Ayat Korupsi

Agama mungkin berbeda dalam hal perumusan teologis tapi sama dalam hal semangat memerangi korupsi yang diakui luas sebagai “ibu” berbagai penyakit sosial (social evil). Tulisan ini membahas satu teks suci mengenai penyakit yang satu ini.

Simbolisme Gua dan Gunung

Gua maupun gunung menyimbolkan pusat spiritual sebagaimana terungkap dalam tradisi agama samawi maupun non-samawi. Jika gunung dapat diilustrasikan dengan segitiga yang mengarah ke atas, gua dengan segitiga yang lebih kecail dan mengarah ke bawah; keduanya menujukkan hubungan yang saling melengkapi sekaligus terbalik. Gunung melambangkan masa purba ketika kebenaran dapat dilihat oleh semua dari semua sisi, guha melambangkan dunia kini di mana kebenaran demikian tersembunyi sehingga hanya dapat diakses oleh kalangan elit terbatas.

Jaring dan Ikan

Kebanyakan kita adalah ikan yang terjerat dalalam jaring kehidupan dunia, tanpa menyadarinya, tanpa berupaya membebaskan diri, tetapi dengan masih tetap bersama jeratan itu kita malah masuk ke dalam lumpur kehidupan, semakin dalam dan semakin dalam, dan anehnya kita “tertipu” seolah-olah menemukan kebahagiaan di dalamnya. Itulah gambaran buram Ramakrishna (1836-1886), seorang Mahatma India yang sangat berpengaruh. Islam menggambarkan hal rerupa yang sama tetapi menwarkan jalan tengah yang realistis untuk mengatasinya: “Maka salat dan tidurlah, berpuasa dan berbukalah”, sabda Nabi Saw. Sabda itu disampaikan kepada seorang sahabatnya yang dikenal paling zuhud (bahkan sebelum datang wahyu) ketika demikian tertekan oleh hasrat-hasrat duniawi sehingga minta izin untuk bertapa dan menghabiskan waktunya untuk menjadi fakir.

Senam Intelektual

Swami Yatiwarananda mengkritik Filsafat Barat terlalu mengandalkan nalar dan itu tidak berarti banyak bagi kehidupan. Tetapi pengertian intelektual itu sendiri bermasalah karena maknaya tereduksi menajadi sekadar jenis nalar atau kecerdasan. Filsafat Perrenial mengingatkan arti subtil intelek dengan mengkaitkannya dengan Cahaya abadi dan Kesadaran ilahiah. Dalam Bahasa Indonesia pengertian intelek dalam persepktif filsafat ini setara dengan hati dengan semua kedalamannya dalam terminologi qurani: shdar, qalb, fuad dan albab. Yang terakhir ini paling dalam, hatinya hati.