Covid-19, Iklim dan Pakistan

Kita secara kolektif tengah menghadapi dua macam krisis global luar biasa: krisis kesehatan dan krisis cuaca. Yang pertama dalam bentuk pandemi Covid-19 yang disebut oleh Dirjen WHO sebagai krisis kesehatan ‘sekali-dalam-seabad’ (once-in-a-century health crisis). Yang kedua dalam bentuk ‘bencana cuaca’ (climate cliff) yang belum tetapi patut diduga akan segera terjadi jika kita secara kolektif tidak segera melakukan aksi nyata untuk menghadapinya[1]. Dalam konteks ini Pakistan menarik untuk disorot karena memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia. Dari sisi agama keduanya sama-sama mayoritas muslim; dari sisi penduduk Indonesia hanya menang tipis (sekitar 52 juta).

Dampak Ekonomi

Dalam peringkat dunia Pakistan menempati urutan ke-16 negara yang paling terinfeksi pandemi Covid-19. Menurut worldmeter, per tanggal 25 Agustus 2020, negara ini mencatat sekitar 294,000 total kasus dengan 6,255 total kematian karena Covid-19. Sebagai perbandingan, pada tanggal yang sama Indonesia mencatat 155,000 kasus dengan 6,759 kasus kematian. Jadi dalam hal kematian, Indonesia sedikit lebih ‘unggul’. Dilihat dari total kasus yang tersembuhkan (recovered) Pakistan yang unggul: 278,425 kasus (Pakistan) berbanding 111,060 kasus (Indonesia).

Seperti halnya yang terjadi di semua negara, di Pakistan pandemi Covid-19 berdampak buruk terhadap ekonomi. Seperti dikemukakan Zafar Moti (mantan direktur Pasar Modal Pakistan, KSE), ‘Ekonomi Pakistan merosot, penganggur meningkat dan beberapa sektor ekonomi dalam krisis”. Walaupun demikian ia mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan pasar keuangan Pakistan dan lebih prihatin mengenai dampak jangka panjang pandemi. Gejalanya sudah tampak: ketika Khan menduduki jabatan Presiden di tahun 2018, pertumbuhan GDP sekitar 5.8%; sekarang hanya 0.98% dan diperkirakan akan terus merosot.

PSBB Cerdas

Kasus harian Covid-19 di Pakistan dilaporkan cenderung turun. Bagi sebagian hal ini lebih terkait dengan berkurangnya pemeriksaan kasus ketimbang gambaran riil lapangan. Bagi Khan (PM Pakistan) penurunan itu terjadi karena PSBB yang cerdas (smart lockdown).

Sukar dipastikan penyebab penurunan kasus tetapi yang pasti Khan mengambil “strategi hijau” (green strategy) dengan proyek restorasi hutan yang ambisius, proyek 10 juta Pohon Tsunami (the 10 Billion Tree Tsunami). Strategi ini dipuji Sekjen PBB ketika melakukan kunjungan di empat negara Asia Selatan (16 Februari 2020): “Like all developing countries, Pakistan has contributed little to the problem but is facing a major impact from climate changes”.

Terkait perubahan iklim ini upaya Pakistan sangat serius. Pada tahun 2014 (jauh sebelum ada Covid-19), Pakistan menanam satu milyar pohon yang mencakup 350,000 hektar. Pada tahun 2020 ini upaya itu diperluas dengan mencakup 10 miliar pohon. Kita boleh saja menilai proyek ini ambisius tetapi pengalaman 2014 menunjukkan bahwa proyek semacam ini dapat dilakukan secara berhasil.

Mega proyek 10 miliar pohon diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru dalam jumlah yang relatif besar: “the mega 10 billion tree scheme is expected to create 1.5 million jobs in the next four years, according to Pakistan’s Ministry of Climate Change. Rupanya di Pakistan ada Menteri Perubahan Iklim. Itu adalah strategi ini cerdas, ‘sekali tepuk dua lalat mati’: pengangguran (akibat ekonomi terpuruk) dan pemanasan global.

******

Pakistan dan Indonesia sama-sama mayoritas Muslim dan sama-sama berpenduduk besar. Tetapi dalam urusan pohon keduanya berseberangan: jika Pakistan menanam pohon maka Indonesia menebang pohon (lihat Tabel).

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2020/08/06/climgeddon-global-warming-climate-change/

Pemanasan Global dan Kesadaran Krisis

Ketika merespons tulisan penulis mengenai Climgeddon[1] seorang pembaca mengaku tidak tega menceritakan isinya kepada anak-cucunya. Respons ini wajar karena istilah itu merujuk pada skenario berakhirnya kehidupan akibat perubahan iklim. Perubahan ini mengarah pada pemanasan global yang terus meningkat secara eksponensial sehingga mencapai tingkat di mana tidak kesempatan untuk kembali, titik kritis (tipping points) dengan dampak yang sukar dibayangkan bagi kelangsungan kehidupan di Bumi.

Dua Tahun Ke Depan

Sekarang ini rata-rata suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas rata-rata sebelum era industri (1950-an). Angka idealnya adalah 1.5º Celsius sehingga kita sebenarnya telah memasuki Fase 1 dalam skenario Climgeddon. Berdasarkan pengalaman masa lalu dan dengan mengasumsikan kita secara kolektif melakukan kegiatan normal tanpa ada upaya radikal untuk menghindari maka dalam 2-6 tahun ke depan (2022) kita akan memasuki Fase 2. Dalam fase ini suhu global diprediksi akan mencapai 2.5º-3.2º Celsius (lihat Tabel).

Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario 

Bencana Iklim

Pemanasan global pararel dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (khususnya karbon) di atmosfer bumi. Tiga tahun lalu (2017) konsentrasi gas karbon sekitar 407 satuan per juta atau 407 ppm (part per million). Dalam Fase 1 (sekarang), konsentrasi itu diperkirakan 400-450 ppm dengan titik tengah 425 ppm. Angka 425 ppm ini disebut sebagai ”garis perang” (battleline) yang tidak boleh dilewati; jika tidak, dalam waktu kurang dari satu dekade konsentrasi karbon akan mencapai 450. Dengan konsentrasi sebesar itu maka kita akan memasuki era yang bernama bencana iklim (Climate Cliff) yang sukar dibayangkan dampaknya (lihat grafik).

Empat Titik Kritis

Menurut skenario Climgeddon kita akan memasuki jalur dengan ada empat titik kritis (tipping points) yang menurut JobOne dapat menciptakan umpan balik positif yang membahayakan:

Tipping points can create highly dangerous positive feedback loops. Positive feedback loops—endless, self-reinforcing cycles can speed a global warming process so much that it will jump from a gradual, linear progression to a very steep, exponential progression or a falling off a cliff progression or complete system collapse which can lead to mass human extinction within our lifetimes.

Titik kritis dapat membuat putaran umpan balik positif yang sangat berbahaya. Putaran umpan balik positif — siklus tak berujung yang menguatkan diri dapat mempercepat proses pemanasan global sedemikian rupa sehingga akan melompat dari perkembangan linier yang bertahap ke perkembangan yang sangat curam dan eksponensial atau terjatuh dari tebing atau runtuhnya sistem secara total yang dapat menyebabkan kepunahan massal manusia dalam hidup kita.

Menurut JobOne ada empat titik kritis, diukur dengan emisi karbon di atmosfer bumi, yang memiliki ‘jadwal’ masing-masing:

  • 2025: emisi karbon 425-450 ppm,
  • 2042-2067 (atau lebih awal): pencairan es global yang mempercepat kepunahan,
  • 2063-2071 (atau sebelumnya): pelepasan metana masif yang semakin cepat, dan
  • Setelah 2072: suhu pemanasan global yang semakin meningkat.

Dampak pemanasan global sangat luas: semakin menyusutnya laut es, meningkatnya frekuensi banjir dan tsunami, meningkatnya kegiatan vulkanik, menghilangnya hutan, kematian plankton, dan sebagainya. Masing-masing dampak itu berinteraksi dan saling memperkuat. Grafik di bawah mengilustrasikan dampak pemanasan global terhadap berbagai aspek kehidupan di planet Bumi ini.

Kesadaran Krisis

Skenario Climgeddon berbasis pengetahuan, bukan sensai jurnalis apalagi isapan jempol. Skenario ini menegaskan kita dalam krisis eksistensial, menyangkut kelangsungan hidup. Pesan ini sudah dikumandangkan secara sangat tegas pada tingkat global melalui berbagai forum termasuk SDG (Goal 13: Climate Actions) dan Paris Agreement. Pertanyaannya, kenapa aksi yang diharapkan SDG terkesan masih belum merasuki kesadaran kolektif kita secara signifikan, kesadaran krisis (sense of crisis) mengenai bencana iklim. Jawabannya, sebagian, karena ideologi[2] sebagian besar kita kita menganut doktrin tempus nullinus (empty time, “waktu hampa”) yang, sebagaimana diungkapkan Roman Krznaric (19/2/19), seakan-akan menjustifikasi penjajahan masa depan.

We treat the future like a distant colonial outpost devoid of people, where we can freely dump ecological degradation, technological risk, nuclear waste and public debt, and that we feel at liberty to plunder as we please.

Jawaban lain yang masuk akal adalah bahwa isu pemanasan global, berbeda dengan isu Covid-19, misalnya, tidak tampak (invisible), tidak dianggap sebagai ancaman langsung (immediate threat), tidak ada ‘contoh’ sebelumnya (unprecedented), dan hubungan sebab-akibatnya tidak sederhana (complex).

Doktrin tempus nullinus secara kategoris bertentangan dengan semangat ajaran dasar semua agama, iman kepada hari akhir. Dalam konteks masa kini ajaran ini dapat dianalogikan dengan konsep pembangunan berkesinambungan yang diwujudkan sebagai upaya sadar dan komitmen total untuk menunda kebahagiaan” hari ini demi kebahagiaan hari esok (meminjam istilah Cak Nur), demi kelangsungan hidup generasi mendatang…

Ulah Manusia

Skenario Climgeddon mengambil titik awal 1950-an ketika era industri menjadi mode ekonomi yang dianut secara universal. Manfaat pembangunan industri bagi kemaslahatan manusia mustahil dibantah. Yang diperlukan adalah kesadaran bahwa industrialisasi membawa serta unsur-unsur yang memandu kita pada bencana iklim yang gejalanya semakin me nampak:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30:41).

Apakah pandemi Covid-19 adalah salah satu cara Dia Rabb SWT mendidik (unsur dari Rabb) manusia? Pertanyaan ini timbul karena pengurangan aktivitas ekonomi karena pandemi ini terbukti membawa “berkah” dalam bentuk membaiknya kualitas atmosfer bumi walaupun agaknya tidak signifikan secara global dan belum memadai untuk memenuhi target Paris Agreement.

Wallahualam ….. @

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2020/08/06/climgeddon-global-warming-climate-change/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

Climgeddon

Akhir dunia. Semua agama dan tradisi besar mengenai istilah ini. Dalam Hinduisme, misalnya, ada istilah Pralaya[1] yang merujuk pada periode kehancuran alam semesta atau akhir dunia. Kata Mahapralaya merujuk pada situasi ketika kehancuran itu bersifat menyeluruh atau total. Tulisan ini terkait dengan skenario akhir dunia dalam skala Pralaya, akhir kehidupan di planet bumi ini. Skenario ini dikenal dengan kata majemuk Climgeddon, kombinasi kata Armageddon (skenario akhir dunia) dan climate (iklim) atau mudahnya pemanasan global. Singkatnya, Climgeddon adalah skenario berakhirnya kehidupan di bumi karena pemanasan global. Asumsi skenario: kita secara kolektif melakukan kegiatan normal seperti biasa tanpa aksi nyata untuk mengatasinya.

Masuk Akal

Skenario Climgeddon masuk akal karena tren pemanasan global adalah haq (Arab); artinya, benar dan nyata (riil). Ini angkanya: rata-rata suhu global naik lebih 1℃ dibandingkan dengan suhu sebelum industri (1950-an); angkanya, meningkat (Grafik 1).

Grafik 1: Rata-rata anomali Suhu Global

Sepintas kenaikan ini suhu global kecil tapi dampaknya luar biasa dan dapat dirasakan secara global. Kenaikan ini terjadi karena atmosfer bumi dipenuhi CO2 dan gas rumah kaca lainnya. Sekarang ini konsentrasi CO2 di atmosfer bumi sekitar 400 ppm, tertinggi selama 800,000 tahun. Yang bertanggung jawab kita yang secara global memancarkan CO2 ke atmosfer sekitar 36 miliar ton per tahun; angkanya, meningkat (Grafik 2).

Grafik 2 Total Emisi CO2 menurut Kawasan

Daftar Pendek

Kini kita berada pada Fase-1 Climgeddon dengan suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri. Dalam fase ini kita sudah menyaksikan berbagai bencana yang semakin sering dan parah. Ini daftar pendeknya (Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario):

  • menyusutnya laut es dan rak es, gletser dan salju di belahan Utara Bumi,
  • kegagalan panen serta meningkatkan kelaparan massal (juga, melonjaknya harga pangan),
  • meningkatnya frekuensi dan intensitas semua jenis badai ekstrem, (angin topan, tornado, bom hujan, topan bom, dll.),
  • meluasnya kekeringan, semakin langkanya ketersediaan air minum bersih,
  • meluasnya penggurunan,
  • semakin seringnya kebakaran dan kebakaran hutan dan banjir, semakin beracunnya polusi udara, pengasaman laut semakin meningkat[2],
  • keanekaragaman hayati terus berkurang,
  • migrasi hewan dan serangga,
  • semakin berkurangnya fungsinya hutan dalam mengambil karbon dari atmosfer[3], dan
  • semakin besarnya kerugian ekonomi karena dampak pemanasan global[4].

Daftar dapat ditambah dengan, misalnya, semakin banyaknya pulau yang ‘hilang’ tenggelam[5].

Sukar Dibayangkan

Dengan mengaji daftar pendek di atas, ketika suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri, mudah bagi kita membayangkan skenario ketika suhu global menjadi 2.5º-3.2º Celsius. Angka ini adalah Fase-2 Climgeddon; jadwalnya, 2027. Suhu global terus meningkat sehingga pada tahun 2071 mencapai 5º-6º Celsius.

Perancang Climgeddon membuat gambaran situasi sampai tahun 2070 tetapi tidak berani membayangkan situasinya tahun berikutnya dan hanya menuliskan ‘unknown‘. Silahkan simak Grafik 3 untuk melihat jadwal lengkap Climgeddon.

Grafik 3: Jadwal Climgeddon

Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario

******

Bagi Muslim, dalam konteks tulisan ini, terjemahan dua ayat ini layak direnungkan:

  • Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS 2;11).
  • Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia… (QS 30:41).

Wallahualam….. @

[1] Kamus Meriam-Webser mendefinisikannya sebagai “a period of dissolution or destruction of the manifested universe at the end of a kalpa according to Hindu philosophy: the end of the world“.

[2] Ini menyebabkan kehidupan laut kritis dan kematian terumbu karang. Pemanasan laut dan pengasaman laut dari karbon dari pemanasan global pada akhirnya akan membunuh banyak plankton penghasil oksigen lautan. Plankton ini bertanggung jawab atas sebanyak 50% dari semua oksigen diproduksi di planet ini.

[3] Hutan yang merupakan kekuatan penstabil utama yang menyerap karbon menjadi netral dalam penyerapan karbonnya dan berhenti mengambil karbon dari atmosfer. Segera dalam fase selanjutnya, hutan akan mulai melepaskan simpanan karbon mereka yang besar yang mendorong suhu lebih tinggi bahkan lebih cepat.

[4] Dalam fase ini, sebagian besar negara akan menghabiskan 1-3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) secara langsung atau tidak langsung untuk membayar konsekuensi dari darurat pemanasan global.

[5] Menurut suatu laporan Pulau Seribu sudah kehilangan beberapa pulau kecial dan Indonesia dalam waktu dekat akan kehilangan sekitar 2,000 pulau.

Sepuluh-Perintah-Tuhan dalam Al-Quran

Bagi Muslim Al-Quran menyajikan panduan lengkap apa yang harus dikerjakan (DOs) dan apa yang terlarang (DONTs). Dari sumber ini mereka dapat menyusun semacam daftar DOs dan DONTs. Dalam konteks ini QS(17:22-36) menarik untuk disimak karena mengisyaratkan sejumlah DOs yang utama dan di sisi lain sekitar 10-DONTs yang sangat “dibenci” Rabb SWT. QS(17:36) menggunakan istilah DONTs ini sebagai kejahatan yang “kejahatannya sangat dibenci di sisi Tuhanmu”[11. Melakukan kejahatan dalam kategori ini tentu merupakan dosa besar. Oleh karena itu dalam tulisan ini istilah 10 DONTs diganti dengan istilah 10-Dosa-Besar, sekadar untuk memudahkan ingatan. Yang menarik untuk dicatat, dalam tradisi dua agama samawi lain yaitu Yahudi dan Kristen dikenal apa yang disebut 10-Perintah-Tuhan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kesamaan dan perbedaan substansi ajaran dua “10” ini: 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar.

Kitab Keluaran dan Kitab Ulangan

Substansi 10-Perintah-Tuhan patut diduga diakrabi oleh Umat Yahudi dan Kristen karena tercantum dalam Kitab Keluaran (Exodus ) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy). Kedua Umat Agama Samawi ini juga patut diduga mengenali berbagai tradisi keagamaan mereka termasuk Talmud (Jewish Talmud, T), Kristen Reformasi (Reformed Christian, R), Septuagint (LXX). Philo (P), Lutheran (L), Samaritan (Samaritan Pentateuch, S), Augustine (A), dan Gereja Katolik (Catechism of the Catholic Church), C).

Sekalipun ada perbedaan narasi, substansi 10-Perintah-Tuhan dalam semua tradisi itu konsisten satu sama lain. Ada sedikit perbedaan mengenai penomoran. Angka 10 agaknya lebih merupakan alat bantu mengingat ketimbang masalah teologis[2].

Tabel 1: Daftar 10 Perintah-Tuhan[3] menurut Kitab Keluaran dan Kitab Ulangan (Sumber: Wikipedia)

Lima catatan mengenai Tabel 1 perlu disisipkan di sini:

  1. Nomor pertama jelas menunjukkan Subjek pemberi perintah, bukan jenis perintah.
  2. No. terakhir tidak tercantum dalam semua tradisi kecuali Gereja Katolik (C) yang agaknya baru diintroduksi oleh Pop John Paul 2 pada 1992.
  3. Dalam 3 tradisi (S,L,A,C), No. 2-3 dianggap sebagai satu perintah.
  4. Hampir semua perintah dalam kolom (2) bersifat larangan.
  5.  Redaksi ayat QS( 24:27) mengenai No. 11 berbicara umum mengenai larangan memasuki rumah orang lain sebelum memperoleh izin dan mengucapkan salam. Secara makna ini mungkin juga termasuk No. 12-13 dalam tabel tetapi secara harfiah tidak eksplisit.

Tabel 1 menunjukkan hampir semua dari 10-Perintah-Tuhan (Kolom 2) ada padanannya dalam Al-Quran (Kolom 3). Tiga perintah pertama (No 2-4) tidak lain dari pada ajaran Keesaan Tuhan atau ajaran Tauhid dalam terminologi Islam. Selain ajaran tauhid, Kolom 3 menunjukkan ada enam perintah lainnya yang ada padananya dalam Al-Quran. Fakta ini– kesamaan ajaran Tauhid dan enam ajaran lainya– selayaknya menjadi pijakan bersama, common denominator, atau kalimatun sawa (dalam istilah Al-Quran) bagi Umat agama-agama samawi yaitu Umat Yahudi, Umat Kristen, dan Umat Islam. Gelar Al-Quran untuk dua Umat yang pertama adalah ahli kitab, suatu gelar terhormat.

… kesamaan ajaran Tauhid dan enam ajaran lainnya sudah selayaknya menjadi pijakan bersama Umat agama-agama samawi …

Versi Al-Quran

Kolom (3) Tabel 1 menyajikan ayat Al-Quran yang relevan dengan kolom sebelumnya. Narasi ayat pada Kolom (3) sangat eksplisit dan kuat dari sisi kebahasaan. Berikut adalah beberapa ilustrasinya.

Terkait No. 1-3 (Keesaan Tuhan), redaksi Al-Quran mengacu pada cuplikan dialog antara Musa AS (leluhur Umat Yahudi) dengan Allah SWT: “Sungguh, Aku in Allah, tidak adalah tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku”. Redaksi ini jelas berbentuk dialog: pihak pertama (Arab: mutkallim) adalah Allah SWT, pihak kedua atau orang yang diajak bicara (Arab: mukhatabah) adalah Musa AS. Karena posisi mukhatabah ini maka Musa AS bergelar Kalimullah.

Terkait No. 6, perintah “menghormati orang tua”, narasi Al-Quran terkesan “senapas” dengan larangan menyekutukan-Nya karena keduanya tercantum dalam ayat yang sama (ayat ke-23). Mengenai perintah menghormati orang tua Al-Quran malah menambahkan satu ayat dengan bahasa yang sangat tegas tetapi juga elegan (ayat ke-24):

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan mengatakan kepada kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ungkapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (ayat ke-23).

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil” (ayat ke-24).”

Mengenai larangan mencuri (No. 9) narasi Al-Quran sangat spesifik dan relevan bahkan dalam konteks dunia masa kini: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan dengan timbangan yang benar. Itulah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS 17:33).

Irisan

Pada Tabel 1 tampak beberapa perintah bertanda (*) karena tidak tercantum secara eksplisit dalam Al-Quran. Di sisi lain, menggunakan rumpun ayat yang sama dalam Surat Al-Isra, ada empat larangan yang tidak tercantum dalam 10-Perintah-Tuhan. Ke empat larangan itu adalah (1) tindakan mubazir (ayat 36), (2) berperilaku pelit dan murah-hati berlebihan (ayat 29), (3) bertindak bodoh (tanpa ilmu) karena pendengaran, penglihatan dan gerak-hati, semuanya akan dimintakan pertanggungjawaban (ayat 36) dan (4) bersikap sombong (ayat 37). Mengenai yang terakhir berikut terjemahannya:

Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.

Singkatnya, dalam perspektif Al-Quran, kikir, boros, mubazir, bodoh dan sombong, bukan hanya buruk secara moral, tetapi merupakan bagian dari dosa besar dalam arti “sangat dibenci di sisi Tuhanmu” (teks: kana sayyiuhu ‘inda rabbika makruha).

… dalam perspektif Al-Quran, kikir, boros, mubazir, bodoh dan sombong, bukan hanya buruk secara moral, tetapi merupakan bagian dari dosa besar….

Berdasarkan diskusi di atas, dapat dikatakan bahwa 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar tidak persis identik. Artinya; ada bagian yang sama antara keduanya, ada bagian yang berbeda. Jika A = {10-Perintah-Tuhan} dan B= {10-Dosa-Besar} maka irisan antara A dan B menggambarkan kesamaan dua himpunan ini (lihat Gambar 1).

*****

Terhadap pertanyaan yang mungkin timbul kenapa 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar diperbandingkan, jawabannya adalah semangat ayat dalam QS (3:64):

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada suatu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan bahwa kita tidak tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada (mereka), ” Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim” (QS 3:64).

Wallahualam….. @

[1] Catatan kaki ayat ini dalam Al-Quran: Disertai Terjemahan dan Transliterasi, Mizan (2008) mendaftar 10 kejahatan yang dimaksud untuk merujuk kejahatan-kejahatan yang dirujuk oleh ayat-ayat sebelumnya sampai ayat ke-22.

[2] “Some suggest that the number ten is a choice to aid memorization rather than a matter of theology” (Wikipedia). Analog dengan 10-Dosa-Besar.

[3] Sengaja tidak diterjemahkan untuk menghindari salah-terjemah.

Renungan Puasa (5): Idul Fitri

Hari ini (23/5/20) adalah hari terakhir Umat Islam Sejagat melaksanakan Ibadah Puasa, besok Hari Lebaran, Lebaran Idul Fitri. Ada kedalaman dalam istilah Idul Fitri dan tulisan ini mencoba mengulas secara sekilas.

Memaknai Ulang Kata Fitrah

Secara kebahasaan, istilah Idul Fitri berarti “kembali ke fitrah”. Kata fitrah kira-kira setara dengan kata suci, asli, murni, atau otentik. Dengan demikian, istilah Idul Fitri dapat diartikan sebagai kembali menjalani kehidupan otentik tanpa dibuat-buat. Artinya, selama ini kita menjalani kehidupan yang tidak otentik. Demikianlah karena kita hidup sebagai person.

Dalam peradaban Romawi Kuno kata person persona (Latin) or prosopon (πρόσωπον; Greek)” digunakan untuk merujuk pada kata topeng, topeng yang digunakan aktor ketika bermain di atas panggung sandiwara. Topeng yang berbeda mewakili “personae” yang berbeda. Jika topeng itu dilepas maka tidak relevan lagi istilah penguasa-rakyat atau tuan-budak. Maksudnya, sekalipun diperlukan, pasangan-kontras itu perlu dimaknai sebagai perbedaan peran yang bersifat situasional tetapi tetap dalam hubungan horizontal antar sesama. Pemaknaan ini sejalan dengan semangat kesetaraan harkat manusiawi, semangat kerja-sama tanpa paksa atau eksploitasi.

Bacaan sejumlah ayat Al-Quran mengindikasikan bahwa istilah Idul Fitri dalam pengertian di atas mengisyaratkan beberapa fundamenta ajaran Islam: (a) manusia pada dasarnya suci, (b) Puasa atau ibadah lain memungkinkan penyucian dilakukan sendiri, dan (3) terkait dengan butir b, pertanggungjawaban keagamaan bersifat individual (lihat, misalnya, QS 19:95).

Takbir dan Sejarah Luar Biasa

Yang khas dalam Idul Fitri adalah kumandang takbir: Allahu Akbar yang artinya Allah Maha Besar. Para Ulama sepakat menambah dzikir dalam takbir adalah suatu kebaikan. Atas dasar ini Imam Syafii menggunakan lafal takbir sebagai berikut:

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا، لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن، وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون، وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن، لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَق ُوَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه، لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر

Allâhu akbar kabîran wal hamdu lillâhi katsîra wa subhânallâhi bukratan wa ashîla, lâ ilâha illallâhu wa lâ na’budu illâ iyyâh, mukhlishîna lahuddîna wa law karihal kâfirun, lâ ilâha illallâhu wahdahu shadaqa wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazama al-ahzâba wahdahu, lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar”

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan(yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke-Esa-an-Nya, Dia Dzat yang menepati janji, Dzat yang menolong hambaNya dan memuliakan bala tentaraNya dan menyiksa musuh dengan ke Esa anNya. tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar.”

Menurut catatan sejarah, lafal yang di garis-bawahi dikumandangkan oleh pasukan Nabi SAW menaklukkan Mekah dari genggaman pasukan Musyrikin-Mekah tanpa pertumbuhan darah. Ini sejarah, sejarah yang dapat dikatakan luar biasa mengingat dua hal: (1) pengalaman pihak penakluk mengenai kekejaman luar biasa pasukan Kaum Musyrikin dalam peperangan sebelumnya, dan (2) tradisi “balas-dendam” merupakan norma umum pada era sekitar abad ke-7M, apalagi bagi masyarakat jahiliyah Arab.

Penaklukan Mekah dan Revolusi Perancis

Sejarah penaklukan Mekah dan Revolusi Prancis adalah sejarah kemenangan. Yang terakhir ini bahkan diklaim secara luas sebagai simbol kemenangan kemanusian era modern. Yang jarang disadari adalah perbedaan mencolok antara keduanya. Jika penaklukan Mekah tanpa pertumbuhan darah, maka revolusi Perancis bersimpuh darah dalam arti harfiah. Terkait yang terakhir ini, dua fakta sejarah berikut layak disimak

  • Revolusi Prancis diikuti oleh kekacauan sosial yang menimbulkan apa yang dikenal sebagai Great Fear (la Grande peur). Majelis Konstituen Nasional di Prancis, pada 4/8/1789, menandatangani penghapusan orde kerajaan yang oleh sejarawan George Lefebvre sebagai “sertifikat kematian orde lama” (death certificate of the old order)”
  • Revolusi Prancis diikuti gerakan radikal yang tidak masuk akal: (a) menyatakan perang terhadap Austria dan Prusia yang dipercayai, (b) para ekstrimis yang dipimpin Jacobins menyerang istana, menahan raja (10/8/1792), menuduhnya penghianat negara (21/1/1793), serta mengeksekusi permaisuri Marie-Antionetter ke tiang guletin , dan (3) Revolusi Perancis berakhir dengan munculnya rezim Napoleon yang membawa jenis kekacauan baru bagi masyarakat Eropa.

Mengenai Great Fear, History mengemukakan ini: “Did you know? Over 17,000 people were officially tried and executed during the Reig of Terror, and unknown number of others dies in prison or without trial”.

*****

Demikian makna Idul Fitri secara kebahasaan dan kesejarahan. Pelajarannya, pelaku Puasa– yang telah meraih prestasi dengan melakukan pekerjaan yang mungkin paling berat yaitu mengendalikan hawa nafsu– berhak dikategorikan ‘aidin-al-faizin yang berarti mereka yang kembali ke fitrah serta membawa kemenangan. Idul Fitri perlu disertai kumandang takbir sebagai pernyataan kesadaran mengenai kebesaran-Nya serta kekerdilan-diri, kesadaran yang diteladankan oleh para penakluk Kota Mekah belasan abad lalu.

Wallahualam….@