen dia mengemukakan hasil Survei Gallup yang dinilainya sangat terpercaya (walaupun menurutnya sangat mahal tetapi masuk akal karena luasnya cakupan survei). Hasil survei itu menunjukkan secara global hanya tujuh persen Muslim yang membenarkan tindakan yang menyebabkan tragedi itu. 

Ketika didesak mengenai fenoma ISIS dan radikalisme dalam lingkungan Muslim lainnya dia tidak menjawab secara langsung. Alih-alih dia mengajak hadirin (yang agaknya mayoritas Kristen) untuk berpikir mengenai fenomena Perang Salib. Bagi Garry, perilaku ‘tragedi’ ini dari sisi Barat, sekalipun secara resmi diprakarsai oleh Gereja, tidak merepresentasikan nilai-nilai Kristiani.

Inklusif

Garry mengaku menemukan banyak yang mengagetkan dalam Quran; di antaranya, ketegasan mengenai “tidak adanya dosa asal (bawaan)” dan banyaknya ayat mengenai “Dia Maha Pengampun”. Dia juga mengaku sangat kaget inklusifitas Quran, “lebih inklusif dari Taurat maupun Injil”, tegasnya. Sebagai argumen dia mengemukakan QS (4:163):

Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami memberikan Kiatb Zabur kepada Daud.

Garry juga mengutip ayat yang mengemukan tidak ada perbedaan di antara para nabi (QS 2:136):

Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya”. 

Demikianlah ‘perkataan berat’ (qulan tsaqila) (QS 73:5) dua ayat Quran yang ditangkap oleh Garry dan menilanya sebagai cerminan inklusifitas ajaran qurani. Rincian pemikirannya lebih lanjut mengenai topik ini dapat diakses dalam bukunya yang berjudul: What the Qur’an Meant and Why It Matters?[1] Pertanyaan: sejauh mana Muslim kontemporer memiliki sense mengenai inklusifitas itu? 

Wallahualam…. @

[1] Kindle Edition, 235 pages. Published October 3rd 2017 by Penguin Books (first published October 1st 2017).

 

Model Kekuasaan: Zulkarnain VS Dajjal

Kisah Zulkarnain tercantum dalam Al-Quran walaupun Kitab Suci ini tidak menjelaskan siapa sebenarnya beliau ini dan kapan tokoh ini hidup dalam panggung sejarah. Karena tidak disebutkan maka terbuka bagi para ahli untuk menafsirkannya. Walaupun demikian kebanyakan ahli agaknya lebih cenderung menisbahkan beliau dengan Alexander the Great (356-323SM), raja Macedonia dalam Yunani, yang diakui secara luas sebagai komandan militer paling sukses dalam sejarah manusia. Menurut sejarah, kampanye militernya mencakup Kawasan Asia Barat, Afrika Utara sampai perbatasan India. 

Until memahaminya kita perlu meletakkan kisahnya dalam konteks keunikan karakteristik narasi Qurani yang menurut Samir Mahmoud dicirikan oleh tiga hal: (1) kisahnya ‘diturunkan dari langit’ (tanzilbrought down [jadi bukan semata-mata konstruksi mental manusiawi], (2) kisahnya mengandung ‘perkataan yang berat’ (qaul thaqila), (3) struktur dan urutan (tartib) kisah tidak linear (non-linear), dan (4) Quran menyasar semua manusia secara keseluruhan (bi-jumlatihi). Dengan demikian, kisah Zulkarnain atau Kisa Firaun, misalnya, bukan hanya mengenai masa lalu, tetapi juga dapat berlaku masa kini dan masa depan, dan bukan hanya relevan untuk kemlompok manusia tertentu. 

Kisah Zulkarnain dapat ditemukan dalam Al-Quran Surat Kahf ayat 83-98 (QS 18:83-98). Menurut Al-Quran, beliau dianugerahi kekuasaan besar di dibumi dan kemampuan untuk merealisasikannya (ayat 85). Wilayah kekuasaannya luas, mencakup Kawasan ”matahari terbenam” (ayat 86) sampai kawasan“ matahari terbit” (ayat 90). Dia juga dianugerahi kekuasaan konstitusional (ayat 86) dan merealisasikannya secara adil, bijak dan sesuai prinsip moral (ayat 87 dan 88). Beliau tidak memanfaatkan kekuasaan untuk keuntungan ekonomi walaupun ada kesempatan (ayat 94-95): “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (dari pada imbalanmu)”.

Berdasarkan kajian ayat-ayat di atas dan rujukan sumber lain (Hadits, tafsir, dan sejarah) Samir Mahmoud mengkategorikan Kekuasaan Zulkarnain (the reign of Dhulqarnayn) sebagai kekuasaan yang berbasis kebenaran (righteouness). Model kekuasaan ini dicirikan oleh penekanannya pada tatanan moral (moral order) sebagai ‘komando’ yang menentukan tatan politik (socio-political order) serta mendasari tatanan ekonomi (economic order). Jadi urutannya dari sisi hierarki adalah moral, politik dan ekonomi.

Bagi Samir urutan itu menentukan. Jika urutannya dibalik dengan menempatkan ekonomi sebagai komando maka basis kekuasaan tidak lagi kebenaran tetapi keserakahan yang oleh Samir diistilahkan oleh takatsur[1]. Model kekauasaan dengan basis takatsur ini oleh Samir disebut sebagai model Kekauasaan Dajjal (the reign of dajjal). Bagi Samirtakatsur adalah gambaran dunia yang hanya bernilai jika terukur:

The logic of Takatsur. It is a world which all things have values insofar as they can be monetized, quantified, measured, exploited, and amassed of symbols of wealth, pride, power, and vanity.

Bagi Samir, pembalikan urutan ini– dengan menempatkan ekonomi sebagai komando dan moral pada urutan terbawah– identik dengan inversi tatanan dalam perdaban, the inversion of order in civilization. 

Terkait dengan model ini Samir menyajikan lima catatan menarik:

  1. Ketika logika takatsur mendominasimaka semua nilai menjadi terbalik.
  2. Nilai-nilai moral menjadi patuh pada nilai pasar dan tatanan sosial-politik.
  3. Kebenaran tidak adalagi dan nilai menjadi relatif.
  4. Tidak ada lagi kekuatan yang dapat menahan gelombang nafsu rendah manusiawi (sifat buruknya, godaannya, keinginannya, paksaannya).
  5. Hasil akhirnya, malapetaka.

Kotak di bawah menyajikan perbandingan antara model Kekuasaan Zulkarnain dan Kekuasaan Dajjal sebagaimana dikemukakan Samir.

Wallahualam…. @

The Inversion of Order in Civilisation

Sumber: Samir Mahmoud
 
 

The Reign of Dhulqarnayn (Righteous)

 

The reign of Dajjal (Takatsur)

 

         
 

1)    Moral order

When the logic of takatsur dominated, all values are inverted.

1)    Economic order

 

 

2)    Socio-political order

Moral values become subservient to market values and socio-political order.

2)    Socio-political order

 

 

3)   Economic order

Truth is non-existent, values become relative.

3)    Moral order

 

 

 

There is no stemming the tide of lower nafs (its vices, temptation, desires, compulsion).

 

 

 

 

Only catastrophe can follow in its wake.

 

 

 

 

That is the law

 

 

 

[1]Istilah qurani yang merujuk pada Surat At-Takatsur, Surat ke-102.

HUSTON DAN AL-FATIHAH

Mengaitkan Huston dan Al-Fatihah menarik paling tidak karena tiga alasan. Pertama, Huston[1](1919-2016) adalah tokoh berkaliber dunia dalam bidang studi keagamaan. Kedua, dari sisi afiliasi keagamaan beliau adalah seorang Metodis (Protestan), bukan Muslim. Paling tidak demikianlah beliau dikenal. Ketiga, dari sisi kebiasaan, lebih dari 20 tahun dari masa akhir hidupnya, beliau terbiasa memulai kegiatan hariannya dengan Salat Subuh. Paling tidak demikianlah pengakuannya dalam satu wawancara yang direkam dalam berbagai media termasuk bukunya yang berjudul The Way Things Are (2003).

Yang lebih menarik lagi, ketiga ditanya alasan kebiasaanya Salat Subuh, beliau mengemukakan al-Fatihan– surat pendek Al-Quran yang hanya terdiri dari tujuh ayat, bacaan wajib dalam Salat– sebagai konsiderans. Ini katanya: “That so much of what is important in life could be packed into just seven short phrases is almost in itself that Islam is a revealed religion (WTA, halaman 18). Berikut adalah garis argumennya.

AYAT 1: ALHAMUDULILLAH AL-RABBIL AL-ALAMIN

Bagi Smith ayat ini menegaskan bahwa hidup ini bukan kebetulan:

The prayer opens with “Praise be to Allah, Creator of the worlds”. Right off we are given to understand that life is no accident. It has derived from the Ultimate Source that is divine.

AYAT 2: AL-RAHMAN, AL-RAHIM

Ayat ini menjawab pertanyaan: “Apa karakter keilahian, divinitas?” Bagi Smith, karakter itu adalah al-Rahman dan al-Rahim.

AYAT 3: MALIKI YAUMI AL-DIN

Bagi Smith, ayat ke-2 bersifat menghibur tetapi sekaligus mengundang bahaya meninabobokan  (complacency). Ayat ke-3 ini menetralisir bahaya itu secara langsung: “Penguasa Hari Pembalasan”.

AYAT 4: IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN

Bagi Smith, ayat ke-4 ini krusial bagi manusia: “Hanya kepada Engkau Kami Menyembah dan Hanya kepada Engkau Kami Mohon Pertolongan”. Kutipan berikut menjelaskan pandangannya terkait ayat ini:

Then come what (from the human standpoint) is the crucial fourth line: “Thee do we worship, and thee do we ask for aid.” I was taught that when you come to that central line in prayer you should take stock how is your day is going. If it’s going well, you should accent the first phrase, “Thee do worship,” and pour our gratitude like Niagara Falls. If, on the other hand, it is one of those days when you wonder how you are going to get through it, you ask for help: “Thee do ask for aid.” Swallow your pride and admit that we are all need help at times.

Kemudian datang apa (dari sudut pandang manusia) baris keempat yang penting: “Engkau menyembah, dan engkau meminta bantuan.” Saya diajari bahwa ketika sampai pada ayat, Anda harus memperhatikan bagaimana hari Anda. Jika berjalan lancar, Anda harus memberi aksen pada frasa pertama, “Hanya kepada-Mu Kamu kami menyembah” seraya melimpahkanrasa syukur layaknya limpahan Air Terjun Niagara. Sebaliknya, jika ada yang salah dan bertanya-tanya bagaimana Anda akan melewatinya, Anda memberi aksen pada frasa kedua: “Hany kepada-Mu kami mohon pertolongan”. Telanlah harga diri Anda dan akuilahbahwa kita semua terkadang memerlukan pertolongan.

AYAT 5-7: IHDINA AS-SHIRATAL MUSTAQIM… AL-DHALLIN.

Smith melihat tiga ayat terakhir merekapitulasi pesan spiritual ayat-ayat sebelumnya.

Wallahualam…. @


[1]Nama lengkapnyaHuston Cumming Smith, berkebangsaan Amerika Serikat yang secara luas diakui paling berpengaruh dalam bidang studi keagamaan. Beliau menulis setidaknya 13 buku tentang agama dan filsafat dunia termasuk the World’s Religions yang terjual lebih dari tiga juta eksemplar pada 2017 dan tetap menjadi pengantar populer untuk studi perbandingan agama. Buku ini tersedia dalam Bahasa Indonesia.

Einfühlung

Tidak perlu belajar psikologi untuk menyadari bahwa

kebahagiaan sejati hanya mungkin diraih dengan cara berbagi.

Tidak perlu wejangan ajengan untuk mengetahui bahwa

dalam kekayaan ada hak-hak kaum miskin.

Tidak perlu penasihat keamanan untuk mengetahui bahwa

tetangga adalah satpam yang paling dapat diandalkan.

Tidak perlu belajar konsultan ekonomi untuk menyimpulkan bahwa

kesehatan perusahaan menghendaki pemenuhan hak-hak karyawan.

Tidak perlu penasihat politik untuk mengetahui bahwa

stabilitas keamanan mensyaratkan kemampuan mendengarkan suara-suara kaum terpinggirkan.

Untuk semua itu tidak perlu belajar, wejangan, konsultan, penasihat.

Satu yang perlu, Einfühlung:

“the capacity to understand or feel what another person is experiencing from within their frame of reference, that is, the capacity to place oneself in another’s position

Kurva

Covid-19

Sudah hampir tiga puluh jutaan korban

Sudah hampir sejuta syuhada (semoga)

Sudah sekian juta kehilangan mata pencaharian

Kasus naik terus

Kurva belum melandai.

 

Musibah global ini kehendak alam?

Atau ulah manusia?

Pesan langit melalui At-Taubat 51 tegas:

“Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan

apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami… “.

 

Sebagian syuhada adalah para dokter- tenaga kesehatan di garis depan.

Mereka telah mengikat tali-unta

Korban tetap berjatuhan.

Para syuhada lain telah membuat jarak dan cuci tangan

Kurva belum melandai.

Isyarat sentuhan tangan gaib yang lebih perkasa

dari kekuatan iptek manusiawi?

 

Apakah musibah ini ulah manusia

direspons alam

merealisasikan ketetapan-Nya?

Pesan langit melalui At-Taubat 51 tegas:

“Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah

orang-orang yang beriman harus bertawakal”.

 

Tuhan

Engkau Maha Mengetahui

korban masih terus berjatuhan

kurva belum mau melandai.

Jika ini wujud azab-Mu

maka itu hak-Mu

karena kami hamba-Mu.

Tapi jika Engkau mengampuni kami

dan menghentikan bencana ini

maka itulah munajat kami.

Kami yakin Engkau Maha Gagah-Bijaksana? (QS 5:118).

Kami sadar rahmat-Mu melampaui murka-Mu (Hadits).

 

Tuhan

Kami telah mengingatkan tali-unta kami

sekencang yang kami bisa.

Tapi hanya uluran rahmat-Mu yang mampu

menghentikan korban berjatuhan dan

melanadaika kurva.

Tangerang 13-09-20