Barakah Basmalah

Kata kunci: kalimah berbarakah, akar kata basmalah, rahmat intrinsik dan ekstrinsik.

Ketika siap menyantap makanan nenek penulis dulu selalu meningatkan untuk membaca basmalah terlebih dahulu; untuk “ngalep berkah”, katanya. Wejangannya biasanya panjang dan mengulang-ngulang yang pada intinya bermaksud menegaskan bahwa basmalah adalah “mantra” yang harus dibaca sebelum memulai suatu kegiatan: berangkat sekolah, belajar dan bepergian. Karena bukan cucu yang baik penulis hampir selalu melupakan wejangnan itu. Baru akhir-akhir ini saja penulis mengingatnya dan berupaya ‘menguji’ apakah wejangan nenek itu berdasar. Tulisan ini mencatat sebagaian upaya itu dan disajikan di sini dengan harapan ada bisa ‘ngalep’ berkah.

Basmalah sebagai Kalimah Berbarakah

Istilah mantra yang digunakan nenek (sekolah sampai kelas 2 SR menurut pengakuannya) ternyata tidak terlalu keliru[1]. Ini mengagetkan. Yang mengagetkan lagi, kaitan antara basmalah dan keberkahan ternyata ada haditsnya[2]

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara perkara (kehidupan) yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” 

Komentar ulama mengenai hadits ini beragam. Sebagian mereka menilainya “lemah” (dhaif), sebagian “baik” (hasan) dan “sah” (shahih). Walaupun demikian, sebagian besar ulama agaknya memberikan penilaian ‘baik’ (termasuk Imam Nawawi dan Ibnu Hajar)[3]. Mengenai hal ini pendapat Syaikh shalih Al-Fauzan agaknya layak jadi rujukan ketika mengemukakan[4]:

والحكمة في البدء ببسم الله الرحمن الرحيم التبرك بها لأنها كلمة مباركة فإذا ذكرت في أول الكتاب أو في أول الرسالة تكونبركة عليه. أما الكتب أو الرسائل التي لا تبدأ ببسم الله الرحمن الرحيم فإنها تكون ناقصة لا خير فيها، ومن ناحية أخرى بسمالله الرحمن الرحيم فيها الاستعانة بالله جل وعلا

Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah ta’ala”.

Analisis Bahasa: Akar Kata Basmalah

Basmalah terdiri dari lima kata: bi, ismi, Allah, al-Rahman, dan al-Rahiem. Dua kata terakhir terkait dengan keberkahan. Akar kata keduanya adalah ر ح م. Ibn Faris (wafat 1005) merumuskan akar kata itu sebagai berikut

رحم (مقاييس اللغة) 
الراء والحاء والميم أصلٌ واحدٌ يدلُّ على الرّقّة والعطف والرأفة.

(Sebagai referensi lihat Grand Quran Academic Study Circle.)

Rumusan ini menggambarkan akar kata itu terkait dengan kelembutan (gentility, gentleness, tenderness, softness), kasih sayang (affection), kebaikan dan belas kasih (kindnsess and mercy), pengampunan (celemency) dan keibuan (motherliness). Keluasan makna itu agaknya membuat kata رحم  sangat sulit (jika mungkin) dicarikan padananya dalam bahasa non-Arab.

Al-Rahman dan al-Rahiem pada umumnya diterjemahkan sebagai ‘yang Maha Pengasih” dan ‘Maha Penyayang”. Terjemahan ini sesuai dengan rumusan di atas. Walaupun demikian, terjemahan itu terkesan kurang ‘menggigit’ bahkan mungkin dapat dikatakan mengisyaratkan kemiskinan kosa kata Bahasa Indonesia ketika mengalih-bahasakan bahasa lain khsusnya al-Quran. 

Dalam konteks ini, kosa kata Bahasa Inggris agaknya lebih kaya dari Bahasa Indonesia. Sebagai ilustrasi, Grand menyebut al-Rahman sebagai “Nama Pribadi Allah SWT” (“Personal Name of Allah the Exalted”) sementara al-Rahien sebagai “Sumber belas kasih, kasih yang menguasai semua keputusan-Nya” (“The fountain of mercy—mercy overarching all His decisions”). Yang terkhir jelas lebih mendalam dari sekadar ‘Maha Penyayang’.

Rahmat Intrinsik dan Rahmat Ekstrinsik

Sudut pandang yang berbeda dikemukakan oleh Schuon dalam beberapa tulisannya termasuk “Understanding Islam” dan “Al-Quran”. Baginya, al-Rahman dan al-Rahiem berasal dari kata rahmah. Bedanya, yang pertama merupakan Rahmat intrinsik, yang kedua Rahmat ekstrinsik. Agar jelas, berikut disajikan pendapatnya sebagaimana dikutip oleh Velodia (tanpa tahun)[5]:

Rahman / Rahim: The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits . . . The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man. [UI, The Quran].

Rahman / Rahim: Nama Ilahi Rahman dan Rahim, keduanya berasal dari kata Rahmah (“Mercy”), yang berarti, yang pertama adalah Rahmat intrinsik Tuhan dan yang terakhir Rahmat ekstrinsik; dengan demikian yang pertama menunjukkan kualitas yang tidak terbatas dan yang terakhir merupakan manifestasi tanpa batas dari kualitas itu. Kata-kata itu juga bisa masing-masing diterjemahkan sebagai Pencipta melalui Cinta dan “Penyelamat melalui Rahmat,” atau mengambil inspirasi dari sebuah Hadits, kita bisa berkomentar sebagai berikut: Ar-Rahman adalah Pencipta dunia karena apriori dan sekali dan untuk semua Dia telah melengkapi unsur-unsur kesejahteraan dari dunia yang lebih rendah ini, sementara Ar-Rahim adalah Penyelamat manusia karena Dia menganugerahkan kepada mereka kebahagiaan dunia setelahnya, atau sejauh Dia memberi mereka di sini di bawah benih itu dunia lain atau membagikan manfaatnya. . . Nama Rahman seperti langit yang penuh cahaya; Nama Rahim seperti sinar hangat yang datang dari langit dan memberi kehidupan bagi manusia. [UI, Alquran].

Kutipan itu menggambarkan kedalaman makna Rahman-Rahim, juga kedalaman pemahaman Schuon mengenai dua kata ini. Garis bawah adalah tambahan penulis tulisan ini yang melihat kedalaman kandungan maknanya sehingga layak direnungkan lebih lanjut.

Wallahualam…. @


[1] Menurut Cambridge Content Dictionary,  mantra adalah “any word or expression used repeatedly: “Moderate” is the new Republican mantra … “

[2] HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya.

[3] Mengenai penilaian ini lihat https://rumaysho.com/14810-mulailah-dengan-bismillah.html.

[4] Ibid

[5] Glossary of Terms Used by Fritjhof Schuon.

Zikir: “Belum Tibakah Waktunya…”

Kata Zikir mengandung banyak arti, tergantung sisi pandang. Dari sisi bahasa (lughah) Zikir bermakna mengingat. Dari sisi istilah Zikir, menggunakan bahasa santri, kegiatan “membasahi lidah” dengan menyebut nama-Nya; jadi, lebih merupakan pekerjaan lisan (lisaniah). Tetapi seperti diingatkan Imam Nawawi, Zikir juga pekerjaan hati (qalbiah). Bagi ulama besar ini yang ideal adalah Zikir dengan lisan dan hati sekaligus, tetapi jika harus memilih maka pekerjaan hati yang utama.

Dari sisi etimologi Zikir berasal dari kata “dzakara”. Arti kata ini luas sehingga agaknya mustahil dialih-bahasakan menjadi satu kata dalam bahasa Non-Arab. Kata ini antara lain menyebut, mengingat, menyucikan, memuji, menggaungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, menasihati. Dengan demikian, melafalkan bacaan untuk menyucikan-Nya (tasbih), memuji-Nya (tahmid) dan mengagungkan-Nya (takbir) merupakan salah satu bentuk praktik Zikir. Kegiatan ini sangat diajurkan untuk dilakukan setiap setelah Salat.

Tidak Mengenal Waktu

Anjuran Zikir dalam bentuk tasbih, tahmid dan takbir setelah Salat berdasarkan Hadits Nabi SAW. Yang menarik, Hadits ini merujuk pada angka 33. Maksudnya, masing-masing kegiatan itu dianjurkan dilakukan sebanyak 33 kali setiap habis Salat. Ini berarti seorang mushalli (orang yang mendirikan Salat) terbiasa bertsabih, bertahmid, dan bertakbir masing-minimal 165 kali dalam setiap harinya.

Entah apa makna angka itu tetapi itulah tradisi Nabi SAW. Melalui tradisi ini beliau agaknya ingin mengajarkan Umat untuk membiasakan memperbanyak Zikir. Ini sejalan dengan penegasan QS (33:41-42):

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah (teks: uzkurullaha), dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

Kalangan sufi melihat perintah ini serius sehingga mengabaikannya dianggap alpa (gaflah)[1]: bagi mereka setiap tarikan nafas harus disertai Zikir. Intensitas semacam inilah yang agaknya yang dimaksudkan Laude[2] Ketika dengan istilah pray without ceasing.

Tidak Mengenal Kondisi

Berbeda dengan ibadah lainnya, Zikir tidak mengenal kondisi; artinya, dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Ini berbeda dengan ibadah lain:

  • Haji dan Zakat hanya diwajibkan bagi yang mampu; 
  • Puasa bisa ditunda waktunya karena alasan yang tepat (sakit, misalnya); bahkan bagi yang “berat menjalankannya” (sudah sangat tua, orang yang hamil atar menyusui), ibadah ini dapat digantikan dengan ibadah lain yang bersifat sosial (“fidyah, memberi makan orang miskin”);  
  • Salat bisa digabungkan waktunya (jama’) atua dikurangi jumlah rakaatnya (qashar) karena alasan yang tepat (dalam perjalanan, misalnya); bahkan terlarang bagi wanita yang tengah datang bulan; dan
  • Puasa dan Salat waktunya tertentu.

Zikir terbabas dari semua kondisi semacam itu dan dapat dipraktikkan sambil berdiri, duduk dan berbaring, misalnya (lihat QS 3:191).

Zikir … dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Signifikansi Zikir

Kata Zikir banyak ditemukan dalam Al-Quran. Dua ayat di antaranya terkait dengan Salat:

  • QS (20:14): Perintah Salat kepada Musa AS dalam rangka Zikir, dan
  • QS (29:45): Zikir lebih utama (teks: akbar) dibandingkan dengan Salat (atau ibadah lain).

Dua ayat ini menunjukkan keutaman Zikir. Ayat lain (QS 57:16) menunjukkan bahaya menunda-nunda Zikir arena konsekuensinya yang serius: keras hati dan fasik:

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada (mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.

(Teks-teks ayat dapat diakses di sini).

Bahasa ayat ini sangat kuat (qaulan tsaqila), gaya bahasa khas Al-Quran[3]. Bahasanya selain kuat juga bersifat perintah, instruktif. Bahasa kuat dan instruktif juga dapat ditemukan dalam Schuon ketika berbicara mengenai Zikir dalam kaitannya dengan realisasi spiritual. Ini ungkapannya[4]:

Spiritual realization is theoretically the easiest thing and in practice the most difficult thing there is. It is the easiest because it is enough to think of God. It is the most difficult because human nature is forgetfulness of God. 

Realisasi spiritual secara teoritis paling mudah tapi dalam praktek paling sulit: paling mudah karena caranya hanya mengingat Tuhan (Zikir), paling sulit karena sifat manusia melupakan Tuhan.

Wallahualam…. @

 

[1] Gaflah bagi sufi setara dengan dosa bagi kebanyakan sehingga mereka berupaya untuk mehindarinya.

[2] Patrik Laude (ed.), Pray Without Ceasing: The Way of the Invocation in World Religions, World Wisdom (2006). Dalam buku ini Laude menunjukkan bahwa tradisi Zikir dapat ditemukan dalam semua agama dan tradisi besar.

[3] Lihat QS (73:5).

[4] Frithjof. Schuon, Spiritual Perspective and Human Facts, World Wisdom (1987).

Model Kekuasaan: Zulkarnain VS Dajjal

Kisah Zulkarnain tercantum dalam Al-Quran walaupun Kitab Suci ini tidak menjelaskan siapa sebenarnya beliau ini dan kapan tokoh ini hidup dalam panggung sejarah. Karena tidak disebutkan maka terbuka bagi para ahli untuk menafsirkannya. Walaupun demikian kebanyakan ahli agaknya lebih cenderung menisbahkan beliau dengan Alexander the Great (356-323SM), raja Macedonia dalam Yunani, yang diakui secara luas sebagai komandan militer paling sukses dalam sejarah manusia. Menurut sejarah, kampanye militernya mencakup Kawasan Asia Barat, Afrika Utara sampai perbatasan India. 

Untuk memahaminya secara memadai kita perlu meletakkan kisahnya dalam konteks keunikan karakteristik narasi Qurani yang menurut Samir Mahmoud dicirikan oleh tiga hal: (1) kisahnya ‘diturunkan dari langit’ (tanzilbrought down [jadi bukan semata-mata konstruksi mental manusiawi], (2) kisahnya mengandung ‘perkataan yang berat’ (qaul thaqila), (3) struktur dan urutan (tartib) kisah tidak linear (non-linear), dan (4) Quran menyasar semua manusia secara keseluruhan (bi-jumlatihi). Dengan demikian, kisah Zulkarnain atau Kisa Firaun, misalnya, bukan hanya mengenai masa lalu, tetapi juga dapat berlaku masa kini dan masa depan, dan bukan hanya relevan untuk kemlompok manusia tertentu. 

Kisah Zulkarnain dapat ditemukan dalam Al-Quran Surat Kahf ayat 83-98 (QS 18:83-98). Menurut Al-Quran, beliau dianugerahi kekuasaan besar di bumi dan kemampuan untuk merealisasikannya (ayat 85). Wilayah kekuasaannya luas, mencakup Kawasan ”matahari terbenam” (ayat 86) sampai kawasan“ matahari terbit” (ayat 90). Dia juga dianugerahi kekuasaan konstitusional (ayat 86) dan merealisasikannya secara adil, bijak dan sesuai prinsip moral (ayat 87 dan 88). Beliau tidak memanfaatkan kekuasaan untuk keuntungan ekonomi walaupun ada kesempatan (ayat 94-95): “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (dari pada imbalanmu)”.

Berdasarkan kajian ayat-ayat di atas dan rujukan sumber lain (Hadits, tafsir, dan sejarah) Samir Mahmoud mengkategorikan Kekuasaan Zulkarnain (the reign of Dhulqarnayn) sebagai kekuasaan yang berbasis kebenaran (righteouness). Model kekuasaan ini dicirikan oleh penekanannya pada tatanan moral (moral order) sebagai ‘komando’ yang menentukan tatan politik (socio-political order) serta mendasari tatanan ekonomi (economic order). Jadi urutannya dari sisi hierarki adalah moral, politik dan ekonomi.

Bagi Samir urutan itu menentukan. Jika urutannya dibalik dengan menempatkan ekonomi sebagai komando maka basis kekuasaan tidak lagi kebenaran tetapi keserakahan yang oleh Samir diistilahkan oleh takatsur[1]. Model kekauasaan dengan basis takatsur ini oleh Samir disebut sebagai model Kekauasaan Dajjal (the reign of dajjal). Bagi Samirtakatsur adalah gambaran dunia yang hanya bernilai jika terukur:

The logic of Takatsur. It is a world which all things have values insofar as they can be monetized, quantified, measured, exploited, and amassed of symbols of wealth, pride, power, and vanity.

Bagi Samir, pembalikan urutan ini– dengan menempatkan ekonomi sebagai komando dan moral pada urutan terbawah– identik dengan inversi tatanan dalam peradaban, the inversion of order in civilization. 

Terkait dengan model ini Samir menyajikan lima catatan menarik:

  1. Ketika logika takatsur mendominasi maka semua nilai menjadi terbalik.
  2. Nilai-nilai moral menjadi patuh pada nilai pasar dan tatanan sosial-politik.
  3. Kebenaran tidak adalagi dan nilai menjadi relatif.
  4. Tidak ada lagi kekuatan yang dapat menahan gelombang nafsu rendah manusiawi (sifat buruknya, godaannya, keinginannya, paksaannya).
  5. Hasil akhirnya, malapetaka.

Kotak di bawah menyajikan perbandingan antara model Kekuasaan Zulkarnain dan Kekuasaan Dajjal sebagaimana dikemukakan Samir.

Wallahualam…. @

The Inversion of Order in Civilisation

Sumber: Samir Mahmoud
 
 

The Reign of Dhulqarnayn (Righteous)

 

The reign of Dajjal (Takatsur)

 

         
 

1)    Moral order

When the logic of takatsur dominated, all values are inverted.

1)    Economic order

 

 

2)    Socio-political order

Moral values become subservient to market values and socio-political order.

2)    Socio-political order

 

 

3)   Economic order

Truth is non-existent, values become relative.

3)    Moral order

 

 

 

There is no stemming the tide of lower nafs (its vices, temptation, desires, compulsion).

 

 

 

 

Only catastrophe can follow in its wake.

 

 

 

 

That is the law

 

 

 

[1]Istilah qurani yang merujuk pada Surat At-Takatsur, Surat ke-102.

 

Bangunlah Hatinya!

Pagi ini (hari tasyrik ke-3) penulis sempat mendengarkan lantunan lagu Indonesia Raya dari suatu siaran TV nasional. Sempat ‘tergetar’: terbayang peran besar lagu ini dalam proses pembangunan kesadaran berbangsa bagi warga kawasan nusantara ini (termasuk Malaysia dan Brunei?) Lagu ini ‘mengedepankan’ jiwa ketimbang badan: ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya!”. Tiba-tiba terbetik, bagaimana dengan Hati?

Kambing Berbulu Serigala

Istilah Hati dalam tulisan adalah terjemahan dari Ruh atau ‘Aql (Arab) atau Spirit atau Intellect (Inggris). Hati dalam arti salah satu unsur pembentuk manusia diakui keberadaannya oleh semua peradaban, sebelum era modern. Sejak era Jung, makna Hati diredusir menjadi identik dengan Jiwa dalam berbagai manifestasinya: pikiran (mind, reason), imajinasi, sentimen, ingatan, kehendak. Semua ini berbeda secara kategoris dengan Hati.

Reduksi makna Hati ini oleh Jung, bagi William Stoddarrt dalam bukunya Remembering in a World of Forgetting[1] (2008:46), merupakan kesalahan mendasar para ahli psikologi dengan dampak yang luar biasa, tak terkirakan:

Kesalahan fundamental dari para ahli psikologi adalah kegagalan mereka untuk membedakan antara jiwa dan Roh, dan menghilangkan sepenuhnya keberadaan Roh mereka. Dalam stu jurus langkah ini menghilangkan kapasitas untuk objektivitas dan, dengan cara yang sama, untuk spiritualitas. Kekacauan dan kerusakan yang diakibatkan oleh kebutaan yang fatal dan anti-Platonis ini tidak dapat dihitung.

The fundamental error of psychologist is their failure to distinguish between soul and Spirit, and completely their “abolition” of Spirit. At one stroke this abolishes the capacity for objectivity and, by the same token, for spirituality. This chaos and damage resulting from this fatal and anti-Platonic blindness are incalculable.

Mengenai pernyataan ini Stoddarrt menambahkan catatan kaki yang layak direnungkan:

“Jung tidak seperti Freud sering bersikap ramah pada agama. Ini adalah contoh klasik dari ‘serigala berbulu domba”

“Jung unlike Freud is often to be friendly to religion. This is a classic example of ‘a wolf in sheep’s clothing”.)

Struktur Lahir-Batin Manusia

Tetapi apa itu Hati? Yang agaknya pasti kita ‘merasakan” perbedaan antara tiga istilah ini: Badan (tubuh), Jiwa dan Hati (Ruh). Ketiganya membentuk struktur lahir-batin manusia secara vertikal. Ketiga istilah ini diakrabi oleh para cendekiawan dalam peradaban Latin maupun Yunani: ‘

  • Hati (Ruh): Spirit-Intellect (Inggris), Spiritus-Intellectus (Latin), Pnema-Nous (Yunani) dan Ruh (Arab).
  • Jiwa: soul (Inggris), anima (Latin), psyche (Yunani), nafs (Arab).
  • Badan (tubuh): body (Inggris), corpus (Latin), soma (Yunani), jism (Arab).

Istilah-istilah di atas dikutip dari Stoddardt (ibid: 46). “Celakanya’, dua istilah terakhir rancu dalam kesadaran kolektif manusia modern. Kerancuan itu terlihat, misalnya, dalam Kamus Macmillan yang mendefinisikan intelek (intellect) sebagai “kemampuan untuk berpikir dengan cara yang cerdas dan untuk memahami ide dan subyek yang sulit atau rumit” (“the ability to think in an intelligent way and to understand difficult or complicated ideas and subjects“).  Definisi ini melihat intelek sebagai salah fungsi jiwa yaitu pikiran (mind). Ini berbeda dengan cara pandang filsuf perennial seperti Schuon, misalnya, yang melihat intelek sebagai “cermin supra-masuk akal sekaligus dalam dirinya sendiri cahaya supranatural” (“at once mirror of supra-sensible and in itself supernatural ray of light“).

Membangun Hati Bangsa?

Pertanyaannya, apakah Hati Bangsa Indonesia perlu dibangun? Ini pertanyaan berat yang di luar kapasitas penulis untuk menjawabnya. Penulis hanya ‘merasakan” relevansi pertanyaan ini untuk negara-bangsa yang akan segera merayakan Ultahnya yang ke-75 ini. Dirgahayu RI! Dasar pikiran, dua sila pertama Pancasila dan masih maraknya dekadensi moral dalam berbagai manifestasinya termasuk (terutama?) korupsi oleh para pejabat publik.

Wallahualam.… @

[1] Editan Mateus Soares de Azevedo dan Alberto Vasconcellos Queiroz, terbitan World Wisdom.

Al-Ghazali dalam Pandangan Jackson

Konteks

Abad 8-14 dikenal sebagai era emas dalam sejarah Islam (the Islamic Golden Age). Era emas tidak berarti ada stabilitas politik. Di era Imam Ghazali (1058-1111), misalnya, dunia Islam tidak menikmati kesatuan politik: di Spanyol ada Dinasti Umayyah, di Afrika Utara dan sekitar ada Dinasti Fatimiyah (Syiah), dan di Baghdad ada Dinasti Abbasiyah (Suni). Yang terakhir semakin menua di dalam penjara istananya sendiri tanpa kekuatan politik riil dan berperan sekadar simbol kesatuan dunia Islam. Kekuatan politik riil dalam genggaman dinasti Buyids (Syiah) dan itu sudah berlangsung seabad: abad ke-10 dikenal sebagai dekade Syiah. Tiga tahun sebelum Sang Imam dilahirkan Baghdad ditaklukkan oleh suku Saljuk (Turki)[1].

Tulisan mengenai Imam Ghazali (selanjutnya Sang Imam) melimpah. Dalam konteks ini layak disimak pandangan seorang ahli dalam bidang pemikiran filsafat dan keagamaan dari Universitas Gloucestershire (Inggris). Beliau adalah reader dan pengajar di universitas itu untuk kajian Islam, Nietzsche, filsafat Yunani, dan filsafat agama. Karya-karya akademiknya memperoleh reputasi internasional termasuk Muslim and Supermuslim: The Quest for the Perfect Being and Beyond (2020), Hayy ibn Yaqzan: A Philosophical Novel by Ibn Tufayl. Alfinge (2018), Al-Ghazali’s Deliverance From Error (2014), dan What is Islamic Philosophy? (2014). Yang menjadi rujukan tulisan ini selanjutnya adalah karya Jackson yang lain, Fifty Key Figures in Islam (2006).

Tokoh Kunci Kedua

Nama Sang Imam termasuk dalam daftar 50 tokoh kunci ini. Bagi Jackson Sang Imam adalah tokoh kunci Islam terpenting kedua (setelah Nabi SAW) dan bukan hanya sufi tetapi juga teolog dan filsuf: “The theologian, jurist, philosopher, and mystic al-Ghazali is universally known as the ‘proof of Islam’ (hujja al-islam) and the great ‘renewer’ (mujtahid) of the faith[2]. Kedua gelar ini, bagi Jakson, terkait dengan kemampuan Sang Imam dalam mensintesakan berbagai disiplin ilmu:

Much of this is due to his attempt to synthesise the three main strands of Islamic rationality: theoretical and philosophical enquiry, juridical legislation and mystical practice. His importance to Islamic thought lies in his skills in redirecting and reinvigorating Sunni religious thought in the aftermath of the Shi’a intellectual dominance of the previous century. His life and writings have been subject to more study in the Western world than probably any other Muslim, with the exception, of course, of the Prophet Muhammad.

Muhasabah Radikal

Di usia 30-an Sang Imam sudah mencapai kehidupan yang sangat cemerlang: menguasai hampir semua cabang ilmu yang dikenal di zamannya (termasuk ilmu musik), menempati posisi akademis puncak di perguruan yang paling bergengsi saat itu, memperoleh penghargaan Umat karena luas-mendalam ilmunya, kepiawaiannya dalam berdebat (ketika itu metode lazim untuk menguji keahlian), dan karena kejernihan berpikir dan menyampaikan gagasan. Di atas semua itu, keistimewaan Sang Imam adalah keberaniannya melakukan muhasabah atau menilai diri-sendiri secara jujur dan radikal. Dalam hal ini Jackson mencatat pengakuan Sang Imam ketika meragukan motivasi kehidupannya: 

I considered the circumstances of my life, and realised that I was caught in a veritable thicket of attachments. I also considered my activities, of which the best was my teaching and lecturing, and realised that in them I was dealing in sciences that were unimportant and contributed nothing to the attainment of eternal life. After that I examined my motive in my work of teaching, and realised that it was not a pure desire for the things of God, but that the impulse moving me … was the desire for an influential position and public recognition.

Keraguan itu serius sehingga Sang Imam mengalami semacam krisis mental-emosional yang juga serius. Pada gilirannya, krisis itu menyebabkan Sang Imam tidak mampu berbicara:    

For nearly six months beginning with Rajab 488 [July, 1095], I was continuously tossed about between the attractions of worldly desires and the impulses towards eternal life. In that month the matter ceased to be one of choice and became one of compulsion. God caused my tongue to dry up so that I was prevented from lecturing.

Buah Uzlah

Muhasabah jujur dan radikal mendorong Sang Imam untuk beruzlah atau mengundurkan diri dunia ramai dan mulai menempuh perjalanan batin yang semakin intensif. Buah uzlah luar biasa: Sang Imam menghasilkan lebih dari 70 karya besar yang sampai sekarang masih diapresiasi di kalangan internal Umat maupun di Dunia Barat, termasuk Ihya (mengenai agama Islam) dan tahafutul falasifah (mengenai filsafat). Yang terakhir ini sering dijadikan argumen untuk ‘menuduh’ sang Imam anti-filsafat. Faktanya karyanya ini  diakui luas sebagai tonggak penting dalam sejarah filsafat karena memajukan kritik ilmu pengetahuan Aristoteles, kritik yang selanjutnya dikembangkan di Eropa abad ke-14.

Ihya memperoleh apresiasi luar biasa dari kalangan internal Umat maupun dunia Barat. Dari kalangan internal, pandangan Imam Nawawi[3], misanya, mungkin cukup untuk mewakili ketika mengatakan bahwa Ihya cukup untuk mewakili semua kitab keagamaan (Islam) lainnya. Apresiasi Dunia Barat terlihat dari muatan www.algzali.com yang mendokumentasikan karya akademik mengenai Sang Imam yang pada umumnya fokus pada satu dari 40 buku ihya, termasuk 85 tesis PhD dan 20 tesis MA mengenai karya Sang Imam. Dalam salah satu page-nya, website ini menyatakan Ihya “… is widely regarded as the greatest work of Muslim spirituality, and is perhaps the most read work in the Muslim world, after the Qurān“.

Berpikir Radikal

Karya-karya besar Sang Imam agaknya terkait dengan obsesinya terhadap kebenaran serta bakat alami berpikir radikal (pola pikir yang dibutuhkan oleh seorang filsuf) sebagaimana terlihat kutipan ini:

From my childhood until the present, while I am fifty years of age, I have always looked into the viewpoints of other sects and nations. I have reviewed religious ideologies, philosophies, mystic patterns, theology, etc. The great thirst that I had for discovering the truth has been inside of me since childhood. This caused me to break the chain of imitation and doubt about inherited beliefs because I saw that Christian children only look at Christianity; Jewish children only look at Judaism; and Muslim children only look at Islam. The Prophet (s) has stated: ‘Every child is born with a pure divine disposition.’ Therefore, I was instigated to find the truth; to find the roots of my beliefs.”

Kutipan ini berasal dari karya Syahid Muthahhari, salah seorang cendekiawan Iran modern terkemuka yang juga seorang arsitek revolusi Iran (seperti halnya Ali Syariati) dan shahid pasca keberhasilan revolusi itu. Fakta ini menunjukkan Sang Imam dan karya-karyanya diapresiasi di kalangan Syiah.

*****

Demikianlah gambar besar mengenai Sang Imam khususnya dalam perspektif Jackson, pakar yang hemat penulis memiliki kejujuran intelektual yang dapat diandalkan. Tulisan ini diharapkan bermanfaat untuk melihat secara objektif sosok Sang Imam sehingga tidak tergesa-gesa mengamini narasi para orientalis abad 19-20 yang cenderung mendiskreditkan Sang Imam sebagai anti-filsafat bahkan bertanggung jawab terhadap kemunduran peradaban Umat.

Semoga… @


[1]  Untuk menambah komplikasi, di era itu ada kelompok sempalan Ismailiyyah (Syiah) yang menempuh cara kekerasan bahkan pembunuhan untuk kepentingan politik. Kata assassination (Inggris) berasal dari nama kelompok sempalan itu. Kritik Al-Ghazali terhadap dasar pemikiran kelompok ini jauh lebih tajam dari pada kritiknya terhadap filsafat.  

[2] Roy Jackson (2006:86), FIFTY KEY FIGURES IN ISLAM, Routledge.

[3] Imam Nawawi adalah seorang ulama besar. Nama lengkapnya Abū Zakariyyā Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī (12343-1277). Selama hidupnya (45 tahun) beliau memproduksi karya tulis paling tidak 45 kitab besar termasuk Riyadh as-Saaliheen, Minhaj al-Talibin, dan Sharh Sahih Muslim yang sangat terkenal di Indonesia.