Salah Perintah

Normal kalau orang tua memerintahkan anaknya untuk rajin belajar. Agaknya juga normal jika perintah itu didorong oleh hasrat agar anaknya kelak meraih pendidikan tinggi sehingga pada waktunya berpenghasilan tinggi. Ungkapan  ini agaknya merefleksikan kepercayaan umum: yang tidak berpendidikan, kerja-berat,  gaji-ringan; yang berpendidikan, kerja-ringan gaji-berat. Istilah gaji-berat di sini menurut versi teman adalah gaji dua digit yang diterima anaknya yang baru saja selesai S1; maksudnya, di atas 10 jutaan per bulan.

Singkatnya, perintah rajin-belajar itu normal apalagi jika dikaitkan dengan kewajiban moral orang tua untuk tidak meninggalkan ‘generasi yang lemah’. Paling tidak demikianlah perspektif Islam sejauh yang penulis memahaminya.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa yang diperintahkan orang tua kepada ‘ahlinya’ (termasuk anak) bukan rajin-belajar melainkan Salat serta bersabar dalam mendirikannya. Ini adalah perintah eksplisit dalam QS (20:132):

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًۭا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَـٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan Salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Untuk memaknai tafsir ayat ini tentu kita perlu bertanya kepada ahlinya. Walaupun demikian, yang terkesan jelas ayat ini mengaitkan Salat dengan rezeki. Entah bagaimana kaitan keduanya. Yang tampak masuk akal, orang yang rajin Salat (dibandingan dengan yang tidak Salat atau tidak rajin Salat, ceteris paribus):

      • cenderung lebih bersih (sehat) karena harus sering cuci tangan, cuci muka-hidung-telinga, cuci kaki, paling tidak lima kali sehari,
      • cenderung lebih disiplin karena Salat dilakukan menurut waktu tertentu (sesuai dengan waktu rotasi bumi), termasuk waktu sebelum terbit matahari (Subuh), dan
      • cenderung lebih mudah menyadari keberadaan pengatur rezeki yang sejati (Dia SWT).

Yang juga terkesan jelas dari ayat di atas adalah ketidakperluan terlalu menghawatirkan rezeki. Dalam perspektif Al-Quran, binatang melata saja dijamin rezekinya (QS 11:6); apalagi anak-anak Adam (QS 17:70):

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا

Dan sungguh, Kami telah muliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Lalu, apakah perintah rajin-belajar kepada anak adalah salah perintah? Tentu tidak, sejauh tidak berlebihan. Meningkatnya angka bunuh diri anak-anak di Jepang yang baru-baru ini dilaporkan[1] bisa jadi karena tradisi orang tua disana yang terlalu berlebihan dalam memerintahkan anak-anakya untuk rajin-berlajar. Entahlah; upaya untuk memahami faktor penyebanya baru di survei. Yang pasti salah, dalam teranag QS(20:32), adalah mengabaikan perintah-Salat kepada anak, atau, melakukan pembiaran anaknya yang tidak disiplin Salat.

Wallahualam….. ….@

[1] https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/backstories/1672/

 

Proporsi Ilahi

Mereka yang pernah belajar matematik umumnya mengenal deret Fibonacci ini: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, …Tiga titik terakhir menunjukkan deret itu dapat dilanjutkan secara tak-terhingga. Deret ini dapat dikatakan sederhana karena angka pada setiap suku mudah ditebak: perjumlahan dari dua suku sebelumnya. Dengan demikian, setelah 144 kita dapat menduga dua angka berikutnya adalah 233 dan 337.

Berdasarkan deret itu dapat disusun deret rasio dari dua suku yang berurutan (tentu saja hanya dapat dimulai dari suku-3) sebagai berikut:

1,000, 2,000, 1,667, 1,600, 1,625, 1,615, 1,619, 1,618, 1,618 dan 1,618

Yang menarik, tiga angka terakhir ini adalah 1,618 dan, ini lebih menarik, angka ini tidak berubah secara signifikan pada suku-suku berikutnya (sejauh menggunakan tiga digit di belakang koma). Sebagai contoh: 233/144=1,618, 377/233=1,618, dan 610/377=1,618.

Rasio ini telah ‘menyihir’ banyak matematikawan kaliber dunia sejak abad ke-5 SM. Mereka juga menyusun beragam formula; satu di anatarnya yang mungkin paling mudah dipahami adalah formula Binet: [1+sqrt(5)] /2. Rasio inilah yang dikenal sebagai ‘rasio emas’ oleh para metmatikawan dan ‘proporsi ilahi’ oleh para artis abad renaisans:

The Golden Ratio (phi = φ) is often called The Most Beautiful Number In The Universe. The reason φ is so extraordinary is because it can be visualized almost everywhere, starting from geometry to the human body itself! The Renaissance Artists called this “The Divine Proportion” or “The Golden Ratio”.

Alasan pemberian nama itu, seperti yang terlihat dalam kutipan, karena rasio itu hampir selalu termanfastasikan di manapun, termasuk, misalnya, di dunia flora (seperti rasio diameter dua kuncup bunga matahari yang berdekatan), organisme DNA, system matahari (solar system), seni-arsitektur, dan struktur tubuh manusia. Dalam seni-arsitektur,  misalnya, rasio emas digunakan secara ekstensif dalam bangunan The Great Pyramid of Giza, Notre Dame, The Vitruvian Man, The Last Supper, dan The Parthenon. Dalam struktur tubu manusia, sebagai misal lain, penggunaan ratio emas terlihat dalamkutipan berikut:

  • … jika Anda membagi panjang dari kepala sampai ujung kaki dengan panjang dari pusar sampai ujung kaki, Anda akan menemukan jawabannya cenderung mendekati φ..
  • Sekarang, bagi panjang dari bahu ke ujung jari telunjuk dengan panjang dari siku ke pergelangan tangan (dari lengan yang sama) dan Anda akan mendapatkan φ .!!
  • Bagilah panjang dari atas kepala hingga bahu dengan panjang dari atas kepala hingga dagu, φ lagi!
  • Bagian atas kepala sampai pusar dengan panjang antara kepala dan bahu…φ lagi!!!
  • Jarak antara pusar dan lutut, dengan jarak antara lutut dan bagian bawah kaki …. φ lagi!
  • Sekarang bagi panjang wajahmu dengan lebar wajah…… φ lagi!!
  • Lebar dua gigi atas Anda dengan tingginya, dan Anda akan mendapatkan φ lagi!
  • Bibir ke alis dibagi panjang hidung, φ lagi!

Secara singkat, struktur fisik bagian-bagian tubuh proprsional dengan proporsi ilahi (meminjam istila para artis era Renaissance), φ. Mungkin ini maksud ayat yang mengatakan manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (QS 95:4, ahsanu taqwim) walaupun harkatnya dapat tergradasi “lebih rendah dari bintang ternak” (QS 7:179). Rasio ini mungkin isyarat sekaligus tantangan-Nya yang diwahyukan lebih dari 14 abad lalu bahwa: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami pada ufuk-ufuk dan pada diri mereka sendiri… “ (QS 41:153).

Wallahu’alam…. @

 

 

 

Barakah Basmalah

Kata kunci: kalimah berbarakah, akar kata basmalah, rahmat intrinsik dan ekstrinsik.

Ketika siap menyantap makanan nenek penulis dulu selalu meningatkan untuk membaca basmalah terlebih dahulu; untuk “ngalep berkah”, katanya. Wejangannya biasanya panjang dan mengulang-ngulang yang pada intinya bermaksud menegaskan bahwa basmalah adalah “mantra” yang harus dibaca sebelum memulai suatu kegiatan: berangkat sekolah, belajar dan bepergian. Karena bukan cucu yang baik penulis hampir selalu melupakan wejangnan itu. Baru akhir-akhir ini saja penulis mengingatnya dan berupaya ‘menguji’ apakah wejangan nenek itu berdasar. Tulisan ini mencatat sebagaian upaya itu dan disajikan di sini dengan harapan ada bisa ‘ngalep’ berkah.

Basmalah sebagai Kalimah Berbarakah

Istilah mantra yang digunakan nenek (sekolah sampai kelas 2 SR menurut pengakuannya) ternyata tidak terlalu keliru[1]. Ini mengagetkan. Yang mengagetkan lagi, kaitan antara basmalah dan keberkahan ternyata ada haditsnya[2]

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara perkara (kehidupan) yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” 

Komentar ulama mengenai hadits ini beragam. Sebagian mereka menilainya “lemah” (dhaif), sebagian “baik” (hasan) dan “sah” (shahih). Walaupun demikian, sebagian besar ulama agaknya memberikan penilaian ‘baik’ (termasuk Imam Nawawi dan Ibnu Hajar)[3]. Mengenai hal ini pendapat Syaikh shalih Al-Fauzan agaknya layak jadi rujukan ketika mengemukakan[4]:

والحكمة في البدء ببسم الله الرحمن الرحيم التبرك بها لأنها كلمة مباركة فإذا ذكرت في أول الكتاب أو في أول الرسالة تكونبركة عليه. أما الكتب أو الرسائل التي لا تبدأ ببسم الله الرحمن الرحيم فإنها تكون ناقصة لا خير فيها، ومن ناحية أخرى بسمالله الرحمن الرحيم فيها الاستعانة بالله جل وعلا

Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah ta’ala”.

Analisis Bahasa: Akar Kata Basmalah

Basmalah terdiri dari lima kata: bi, ismi, Allah, al-Rahman, dan al-Rahiem. Dua kata terakhir terkait dengan keberkahan. Akar kata keduanya adalah ر ح م. Ibn Faris (wafat 1005) merumuskan akar kata itu sebagai berikut

رحم (مقاييس اللغة) 
الراء والحاء والميم أصلٌ واحدٌ يدلُّ على الرّقّة والعطف والرأفة.

(Sebagai referensi lihat Grand Quran Academic Study Circle.)

Rumusan ini menggambarkan akar kata itu terkait dengan kelembutan (gentility, gentleness, tenderness, softness), kasih sayang (affection), kebaikan dan belas kasih (kindnsess and mercy), pengampunan (celemency) dan keibuan (motherliness). Keluasan makna itu agaknya membuat kata رحم  sangat sulit (jika mungkin) dicarikan padananya dalam bahasa non-Arab.

Al-Rahman dan al-Rahiem pada umumnya diterjemahkan sebagai ‘yang Maha Pengasih” dan ‘Maha Penyayang”. Terjemahan ini sesuai dengan rumusan di atas. Walaupun demikian, terjemahan itu terkesan kurang ‘menggigit’ bahkan mungkin dapat dikatakan mengisyaratkan kemiskinan kosa kata Bahasa Indonesia ketika mengalih-bahasakan bahasa lain khsusnya al-Quran. 

Dalam konteks ini, kosa kata Bahasa Inggris agaknya lebih kaya dari Bahasa Indonesia. Sebagai ilustrasi, Grand menyebut al-Rahman sebagai “Nama Pribadi Allah SWT” (“Personal Name of Allah the Exalted”) sementara al-Rahien sebagai “Sumber belas kasih, kasih yang menguasai semua keputusan-Nya” (“The fountain of mercy—mercy overarching all His decisions”). Yang terkhir jelas lebih mendalam dari sekadar ‘Maha Penyayang’.

Rahmat Intrinsik dan Rahmat Ekstrinsik

Sudut pandang yang berbeda dikemukakan oleh Schuon dalam beberapa tulisannya termasuk “Understanding Islam” dan “Al-Quran”. Baginya, al-Rahman dan al-Rahiem berasal dari kata rahmah. Bedanya, yang pertama merupakan Rahmat intrinsik, yang kedua Rahmat ekstrinsik. Agar jelas, berikut disajikan pendapatnya sebagaimana dikutip oleh Velodia (tanpa tahun)[5]:

Rahman / Rahim: The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits . . . The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man. [UI, The Quran].

Rahman / Rahim: Nama Ilahi Rahman dan Rahim, keduanya berasal dari kata Rahmah (“Mercy”), yang berarti, yang pertama adalah Rahmat intrinsik Tuhan dan yang terakhir Rahmat ekstrinsik; dengan demikian yang pertama menunjukkan kualitas yang tidak terbatas dan yang terakhir merupakan manifestasi tanpa batas dari kualitas itu. Kata-kata itu juga bisa masing-masing diterjemahkan sebagai Pencipta melalui Cinta dan “Penyelamat melalui Rahmat,” atau mengambil inspirasi dari sebuah Hadits, kita bisa berkomentar sebagai berikut: Ar-Rahman adalah Pencipta dunia karena apriori dan sekali dan untuk semua Dia telah melengkapi unsur-unsur kesejahteraan dari dunia yang lebih rendah ini, sementara Ar-Rahim adalah Penyelamat manusia karena Dia menganugerahkan kepada mereka kebahagiaan dunia setelahnya, atau sejauh Dia memberi mereka di sini di bawah benih itu dunia lain atau membagikan manfaatnya. . . Nama Rahman seperti langit yang penuh cahaya; Nama Rahim seperti sinar hangat yang datang dari langit dan memberi kehidupan bagi manusia. [UI, Alquran].

Kutipan itu menggambarkan kedalaman makna Rahman-Rahim, juga kedalaman pemahaman Schuon mengenai dua kata ini. Garis bawah adalah tambahan penulis tulisan ini yang melihat kedalaman kandungan maknanya sehingga layak direnungkan lebih lanjut.

Wallahualam…. @


[1] Menurut Cambridge Content Dictionary,  mantra adalah “any word or expression used repeatedly: “Moderate” is the new Republican mantra … “

[2] HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya.

[3] Mengenai penilaian ini lihat https://rumaysho.com/14810-mulailah-dengan-bismillah.html.

[4] Ibid

[5] Glossary of Terms Used by Fritjhof Schuon.

Zikir: “Belum Tibakah Waktunya…”

Kata Zikir mengandung banyak arti, tergantung sisi pandang. Dari sisi bahasa (lughah) Zikir bermakna mengingat. Dari sisi istilah Zikir, menggunakan bahasa santri, kegiatan “membasahi lidah” dengan menyebut nama-Nya; jadi, lebih merupakan pekerjaan lisan (lisaniah). Tetapi seperti diingatkan Imam Nawawi, Zikir juga pekerjaan hati (qalbiah). Bagi ulama besar ini yang ideal adalah Zikir dengan lisan dan hati sekaligus, tetapi jika harus memilih maka pekerjaan hati yang utama.

Dari sisi etimologi Zikir berasal dari kata “dzakara”. Arti kata ini luas sehingga agaknya mustahil dialih-bahasakan menjadi satu kata dalam bahasa Non-Arab. Kata ini antara lain menyebut, mengingat, menyucikan, memuji, menggaungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, menasihati. Dengan demikian, melafalkan bacaan untuk menyucikan-Nya (tasbih), memuji-Nya (tahmid) dan mengagungkan-Nya (takbir) merupakan salah satu bentuk praktik Zikir. Kegiatan ini sangat diajurkan untuk dilakukan setiap setelah Salat.

Tidak Mengenal Waktu

Anjuran Zikir dalam bentuk tasbih, tahmid dan takbir setelah Salat berdasarkan Hadits Nabi SAW. Yang menarik, Hadits ini merujuk pada angka 33. Maksudnya, masing-masing kegiatan itu dianjurkan dilakukan sebanyak 33 kali setiap habis Salat. Ini berarti seorang mushalli (orang yang mendirikan Salat) terbiasa bertsabih, bertahmid, dan bertakbir masing-minimal 165 kali dalam setiap harinya.

Entah apa makna angka itu tetapi itulah tradisi Nabi SAW. Melalui tradisi ini beliau agaknya ingin mengajarkan Umat untuk membiasakan memperbanyak Zikir. Ini sejalan dengan penegasan QS (33:41-42):

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah (teks: uzkurullaha), dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

Kalangan sufi melihat perintah ini serius sehingga mengabaikannya dianggap alpa (gaflah)[1]: bagi mereka setiap tarikan nafas harus disertai Zikir. Intensitas semacam inilah yang agaknya yang dimaksudkan Laude[2] Ketika dengan istilah pray without ceasing.

Tidak Mengenal Kondisi

Berbeda dengan ibadah lainnya, Zikir tidak mengenal kondisi; artinya, dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Ini berbeda dengan ibadah lain:

  • Haji dan Zakat hanya diwajibkan bagi yang mampu; 
  • Puasa bisa ditunda waktunya karena alasan yang tepat (sakit, misalnya); bahkan bagi yang “berat menjalankannya” (sudah sangat tua, orang yang hamil atar menyusui), ibadah ini dapat digantikan dengan ibadah lain yang bersifat sosial (“fidyah, memberi makan orang miskin”);  
  • Salat bisa digabungkan waktunya (jama’) atua dikurangi jumlah rakaatnya (qashar) karena alasan yang tepat (dalam perjalanan, misalnya); bahkan terlarang bagi wanita yang tengah datang bulan; dan
  • Puasa dan Salat waktunya tertentu.

Zikir terbabas dari semua kondisi semacam itu dan dapat dipraktikkan sambil berdiri, duduk dan berbaring, misalnya (lihat QS 3:191).

Zikir … dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Signifikansi Zikir

Kata Zikir banyak ditemukan dalam Al-Quran. Dua ayat di antaranya terkait dengan Salat:

  • QS (20:14): Perintah Salat kepada Musa AS dalam rangka Zikir, dan
  • QS (29:45): Zikir lebih utama (teks: akbar) dibandingkan dengan Salat (atau ibadah lain).

Dua ayat ini menunjukkan keutaman Zikir. Ayat lain (QS 57:16) menunjukkan bahaya menunda-nunda Zikir arena konsekuensinya yang serius: keras hati dan fasik:

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada (mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.

(Teks-teks ayat dapat diakses di sini).

Bahasa ayat ini sangat kuat (qaulan tsaqila), gaya bahasa khas Al-Quran[3]. Bahasanya selain kuat juga bersifat perintah, instruktif. Bahasa kuat dan instruktif juga dapat ditemukan dalam Schuon ketika berbicara mengenai Zikir dalam kaitannya dengan realisasi spiritual. Ini ungkapannya[4]:

Spiritual realization is theoretically the easiest thing and in practice the most difficult thing there is. It is the easiest because it is enough to think of God. It is the most difficult because human nature is forgetfulness of God. 

Realisasi spiritual secara teoritis paling mudah tapi dalam praktek paling sulit: paling mudah karena caranya hanya mengingat Tuhan (Zikir), paling sulit karena sifat manusia melupakan Tuhan.

Wallahualam…. @

 

[1] Gaflah bagi sufi setara dengan dosa bagi kebanyakan sehingga mereka berupaya untuk mehindarinya.

[2] Patrik Laude (ed.), Pray Without Ceasing: The Way of the Invocation in World Religions, World Wisdom (2006). Dalam buku ini Laude menunjukkan bahwa tradisi Zikir dapat ditemukan dalam semua agama dan tradisi besar.

[3] Lihat QS (73:5).

[4] Frithjof. Schuon, Spiritual Perspective and Human Facts, World Wisdom (1987).

Model Kekuasaan: Zulkarnain VS Dajjal

Kisah Zulkarnain tercantum dalam Al-Quran walaupun Kitab Suci ini tidak menjelaskan siapa sebenarnya beliau ini dan kapan tokoh ini hidup dalam panggung sejarah. Karena tidak disebutkan maka terbuka bagi para ahli untuk menafsirkannya. Walaupun demikian kebanyakan ahli agaknya lebih cenderung menisbahkan beliau dengan Alexander the Great (356-323SM), raja Macedonia dalam Yunani, yang diakui secara luas sebagai komandan militer paling sukses dalam sejarah manusia. Menurut sejarah, kampanye militernya mencakup Kawasan Asia Barat, Afrika Utara sampai perbatasan India. 

Untuk memahaminya secara memadai kita perlu meletakkan kisahnya dalam konteks keunikan karakteristik narasi Qurani yang menurut Samir Mahmoud dicirikan oleh tiga hal: (1) kisahnya ‘diturunkan dari langit’ (tanzilbrought down [jadi bukan semata-mata konstruksi mental manusiawi], (2) kisahnya mengandung ‘perkataan yang berat’ (qaul thaqila), (3) struktur dan urutan (tartib) kisah tidak linear (non-linear), dan (4) Quran menyasar semua manusia secara keseluruhan (bi-jumlatihi). Dengan demikian, kisah Zulkarnain atau Kisa Firaun, misalnya, bukan hanya mengenai masa lalu, tetapi juga dapat berlaku masa kini dan masa depan, dan bukan hanya relevan untuk kemlompok manusia tertentu. 

Kisah Zulkarnain dapat ditemukan dalam Al-Quran Surat Kahf ayat 83-98 (QS 18:83-98). Menurut Al-Quran, beliau dianugerahi kekuasaan besar di bumi dan kemampuan untuk merealisasikannya (ayat 85). Wilayah kekuasaannya luas, mencakup Kawasan ”matahari terbenam” (ayat 86) sampai kawasan“ matahari terbit” (ayat 90). Dia juga dianugerahi kekuasaan konstitusional (ayat 86) dan merealisasikannya secara adil, bijak dan sesuai prinsip moral (ayat 87 dan 88). Beliau tidak memanfaatkan kekuasaan untuk keuntungan ekonomi walaupun ada kesempatan (ayat 94-95): “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (dari pada imbalanmu)”.

Berdasarkan kajian ayat-ayat di atas dan rujukan sumber lain (Hadits, tafsir, dan sejarah) Samir Mahmoud mengkategorikan Kekuasaan Zulkarnain (the reign of Dhulqarnayn) sebagai kekuasaan yang berbasis kebenaran (righteouness). Model kekuasaan ini dicirikan oleh penekanannya pada tatanan moral (moral order) sebagai ‘komando’ yang menentukan tatan politik (socio-political order) serta mendasari tatanan ekonomi (economic order). Jadi urutannya dari sisi hierarki adalah moral, politik dan ekonomi.

Bagi Samir urutan itu menentukan. Jika urutannya dibalik dengan menempatkan ekonomi sebagai komando maka basis kekuasaan tidak lagi kebenaran tetapi keserakahan yang oleh Samir diistilahkan oleh takatsur[1]. Model kekauasaan dengan basis takatsur ini oleh Samir disebut sebagai model Kekauasaan Dajjal (the reign of dajjal). Bagi Samirtakatsur adalah gambaran dunia yang hanya bernilai jika terukur:

The logic of Takatsur. It is a world which all things have values insofar as they can be monetized, quantified, measured, exploited, and amassed of symbols of wealth, pride, power, and vanity.

Bagi Samir, pembalikan urutan ini– dengan menempatkan ekonomi sebagai komando dan moral pada urutan terbawah– identik dengan inversi tatanan dalam peradaban, the inversion of order in civilization. 

Terkait dengan model ini Samir menyajikan lima catatan menarik:

  1. Ketika logika takatsur mendominasi maka semua nilai menjadi terbalik.
  2. Nilai-nilai moral menjadi patuh pada nilai pasar dan tatanan sosial-politik.
  3. Kebenaran tidak adalagi dan nilai menjadi relatif.
  4. Tidak ada lagi kekuatan yang dapat menahan gelombang nafsu rendah manusiawi (sifat buruknya, godaannya, keinginannya, paksaannya).
  5. Hasil akhirnya, malapetaka.

Kotak di bawah menyajikan perbandingan antara model Kekuasaan Zulkarnain dan Kekuasaan Dajjal sebagaimana dikemukakan Samir.

Wallahualam…. @

The Inversion of Order in Civilisation

Sumber: Samir Mahmoud
 
 

The Reign of Dhulqarnayn (Righteous)

 

The reign of Dajjal (Takatsur)

 

         
 

1)    Moral order

When the logic of takatsur dominated, all values are inverted.

1)    Economic order

 

 

2)    Socio-political order

Moral values become subservient to market values and socio-political order.

2)    Socio-political order

 

 

3)   Economic order

Truth is non-existent, values become relative.

3)    Moral order

 

 

 

There is no stemming the tide of lower nafs (its vices, temptation, desires, compulsion).

 

 

 

 

Only catastrophe can follow in its wake.

 

 

 

 

That is the law

 

 

 

[1]Istilah qurani yang merujuk pada Surat At-Takatsur, Surat ke-102.