Hagia Sophia yang Rupawan

Konteks

Hagia Sophia adalah suatu bangunan fisik yang megah dan rupawan di Kota Istanbul (Turki). Dengan kubah biru setinggi 182 kaki, berdiameter sekitar 131 kaki, diapit oleh 4 menara, dan dengan arsitektur bercita-rasa tinggi, kemegahan dan keindahan Hagia tak-terbantahkan. Seni arsitekturnya mewakil secara sempurna (epitome) arsitektur Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium. Ia dibangun atas perintah oleh Kaisar Constantine dalam periode 532-537, suatu periode singkat dilihat dari besarnya bangunan.

Selain megah-rupawan, Hagia juga kaya nama. Sebutannya dalam Yunani Kuno: Ἁγία Σοφία, Latin: Sancta Sophia atau Sancta Sapientia (Inggris: Holy Wisdom), Romawi: Naós tis Hagías tou Theou Sophías, dan Turki (bahasa resmi): Ayasofya-i Kebir Camii Şerifi (Inggris: the Great Mosque of Ayasofya) [1]. Selain kaya-nama, Hagia juga kaya simbolisme interaksi budaya yang dinamis antara Timur dan Barat. Simbolisme ini rumit sehingga tulisan ini hanya bermaksud memotret gambar besarnya. Yang jelas, isunya kini tengah menghangat karena ‘kejutan” Endrogan.

Sumber Gambar: INI

Alih Fungsi

Presiden Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan suka membuat kejutan berani. Sebagai ilustrasi, pada 24/11/2015, atas perintahnya, Turki menembak jatuh Jet Tempur Su-24 di perbatasan Turki-Suriah. Akibat ‘keberanian” ini ekonomi Turki kehilangan sekitar 138 triliun rupiah. Juga atas perintahnya, sebagai ilustrasi lain, setelah dicapai konsensus dewan negara (19/7/2020), pada 14/7/2020 Hagia Sophia dialih-fungsikan dari museum menjadi Masjid. Pengalih-fungsian bangunan ini sebenarnya bukan hal bari bagi Hagia:

  • 1204: Hagia difungsikan sebagai Katedral Roman Katolik oleh pasukan Perang Salib ke-4;
  • 1453: Hagia difungsikan sebagai Masjid oleh Mehmed Sang Penakluk, Mehmed the Conquer; dan
  • 1935: Menjadi museum oleh penguasa Turki yang sekuler.

Reaksi Dunia

Keberanian Sang Presiden mengalih-fungsikan Hagia menjadi masjid tak-pelak mengundang reaksi tokoh dunia; juga UNESCO. UNSECO dalam hal ini berkepentingan karena sebagai warisan dunia Hagia membutuhkan persetujuan dari pihaknya untuk dapat beralih fungsi. Dalam salah satu siarannya UNESCO menyatakan:

UNESCO calls on the Turkish authorities to open a dialog without delay in order to avoid a step back from the universal value of this exceptional heritage whose preservation will be reviewed by the World Heritage Committee in its next session.

Itulah sebabnya Yunani mencela keputusan Sang Presiden dan menganggapnya sebagai suatu pelanggaran aturan UNECO World Heritage. Reaksi lebih keras datang dari pemimpin Kristen Ortodoks Rusia, Patriarch Kirill Moscow, yang  menyebut pengalihfungsian itu sebagai  ‘a threat of the whole of Christian civilization’.

Dalam konteks ini komentar bicara Kementerian Luar Ngeri AS relatif lunak, hanya disappointed: “We are disappointed by the decision by the government of Turkey to change the status of the Hagia Sophia”. Reaksi Uni Eropa juga relatif lunak, hanya regrettable:

The ruling by the Turkish Council of State to overturn one of modern Turkey’s landmark decisions and President Erdogan’s decision to place the monument under the management of the Religious Affairs Presidency is regrettable,”

Reaksi Hamas mudah ditebak. Juru bicara siaran internasional Hamas, Rafat Murra, mengungkapkan ‘”Opening of Hagia Sophia to prayer is a proud moment for all Muslims”. Yang menarik reaksi Republik Cyprus Utara yang tersirat dalam ungkapan PM Ersin Tatar:

Hagia Sophia has been Turkish, a mosque and a world heritage since 1453. The decision to use it as a mosque, at the same time to be visited as a museum, is sound and it is pleasing.

Kekhawatiran Berlebihan

Kekhawatiran pihak gereja terhadap isu pengalih-fungsian Hagi dapat dimaklumi karena alasan sejarah. Tetapi seperti dikemukakan orang bijak, sejarah seyogianya dijadikan bahan pelajaran berharga untuk menatap masa depan, bukan beban yang mendikte dan membelenggu akal sehat. Kekhawatiran tidak perlu berlebihan karena seperti ditegaskan juru bicara kepresidenan, Hagia akan menjadi masjid  terbuka (working mosque), terbuka bagi siapa saja seperti halnya gereja-gereja Parisian Sacré-Cœur dan Notre-Dame, tidak mengubah statusnya sebagai warisan dunia UNESCO, dan ikon-ikon kristiani akan tetap dipertahankan.

Yang terakhir ini penting karena dapat menguak harapan dapat memfungsikan Hagia sebagai pusat dialog Timur-Barat yang produktif demi kepentingan kemanusiaan par excellence. Dalam konteks ini posisi geografis Istanbul sebagai jalur persimpangan Timur-Barat mungkin membantu menciptakan situasi yang kondusif. Yang juga mungkin membantu, latar belakang sejarah Turki dan karakter masyarakatnya yang dikenal progresif-berakar-tradisi. Mungkin; wallahualam. Yang jelas, dari pada Yerusalem dengan “Satu-Tuhan-Tiga-Agama”[2] yang terlanjur menjadi sumber konflik, lebih baik Istanbul dengan “Banyak-Budaya-Satu-Komitmen-Kemanusiaan” dengan semangat saling-memahami dan kerjasama global.

Semoga…. @

[1] Pertama dikenal sebagai Gereja Agung (Inggris: Great Church, Yunani: Megale Ekklesia, Latin: Magna Ecclesia) karena besarnya banggunan fisik gereja.

[2] Istilah Karen Amstrong.

Potret Umat: Refleksi Sejarah

Seabad yang lalu[1] Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire) mendeklarasikan berakhirnya sistem kekhalifahan. Bagi Umat Islam (selanjutnya Umat) peristiwa ini bersifat historis karena mengakhiri tradisi panjang sistem kekhalifahan sejak abad ke-6. Walaupun demikian, peristiwa ini agaknya di luar kesadaran kolektif Umat atau terlupakan. Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya “melawan lupa” kolektif itu dengan cara memotret gambar besar sejarah peradaban Umat dalam kepemimpinan berbagai kekhalifahan atau kesultanan dan merefleksikan beberapa isu yang relevan.

Peradaban Unik

Peradaban Umat yang dapat dikatakan unik: sumber spiritualnya bukan produk budaya “bumi” layaknya peradaban lain, melainkan ajaran “langit” atau wahyu. Wahyu mengawal perkembangan peradaban Umat sejak awal mulai dari peristiwa turunnya wahyu pertama sekitar 14 abad lalu. Peristiwa ini bersifat Adi Manusiawi dalam arti mustahil dapat dinarasikan secara memadai dalam bahasa manusia. Mengenai peristiwa ini pendapat Hazleton[2], seorang penulis sejarah berkebangsaan Yahudi-AS yang mengakui ateis, layak dicatat. Dalam ceramahnya di forum TED ia mengemukakan reaksi Nabi SAW terhadap peristiwa Adi manusiawi itu sangat masuk akal dan sepenuhnya manusiawi. Baginya, aspek keraguan penting untuk memperoleh keyakinan seperti terungkap dalam judul ceramahnya, “The doubt is essential for faith“.

Pengawalan wahyu terhadap perkembangan kebudayaan Umat berlangsung selama 23 tahun: 13 tahun di Kota Mekah dan 10 tahun di Madinah[3]. Melalui Nabi SAW, Wahyu “berinteraksi” dengan Umat. Sebagai ilustrasi, dalam suatu kesempatan Wahyu “menegur” Nabi SAW karena beliau yang bermuka masam kepada salah seorang sahabatnya yang buta (QS 80:1-2). Dalam kesempatan lain Wahyu berbicara mengenai salah satu perang besar yang menentukan kelangsungan hidup Umat yang dialami Umat yaitu Perang Badar (QS 3:123)[4].

Fase Perkembangan

Segera setelah Nabi SAW (632) Umat memasuki era kekhalifahan; artinya era kepemimpinan “wakil” Nabi SAW dalam urusan keumatan. Era ini dimulai oleh kekhalifahan Abu Bakar RA, dilanjutkan berturut-turut oleh Umar RA, Utsman RA dan Ali RA. Keempat khalifah ini dikenal sebagai khulafaur rasyidin atau rasyidun, para khalifah yang tercerahkan. Era Rasyidun selanjutnya diganti oleh era lain; tiga di antaranya yang utama adalah Dinasti Umayyah (Umayyad Caliphate) Dinasti Abbasiyah (Abbasid Caliphate) dan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire). Sistem kekhalifahan berlangsung sekitar 13 abad mulai abad ke-6 sampai ini awal 1920-an, dengan lebih dari 100 khalifah atau Sultan. Grafik 1 menyajikan periode era kekhalifahan serta wilayah yang menjadi kekuasaannya.

Garfik1: Wilayah dan Periode Kekhalifahan

Sumber: Wikipedia

Era Rasyidun

Seperti ditunjukkan oleh Grafik 1, Era Rasyidun berlangsung kurang dari 30 tahun (632-661) dan berhasil menguasai seluruh jazirah Arab (pertama dalam sejarah), Mesopotamia (Irak), Peria (Iran), Levant (Suriah, Lebanon, Yordania, Israel, dan Palestina) dan Mesir. Ini perluasan wilayah yang luar biasa cepat. Catatannya adalah bahwa cepatnya ekspansi wilayah tidak berarti jalan sejarah Rasyidun itu lapang dan mudah dilalui; kenyataannya, jauh dari itu. Abu Bakar RA (khalifah pertama), misalnya, harus berjuang keras menghadapi pembangkangan sebagian suku yang kembali kafir serta menolak berafiliasi dengan Madinah (pusat kekhalifahan). Utsman RA (khalifah ke-3) dan Ali RA (khalifah ke-4), sebagai misal lain, harus menghadapi isu serius perang saudara (internal Umat) yang berakhir dengan terbunuhnya dua khalifah ini. Hanya Umar RA (khalifah ke-2) yang relatif lapang jalan sejarahnya sekalipun harus berakhir dengan pembunuhan atas dirinya. Hanya dialah satu-satunya yang bergelar “Pemimpin Orang-orang Beriman” (Amirul Mukminin).

… cepatnya ekspansi wilayah Era Rasyidun tidak berarti jalan sejarah para khalifah di era itu lapang dan mudah dilalui; kenyataannya, jauh dari itu.

Era Umayyah

Kecepatan perluasan wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah (berwarna kuning dalam Grafik 1) juga luar biasa. Prestasinya menambah wilayah kekhalifahan dengan mencakup Maghreb (kawasan Barat Afrika), al Andalusia (Spanyol), Transoxania, Hindustan dan Anatolia. Dinasti ini memerintah hanya sekitar 90 tahun (661-750) di Baghdad tetapi cabangnya di Spanyol berlangsung hingga tahun 1200. Terkait luasnya wilayah dinasti ini kutipan ini informatif:

At its largest extent, the Umayyad dynasty covered more than 5,000,000 square miles (13,000,000 km2) making it one of the largest empires the world had yet seen, and the fifth largest contiguous empire ever.

Dinasti ini dimulai dengan Khalifah Muawiyah yang dilantik di Palestina karena alasan keamanan akibat berkecamuknya perang internal Umat. Banyak ulama yang mempertanyakan kesalehan tokoh ini tetapi hampir semuanya mengakui kejeniusan kepemimpinannya: sekalipun menghadapi gelombang pemberontakan internal, Muawiyah mampu mempersatukan Umat dan mulai meletakan dasar kekhalifahan Dinasti Umayah berdasarkan garis keturunan (hal yang sama sekali baru dalam tradisi Arab).

Era Abbasiyah

Era Dinasti Umayah berakhir antara lain karena isu rasialisme: dalam dinastinya, yang bukan keturunan-murni Arab kurang memperoleh penghargaan secara layak. Praktik ini tentu tidak sejalan dengan sifat universalisme Wahyu. Akibatnya, ketidakpuasan Umat terhadap dinasti ini terus meluas dan hal ini mendorong lahirnya Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini (berwarna hitam dalam Grafik 1) lebih fokus pada perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari pada perluasan wilayah. Puncak peradaban Umat (Islamic Golden Age) dicapai dalam era Dinasti Abbasiyah ini.

Islamic Golden Age dicapai dalam era Dinasti Abbasiyah

Di era dinasti ini dibangun apa yang dikenal sebagai Rumah Hikmah (House of Wisdom) yang merupakan pusat perkembangan berbagai cabang sains dan budaya termasuk bidang kedokteran[7], pertanian, penataan kota, astronomi, ilmu optik, iptek, sastra, arsitektur, dan matematik. Mengenai yang terakhir kutipan berikut layak-simak:

Mathematics during the Golden Age of Islam, especially during the 9th and 10th centuries, was built on Greek mathematics (Euclid, Archimedes, Apollonius) and Indian mathematics (Aryabhata, Brahmagupta)…. Important progress was made, such as the full development of the decimal place-value system to include decimal fractions, the first systematized study of algebra (named for The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing by scholar Al-Khwarizmi), and advances in geometry and trigonometry.

Prestasi ini memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan pesat peradaban Barat walaupun seringkali tidak diapresiasi secara proporsional:

… Arabic works also played an important role in the transmission of mathematics to Europe during the 10th to 12th centuries…. Dr. Sally P. Ragep, an historian of science in Islam, estimates that “tens of thousands” of Arabic manuscripts in mathematical sciences and philosophy remain unread, which give studies which “reflect individual biases and a limited focus on a relatively few texts and scholars”

Era Utsmaniyah

Kesultanan Utsmaniyah mengambil alih kedudukan Dinasti Abbasiyah sebagai pengendali kekhalifahan. Era dinasti ini berakhir antara lain karena persoalan internal Umat dan tata-kelola administrasi kekhalifahan. Banyak yang menilai, misalnya, model administrasi dan gaya kepemimpinan kekhalifahannya terlalu egalitarian dalam ukuran zamannya dan memberi kekuasaan kepada pihak tentara profesional (non-Arab).

Pasca Dinasti Abbasiyah, Kesultanan Utsmaniyah[8] mengambil alih fungsi kekhalifahan Umat. Ada dua prestasi kesultanan ini, yang dapat dikatakan unik. Pertama ekspansi ke daratan Eropa melalui kawasan Balkan. Kedua keberhasilan menaklukkan Imperium Romawi Timur (Bizantium) yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada 29 May 1453. Kejatuhan ini berarti kejatuhan sempurna Imperium Romawi: Imperium Romawi Barat (dengan Roma sebagai ibukota) telah lama jatuh jauh  sebelumnya.

Bagi pihak Barat yang telah menginisiasi Perang Salib yang panjang (dari awal abad ke-11 sampai abad ke-15) peristiwa kejatuhan Konstantinopel patut diduga memberikan dampak psikologis yang mendalam. Bagi Umat peristiwa ini juga memberikan dampak serupa: peristiwa ini sudah diramal Al-Quran satu milenium sebelumnya dan telah diupayakan dua dinasti sebelumnya: Umayah (717) dan Abbasiyah (830s).

Fase Kemunduran

Pasca penaklukkan Konstantiopel, sistem kekhalifahan mulai memasuki era kemunduran. Kemunduran ini sebagian terkait dengan faktor internal (buruknya kepemimpinan Kesultanan) dan eksternal yang saling mempengaruhi. Faktor eksternal yang dimaksud ditengarai oleh oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena,
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Hilangnya kekuasaan Kesultanan hampir di seluruh daratan Eropa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat. Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Usmani dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

******

Pertengahan Abad 20, negara-negara di mana Umat merupakan mayoritas memerdekakan diri dari penjajahan Barat. Walaupun demikian Umat masih memiliki daftar pertanyaan retoris:

Apakah Umat secara riil sudah merdeka secara ekonomi dan budaya? Apakah Umat sudah mampu menetralkan pengaruh pembaratan (westernisasi) yang menggerogoti sistem Kesultanan Usmani? Apakah Umat secara kolektif tengah mengarah pada posisi aktif sebagai wasit dan  bagi umat lain sebagaimana diamanatkan oleh kitab suci mereka (QS 2:193)? Atau sebaliknya mengarah ke posisi yang semakin pasif sebagai pihak yang “disaksikan” dan “diwasiti”? Apakah kontribusi Umat terhadap upaya penyelesaian isu global seperti perubahan iklim dan ketimpangan sosial?

Daftar pertanyaan dapat diperpanjang. Wahyu yang merupakan sumber spiritual peradaban Umat seyogianya dapat memandu menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tanpa harus kembali ke sistem kekhalifahan yang berfungsi sekadar instrumental.

Wallahualam.… @

[1] Dalam sejarah keumatan, durasi waktu satu abad tanpa kekhalifahan (sejak 1920) sangat pendek dibandingkan dengan durasi dengan kekhalifahan (sejak abad ke-6); rasionya lebih kecil dari 1:13.

[2] Reaksi ini didokumentasikan oleh banyak Hadits dan bahkan diabadikan dalam awal ayat dua Surat Al-Quran (ke-73 dan ke-74).

[3] Ini berbeda dengan, misalnya, kasus Taurat.

[4] Dalam sejarah Umat awal ada tiga perang yang menentukan kelangsungan hidup Umat adalah Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Ahzab. Kata Badar dan Ahzab disebutkan dalam Al-Quran.

[5] Di antara era Abasiah dan era Kesultanan Usmaniah sebenarnya terdapat beberapa kekhalifahan tetapi sifatnya regional.

[6] Terhitung dari peristiwa Hijrah (622) sampai Nabi SAW wafat (632).

[7] Dua orang genius kedokteran Ar-Razi (854-925) dan Al-Kindi (801-873) lahir di era ini. Karya keduanya dalam bidang ini diakui secara luas sehingga menjadi rujukan ilmu kedokteran di Eropa selama beberapa abad.

[8] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/07/21/kesultanan-utsmaniyah/

Pre-Islamic Arabs

Pre-Islamic Arabs: Understanding the Historical Roots of the Emergence of Islam

 

If you are interested in understanding the historic roots of Islam,  but are too busy to read a history books that are for you, either too thick in volume, or too academic in orientation, this is the right place for you.

In the free-accessed article here you will find a simple description of how the emergence of Islam in 610 CE had been preceded by two major factors: (1) a weakening of Christendom (external factor) and (2) an unheard demand for an enlightening worldview within the Arab in general notably at grass root level (internal factor).

You need less than 15 minutes to read it all.

Click here to access the article

Ibrahim AS: Sejarah dan Doa

Musim haji ini adalah waktu yang tepat untuk menengok sosok Nabi Ibrahim AS paling tidak karena ada dua alasan. Pertama, Nabi AS inilah yang menyerukan manusia untuk berhaji. Seruannya sangat efektif dilihat dari banyaknya jamaah merespons dan beragamnya status sosial ekonomi[1] mereka. Kedua, beberapa ritual haji melestarikan nilai-nilai yang merupakan warisan Nabi AS atau keluarganya[2]. Pertanyaannya, siapakah tokoh luar biasa ini? Tulisan ini[3] bermaksud menjawab pertanyaan ini dengan menyajikan secara singkat sejarah Nabi AS ini dan mengilustrasikan– berdasarkan sejumlah ayat Al-Quran– bagaimana semua doa Nabi AS ini dikabulkan.

Sumber gambar: Google

Sejarah Ibrahim AS

Salah satu sumber bacaan sejarah Nabi AS ini yang kredibel, mudah diakses dan dibaca adalah Karya Dirk (2002)[4] dalam bukunya Abraham, the Friend of God[5]. Menurut Dirk, Ibrahim AS lahir di UR (Irak) pada tahun 2166 SM atau sekitar empat milenium yang lalu.

Ibrahim AS sangat berani dalam mengusung ajaran tauhid yang murni. Ketika masih berusia 16 tahun beliau sudah berdakwah secara terbuka bahkan di hadapan Kaisar Naram, kaisar Irak Kuno, yang musyrik. Akibatnya, beliau diadili oleh kaisar itu dan dihukum dengan cara diceburkan ke dalam api yang menyala. Gambaran selanjutnya mengenai sejarah Nabi AS ini diringkas pada Tabel 1.

Tabel 1: Garis Waktu Sejarah Ibrahim AS

Tahun (Sebelum Masehi)Umur Ibrahim AS (tahun)

Peristiwa

21660Lahirnya Ibrahim AS ibn Aazar di UR (Irak).
215016

Ibrahim AS menghancurkan berhala, diadili Kaisar Naram dan dimasukkan ke dalam api.

Luth AS mengakui Keesaan Tuhan.

211749Ibrahim AS menikah dengan Sarah RA.
210660Ibrahim AS membakar Kuil di UR.
209175Ibrahim AS tiba di Palestina bersama Sarah RA dan Luth AS.
208977Ibrahim AS, Sarah RA dan Luth AS tiba di Mesir.
208482Ibrahim AS, Sarah RA dan Siti Hajar pindah ke Hebron.

Sarah RA memberikan Siti Hajar kepada Ibrahim AS sebagai istri kedua.

208185Siti Hajar RA mengandung.
208086Ismail AS lahir (dari Siti Hajar RA).
206799Ibrahim AS mengurbankan Ismail AS.

Ibrahim AS dan Ismail AS dikhitan.

2064-2029108-137Ibrahim AS dan Ismail AS Membangun Kabah.
1991175Wafatnya Ibrahim AS.

Sumber: Lihat Catatan 5.

Doa yang Terkabul

Sebagian doa Nabi AS ini didokumentasikan dalam Al-Quran. Tiga doa di antaranya yang terkait dengan haji adalah sebagai berikut (QS 2: 126-8):

  1. Doa agar Kota Mekah dikaruniai keamanan dan penduduknya dianugerahi kelimpahan buah-buahan (ayat 126);
  2. Doa yang doanya dikabulkan (ayat 127); dan
  3. Doa agar diri dan keturunan-keturunannya menjadi muslim dan diajari tata cara haji (ayat 128).

Semua doa ini terkabul. Ada doa lainnya yang diabadikan dalam ayat lanjutan:

Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha bijaksana (QS 2:129).

Ayat ini menarik jika disandingkan dengan ayat ke-151 (Surat yang sama):

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

“Seorang rasul” yang dimaksud dalam ayat ke-129 adalah Nabi Muhammad SAW. Jadi, doanya terkabul. Bagian selanjutnya ayat ini menggambarkan karakteristik misi rasul yang didoakan. Apakah ini juga terkabul? Jawabannya terungkap dalam ayat ke-151.

Agar jelas, kita dapat mencermati dua ayat ini dan membandingkannya. Sebagaimana terlihat, ayat ke-129 menggambarkan tiga misi rasul yang didoakan: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (3) menyucikan. Ayat ke-151– dapat dikatakan sebagai “realisasi” dari doa itu– menggambarkan empat misi rasul: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) menyucikan, (3) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (4) mengajarkan yang belum diketahui. Dari perbandingan dua ayat ini kita dapat menyimpulkan:

  1. Semua doa Ibrahim AS dikabulkan;
  2. Fungsi rasul yang ke-4, “mengajarkan yang belum diketahui”, adalah bonus dalam arti tidak termasuk dalam doa Ibrahim AS; dan
  3. Berbeda dengan ayat ke-129, urutan “menyucikan” disebutkan terlebih dahulu sebelum “mengajarkan Kitab Suci dan Hikmah” dan “mengajarkan yang belum diketahui”.

Kesimpulan ke-2 mengesankan misi khas Nabi Muhammad SAW adalah “mengajarkan apa yang belum diketahui”. Kesan ini paralel dengan ayat ke-5 Surat Al-Alaq (ke-96), Surat yang lima ayat pertamanya [6] mengabadikan wahyu pertama kepada Nabi SAW.  Kesimpulan ke-3 agaknya mengisyaratkan kepada kita bahwa “kesucian” merupakan prasyarat untuk memperoleh “pengajaran Kitab dan Hikmah” dan untuk “memperoleh pelajaran baru“, tapi …

Wallahualam….@

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/21/haji-ibrahim-seruan-efektif/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/24/haji-warisan-ibrahim/.

[3] Tulisan lain terkait dengan Nabi AS ini yang berjudul “Mengenal Pemimpin Besar Ibrahim” dapat diakses di sini.

[4] Dirk adalah mantan pendeta yang nama lengkapnya Haji Abu Yahya Jerald F. Donald, PsyD Abu ‘Alenda. Ini sebagian pengakuannya: “… saya lahir dan dibesarkan di lingkungan Kristen; saya punya izin berkhotbah dari Gereja Metodis Bersatu, 1969; saya adalah pendeta resmi dari Gereja Metodis Bersatu, 1972, dan memeluk Islam pada 1993 (halaman 10).

[5] Buku ini terbitan Amana Publications (2002) dan sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Ibrahim Sang Sahabat Tuhan oleh Serambi (2004).

[6]  Inilah terjemahan lima ayat yang dimaksud: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya“. 

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Ketika Rasul SAW Menjamu Makan Kerabat Dekat

Sumber Gambar: Pinterest

 

Rasul SAW mulai dakwah kepada kerabat-dekat. Ini sesuai perintah-Nya (QS 26:214). Untuk keperluan ini beliau mengudang jamuan makan keluarga kakeknya Abdul Mutolib.

Tetapi rencana itu pada mulanya tidak berlangsung mulus. Sebelum Rasul SAW menyampaikan maksud jamuan makannya, salah seorang paman beliau angkat bicara yang pada intinya meneror tuan rumah.

Memperhadapkan Rasul SAW dengan keluarga besarnya dan menuduhnya sebagai “penyeleweng” dari tradisi keluarga, serta memperlakukan beliau layaknya tertuduh;

Menghasut hadirin dengan gambaran besarnya bahaya yang akan menimpa keluarga jika Rasul SAW tidak berhenti berdakwah;

Memperlakukan Rasul SAW yang sudah berumur 40 tahun sebagai anak-anak yang perlu dididik;

Membujuk hadirin dengan menawarkan “penyelesaian” dengan cara Rasul SAW kembali rujuk kepada tradisi keluarga.

Paman Rasul SAW yang dimaksud adalah Abu Lahab yang namanya diabadikan dalam Al-Quran (Surat ke-111). Mengenai suasana jamuan itu Natsir (ibid:187) mengatakan: “Baru saja Muhammad SAW hendak bertolak melayarkan perahu dakwahnya, sudah begitu kerasnya badai yang datang menimpa”.

[Terjemahan pidato Abu Lahab ini dapat diakses di SINI.]

Apa reaksi Rasul SAW ketika itu? Tidak ada, diam-seribu-bahasa. Agaknya Rasul SAW memperhitungkan kemungkinan suasana akan lebih rusuh  jika menanggapi hasutan itu secara langsung pada saat itu juga. Rasul SAW agaknya melihat “target dakwahnya” belum siap mendengarkan seruan dakwah. Bagi Natsir respons semacam ini sebagian dari tanda hikmah dalam berdakwah.

Lalu apa yang dilakukan Rasul SAW selanjutnya? Menghentikan usahanya? Sama-sekali tidak. Beliau kembali mengundang jamuan makan. Kali ini, ketika waktunya pas dan sebelum yang lain berbicara, beliau angkat bicara.

Dalam kesempatan itu Rasul SAW berpidato dalam bahasa yang sangat efektif dan efisien (Quran: qaulan baligha).

[Terjemahan pidato Rasul SAW ini dapat diakses di SINI.]

Beliau mengakhiri pidatonya dengan seruan: “Maka siapakah (di antara yang hadir) yang bersedia menyambut seruanku kepada urusan (penting) ini, dan bersedia mendampingiku untuk mendampinginya (maksudnya, risalah kerasulannya)?”

Salah seorang pamannya, Abu Talib, menyambut positif ajakan Rasul SAW itu :

“Aku ya Rasulullah! Aku membelamu, Aku adalah musuh bagi siapa yang memusuhimu”.

“Dan (lihatlah), itu semua kaum kerabat ayahmu, yang sedang berkumpul. Dan aku hanyalah salah seorang dari mereka, tetapi aku tidak akan mendahului mereka untuk memenuhi apa yang Kau kehendaki.

Teruskan menjalankan tugasmu. Demi Allah, aku tetap melindungimu. Hanya aku sendiri tidak sanggup berpisah dari agama Abdul Mutolib… “

Sambutan Abu Talib memicu amarah  Abu Lahab dan berteriak sengit: “Demi Allah, salangkah memalukan semua ini. Sergaplah dia sebelum dia disergap orang lain”. Tetapi Abu Talib menanggapinya spontan: “Demi Allah, kami akan bela dia selama kami masih ada “.

Demikianlah cerita peristiwa jamuan makan Rasul SAW ini di hadapan keluarga besarnya. Paling tidak ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa jamuan makan ini.

Pentingnya timing atau memilih waktu yang tepat dalam menyampaikan pesan dakwah; ada kalanya sikap diam-seribu-bahasa adalah yang terbaik.

Pentingnya faktor keberanian untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan. Dalam kutipan di atas Rasul SAW telah menyampaikan inti dari misi kerasulannya: tauhid, kenisacayaan kebangkitan setelah mati, pertanggung jawaban amal individual, kabar gembira surga dan ancaman neraka.

Pentingnya penggunaan bahasa yang efektif dan efisien. (Istilah Alquran: qaulan baligha.) Eefetivitasnya terlihat dalam penggunaan analogi bangun dari tidur untuk menggambarkan kebangkitan dari kematian. Efesiensinya terlihat cakupan pesan yang disampaikan yang dapat dikatakan merangkum inti risalah Islam dalam waktu singkat.

Agaknya sudah menjadi bagian dari wisdom-Nya untuk selalu menguji keimanan seseorang, lebih-lebih kegigihan seorang pembawa risalah kerasulan:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami beriman”, dan mereka tidak diuji (QS 29:2)”.

Wallahualam bi muradih….@